Cerpen ini tayang di Taman Fiksi edisi Januari 2016
TERKENAL
Oleh Dwi Indarti
Aku terkenal. Aku menjadi headline news. Lihatlah koran-koran yang
dijajakan di lampu merah.. Wajah dan namaku terpampang besar di sana. Lihatlah
tabloid-tabloid dan majalah-majalah yang bergelantungan di lapak pinggir jalan.
Kisahku memenuhi lembar-lembar halaman mereka. Lihatlah channel-channel
televisi dan radio. Mereka seolah berlomba-lomba untuk mewartakan diriku.
Aku
jadi buah bibir. Setiap orang membicarakanku. Dengarlah pembicaraan sekelompok
pekerja kantoran kawasan bisnis elit saat makan siang di kantin mewah berpendingin
ruangan. Disela mengunyah daging steak
seharga ratusan ribu, mulut mereka tak henti membicarakanku.
“Dia
terima tamu di kosan-nya!”
“Tahu
darimana?”
“Beritanya
ada di mana-mana!”
“Tarifnya itu lho! Bra Victoria Secretku jauh
lebih mahal dari jasanya.”
Dengarlah
pembicaraan ibu-ibu pengajian. Sembari menunggu Sang Ustadzah datang, mereka
bergosip tentangku sambil menghabiskan suguhan risol dan pastel yang disajikan
oleh tuan rumah.
“Amit-amit
jabang bayi. Jangan sampai suamiku ‘jajan’.”
“Jangan
salah, bu. Jaman sekarang kita tidak bisa menduga siapa orang yang baik dan
siapa orang yang kelihatannya baik.”
“Kita
harus lebih mengawasi gerak-gerik suami dan anak-anak kita.”
Bahkan
ketika Sang Ustadzah datang, diskusi mereka tak beranjak dari diriku.
“Betapa
menakjubkan cara Tuhan membongkar suatu aib. Kalau tidak ada kejadian ini,
mungkin kita tak akan pernah tahu bahwa ada praktek dosa tersebulung yang
sedang berlangsung di lingkungan kita.”
Dengarlah
obrolan para mahasiswa di kampus-kampus. Kampus yang sejak dulu menjadi mimpiku
untuk bisa menimba ilmu di sana.
“Masih
muda, Bok!”
“Masih
seumuran kita-kita.”
“Iyalah.
Profesi ‘gituan’ umurnya pendek. Kepala tiga sudah tidak laku.”
“Sayangnya,
kenapa dia tidak pakai uangnya untuk sekolah atau kuliah. Biar nanti, kalau sudah
tidak bisa ‘jualan’, dia punya keahlian lain untuk mencari nafkah yang lebih
halal.” Seorang mahasiswi berkaca mata
tebal berkata seperti itu. Aku menatapnya tajam.
Ah,
dia tidak tahu, itu yang sedang aku lakukan. Aku menyisihkan sebagian
penghasilanku untuk ditabung. Aku berharap suatu saat nanti, aku bisa menjadi seperti
mereka. Aku ingin menyandang tas yang dipenuhi oleh buku-buku setiap hari. Aku
ingin keluar masuk perpustakaan. Aku ingin duduk takjim di ruang-ruang kelas,
menyerap ilmu yang sedang ditransfer oleh sang dosen. Dan, inilah moment yang
selalu impikan. Aku ingin memakai kebaya yang dibalut oleh toga hitam, menunggu
namaku dipanggil untuk naik ke atas podium. Emak dan Abah di kampung pasti bangga,
anak sulungnya bergelar Sarjana.
Selain
menjadi mahasiswa, impianku yang lain adalah menjadi orang terkenal. Sejak
kecil, aku selalu ikut kontes kecantikan yang diadakan di kampung setiap tahun
dalam rangka tujuh belasan. Di panggung kecil yang dibangun di pinggir sawah,
aku bisa memamerkan sedikit kemolekan tubuhku. Aku selalu menjadi langganan
juara. Tak ada satu pun gadis kampung yang bisa menyaingi kecantikanku. Tapi emak
dan abah selalu melarangku.
“Tubuh
wanita itu aurat, Neng… Tidak boleh diumbar-umbar.”
“Pakai
baju yang longgar dan tertutup, biar para lelaki tidak pusing melihat kamu.”
“Ih,
emak dan abah kuno. Baju ini sedang
nge-tren. Orang kota semua pakai baju seperti ini.” Bantahku. Emak dan Abah
hanya bisa mengelus dada.
Emak
dan Abah tak pernah tahu bahwa aku telah kehilangan mahkota kewanitaanku saat
aku berumur 15 tahun. Bukan dengan paksaan. Aku menyerahkannya dengan sukarela
kepada si Asep, pacarku waktu itu. Kejadiannya di lumbung padi milik ketua
desa. Siang tengah hari bolong. Semua berlangsung cepat. Tak sampai satu jam.
Asep mencumbuku ketika kampung sepi karena seisi penghuninya sedang tidur
siang. Sejak itu, kami selalu melakukannya setiap kali ada kesempatan, di mana
pun. Hanya sebentar, tak sampai satu jam.
Lalu
aku hamil. Asep panik.
“Gugurkan!”
“Tapi,
itu dosa, Kang!”
“Aku
tidak siap jadi orang tua!”
“Aku
juga tidak! Tapi bagaimana lagi?”
“Orangtuaku
akan membunuhku!”
“Emak
dan Abah juga bakal mengusirku.”
“Kalau
begitu, gugurkan saja! Mumpung masih belum kelihatan.”
“Bagaimana
caranya?”
“Aku
kenal seorang paraji. Kita bisa meminta bantuannya.”
Sebulan
setelah aku menggugurkan kandunganku, Asep pergi meninggalkan kampung. Dia
bekerja di kota besar. Tak seorang pun di kampung, kecuali Paraji yang sudah
berjanji untuk menjaga rahasia ini, mengetahui apa yang telah terjadi.
Aku?
Aku tetap menjadi seorang gadis kampung yang setiap hari membersihkan gabah dan
bekerja sebagai pembantu di rumah Wak Haji Makmun, orang kaya yang tanahnya
digarap oleh Emak dan Abah.
Hingga
suatu hari, bak cerita dalam negeri dongeng, datanglah Pangerang berkuda untuk
menyelamatkan hidupku. Pemuda kota itu berkunjung ke kampungku dalam rangka
liburan. Dia seorang mahasiswa tingkat dua. Dia adalah kerabat jauh salah
seorang tetanggaku, yang sedang berlibur di sebuah kampung. Pemuda itu
membangunkan kembali mimpi-mimpiku yang telah tertidur lama.
“Di
kota, kesempatan lebih terbuka.”
“Benarkah?
Saya bisa menjadi seorang mahasiswa dan menjadi terkenal?”
“Kamu
bisa menjadi apapun yang kamu mau, Neng!”
“Tapi,
saya hanya punya ijazah SMP, kang.”
“Tidak
masalah. Kamu bisa ikut kejar paket A untuk mendapatkan ijasah SMA. Lalu, kamu
bisa bekerja dulu, sambil mengumpulkan duit untuk kuliah.”
“Saya
mau, kang!”
“Kamu
bisa ikut aku ke kota. Aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu.”
“Saya
mau sekali!”
Aku
ikut pemuda itu ketika dia kembali ke kota. Dia berjanji pada Emak dan Abah
untuk menjagaku, mencarikan aku pekerjaan dan tempat tinggal.
Pemuda
itu sangat baik padaku. Aku selalu diajak kemana pun dia pergi. Waktu dia
pertama kali mengajakku ke kampusnya, aku begitu takjub sehingga mulutku
menganga lebar. Gedung kampus itu begitu besar dan luas. Setiap sudut dipenuhi
oleh para mahasiswa yang lalu lalang. Ada yang berkumpul di sudut taman,
berdiskusi tentang tugas-tugas kuliah. Ada yang duduk menggelepok di lantai,
dengan laptop terbuka dan kertas-kertas bertebaran. Ada yang menunduk serius
membaca buku tebal.
Aku
diajak masuk ke perpustakaan yang sangat besar. Puluhan ribu buku berjejer di
rak-rak yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit. Aku mengambil salah satu
buku tebal, mengusapnya dengan tangan bergetar dan dada bergemuruh. Ketika aku
membuka lembar demi lembar halaman buku itu, hatiku terasa sangat bahagia,
meskipun aku sama sekali tak mengerti satu pun kata yang tertulis di sana,
sebab buku itu ditulis dalam bahasa asing. Tapi aku tetap bahagia. Aku merasa,
inilah duniaku. Kelak.
Pemuda
itu juga sering mengajakku berkumpul dengan teman-temannya. Dia
memperkenalkanku sebagai sepupunya.
“Kenalin,
sepupu gue dari kampung. Namanya Neng.”
“Elo
kok gak pernah bilang kalau punya sepupu cantik, begini!”
“He
he he, gue juga baru tahu.”
Kebaikan
pemuda itu tak hanya sampai di situ. Dia sering mengajakku ke Mall yang besar
dan mewah, sekedar untuk makan dan nonton. Dia juga sering membelikanku
baju-baju baru. Awalnya aku merasa tidak enak, selalu menerima kebaikannya.
Belakangan, aku tahu kalau dia adalah anak orang kaya yang mendapat uang saku
besar sehingga dia bisa membayari biaya hidupku selama aku tinggal di kota.
Tapi tidak ada kebaikan tanpa imbalan. Tidak ada.
Aku
sadar, tidak ada seorang lelaki pun yang akan menolak tubuh ini, seperti tidak
ada seekor kucing pun yang bisa menolak ikan asin yang disodorkan dibawah
lubang hidungnya. Aku memberi jasa kepada Pemuda itu sebagai bentuk ucapan
terima kasih. Rupanya pemuda itu begitu puas dengan jasaku sehingga dia
bercerita kepada teman-temannya.
“Neng,
boleh tidak teman-teman Akang memakai jasa Neng?’
“Maksudnya,
Neng juga melayani mereka?”
“Mereka
bersedia membayar. Mereka hanya butuh sebentar. Paling satu jam. Tidak lebih.”
“Tapi…”
“Kalau
aku pikir, lumayan sambil nunggu Neng dapat kerja. Uangnya bisa untuk hidup di
kota dan sisanya dikirim ke kampung untuk emak dan abah, atau untuk ditabung
biar Neng bisa kuliah nantinya.”
“Iya,
Kang. Neng mau.”
Mulanya
hanya satu-dua orang. Tapi lama kelamaan, semakin banyak yang datang kepadaku.
Rupanya mereka saling bercerita. Dari mulut ke mulut, mereka mulai mengenalku,
mencariku dan datang kepadaku.
‘***
“Neng
kerja di mana?” Tanya Emak ketika aku pulang kampung untuk pertama kali saat
lebaran.
“Kerja
di Restoran, Mak.”
“Gajinya
besar, ya Neng? Aduh, banyak sekali bawaannya.”
“Lumayan,
Mak.”
“Untung
kamu ikut ke kota, Neng.”
Aku
melihat binar di wajah emak dan keempat adik-adikku saat mereka membongkar
bungkusan demi bungkusan yang berisi berbagai macam benda. Ada baju, sepatu,
tas, buku, alat tulis, kue-kue lezat dan lainnya. Tak lupa, aku menyiapkan
amplop yang berisi uang untuk masing-masing adikku. Juga untuk Emak dan Abah.
Emak menerimanya dengan air mata berlinang, tak henti menghujaniku dengan
ciuman sayang. Hanya Abah yang murung.
“Abah
tidak suka dengan sarung dan baju Koko yang Neng belikan?” Aku menghampiri Abah
yang duduk sendiri di teras rumah, berteman dengan ngengat dan nyamuk yang
bertebangan.
“Benar
kamu kerja di Restauran, Neng?” Pertanyaan Abah membuatku terkesiap dan seperti
ada batu es meluncur deras di dadaku. Dingin.
“Benar,
Bah.”
“Restauran
apa?”
“Restauran
Korea. Neng kerja di dapur. Cuci piring.”
“Cari
rejeki yang halal, ya Neng.”
Setelah
itu Abah meranjak ke kamar untuk tidur. Tidur yang panjang sekali. Sebab,
selesai sholat Idul Fitri, kami sekeluarga mengantarkan Abah ke tempat
perisirahatannya yang abadi. Malam itu, Abah bilang ke Emak bahwa beliau sangat
lelah dan ingin tidur panjang. Emak yang tak ada firasat apapun, hanya mengingatkan
bahwa besok Abah harus bangun sebelum subuh untuk membantu mempersiapkan sholat
Id di lapangan.
Aku
menangis sejadi-jadinya di depan makam Abah. Akulah kepala rumah tangga
sekarang. Sepeninggal Abah, akulah yang bertanggung jawab mengambil alih
kelangsungan hidup emak dan keempat adikku yang masih kecil-kecil. Aku teringat
percakapan terakhirku dengan Abah semalam. Beliau tahu aku berbohong. Beliau
punya firasat…
Tapi
aku tidak bisa meninggalkan mata pencaharianku ini. Tidak sekarang, dengan
tanggung jawab keluarga di kampung menjadi milikku. Tidak sekarang, setelah aku
menyadari berapa banyak rupiah yang bisa aku dapatkan dalam sehari, seminggu,
sebulan. Tidak sekarang, saat adik-adikku sedang membangun masa depan yang
lebih baik dengan mengenyam dunia pendidikan setinggi yang mereka inginkan.
Tidak sekarang, saat mencari pekerjaan yang halal sangat sulit dan hampir
mustahil untukku yang tidak mengenyam pendidikan. Tidak sekarang…
Semakin
hari, bisnisku semakin bagus. Terlebih ketika aku mulai berkenalan dengan
social media. Dengan mudah aku bisa mendapatkan pelangganan yang membutuhkan
jasaku. Semua berkat pemuda itu.
“Aku
akan meninggalkanmu.” Kata Pemuda itu suatu hari.
“Akang
mau kemana?”
“Orang
tuaku menyuruhku menjalankan bisnis di
Australia. Aku juga akan menikah.”
“Menikah?”
“Iya.”
Tentu
saja Pemuda itu tak berniat menikahiku. Seorang wanita berpendidikan tinggi,
berasal dari keluarga terhormat, mempunyai pekerjaan yang baik adalah type
istri untuknya. Sebejat apapun seorang lelaki, pasti mereka ingin menikah
dengan perempuan baik-baik. Bukan perempuan seperti diriku. Meskipun diam-diam
aku sangat mencintainya. Ah, sudahlah. Aku harus belajar berdamai dengan
kenyataan ini.
“Terima
kasih, Kang.”
“Untuk
apa kamu berterima kasih?”
“Untuk
semuanya.”
“Untuk
menjebloskanmu ke dunia hitam?”
“Tapi
aku menyukainya, Kang. Aku menikmatinya.”
“Neng,
dengar nasehatku ini. Kumpulkan duit sebanyak-banyaknya. Kejar impianmu untuk
mengenyam pendidikan tinggi. Tak ada kata terlambat untuk itu. Jika kamu punya
ilmu, maka kehidupan yang lebih baik akan menghampirimu. Bukan kehidupan
seperti ini, Neng.”
“Iya,
Kang. Terima kasih untuk nasehatnya.”
Selangkah
lagi aku bisa meraih impianku. Ijazah SMA dengan kejar paket A sudah aku
pegang. Formulir pendaftaran sebuah perguruan tinggi swasta telah aku simpan,
menunggu untuk aku lengkapi dan diserahkan ke pihak pendaftaran.
Selangkah
lagi. Tetapi lelaki ini keburu datang. Kadatangannya menghancurkan mimpi yang
telah kubangun selama bertahun-tahun, sekaligus mengantarkanku meraih mimpi
yang lainnya. Lelaki ini memupus impianku untuk kuliah, dan mewujudkan impianku
untuk menjadi orang terkenal.
Dia
datang sesuai jadwal perjanjian. Dia baru datang sekali. Satu jam. Itu yang dia
minta. Dia hanya lelaki biasa dengan tubuh tambun dan berlemak. Aku memberi
jasa yang dia minta, seperti kepada pelangganku yang lain. Tapi kemudian keadaan
menjadi tak terkendali. Aku berteriak minta tolong, tapi lelaki itu menyumpal
mulutku dengan kain dan memukuli tubuhku berkali-kali. Tanpa ampun. Dia seperti
kesetanan. Aku merasakan sakit yang teramat sangat, sebelum kegelapan
menyelimut lalu cahaya terang itu datang.
Aku
terkenal. Aku bisa menyaksikan semuanya. Aku bisa melihat kehebohan yang
terjadi di luar sana. Aku menjadi bahan pembicaraan, berita utama, topik
obrolan, meskipun tak satu pun yang mengangkat sisi baik diriku. Tak satu pun. Semua
hanya memberitakan tentang seorang PSK yang ditemukan mati tanpa busana di
kamar kosan.
Tidak
mengapa. Yang penting aku terkenal. Itu saja.
‘***

ini kisah nyata yg kamu tulis lagi versi kamu yaa...
BalasHapus