Pagi
ini bongkar file dan menemukan sebuah tulisan lama. Tulisan
ini dibuat saat gw masih tergabung dalam komunitas penulis Forum
Lingkar Pena. Tulisan ini adalah tugas wajib untuk Inagurasi kelulusan.
Jadi, waktu itu kami diwajibkan membuat sebuah tulisan bertema
"Kepahlawanan".
Daripada
tulisan ini berdebu dan bersarang laba-laba di folder file, mendingan
gw posting di blog aja. Siapa tahu ada yang baca. Oia, semua gambar
diunduh dari Google ...
MENCARI SOSOK SEORANG PAHLAWAN DALAM
DIRI
Oleh Dwi Indarti
Apa
yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kata ‘Pahlawan’ ? Mungkin akan
langsung terbayang wajah Pangeran Diponegoro, Pattimura, Cut Nyak Dien dan lain
sebagainya. Wajah-wajah para Pahlawan Nasional itu sangat akrab karena tercetak
pada lembaran-lembaran uang kertas. Atau mungkin pikiranmu akan langsung
melompat ke tanggal 17 Agustus, saat segala sesuatu di Republik ini dihiasi
dengan warna merah putih dan semangat nasionalisme yang diwarisi oleh para
pahlawan pejuang kemerdekaan lebih terasa dibandingkan pada bulan-bulan lain.
Apa
sih Pahlawan itu ? Orang yang seperti apa dan bagaimana yang berhak memperoleh
gelar ‘Pahlawan’ ? Apa yang harus kita lakukan agar bisa menjadi seorang
Pahlawan ?
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pahlawan adalah orang yang menonjol karena
keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, pejuang yang gagah
berani.
Kawan,
simaklah sejenak sepenggal kisah kehidupan beberapa orang yang mendapat gelar Pahlawan.
Semoga sekelumit kisah dan sejarah hidup mereka dapat menyegarkan kembali
ingatan kita akan jasa-jasa mereka.
Siapa
yang tak kenal nama Pangeran Diponegoro ? Beliau adalah seorang putra Raja
Mataram Hamengkubuwana III yang lahir di Yogyakarta ,
11 November 1785. Walaupun berasal dari keturunan ningrat, namun Diponegoro
lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat, sehingga beliau menolak
keinginan ayahnya untuk menggantikan posisi sebagai Raja. Beliau lebih memilih
tinggal di Tegalrejo, sebuah desa kecil yang jauh dari tembok keraton dan
memulai perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Dengan gagah berani beliau
mempimpin perlawanan terhadap kaum penjajah yang menduduki tanah kelahirannya.
Pangeran Diponegoro memilih kehidupan yang sulit dan penuh penderitaan
ketimbang kehidupan di dalam tembok keraton yang menawarkan segala kemudahan
dan kenyamanan. Beliau wafat dalam pengasiangan pada 8 Januari 1955 di Makasar,
sebuah daerah yang jauh dari tanah kelahiran yang diperjuangkannya. (sumber : Wikipedia)
Dari
belahan Indonesia
bagian Timur, tepatnya di Negeri Haria, Saparua, Maluku, lahir seorang pemuda
gagah berani yang bernama Thomas Matulessy atau yang lebih dikenal dengan nama
Pattimura. Sikap kepahlawanan sejatinya ditunjukkan dengan keteguhannya yang
tidak mau berkompromi dengan Belanda walaupun dirayu dengan berbagai kemewahan
materi dan kedudukan tinggi dalam pemerintahan.
Beliau memilih gugur di tiang
gantungan sebagai Putra Kusuma Bangsa daripada hidup bebas dan sejahtera
sebagai penghianat yang sepanjang hayat akan disesali oleh rahim ibu yang
melahirkannya. (sumber :
www.tokohindonesia.com)
Sementara
dari ujung Barat Indonesia ,
sesosok wanita gagah perkasa yang lahir di Lampadang, Aceh pada tahun 1848,
telah menorehkan catatan dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan Republik
ini. Cut Nyak Dhien bersumpah akan terus memerangi kaum penjajah hingga akhir
hayatnya. Setelah suami pertamanya gugur dalam pertempuran, Cut Nyak Dhien
dilamar oleh Teuku Umar, salah satu tokoh yang juga melawan Belanda.
Pada
awalnya Cut Nyak Dhien menolak, tetapi karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut
serta dalam medan perang, Cut Nyak Dhien setuju untuk menikah dengannya pada
tahun 1889 yang menyebabkan meningkatnya moral pasukan Aceh. Setelah Teuku Umar
gugur di medan
perang, Cut Nyak Dhien meneruskan perjuangan suaminya seorang diri hingga wafat
di pengasingan. Beliau wafat pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di
Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.(sumber
: Wwikipedia)
Sekarang,
mari kita tengok sejenak kisah para pejuang Islam. Lembaran catatan kehidupan
dan sejarah perjuangan mereka telah terukir dalam ribuan literatur-literatur
dunia. Saya hanya menampakkan ‘selayang pandang’ kisah mereka.
Khalid
Bin Walid, seorang pahlawan Islam yang teguh, lahir dari keluarga kaya dan
terpandang di kota
Mekkah. Khalid bin Walid adalah pahlawan kaum Quraisy saat pasukan Islam
mengalami kekalahan pada perang Uhud. Pasukan Islam lebih tertarik oleh harta
rampasan perang sehingga tanpa pikir panjang meninggalkan pos-pos untuk menjaga
tanah genting. Khalid yang waktu itu memimpin pasukan Quraisy segera
memanfaatkan kelemahan kaum muslimin ini dan membalikkan keadaan sehingga kaum
Quraisy berhasil memenangkan peperangan. Ketika akhirnya Khalid bin Walid
mendapat hidayah dan masuk Islam, kemampuan berperangnya digunakan untuk
membela islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Khalid Bin
Walid adalah salah satu pahlawan terbesar sepanjang sejarah islam. (sumber : hikmatun.wordpress.com)
Sultan
Salahuddin Al-Ayyubi, namanya telah terpateri dan terpahat dalam sejarah
perjuangan umat Islam karena mampu menyapu bersih, menghancur leburkan tentara
salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa. Jarang sekali
dunia menyaksikan sikap patriotik dan heroik bergabung menyatu dengan sifat
perikemanusiaan seperti yang terdapat dalam diri pejuang besar itu. Perang
salib adalah peperangan yang paling panjang dan dasyat penuh kekejaman dan
kebuasan dalam sejarah umat manusia, memakan ratusan ribu jiwa, dimana topan kefanatikan
membabi buta dari Kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah Asia
Barat yang beragama Islam.
Sultan Salahuddin Al-Ayyubi telah membaktikan dan
membuktikan dalam menghadapi serbuan ke tanah suci Palestina selama dua puluh
tahun, dan akhirnya, dengan kegigihan, keampuhan dan kemampuannya dapat memukul
mundur tentara Eropa di bawah pimpinan Richard The Lion Heart – Richard si hati
singa – dari Inggris. (sumber : www.oaseislam.com).
Itulah
secuil kisah-kisah kepahlawanan Nasional dan Islam. Kalau begitu, apakah setiap
kita bisa menjadi seorang Pahlawan ? Ataukah hanya mereka saja yang memang
telah ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi orang-orang ‘besar’ ? Mereka yang
ditakdirkan hidup pada masa perjuangan, masa perang, masa pergolakan. Apakah
kita yang hidup pada masa kemerdekaan dan kebebasan tidak bisa menjadi seorang
pahlawan?
Saya
tersentuh dan terinspirasi oleh sebuah lirik lagu milik Mariah Carey yang
berjudul Hero
There’s a hero, if you look into your heart
You don’t have to be afraid of what you are
There’s an answer, if you reach into your
soul
And the sorrow that you know will melt away
Jika
kau adalah seorang pelajar atau mahasiswa yang rela mengorbankan waktu, tenaga,
dan pikiran untuk istiqomah dalam menuntut ilmu serta teguh pendirian dan
berani melawan godaan untuk ‘have fun’,
maka kau adalah seorang pahlawan.
Jika
kau adalah seorang karyawan - kantoran atau pabrik, dirut atau office-boy - yang
bekerja dengan ikhlas dan berani dengan tegas menutup semua pintu-pintu syetan
yang terbuka lebar menawarkan ‘kemakmuran instan’. Jika kau mempunyai prinsip
lebih baik hidup pas-pasan – pas butuh pas ada – daripada hidup berlebihan –
apalagi berlebihan hutang - , maka kau adalah seorang pahlawan.
Jika
kau adalah seorang musisi jalanan yang mempunyai sebuah mimpi besar untuk
menjadi seorang ‘superstar’ namun nasib belum berpihak. Lantas kau mengarungi
belantara jalanan ibukota, menantang teriknya matahari dan derasnya hujan,
melompat dari satu bis ke bis yang lain, berusaha menghibur para penumpang
dengan suara sumbang dan petikan sember gitar tuamu. Seringkali kau tak
mendapat sekeping pun uang logam, malah cemooh dan makian yang hinggap di
gendang telingamu. Namun kau menjalani semua itu dengan ikhlas agar tidak
menjadi beban bagi orang lain. Dan kau berani menolak ajakan untuk merampas
barang milik orang lain. Maka kau adalah seorang pahlawan.
Jika
kau adalah seorang penjaga pintu perlintasan kereta api atau penjaga pintu air
yang mengemban tugas yang amat berat sementara penghargaan dalam bentuk materi
yang kau terima sangat sedikit tak sebanding dengan beratnya akibat yang harus
kau pikul bila sekali saja kau lalai dalam tugas. Namun kau menjalani pekerjaan
yang telah menjadi jalan hidupmu itu dengan ikhlas. Maka kau adalah seorang
pahlawan.
Jika
kau adalah seorang pendorong gerobak sampah yang mengambil sampah dari rumah ke
rumah, dari pasar ke pasar, dari mall ke mall. Orang-orang mengernyit dan
menutup hidung setiap kau lewat dengan gerobak atau truk pengangkut sampah,
seolah kau adalah ‘sampah’ masyarakat. Padahal ‘sampah’ masyarakat yang
sebenarnya tengah enak-enakkan tidur di kasur yang empuk dan kamar ber AC.
Namun, kau tetap datang setiap hari untuk mengangkut tumpukan sampah. Dan kau
melakukan semua itu dengan ikhlas, hanya berharap ridho Tuhan. Maka ketahuilah
kawan bahwa kau adalah seorang pahlawan.
Jika
kau adalah seorang pemimpi yang menorehkan mimpi-mimpimu dalam lembaran-lebaran
kertas kusam, lalu kau sebar catatan impian dan imjinasimu ke berbagai media
sehingga dibaca oleh berjuta-juta orang dan memberi inspirasi kepada
orang-orang itu untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik, maka kau adalah
seorang pahlawan
Jika
kau adalah seorang …
Siapapun
dirimu, bagaimanapun keadaanmu, darimanapun engkau berasal, apapun profesimu, yakinlah,
bahwa kau memiliki kesempatan untuk menjadi seorang pahlawan.
Namun,
janganlah melakukan segala sesuatu hanya agar mendapat sebutan pahlawan.
Pangeran Diponegoro, Pattimura, Cut Nyak Dhien, Khalid Bin Walid, Sultan
Salahudin Al Ayyubi, dan yang lain-lainnya tidak pernah berharap nama meraka
akan dikenang sepanjang jaman pada saat mereka mengorbankan hidupnya. Mereka
tidak pernah berharap mendapat pujian dan penghargaan dari manusia. Perjuangan
mereka benar-benar suci dan ikhlas hanya untuk kemaslahatan umat manusia
semata. Itulah sebabnya, sejarah tanpa ragu-ragu menyandangkan gelar
kepahlawanan kepada mereka. Mereka tidak pernah memintanya.
Gelar
kepahlawanan bukanlah sesuatu yang bisa diminta atau di rekayasa. Bakti dan
bukti perbuatanlah yang akan memutuskan layak atau tidaknya seseorang mendapat
gelar kepahlawanan. Berbuat baik dan terbaiklah dalam hidup dan biarkan Allah
Yang Maha Adil menilai setiap perbuatan kita.
And then the hero comes along, with the
strength to carry on
And you cast your fears aside, and you know
you can survive
So, when you feel like hope is gone, look
inside you and be strong
And you’ll finally see the truth, that a hero lies in you
Akan
datang seorang Pahlawan dengan kekuatan untuk menyingkirkan semua rintangan dan
membuatmu bisa bertahan. Maka ketika kau merasa kehilangan sebuah harapan,
tenggoklah ke dalam dirimu sendiri. Kau akan mendapati sosok seorang pahlawan
terbaring dalam dirimu.
19 Juni 2009 –
21:25:07



















Mba.. kok ga masukin pahlawan tanpa jasa... hehehehe. soalnnya biasanya kalau menulis atau membicarakan pahlawan pasti pikiran ku langsung kepada Pahlawan Tanpa Jasa (guru). saya memang ga kreatif yah... hehehehehe....
BalasHapustapi keren banget mba tulisannya....