

Dimuat di Majalah SEKAR edisi no 30/10 tanggal 5 Mei 2010
Ayah Mertua
Oleh Dwi Indarti
“Ayah melamun, ya?” Aku menghampiri suamiku yang sedang duduk di depan TV. Matanya memang tertuju pada layar kaca, namun aku tahu dia sama sekali tidak menyimak berita yang sedang ditayangkan.
“Ayah lagi cari alasan supaya kita tidak usah datang ke rumah orang tuaku besok.” Katanya.
“Tapi kita harus datang, yah. Besok acara penting.” Kataku berusaha meyakinkan.
“Penting apa? Besok itu cuma perayaan ulang tahun ayah yang akan menjadi ajang pameran kekayaan kakak-kakakku.” Suamiku menggeser duduknya dengan gelisah.
“Jangan begitu, yah. Bagaimana pun, ayah masih anggota keluarga.” Aku mengatakan itu dengan nada keraguan yang jelas terdengar. Mas Toto menghela napas dan matanya kembali tertuju ke layar TV.
Aku tahu persis apa yang memberatkan hatinya sebab hal itu juga memberatkan hatiku.
Toto Haris Bachtiar, suamiku, adalah putra bungsu dari Abdul Haris Bachtiar, seorang pengusaha sukses. Tidak seperti kakak-kakaknya yang mewarisi bakat bisnis sang ayah, Mas Toto sama sekali tidak berminat pada hal-hal yang berhubungan dengan bisnis keluarga. Dia menolak mentah-mentah ketika dahulu sang ayah ingin mengirimnya ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan bisnis setelah lulus SLTA. Mas Toto malah mendaftar di sebuah perguruan tinggi lokal dan mengambil jurusan pendidikan yang hanya menawarkan satu bidang profesi setelah lulus, yaitu guru.
Dengan berat hati, sang ayah membiayai uang kuliahnya. Mas Toto pernah bercerita dahulu ayahnya sering berseloroh bahwa gaji sebulan direktur cukup untuk membayar uang kuliahnya sampai tamat. Tapi Mas Toto tidak peduli. Dia asyik tenggelam dalam dunia yang dia cintainya.
Di kampus itu kami bertemu. Kesederhanaan yang menyatukan kami. Aku menyukainya karena kesederhanaan, jauh sebelum aku tahu bahwa dia sebenarnya adalah putra mahkota perwaris kerajaan bisnis sang ayah. Ayahnya menaruh harapan besar padanya karena ketiga kakaknya perempuan. Meskipun mereka cerdas dan senang berkecimpung dalam dunia bisnis, namun tetap saja, bila anak laki-laki yang memegang kendali bisnis akan lebih membahagiakan hati ayahnya.
Pertengkaran hebat dengan sang ayah terjadi setelah Mas Toto tamat kuliah dan mulai bekerja.
“Guru? Kau menjadi guru? Anak seorang pengusaha terkenal Abdul Haris Bachtiar bekerja sebagai guru? Guru SD di pinggiran Jakarta? Gaji sebulanmu tak cukup untuk sekali acara makan malam dengan relasiku. Apa yang ada di otakmu, Toto! Kupikir setelah lulus, setidaknya kamu akan mengajar di sebuah perguruan tinggi bonafit dan menjadi seorang dosen. Itu satu alasan kenapa aku masih bersabar dan membiarkanmu kuliah di tempat ‘buangan’ itu!”
“Maafkan saya ayah. Tapi inilah jalan yang sudah saya pilih. Saya berterima kasih untuk semua kebaikan yang tak mungkin bisa saya balas. Saya datang untuk meminta restu ayah karena saya akan menikah dengan Soffie.” Aku yang duduk disamping Mas Toto waktu itu seperti panas dingin menghadapai kemarahan Pak Bachtiar.
“Restuku? Tak ada restuku sama sekali. Sekarang hanya ada dua pilihan. Lupakan mimpi gilamu menjadi guru dan menikahi gadis itu...” Dia melirikku dengan sinis ketika mengucapkannya. “…atau lupakan kami sebagai keluargamu…”
“Pilihan yang sangat mudah. Terima kasih ayah…”
Kami menikah dua bulan setelah kejadian itu. Pihak Mas Toto diwakili oleh pamannya. Ada kesedihan yang menggantung di matanya saat tangannya menggenggam tangan ayahku dan mengucapkan ijab Kabul. Mas Toto pasti ingin sang ayah sebagai orang tua tunggal sejak ibunya meninggal ketika dia SMP hadir saat itu, menyaksikan salah satu hari bahagianya. Mas Toto juga mengundang ketiga kakak perempuannya, namun tak satupun dari mereka yang hadir.
Sejak itu Mas Toto seperti dikucilkan oleh keluarganya meskipun setiap acara-acara keluarga kami selalu diundang. Lama kelamaan, kami merasa acara-acara seperti ini menjadi semacam ajang ‘penyiksaan’ untuk kami.
‘***
Esoknya, kami berangkat ke rumah ayah mertuaku di kawasan Pondok Indah. Bagas, putra kami yang berusia delapan tahun tiba-tiba menjadi pendiam saat tahu bahwa dia akan pergi ke rumah eyangnya. Rupanya dia juga merasakan perlakuan ‘berbeda’ dari eyang, tante, om dan sepupu-sepupunya.
“Bu, Bagas di rumah saja, ya?”
“Loh, kenapa? Kan nanti kamu ketemu sama Brandon. Ituloh, anak tante Tania yang super gendut.” Aku memeragakan anak super gendut. Bagas tertawa tapi hanya sebentar. Wajahnya murung lagi.
“Brandon menghina sepatu Bagas waktu lebaran kemarin. Katanya, sepatu Bagas sama persis seperti yang dipakai pemulung di rumahnya.”
Aku memeluknya dan mencium pipi bulatnya.
“Jangan sedih, sayang. Biarkan saja mereka bicara seperti itu karena mereka tidak tahu kalau sepatu yang kamu pakai adalah sepatu cinta yang di jahit dengan benang-benang cinta ayahmu. Bagaimana pun juga, dia sepupumu. Ayo, ah! Ibu gak mau liat anak ibu sedih begini.” Aku menghibur anakku meski hatiku kecut mendengar ceritanya barusan.
Kami tiba lebih awal dari yang lain. Rumah besar itu masih sepi. Satpam membukakan pintu dan Mbok Jarmi menyambut kami.
“Tuan besar sedang tidur. Berberapa hari ini kesehatan beliau menurun. Sesak nafas dan batuk. Dokter Syam setiap hari datang untuk memeriksa. Katanya, Tuan perlu istirahat dan menghindari stress. Tapi, Den Toto tahu sendiri bagaimana sifat Tuan. Beliau ‘nda bisa kalau tidak bekerja meski satu hari saja.” Mbok Jarmi, pembantu yang telah mengabdi pada keluarga ini selama puluhan tahun bercerita kepada kami.
Satu per satu keluarga yang lain berdatangan. Mulai dari Tasya Haris Bachtiar, putri pertama, beserta suaminya yang meng ’handle’ bisnis keluarga bidang perbankan. Dia menyalamiku dan berkomentar betapa aku cepat sekali terlihat tua. Dia bercerita ketiga anaknya tidak bisa pulang ke Tanah Air karena sibuk sekolah di Amerika.
Lalu Tania Haris Bachtiar, putri kedua, dan suaminya yang orang bule. Mereka memegang bisnis keluarga dibidang retail. Dia hanya tersenyum samar kepadaku lalu asyik berceloteh dengan kakaknya tentang fashion terkini. Brandon dan Brenda, kedua anaknya asyik dengan gadget yang mereka pegang dan sama sekali tidak memperdulikan Bagas yang duduk tak jauh dari mereka.
Terakhir, Tarra Haris Bachtiar, janda muda yang memegang kendali bisnis keluarga di bidang outsourcing. Dia menyapaku dengan ramah dan bergabung dengan kedua kakaknya, berbincang soal bisnis keluarga.
Puluhan undangan dari relasi bisnis, teman dekat keluarga, maupun handai taulan meramaikan pesta ulang tahun ayah mertuaku yang terbilang sederhana namun ekslusif. Aku ingin membantu di dapur tapi semua sudah ditangani dengan professional oleh even organizer. Ya ampun, untuk acara seperti ini saja harus pakai EO? Aku berdecak dalam hati.
Ayah mertuaku duduk di tengah ruangan dan menerima ucapan serta hadiah-hadiah ulang tahun. Beliau tampak gagah di usia ke 78 meskipun wajahnya terlihat pucat. Ketika tiba giliran aku dan suamiku, beliau hanya melengos dan kembali sibuk berbincang dengan rekan-rekan bisnisnya. Mas Toto tersenyum dan mengajak kami duduk di sudut ruangan. Tamu-tamu yang lain menyapa kami, berbasa-basi sebentar, kemudian berlalu. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruang tengah yang sudah di sulap menjadi sebuah ball room dan mataku tertuju pada ayah mertuaku. Wajahnya tampak letih dan berkeringat. Aneh, pikirku. Ruangan ini dingin sekali karena AC. Aku menyenggol lengan Mas Toto dan memberitahu tentang kecurigaanku. Tepat saat itu, ayah mertuaku jatuh ke lantai.
‘***
Sudah lima hari aku dan suamiku menunggui Ayah mertuaku di rumah sakit. Beliau terserang struck dan sekarang masih dalam kondisi kritis. Suamiku meminta ijin cuti dari sekolah agar bisa stand-by 24 jam di Rumah Sakit. Aku bolak balik Depok – Pondok Indah sepulang mengajar.
Tak satupun kakak iparku muncul di rumah sakit sejak ayah mertuaku terserang struck. Mereka terlalu sibuk hingga tak sempat untuk sekedar membesuk ayah mereka. Kadang, ayah mertuaku menggigau dalam tidurnya, memanggil-manggil nama anak-anaknya, memanggil istrinya, memanggil cucu-cucunya. Dengan sabar, suamiku menyeka air liur yang keluar dari mulutnya, membersihkan kotorannya, mengelap tubuhnya dan mengusap-usap dahinya. Kalau malam, Mas Toto membacakan kitab suci di sampingnya dan membuat ayah mertuaku tertidur tenang.
Hari ketujuh, kondisinya sedikit membaik. Dia terjaga dan memandangi aku dan suamiku dengan mata yang berkaca-kaca. Dia sulit berbicara.
“To…To…Ma…ma….ap…a….yaah…”
“Tenang, pak. Toto selalu disini menemani ayah. Jangan bicara dulu.”
“To…To…Ma…ma…ap…a…yaah…” Mertuaku mengulangi kalimat itu terus menerus.
“Yah, gak ada yang perlu dimaafkan.” Kemudian Mas Toto memintaku menghubungi kakak-kakaknya agar segera ke rumah sakit. Namun, tak ada yang bisa datang. Mereka teralu sibuk.
Malam itu, ayah mertuaku menghembuskan nafas terakhir dipelukan anak laki-laki yang telah dibuangnya. Hanya aku dan Mas Toto yang menemani saat kematiannya. Bukan relasi bisnis, bukan anak-anak perempuan yang super sibuk, bukan harta benda yang dia kejar selama hidupnya. Bukan itu semua.
Pengabdian anak belum seberapa dibandingkan kasih sayang orang tua. Jangan bersedih bila kita tulus mencintai orang tua.
BalasHapus