Mengapa Ramadhan Harus Pergi?



Cerpen ini tayang di majalah Taman Fiksi edisi Ramadhan
Mengapa Ramadhan harus pergi?
Oleh Dwi Indarti
            “Almarhum kakekmu yang memberi nama itu.”        
            “Bagaimana ceritanya?”

            “Ceritanya panjang. Butuh waktu seharian untuk menceritakannya.”
            “Aku punya waktu seharian.”
            “Sayangnya, aku tidak. Masih banyak yang harus aku kerjakan. Aku pergi dulu, ya.” Cowok kurus itu bersiap beranjak pergi. Dia melipat sarung yang masih dikenakan sehabis sholat subuh. Celana ngatung sedengkul dan kaos hitam lusuh yang kebesaran terlihat kusut tak tersentuh setrikaan.
“Aku ikut!” Kataku tiba-tiba. Aku sendiri kaget mendengar diriku berkata demikian.
“Ikut kemana?” Dia bertanya. Bibirnya berkedut-kedut menahan senyum.
“Ikut kamu. Kemana, kek!” Aku memberanikan diri menatap matanya yang indah itu. Mata itu seperti sepasang mata elang. Hitam, tajam, dalam. Aku tak sanggup beradu pandang dengan mata itu lebih dari lima detik. Buru-buru aku membuang pandang jauh-jauh seraya meredakan sesuatu yang tiba-tiba bergejolak di hatiku.
“Aku mau ke kandang ayam, Nona. Mengumpulkan telur, membersihkan kandang dan memberi makan ayam-ayam agar mereka tetap mau bertelur banyak. Setelah itu, aku harus ke pasar, menjual telur dan janur. Pulangnya, aku masih harus mencari pakan untuk sapi dan kambing. Aku juga harus membantu memasak untuk buka puasa adik-adik di Panti. Lihat, kan? Aku ini orang sibuk, Nona.” Dia nyengir.
“Pokoknya aku mau ikut. Aku bosan di rumah tanpa melakukan apapun. Boleh, ya?” Aku merajuk.
“Kamu ‘kan bisa menghabiskan waktu dengan membaca buku, bermalas-malasan di ayunan, atau nonton TV seharian. Itu cara yang sempurna untuk mengisi hari-hari puasa seperti ini, bukan?”
“Bukan!” Kataku terdengar agak ketus. Dia pasti mengira aku ini gadis manja yang suka bermalas-malasan. “Aku ingin melakukan sesuatu, bukan hanya goleran di depan TV sepanjang hari. Aku bukan type orang seperti itu.” Kataku berapi-api.
“Ini bulan puasa, Nona. Cuaca sedang panas-panasnya. Pekerjaanku berat dan menguras tenaga. Aku tidak mau nanti disalahkan kalau puasa kamu batal gara-gara gak kuat menahan haus di Pasar.”
“Puasaku tidak akan batal hanya gara-gara kepanasan. Aku pernah berpuasa di negara yang siangnya 14 jam dan aku kuat! Pokoknya aku mau ikut. Oh, satu lagi, berhenti memanggilku ‘Nona’! Namaku Kalinda. Panggil aku dengan namaku. Sekarang, tunggu di sini. Jangan kemana-mana. Awas kalau kamu gak ada saat aku kembali. Aku minta ijin dulu.” Setengah berlari, aku masuk ke dalam rumah dan mendapati Mama dan Eyang putri di ruang makan.
“Ma, aku mau ikut Ramadhan ke Pasar.” Mama dan Eyang Putri seketika mendongak dari baskom berisi kacang tanah yang sedang dibersihkan.
“Kamu mau ikut Ramadhan ke Pasar? Panas, lho! Nanti puasa kamu batal.” Eyang putri meragukan ketahanan puasaku. Sebal.
“Ramadhan itu siapa?” Tanya Mama. Aku memutar bola mata. Mama agak susah mengingat orang baru. Padahal, kami sekeluarga menginap di rumah Eyang sudah lebih dari seminggu. Ramadhan setiap hari datang ke rumah Eyang. Mama sering meminta bantuan Ramadhan untuk mengerjakan ini itu. Pasti Mama gak terlalu ‘ngeh’. Mama hanya menganggap Ramadhan satu dari puluhan anak Panti yang tinggal di Panti asuhan milik Eyang.
“Itu, lho! Anak panti yang setiap pagi mengantar telur.” Jawab Eyang.
“Oh, dia.” Kata Mama singkat.
“Boleh, ya?”
“Boleh saja. Daripada kamu tidur terus di rumah.” Kata Mama. Ini yang aku suka dari Mama. Beliau tidak pernah melarang anak-anaknya melakukan sesuatu dan memberi kepercayaan penuh kepada kami. Hal seperti ini justru membuat aku dan Kak Keenan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan oleh orang tua kami dengan tidak melakukan hal-hal menyimpang. Kalau pun kami melakukan hal yang menurut mereka tidak benar, mereka tidak lantas menghukum kami. Mereka mengajak kami berdialog dan diberi pengertian kalau hal tersebut tidak baik. Diskusi menjadi sebuah kebiasaan di keluarga kami. Mungkin hal ini pengaruh dari lamanya kami tinggal di negeri Eropa.
Papa dan Mama adalah orang Indonesia asli yang kebelutan bekerja di sebuah perusahaan minyak berskala International. Setelah menikah, Mama mengikuti Papa berpindah negara mengikuti penempatan tugas dari kantor. Aku dan Kak Keenan lahir dan besar di Manchester, Inggris.
 Meskipun cukup lama kami tinggal di luar negeri, Papa dan Mama selalu menanamkan kepada anak-anaknya bahwa kami orang Indonesia tulen. Salah satunya dengan selalu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dan menjalankan perintah agama, termasuk puasa. Selama hampir 15 tahun, aku selalu menjalankan ibadah puasa dan berlebaran di negeri orang. Ini adalah kali pertama aku berpuasa di kampung kelahiran Mama yang terletak di kaki gunung Cikuray, Garut.
Di samping rumah Eyang ada sebuah Panti asuhan yang menampung sekitar 50 anak kurang mampu. Dulu, panti asuhan itu diurus berdua oleh Eyang Akung dan Eyang Putri. Setelah Eyang Akung berpulang ke Rahmatullah, Eyang Putri mengurus Panti seorang diri, dibantu oleh anak-anaknya dan kerabat. Mama rutin mengirim donasi ke Panti. Dulu, ketika aku dan kak Keenan masih kecil, Mama sering bercerita tentang Panti ini.
“Eyang kalian punya sebuah panti asuhan di Indonesia.” Cerita Mama.
“Apakah Eyang kesepian sehingga mau mengurus anak-anak orang lain, Ma?” Tanya Kak Keenan, polos.
“Kesepian? Tentu saja tidak! Eyang punya tujuh orang anak dan belasan cucu yang  lebih dari cukup untuk membuat mereka terhibur. Begini, Nak…” Mama mulai menjelaskan. “Agama mengajarkan kita untuk saling berbagi. Rasulullah menyuruh kita untuk menyayangi dan menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim. Eyang Akung dan Eyang Putri adalah manusia-manusia mulia yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi dan keluarganya. Mama ingat dulu, ketika masih hidup di kampung, kami diberi tugas untuk mengambil seorang atau dua orang adik asuh dari panti, yang menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya.”
“Anak-anak itu datang darimana, Ma?” Tanyaku.
“Ada yang memang dititipkan oleh orang tua mereka secara langsung. Ada yang diambil oleh Eyang karena kondisi keluarga mereka yang sangat miskin. Ada juga yang datang begitu saja. Anak-anak malang yang tak diinginkan oleh orang tua mereka.”
“Kasihan ya, Ma.”
“Kalian ingin bertemu dengan mereka? Tahun ini, masa tugas Papa di Inggris berakhir. Kita akan kembali ke Indonesia, menunggu penempatan tugas Papa selanjutnya. Bagaimana kalau kita menghabiskan bulan puasa dan berlebaran di Garut?” Usul Mama yang langsung disambut dengan anggukan antusias dariku dan Kak Keenan.
‘***
“Lama, euy! Aku kesiangan, nih.” Ramadhan masih duduk menunggu di teras rumah. Wajahnya bersungut-sungut.
“Maap. Aku harus meyakinkan Eyang Putri. Tenang saja. Aku akan membantu semua pekerjaan kamu.”
“Mana bisa gadis kota seperti kamu mengerjakan pekerjaan kampung.” Ramadhan berjalan cepat menuju kandang ayam yang terletak di belakang Panti. Aku mengekor di belakangnya sambil berlari kecil. Setibanya di kandang ayam, Ramadhan memberiku sebuah keranjang anyaman bambu.
“Kamu kumpulkan telur dari induk-induk ayam yang sedang mengeram itu. Hati-hati, induk ayam yang sedang mengerami sangat galak! Awas dipatok!” Ramadhan memberi contoh cara mengambil telur dari induk ayam yang sedang mengeram tanpa membuat sang induk marah. Setelah itu, dia meninggalkan aku, dan pergi untuk memberi makan ayam dan membersihkan kandang. Setengah jam saja, keranjang anyaman bambuku sudah penuh dengan telur segar. Hati-hati, aku letakkan keranjang yang penuh telur itu di lantai. Aku merasa sangat bersemangat, meskipun kandang ayam ini beraroma ‘aduhai’. Ramadhan muncul sambil membawa gerobak.
“Hebat, euy! Kamu dapat telur banyak! Berapa kali kamu dipatok ayam?”
“Tidak sama sekali, dong! Induk-induk ayam itu memberikan telurnya kepadaku dengan senang hati.” Kataku sambil nyengir senang.
“Dasar induk ayam pilih kasih! Kalau gadis cantik yang ambil telur, mereka jinak. Kalau aku yang mengambil telur, mereka ngamuk dan matukin tanganku. Huh!” Aku meringis geli melihat Ramadhan menunjukkan bekas luka patokan ayam. Setelah mencuci tangan, aku mengikuti Ramadhan mendorong gerobak yang berisi telur dan janur. Kami berjalan kaki menelusuri jalan desa menuju pasar.
“Jadi, bagaimana cerita tentang namamu?”  Aku mengulang pertanyaan yang belum dijawab tadi.
“Almarhum Abah yang memberikan nama itu.” Ramadhan mulai bercerita. Aku tahu, yang dia maksud Abah adalah almarhum Eyang Akung-ku. Semua anak panti memanggil Abah dan Nini kepada Eyang Akung dan Eyang Putri-ku. Hanya kami, cucu-cucunya yang memanggil ‘Eyang’.
“Katanya, aku datang ke Panti tepat pada malam pertama Ramadhan.” Sambung Ramadhan.
“Bagaimana kamu bisa datang ke Panti?”
“Dalam sebuah kerdus mie instan dan sehelai kain jarik yang membungkus tubuhku. Usiaku tak lebih dari 3 hari.” Jawaban Ramadhan membuatku tergugu. Aku ingat kata Mama, ada anak-anak panti yang berasal dari orang tua yang tidak menginginkan mereka. Mereka sengaja ditinggalkan di depan pintu tengah malam. Rupanya, Ramadhan adalah salah satu dari bayi-bayi malang itu…
“Tak ada identitas atau keterangan apapun tentang diriku. Kata Abah, dia memberiku nama Muhammad Ramadhan karena aku datang tepat malam Ramadhan.”
 “Kamu tidak tahu siapa orang tua kandungmu?” Tanyaku hati-hati. Ramadhan menggeleng.
“Kamu tidak berusaha untuk mencari tahu tentang mereka?” Lanjutku.
“Untuk apa? Mereka tidak menginginkan aku. Lagipula, aku sudah punya keluarga. Abah, Nini, dan semua orang di Panti adalah keluargaku. Abah sangat menyayangiku. Banyak orang bilang, aku ini anak kesayangan Abah. Tapi mereka tidak tahu sih, bagaimana dulu Abah mendidikku.”
“Memang bagaimana Abah mendidikmu?” Tanyaku. Aku merasa sedikit iri pada Ramadhan. Aku ini cucu kandung Eyang Akung. Tapi aku tidak mengenal beliau. Malah, aku belum pernah bertemu Eyang Akung sama sekali, hanya melihat dari foto-foto dan mendengar suara Eyang Akung melalui telephone jika Mama sedang menelpon ke Garut. Jarak ribuan kilometer yang membentang antara Garut dan Manchester membuatku tidak sempat mengenal Eyang Akung sampai beliau pergi ke pergi surga.
“Sejak umur 5 tahun, Abah sudah menyuruhku azan setiap Subuh dan Magrib di Mesjid.” Kata Ramadhan. “Aku harus mengkhatamkan kitab suci satu kali dalam sebulan. Aku selalu diajak berjualan telur di Pasar. Abah jarang mengajak anak lain. Setiap pengambilan raport, selalu Abah yang datang ke sekolah.”
“Dulu Abah selalu bertanya tentang cita-citaku. Aku selalu menjawab, ingin jadi guru. Cita-cita itu tidak pernah berubah sampai sekarang. Menjadi guru adalah pekerjaan dunia akhirat. Ilmu yang bermanfaat adalah salah satu dari tiga hal yang akan kita bawa sampai mati, selain amal zariah dan doa dari anak yang soleh.” Ramadhan berhenti bercerita karena mengusir lembu-lembu yang ada di tengah jalan. Aku memandangi sosoknya.
            Usia kami sama, namun jalan pikirannya jauh lebih matang dariku. Bahkan Ramadhan lebih dewasa ketimbang Kak Keenan yang sudah kuliah. Mungkin, anak yang dibesarkan di kampung memang lebih cepat dewasa dibanding anak yang dibesarkan di kota. Tubuhnya kurus dan kulitnya hitam. Tapi, dia cukup tampan. Kalau dilihat-lihat, dia mirip Will Smith. Matanya adalah pusat daya tariknya. Aku yakin pasti banyak gadis pasti terserap dalam pusaran matanya yang tajam itu.
            “Kamu sudah punya pacar?” Tanyaku tanpa bisa kutahan.
            “Ha?!” Teriak Ramadhan.
            “Kamu sudah punya pacar apa belum?” Ulangku mengatasi suara lembu-lembu yang protes disuruh minggir paksa oleh Ramadhan.
            “Apa itu pacar? Sejenis nama buah?” Katanya sambil tertawa. “Mana ada cewek yang mau sama pemuda kampung sepertiku.” Lanjutnya. “Aku gak punya waktu untuk pacaran. Aku sibuk ngurus ayam, sapi dan kambing. Belum lagi adik-adik panti.”  Entah kenapa, aku merasa lega mendengarnya.
“Waktu Abah berpulang” Lanjut Ramadhan, ”aku sedih sekali. Abah adalah orang tua bagiku. Aku menemani Abah saat terakhir beliau. Kejadiannya sangat mendadak. Seperti biasa, sehabis subuh, Abah tidak langsung pulang ke rumah. Beliau selalu mengaji kitab suci sampai waktu Dhuha. Waktu itu hari jumat. Sekolah kami libur hari jumat. Semua anak-anak panti sudah meninggalkan mesjid untuk melanjutkan tidur sampai siang, atau melakukan apapun untuk liburan. Jamaah masjid juga sudah pulang. Abah menahanku. Beliau berkata ‘Jangan pulang dulu, Dhan. Temani Abah rebahan di mesjid.’ Aku menemahi Abah sambil mengulang hapalan kitab suci. Sampai menjelang Dhuha, Abah masih tidur. Aku membangunkan Abah untuk ijin ke kandang ayam. Tapi rupanya, Abah tidur selamanya…” Ramadhan membuang muka. Aku tahu, dia berusaha menyembunyikan setitik embun yang menggenang di mata elangnya. Aku sendiri tak mampu menyembunyikan air mataku.
“Maaf, ya. Ceritanya sedih.” Ramadhan memberiku selembar sapu tangan. Aku menyeka air mata dengan sapu tangan lusuh itu.
‘Simpan saja.’ Katanya saat aku mengembalikan sapu tangan itu.
Kami sudah sampai di Pasar. Aku belum pernah ke Pasar tradisional dan aku merasa sangat bergairah. Ramadhan mendatangi kios-kios langganan telur. Dalam waktu singkat, telur yang kami bawa sudah habis terjual. Lalu kami menggelar dagangan janur untuk membuat ketupat. Sambil menunggu pembeli, Ramadhan mengajariku membuat ketupat. Ternyata susah juga. Berkali-kali ketupatku menjadi bola kusut. Sementara Ramadhan hanya membutuhkan waktu semenit untuk membuat ketupat sempurna. Namun akhirnya, aku berhasil membuat ketupat yang sempurna. Yey!
Karena besok adalah hari lebaran, tak butuh waktu lama untuk menjual ketupat-ketupat itu. Menjelang Dzuhur, kami mendorong gerobak yang sudah kosong kembali menuju rumah. Ramadhan menawariku untuk duduk di dalam gerobak. Tentu saja aku mau. Lumayan, kakiku sudah pegal.
Perjalanan pulang, giliran aku yang bercerita kepada Ramadhan tentang kehidupanku di negara orang. Tentang suasana Ramadhan di negara Eropa. ‘Kalau Ramadhan jatuh di musim panas, kami bisa berpuasa selama 14 jam, lho!’. Tentang perkumpulan pengajian orang-orang Indonesia. Tentang lebaran di KBRI London. ‘Aku bisa ketemu teman sebaya dari Indonesia di KBRI. Kami makan ketupat dan opor, juga semur jengkol. Jangan salah, meskipun aku lahir dan besar di Inggris, tapi di rumahku selalu tersedia masakan Indonesia. Mama selalu masak makanan Indonesia. Lidahku dan Kak Keenan jadi terbiasa.’ Tentang pertanyaan aneh dari kawan-kawan sekolahku yang heran melihat aku berpuasa. ‘you don’t eat and drink all day long? How come! You can die!’ Ramadhan mendengarkan dengan penuh antusias.
“Enak sekali hidupmu, Kalinda. Aku juga ingin pergi ke tempat yang jauh.” Katanya setelah aku selesai bercerita.
Tanpa terasa, kami sudah sampai di rumah. Kami membersihkan badan di air pancuran sungai, lalu Ramadhan ke Mesjid yang terletak di samping rumah untuk sholat, sedangkan aku pulang ke rumah untuk beristirahat. Aroma lebaran menguar dari dalam rumah. Opor, rendang, sayur ketupat dan kue-kue memenuhi dapur. Ini adalah bulan Ramadhan dan lebaran paling indah yang pernah aku rasakan.
Setelah maghrib, kampung menjadi sangat ramai. Suara takbir dan beduk bersahut-sahutan. Keluarga besar Mama berkumpul di rumah Eyang. Aku bertemu dengan sepupu-sepupu yang belum aku kenal sama sekali. Tapi, mataku mencari-cari satu sosok.
“Celingukan cari siapa, sih?” Tanya Kak Keenan.
“Ramadhan. Dia mana dia?”
“Paling lagi di Mesjid. Membantu bersih-bersih mesjid untuk di pakai Sholat Id besok pagi. Mau ngapain, sih?”
“Mau ngasih ini.” Aku menunjukkan bungkusan yang berisi baju koko dan sarung.
 “Jieeh… ada yang lagi naksir cowok!” Spontan, kujitak kepala abangku. Untung saat itu tak ada orang di dekat kami.
Karena Ramadhan tak kunjung muncul, aku putuskan untuk mencarinya di Mesjid.
“Cari siapa, Neng Kalinda?” Tanya Mang Ujang, salah satu pengurus Panti.
“Ramadhan.” Jawabku.
“Oh, dia lagi ke pasar. Disuruh beli terpal tenda untuk sholat Id besok. Terpal mesjid sudah banyak yang sobek, jadi harus beli baru. Tunggu saja. Sebentar lagi juga kembali.”
Aku kembali ke rumah dan menunggu Ramadhan sambil ngobrol dengan sepupu-sepupu. Saat menjelang Isya, tampak beberapa orang mendatangi rumah kami. Aku bergegas ke teras. Salah seorang yang datang itu bercerita,
“Ramadhan ditabrak motor. Ada sekelompok pemuda ugal-ugalan ngebut dengan motor. Padahal sudah dilarang merayakan malam takbiran dijalanan. Tetap saja, anak-anak begajulan itu ngebut-ngebutan. Ramadhan tertabrak saat dia berjalan di pinggir. Jenazahnya sekarang ada di Rumah Sakit Kecamatan. Siapkan mesjid untuk menyambut jenazahnya. Pemuda soleh, meninggal dunia saat bulan Ramadhan akan pergi. Sungguh beruntung…”
Pandanganku buram. Suara-suara yang ramai disekelilingku memudar. Hanya sebuah suara bariton indah yang aku dengar dan sepasang mata elang yang sedang menatapku.
“Aku ingin pergi ke tempat yang jauh…”
Sehelai sapu tangan lusuh melayang jatuh ketika tubuhku limbung ke lantai.
Ramadhan pergi. Tapi kenapa harus dia?
‘***







2 komentar