Cerpen ini tayang di Majalah Fiksi-Online edisi Mei 2015
Secangkir
kopi dan sepotong kenangan
Oleh
Dwi Indarti
Bagaimana
menghadirkan sepotong kenangan? Ada banyak cara. Setiap orang punya cara yang
beda. Mungkin dengan mendengarkan musik. Sepenggal lirik lagu seringkali
menyimpan sebuah kenangan bagi seseorang. Mungkin dengan membaca buku. Sepotong
kalimat dari sebuah buku bisa menghadirkan kembali sebuah kejadian. Atau mungkin,
sebuah tempat khusus. Meja di sudut cafe temaram. Pantai berpasir putih. Puncak
gunung yang berkabut. Ruang-ruang galeri seni. Taman kota. Warung pinggir
jalan. Semua itu bisa menghidupkan kembali kenangan.
Bagiku,
hanya ada satu hal yang bisa membangkitkan sepotong kenangan tentang dirinya.
Secangkir kopi. Tuangkan air mendidih ke dalam cangkir yang telah di isi bubuk
kopi hitam. Seketika aroma kopi akan menyebar. Seketika itu pula sepotong
kenangan hadir dalam benakku. Jelas.
‘***
“Siapa
itu?”
“Bukan
siapa-siapa.”
Aku
buru-buru menyuruhnya keluar dari kamar, sebelum teman-temanku yang lain
mengajukan pertanyaan serupa.
“Ngapain
masuk ke sini?!” Tanyaku setengah berbisik, setengah membentak.
“Kopi.”
“Tidak
perlu! Aku bisa bikin kopi sendiri untuk teman-temanku. Jangan
ganggu. Aku sedang belajar.”
Aku
menutup pintu. Namun, tak sampai dua menit, pintu itu terbuka lagi.
“Kopi.”
Ucapnya. Aku mendengus kesal. Beberapa temanku yang sedang menekuri laptop sempat menengadah. Buru-buru aku
menggiringnya keluar. Agak mendorong tubuhnya yang ringkih. Senampan cangkir kopi
yang dibawanya bergoyang. Cairan kopi meruap tumpah.
“Mau apa
lagi?” Desisku kesal.
“Antar
kopi.”
“Sudah
kubilang, aku tidak mau kopi! Teman-temanku juga tidak mau kopi. Jangan ganggu lagi.”
Kututup pintu kamar.
“Siapa
sih, Al?” Tanya Sonya.
“Bukan
siapa-siapa, kok. Cuma salah seorang penghuni rumah ini yang suka mengganggu.
Yuk, kita lanjutkan. Sorry untuk gangguan tadi.” Aku kembali menekuri laptop,
berharap agar teman-temanku melakukan hal yang sama. Tugas kelompok biologi
harus selesai malam ini. Besok adalah deadline
penyerahan tugas untuk nilai tengah semester.
“Aku gak
keberatan kalau disuguhi secangkir kopi. Mataku mulai berat, nih.” Celetuk
Ardhi.
“Minum
soda saja.” Jawabku.
“Soda
bikin perutku begah.” Jawabnya.
“Iya,
Al. Kata orang, kopi bisa bikin mood
bagus. Sudah hampir dua jam kita berkutat dengan paper. Aku perlu zat yang bisa
menyegarkan, seperti cafein.” Tambah Rhino.
“Aku
juga mau kopi.” Sonya nimbrung. Aku menyerah. Sebagai tuan rumah yang baik, aku
harus menjamu teman-temanku yang sedang bertamu. Padahal, aku sudah menyediakan
berbagai minuman soda dan cemilan untuk mereka.
“Baiklah.
Jadi kalian semua mau kopi?” Tanyaku. Mereka mengangguk kompak.
“Please... kalau tidak merepotkan.” Kata
Ardhi sambil nyengir.
“Ok. Four cups of coffee are on the way.”
“Gulanya
sedikit saja, ya. Aku suka kopi agak pahit.” Kata Sonya.
“Kalau
aku suka kopi manis. Semakin manis, semakin enak.” Sahut Rhino.
“Kopi
untukku jangan terlalu cair. Airnya jangan
banyak-banyak. Aku suka kopi kental. Kalau ada susu, boleh juga tuh.”
“Cream
juga boleh.”
“Ditabur
sedikit chocogranno pasti tambah asyik.”
Aku
memutar bola mata. “Kalian pikir ini kedai kopi.” Sahutku cemberut. Mereka
tertawa.
“Sorry,
kami cuma bercanda, kok. Kopi apapun boleh.”
Aku
pergi ke dapur dan mendapati dirinya sedang duduk di salah satu kursi. Diam
mematung.
“Bisa
tolong buatkan kopi?” Tanyaku. Dia mengangguk. Seketika wajahnya bersinar
bahagia.
“Empat
cangkir.” Kataku sambil mengacungkan empat jari ke depan wajahnya. Dia
mengangguk lagi.
“Satu
kopi kental. Satu kopi pahit. Satu kopi manis. Satu kopi untukku. Kamu sudah
tahu, kan?” Dia mengangguk lagi.
“Pisang
goreng?” Dia bertanya saat aku membalikkan badan.
“Boleh,
kalau ada. Terima kasih.” Aku segera kembali ke kamar. Tiba-tiba aku ingat satu
hal.
“Kalau
sudah siap, cukup ketuk pintu kamarku. Biar aku saja yang menyajikan kopi
kepada teman-temanku. Kamu tidak perlu masuk ke dalam kamarku. Mengerti?” Dia
mengangguk.
Tak
sampai sepuluh menit, pintu kamarku diketuk halus. Dia tersenyum sambil membawa
nampan yang berisi empat cangkir kopi dan sepiring pisang goreng yang masih
panas.
“Kopi.”
Katanya.
“Terima
kasih.” Aku menerima nampan darinya.
“Hati-hati.
Panas.” Aku menutup pintu kamar sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya. Aku
membawa cangkir-cangkir kopi itu kepada teman-temanku. Kami berempat rehat
sejenak dari kesibukan menyusun paper tugas, sambil menikmati kopi dan pisang
goreng hangat.
“Enak
sekali kopinya, Al! Sedap!” Kata Rhino.
“Iya,
takaran gulanya pas. Manisnya pas.” Tambah Sonya.
“Setuju.
Belum pernah aku minum kopi seenak ini.” Ardhi ikut mengomentari. Aku hanya
tersenyum.
“Siapa
pun yang membuat kopi-kopi ini, dia berbakat jadi ahli kopi. Bayangkan, meramu
empat cangkir kopi dengan selera berbeda, tapi semuanya sedap. Siapa sih yang
bikin, Al? Cewek yang tadi masuk ke sini, ya?” Tanya Sonya menyelidik.
“Iya.”
Jawabku singkat. Tolong jangan
tanya-tanya soal dia. Aku membatin.
“Orang
tua kamu kemana, Al?” Tanya Ardhi. Syukurlah.
Lega ketika Ardhi mengubah topik pembicaraan.
“Mereka
sedang menghadiri acara di Kedutaan Turki.”
“Enak,
ya punya orang tua diplomat. Bisa keliling dunia. Kamu lahir dimana, Al?”
“Chicago.”
“Keren!
Kalau kamu lahir
di mana, Rhino?” Tanya Ardhi.
“JONGGOL!”
Kami
semua terbahak.
“Jadi,
kamu baru di Jakarta, ya?” Tanya Sonya.
“Tidak
juga. Begini, aku memang lahir di Chicago. Sampai umur 4 tahun aku
tinggal di sana. Lalu orang tuaku ditugaskan di Jakarta. Aku sempat
menyelesaikan TK di sini. Kemudian kami pindah ke Istambul karena Papaku ditugaskan
di sana. Aku
sempat sekolah SD di Turki selama tiga tahun. Deplu memanggil Papaku kembali di
Jakarta dan aku tinggal di sini sampai lulus SD. Terus, Papaku bertugas di
Kairo selama 3 tahun. Aku menyelesaikan SMP ku di Mesir. Dan sekarang, Deplu
menarik Papaku untuk kembali bertugas di Jakarta. Now, here I am... Jadi anak baru pada pertengahan semester. Untung
aku ketemu kalian. Gak mudah untuk selalu menyesuaikan diri di lingkungan yang
baru.”
“Tenang
saja, Al. Kami malah senang bisa kenal kamu. Kami bisa dengar cerita menarik
tentang negara-negara yang pernah kamu singgahi.”
“Coba
Rhino, kamu cerita tentang masa kecilmu. Kamu sudah kemana aja?” Tanya Ardhi.
Dengan lantang, Rhino menjawab.
“Gue
lahir di Jonggol. TK gue jaraknya dua rumah di sebelah kanan. SD gue jaraknya 5
menit jalan kaki dari rumah. SMP gue jaraknya 10 menit naik angkot dari rumah.
SMA gue jaraknya 30 menit naik motor. Daerah terjauh yang penah gue datangin
adalah Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Puas lo pada?”
Kami
semua terpingkal-pingkal.
“Kamu
anak tunggal, Al?” Tanya Ardhi setelah kami berhasil berhenti tertawa.
“Hmm...
aku punya seorang kakak.”
Tepat
saat itu, pintu kamarku kembali diketuk.
“Tambah
kopi?” Dia berdiri diambang pintu.
“Guys,
kopinya mau nambah?”
“Boleh!
Kalau tidak merepotkan.”
“Buatkan
empat cangkir kopi lagi, ya. Terima kasih.”
Sebelum
maghrib, kami berhasil menyelesaikan tugas paper biologi dan siap dikumpulkan
besok pagi. Aku mengantar teman-teman baruku sampai di pintu gerbang.
“Thanks,
Al! Semoga tugas kita dapat nilai bagus, ya. Senang bekerja sama denganmu.”
Kata Sonya.
“Terima
kasih untuk kamarmu yang nyaman dan pisang gorengnya. Terutama untuk kopi yang sedap
itu. Next time, kita kerja kelompok
di sini lagi, boleh?” Kata Ardhi.
“Sama-sama
Guys. Senang sekali kalau kalian mau main ke rumahku lagi. Sampai ketemu besok
di sekolah, ya.”
“Ada
yang mengintip, Al.” Kata Ardhi. Aku mengikuti pandangannya ke arah salah satu
jendela di kamar atas. Dia sedang mengintip dari balik tirai. Dia buru-buru
menutup tirai begitu kami melihatnya.
“Dia
yang bikin kopi, bukan? Titip salam, ya!” Bisik Ardhi.
‘***
“Kawan-kawanmu
jadi datang belajar di sini, Al?” Tanya Mama saat makan malam.
“Jadi,
Ma. Mereka pulang sebelum maghrib.”
“Sayang
sekali Mama tidak bertemu mereka. Kamu suguhi mereka apa?”
“Kopi.”
Dia yang menjawab. “Minum kopi dua kali.”
Dia bercerita kepada Mama dengan bersemangat.
“Ah, ya!
Kamu yang membuatkan kopi, Alina?” Tanya Mama. Dia mengangguk bersemangat.
“Minum
kopi dua kali.” Alina mengulang kalimat. Selalu.
“Siapa
pun pasti suka kopi jika kamu yang membuatnya, Alina. O,
iya, Mama diberi hadiah kopi dari Korea. Bisa tolong
buatkan, Alina?” Mama menyerahkan sebungkus kopi pada Alina yang menerimanya
dengan ekspresi seorang aktris menerima piala Oscar.
“Alicia
mau?” Tanya Alina.
“Boleh.”
“Apakah
kamu memperkenalkan Alina kepada teman-temanmu?” Tanya Mama setelah Alina pergi
ke dapur.
“Ma...”
“Al, dia
kakakmu. Kakak kandungmu. Dia memang berbeda. Dia special...” Aku hanya bisa
tertunduk.
Alina
kakak kandungku. Usia kami terpaut dua tahun. Sampai umur dua tahun, tak ada yang salah dengan Alina. Semuanya normal.
Alina adalah bayi
kecil yang cantik, periang, dan disukai oleh semua orang. Suatu saat, Alina
mulai berubah. Dia tidak lagi riang, tapi sangat tertutup dan takut pada banyak
hal. Dia takut pada api, takut pada warna kuning, takut pada balon dan banyak
hal lainnya. Alina menjadi anak yang sulit. Tertutup dan tak mau bertemu dengan
orang. Kemampuan berbicaranya tak berkembang. Dia sulit merangkai kalimat lebih
dari lima kata. Yang bisa diucapkan, diulang terus menerus. Kemampuan intelegensia-nya juga tak
berkembang. Sampai umur 7 tahun, Alina masih bertingkah seperti anak tiga tahun.
Setelah
Mama dan Papa membawanya ke dokter, akhirnya Alina didiagnonsa menderita
autisme. Kadang Alina mengamuk, menghancurkan barang-barang tanpa sebab yang
jelas. Aku masih ingat saat ulang tahunku yang ke sepuluh. Waktu itu, aku
mengundang teman-teman sekolah untuk merayakan ulang tahun di rumah. Saat
hendak meniup lilin ulang tahun, tiba-tiba saja Alina menjerit-jerit histeris
dan melemparkan semua barang, termasuk kado-kado ulang tahunku yang bertumpuk
rapih. Alina juga merusak kue ulang tahunku. Hampir saja terjadi kebakaran,
karena lilin ulang tahun terjatuh di lantai dan membakar permadani. Kejadian
itu membuatku sedih dan malu. Teman-teman sekolahku bilang aku punya kakak
gila.
Karena
Alina pula, aku terpaksa melepaskan impianku bersekolah di sekolah impian.
Pengobatan Alina mennyita sebagian besar penghasilan Mama dan Papa.
“Kamu
harus mengalah pada kakakmu, ya Nak.” Ujar Papa ketika beliau urung
mendaftarkan aku ke sekolah impianku.
“Kakakmu
lebih membutuhkan biaya. Sekolah negeri juga bagus, Nak.” Tambah Mama.
Aku hanya
bisa menangis dalam diam. Sekolah diplomat itu adalah impianku sejak lama. Di
sana tempat anak-anak diplomat bersekolah, seperti aku.
Diantara
semua keterbatasan Alina, dia mempunyai minat yang aneh pada kopi. Dia selalu
suka pada semua jenis kopi. Dan harus kuakui, semua kopi racikannya luar biasa.
Papa dan Mama senang sekali mengetahui hal ini. Mereka berusaha memfasilitasi
Alina untuk terus mengembangkan minatnya terhadap kopi. Harapan mereka akan
masa depan yang lebih baik bagi Alina kembali merekah. Mereka yakin, Alina bisa
menjadi orang sukses di masa depan. Kalau saja...
‘***
Pagi
itu, Alina membuntutiku. Membuatku kesal.
“Ikut.”
Pintanya.
“Ikut
kemana? Aku mau berangkat ke sekolah.”
“Ikut.
Ardhi.”
“Kamu
ingin ketemu Ardhi? Kamu suka Ardhi?” Aku kaget sekaligus geli. Orang dengan
kondisi seperti Alina ternyata juga mempunyai ketertarikan terhadap lawan
jenis. Alina mengangguk.
“Gak
boleh! Kamu gak boleh ikut ke sekolah! Lagipula, Ardhi tak akan suka denganmu!”
Alina seolah tidak mendengar. Dia tetap mengekor di belakangku. Aku menyayangkan Papa dan Mama sedang
bertugas ke luar kota selama seminggu, jadi di rumah ini hanya ada aku dan
Alina serta seorang pengasuh yang sedang di kamar mandi.
“Jangan
mengikuti aku terus, Alina! Aku mau berangkat ke sekolah!”
“Ikut.”
“Tidak
boleh!”
“Ikut.
Ardhi suka kopi. Ardhi suka kopi.” Alina menyorongkan sebotol termos berisi
kopi kepadaku.
“Kamu
membuatkan kopi untuk Ardhi?”
Alina mengangguk.
“Sini
aku yang kasih ke dia.”
Alina
menggeleng keras.
“Ikut.”
“Tidak
boleh, Alina! Sekolah bukan tempat bermain-main. Sekolah bukan tempat untuk
minum kopi! Masuk ke kamarmu, sana!”
Tapi dia
adalah Alina. Jika dia sudah ingin sesuatu, maka dia akan terus merangsek. Dia akan menjerit-jerit histeris untuk mendapatkan apa
yang dia mau. Kata “MAU! MAU! MAU! MAU! MAU! MAU! MAU!” Akan terus
dilontarkannya, membuat setiap orang sakit kepala, sampai akhirnya dia mendapat
apa yang dia mau. Dan dia melakukan hal
itu sekarang. Sambil mengikuti kemana aku pergi, dia terus berteriak “IKUT!
IKUT! IKUT! IKUT! IKUT!”
“Oke,
Alina. Kamu boleh ikut.” Kataku putus asa. Seketika Alina terdiam. Bola matanya
melebar.
“Tapi,
kamu mandi dulu, ganti baju, dan dandan yang cantik, biar Ardhi senang bertemu
denganmu. Oke?” Alina mengangguk. Dia bergegas ke kamar. Inilah kesempatanku
untuk pergi ke sekolah. Akhirnya...
Tepat
pukul sepuluh pagi, ibu kepala
sekolah memanggilku ke kantornya.
“Alicia,
ada kabar duka dari rumah...”
‘***
Pemakaman
Alina telah usai.
Para tamu penyelawat telah pulang. Tinggal aku, Mama dan Papa duduk di ruang
keluarga. Mama dan aku terus menangis. Terutama aku, yang merasa sangat
bersalah. You don’t know what you’ve got
till it has gone. Kepergian Alina menyadarkan apa yang selama ini aku
miliki.
Pagi
itu, setelah aku berhasil membebaskan diri dari Alina, rupanya Alina terus
mencariku. Kata salah seorang asisten rumah tangga, Alina mengejarku ke jalan raya, tanpa
bisa dicegah, sambil berteriak
memanggil namaku. Tiba-tiba saja, sebuah truk besar dengan kecepatan tinggi
menghantam tubuhnya yang mungil hinggal terhempas di trotoar dan nyawanya tak
dapat diselamatkan. Botol termos berisi kopi pecah berantakan. Cairan kopi
membasahi tubuhnya yang berlumur darah. Alina pergi untuk selamanya.
Meninggalkan aku dengan sepotong kenangan tentang dirinya dan aroma kopi...


ya Allah haru biru hiks...
BalasHapus