Dua Gelas Mocafloat


 Cerpen ini dimuat di Majalah HAI
Edisi 19 - 24 Januari 2015

Dua Gelas Mocafloat
Oleh Dwi Indarti
Hujan yang awet. Hampir sepanjang hari butir-butir air bening menderas turun ke bumi. Tak menyisakan sejengkal pun tanah kering. Malah, genangan demi genangan terbentuk di setiap cekungan. Juga antrian kendaraan yang semakin memanjang. Parah.

Aku ingin bergegas. Pesan darinya masuk beberapa menit yang lalu.
Aku sudah di TKP
Wait. OTW. Hujan. Macet
Mau pesen apa?
Pake nanya. Biasalah!
Mocafloat? Hujan-hujan, begini?
Kalau kamu ingin pesan yang lain, silahkan aja. Tapi aku tetap Mocafloat.
Ya udah. Dua gelas mocafloat menunggumu. Juga seorang cewek manis.
Cewek manis? Manis dari Hongkong!
Sialan!
Ha ha. Ya udah, tunggu...
Hati-hati

Bahkan motor pun susah untuk menembus kemacetan ini. Air hujan mulai menjamahi bajuku. Jas hujan tak mampu membendungnya. Sudah hampir sepuluh menit aku berteduh di bawah jembatan layang ini. Bersama puluhan pengendara motor lainnya. Aku tahu, hal ini tambah memperparah kemacetan. Tapi mau bagaimana lagi? Hujannya terlalu deras untuk ditembus.
Bosan. Kukeluarkan Androidku lagi.
Hoi, masih di bawah Jembatan, nih. Neduh.
Hujannya awet, ya.
Ho’oh. Lagi ngapain?
            Ngeliatin mocafloat yang mulai mencair
            Ha ha, minum aja duluan
            Gak, ah. Rasanya beda kalau minum sendirian.
            Kurang sedap, ya? Nunggu ada aku di depan kamu, baru terasa sedap
            Ih, gede rasa!
            Aku ngengir. Dua gelas mocafloat itu punya cerita tersendiri bagiku. Dan baginya. Semua berawal dari sana. Dua gelas mocafloat itu yang menemani kami siang-siang, sore-sore, malam-malam. Dua gelas mocafloat itu yang menemani kami mengerjakan tugas-tugas, ngobrol ngalor ngidul, tertawa terbahak-bahak, sampai bertukar cerita yang kadang meneteskan air mata.

            Dua gelas mocafloat itu yang menemani kami menuliskan rencana-rencana. Mencetuskan ide-ide. Membangun mimpi-mimpi. Seperti sebuah percakapan pada suatu senja, bersama dua gelas mocafloat yang sudah meleleh dan tinggal setengah.
            “Setelah lulus SMA, kamu mau melanjutkan kemana?”
            “Aku ingin kuliah Broadcast”
            “Pengen jadi reporter TV, ya?”
            “Gak itu aja. Intinya, aku suka dengan kegiatan outdoor. Aku suka bersinggungan dengan banyak orang dan melahirkan ide-ide baru.”
            “Kamu bakal cocok di dunia Broadcast. Kamu itu extrovert! Gampang bergaul.”
            “Kalau kamu? Mau melanjutkan kemana? Hmm... tunggu, biar aku tebak! Pasti ambil Sastra. Iya, kan?”
            “Ha ha, iya benar!”
            “Gak perlu orang pintar untuk bisa tahu minat kamu. Semua aura dirimu sudah memancarkan aroma sastra. Seolah-olah, kamu membawa karton besar di dada yang bertuliskan “GUE ANAK SASTRA”
            “Sotak!”
            “Harus di kampus yang beda, ya...”
            “Iya, ah... aku gak mau sekampus sama kamu. Nanti cepat bosen.”
            “Iya, buktinya kita sekolah di SMA yang beda, tapi tetap seru, ya...”
            “Semoga kita bisa menjalani mimpi-mimpi kita dan mewujudkannya menjadi nyata, ya. Aku dengan dunia Broadcastku, bisa menelurkan program-program TV sekeren National Geographic Channel...”
            “Dan aku bisa menetaskan novel-novel best seller seperti JK Rowling.”
            “Aamiin...”
            “Dua gelas mocafloat ini saksinya. Untuk memulai mimpi-mimpi gila.
            “Gila tapi gak mustahil, kan...”
            Teet...Teet... Teet... suara klakson membuyarkan lamunanku. Rupanya hujan sudah mereda. Para pengendara motor mulai bersiap melanjutkan perjalanan yang tertunda.
            Sore ini kami janjian. Di tempat biasa. Kafe merah. Begitu kami menyebutnya. Sebenarnya itu hanya sebuah restoran cepat saji yang terletak diantara gedung-gedung perkantoran tinggi. Tempatnya asyik. Tenang dan rindang dengan banyak pepohonan dan atap kaca transparan. Dan yang paling penting, kami bisa memesan dua gelas mocafloat untuk menemani ngobrol tanpa batas waktu.
            Kami mempunyai sudut favorit. Sebuah meja yang terletak di teras kafe merah. Paling ujung. Jika meja itu terlanjur ditempati oleh orang lain, kami akan sabar menunggu sampai meja itu kosong, lalu pindah menempati meja itu.
Sepertinya para pelayan kafe merah itu sudah hapal dengan kami. Juga dengan pesanan kami. “Dua gelas mocafloat minum di sini, kan?” Begitu mereka menyapa kami.
            Sambil mengendarai motor, aku membayangkan saat ini dia duduk di sudut itu. Dengan dua gelas mocafloat dihadapannya. Dan sebuah novel Shopie Kinsella terbuka. Aku tak sabar ingin memperlihatkan formulir pendaftaran kampus yang baru saja aku dapatkan. Aku akan ikut ujian saringan masuk ke kampus itu.
            Lucky I’m in love with my best friend
            Lucky to have been where I have been
            Lucky to becoming home again

            Kunyanyikan lagu milik Jason Marz itu. Lagu yang percis menggambarkan keadaanku. Aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Persahabatan uang telah terjalin selama lebih dari tujuh tahun. Membayangkan semua moment itu, membuatku tersenyum sendiri. Lalu sebuah truk melintas cepat ....
‘***
            Sampai juga. Piuh!
            “Sorry, lama, ya?”
Dia masih menunduk, asyik menekuri bukunya.
            “Wuih... Mocafloat-nya udah cair banget! Masih enak, gak nih?”
Dia meraih Androidnya. Mengecek pesan.
            “Iya... iya... aku salah. Kamu jadi kelamaan nunggu. Tapi tadi hujan dan macet, banget.”
Dia menelphone seseorang.
            “Kamu nelephone siapa, sih?”
            Aku berusaha melihat siapa yang sedang berusaha dia telephone. Dan aku terkesiap. “Calling Elang...”
            Buat apa dia menelpon-ku? Aku kan sudah di sini. Di depannya. Tiba-tiba telephone itu bergetar. Dia mengangkatnya...
            “Ya Tuhan... “ Hanya itu yang dia ucapkan.
            “Hey, ada apa, sih? Kamu mau kemana?” Aku berteriak memanggilnya yang menghambur pergi. Aneh.
‘***
            Aku tetap di sini. Menunggunya. Menemaninya. Dia tetap datang ke sudut kafe merah. Tetap memesan dua gelas Mocafloat. Dia tahu aku selalu ada di sini. Aku selalu mengawasinya mengetik kata demi kata di laptopnya. Dia menulis sebuah cerita. Tentang seorang gadis yang menunggu kekasihnya. Ditemani dua gelas mocaflot. Walaupun kekasihnya – yang dia beri nama Elang- tak pernah muncul, karena sebuah truk besar menggilas motornya saat hendak menemui gadis itu...
'***

4 komentar

  1. Hai kak, salam kenal..

    Mau tanya. Untuk yang ingin mengirim cerpen kali pertama, sebaiknya dikirim lewat e-mail atau pos, ya?

    BalasHapus
  2. Awalnya aku nggak ngeuh sama part akhir menuju ending sampai endingnya hahaha
    begitu baca dua kali baru deh aku bergumam, "ooooh gitu."

    twist ending :))

    BalasHapus
  3. Wow! Keren...
    Salut buat penulisnya.. :)

    BalasHapus
  4. Biasanya aku nggak suka sad ending, tapi buat cerpen ini pengecualian. Keren!

    BalasHapus