Edelwies Yang Sederhana


Cerpen ini dimuat di Majalah HAI
Edisi No 44 tanggal 3 November 2014

Edelwies Yang Sederhana
Oleh Dwi Indarti
            “Jangan dipetik!”
            “Kenapa?”
            “Bayangkan jika setiap pendaki memetik Edelwies, bunga itu akan punah.”
            “Tapi aku ingin membawakan sekuntum bunga Edelweis untuk orang terkasih.”

            “Ambil saja yang sudah jatuh di tanah.”
            “Tapi itu bunga mati. Untuk apa?”
            “Edelweis tak pernah mati...”
           Percakapan itu terjadi pada sebuah senja di Pondok Salada, Gunung Papandayan. Gerumbulan bunga Edelweis yang tumbuh di depan tenda, sungguh sangat menggodaku untuk memetiknya.
         “Berikan saja bunga mawar atau anggrek untuk orang terkasihmu. Mereka lebih cantik dari Edelweis.” Lanjutnya.
            Benar. Edelweis memang kalah cantik jika dibandingkan dengan mawar yang mewah. Anggrek yang anggun. Atau Lily yang lembut. Tapi ada sesuatu yang istimewa pada Edelweis…
            “Kenapa sih kamu suka mendaki gunung? Kamu ‘kan perempuan.” Tanyaku. Senja berangsur pergi. Titik-titik hitam mulai menyelimuti semesta. Bagaikan selimut tebal yang dibawa oleh sang kabut.
            “Memangnya kenapa kalau perempuan suka naik gunung? Ada yang salah?” Dia bertanya balik.
            “Biasanya cewek itu jalan-jalan ke Mall, bukan ke gunung.”

            “Aku juga suka ke Mall. Tapi aku butuh sesekali keluar dari kehidupan modern. Menghirup udara segar. Berpelukan dengan kabut. Menjauh dari kebisingan suara knalpot kendaraan bermotor. Menikmati matahari terbit dan tenggelam di puncak tertinggi. Tidur ditemani orchestra suara binatang malam. Semua itu akan mendekatkan kita pada alam dan Sang Pencipta…”
            Aku menoleh. Menatap gadis yang duduk disampingku ini. Sisa-sisa cahaya senja membias pada wajahnya. Wajah yang sudah terlalu akrab dalam hidupku lebih dari tujuh tahun. Wajah yang sederhana. Tanpa riasan. Tanpa polesan.
            Dibanding Maura, mantanku, gadis yang duduk di sebelahku ini kalah jauh. Maura selalu ber-make-up kemana pun dia pergi. Dibanding Evita, mantanku yang lain, gadis yang duduk di sebelahku ini gak ada apa-apanya. Evita punya body yahud! Lekukan tubuh Evita yang selalu berbalut baju ketat, membuat cowok-cowok iri melihatku melingkarkan tangan dipinggangnya. Dibanding Inez, mantanku sebelum Evita, gadis yang duduk di sebelahku ini masih kalah cantik. Inez memiliki rambut panjang yang indah. Sedangkan aku hanya bisa melihat selembar rambut yang mengintip dari sisi kerudung gadis yang sedang duduk di sebelahku.

            “Siapa sih, cewek yang mau kamu bawain Edelwies?” Tanyanya. “Maura, ya?”
            “Dia udah jadi mantan.”
            “Ck ck! Kamu itu ganti pacar kayak ganti kaos kaki!”
            “Bosan. Cewek-cewek itu cuma enak untuk diajak jalan sesaat. Sesudahnya, monoton. Terlalu banyak menuntut.”
            Kami terdiam. Kegelapan telah sempurna. Bersama, kami mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun sambil memasak makan malam sederhana. Jilatan api sedikit menghangatkan udara yang menggigit tulang. Bias cahaya api jatuh ke wajahnya.
            Wajah sederhana itu menemaniku tujuh tahun belakangan ini. Kami bersahabat dari SMP hingga sekarang menjelang lulus SMA. Dia selalu ada untukku. Kapan pun aku butuh.
Wajah sederhana itu akan menghilang sementara jika dia tahu aku sedang dekat dengan cewek lain. Tapi dia akan selalu kembali.
            Pada wajah sederhana itu, aku bisa bercerita tentang apa pun. Bercerita tentang film-film yang aku tonton. Bercerita tentang musik yang aku dengar. Bercerita tentang buku yang aku baca. Bercerita tentang teman-temanku. Bercerita tentang keluargaku. Bercerita tentang rahasiaku…
            Wajah sederhana itu bisa membaca pikiranku. Jika aku sedang tak ingin bercerita, dia tak akan memaksa. Dia membiarkan aku dengan rahasiaku. Sabar menunggu, karena pada akhirnya, aku akan menceritakan semua padanya. Tak seperti pacar-pacarku, yang selalu menuntut ingin tahu segala hal tentangku, tanpa mau menunggu sabar sampai aku siap bercerita.
            Malam beranjak tua. Kobaran api unggun harus mengalah pada angin dingin puncak Papandayan. Satu per satu teman-teman se-pendakian masuk ke dalam tenda. Berselimut sleeping bag yang tebal. Lalu meringkuk tidur.
            “Keren, ya langitnya.” Katanya. Aku mendongak.
            “Spektakuler!” Teriakku demi melihat langit yang penuh bertabur bintang.
            “Di Jakarta, mana mungkin kita bisa melihat bintang sebanyak ini.”
            “Langit Jakarta sudah terlalu penuh polusi!”
            “Dan bising.”
            “Sumpek.”
            “Pengap.”
            “Galau…”
            “Yee…curhat!” Kami tertawa. Kemudian terdiam lagi. Sibuk oleh pikiran masing-masing. Ini salah satu moment yang aku suka. Gadis disampingku ini selalu bisa membaca situasi. Ada saat-saat dimana kami ngobrol seru. Tapi ada saat dimana kami lebih suka terdiam. Tak memaksa bicara, jika tak ada bahan untuk dibicarakan. Tak perlu menciptakan basa-basi. Kami menikmati kesunyian yang sakral.
            “Tau lagu-nya Counting Cross, gak?” Tanyaku memecah keheningan. Hanya tinggal kami berdua yang tertahan di luar tenda. Menunggu kobaran api unggun padam sempurna.
            “Yang mana?”
            “Big Yellow taxi.”
            “Oh, tau. Kenapa?”
            “Ada lirik yang aku suka di lagu itu.”
            “Lirik yang mana?”
            “That you don’t know what you got till it’s gone. Kita sering gak sadar, kalau sebenarnya kita punya sesuatu yang berharga, sampai kita kehilangan sesuatu itu.”
            “Hampir sama kayak lirik lagunya Passanger, ‘Well, you only need light when it’s burning low. Only miss the sun when it starts to snow…
            “Only know you love her when you let her go... Aku gak mau kayak gitu. Aku gak mau nunggu sampai aku kehilangan, lantas baru menyadari bahwa selama ini dia ada di hidupku.”
            “Gunung dan hawa dingin ini bikin kamu melankolis, ya?” Pluk! Dia melempar daun kering ke kepalaku.
            “Bikin aku sadar tentang sesuatu…”
            “Apaan tuh?”
            Aku memungut sekuntum Edelwies yang jatuh di tanah. Kubersihkan sedikit debu yang menempel pada putik bunganya.
            “Ini buat kamu. Kamu adalah Edelwies. Sederhana. Setia. Tak ada di toko bunga mana pun. Untuk mendapatkan Edelweis, seseorang harus mencapai puncak gunung-gunung tinggi. Edelweis selalu setia menunggu para Pendaki yang kelelahan. Kemudian Edelweis akan menghibur mereka dengan keindahannya yang sederhana. Seperti kamu…”
            Dia menerima Edelwies dariku. Senyum dari wajah sederhana itu sangat teduh. Dia tahu maksudku. Dia selalu tahu tanpa harus banyak kata-kata indah keluar dari mulutku. Dia sahabatku. Dia belahan jiwaku. Semoga Puncak Papandayan menjadi awal perjalanan kami, mengunjungi Edelweis di Puncak-puncak gunung tertinggi yang lain. Semoga…



1 komentar

  1. Kyaaa! Ada lagunya Passanger. Selalu kece deh cerpennya! Sukses terus buat mbak In.
    :)

    BalasHapus