Seperti Arumi



Cerpen ini dimuat di Majalah KAWANKU edisi 23 Juli - 6 Agustus 2014
Seperti Arumi
Oleh Dwi Indarti
            Kenapa aku gak bisa seperti Arumi? Arumi cantik. Aku pernah menginap di rumahnya. Bangun tidur, rambut Arumi tetap lurus. Rapih dan tergerai indah ke bahu. Seperti bintang iklan shampoo di TV. Wajah putihnya semakin cantik. Krim wajah selalu rajin dia oleskan sebelum tidur dan bangun tidur.

 
            Kalau aku? Bangun tidur, aku mirip Simba The Lion King. Rambutku megar kusut tak karuan. Mataku yang besar ini seperti Poo si Kungfu Panda. Ditambah secuil penghuni di sudut mata. Kadang tersisa liur kering di sudut bibir. Aih, malunya...
            Aku ingin seperti Arumi. Dia pintar. Kami sering belajar bersama-sama. Cukup sekali membaca, Arumi sudah menguasai materi. Mendengarkan guru sekali saja, Arumi sudah mengerti rumus-rumus yang susah. Raportnya selalu panen huruf A. She is an A straight student.
            Aku? Sepertinya, buku-buku pelajaran itu membenciku. Mereka susah sekali nempel di otak. Perlu membaca ulang dua sampai tiga kali, baru ada yang nyangkut di kepalaku. Itu pun cepat sekali hilang. Apalagi kalau disuruh menghapal rumus-rumus yang njlimet. Bagiku, dapat nilai B saja sudah seperti berkah dari langit. Sebuah ‘B’ yang tertulis di lembar ulangan yang dikembalikan oleh guru, bisa membuatku joget samba tiga hari tiga malam. Lebay, kan?
            Aku iri pada Arumi. Dia kaya. Eh, ralat. Dia terlahir sebagai anak orang kaya. Tasnya seharga tiga bulan uang SPP-ku. Rumahnya gede, cuy! Pikiran pertama yang melintas diotakku adalah ‘Gimana nge-pel-nya? Pasti capek, banget!’. Pikiranku ndeso banget, kan? Pasti, Arumi gak pernah mikirin cara ngepel rumahnya. Tiga orang asisten rumah tangga selalu standby. Memastikan setiap sudut rumah bersih mengkilap. Plus, seorang tukang kebun yang selalu memastikan rumput dan tanaman-tanaman hias terawat. Ada pula seorang tukang pembersih kolam renang. Dia datang di hari-hari tertentu untuk membersihkan kolam renang di belakang rumah Arumi. Dia memastikan air kolam renang itu bersih dan bening. Belum lagi beberapa sopir yang siap mengantar keluarga Arumi kemana pun. Satu orang, satu supir. Supir-supir itu juga bertugas merawat mobil-mobil mahal yang terparkir di garasi rumah Arumi.
            Kamar Arumi besar dan ber-AC. Brrr…seperti tidur di Villa Puncak. Laptop dengan logo buah apel digigit terpajang cantik di atas meja belajar. Akses internet super cepat. Satu set home theather teronggok canggih di sudut kamar. Lengkap dengan TV Plasma 52”.
            Bagaimana denganku? Minta tas baru sama ibu dan bapak saja butuh perjuangan panjang.
            “Memang tas kamu kenapa?” Begitu tanya ibu.
            “Kalau masih bisa dipakai, kenapa harus beli yang baru?” Begitu kata bapak.
            “Dia cuma mau gaya-gayaan ‘tuh, Pak…”
            Ugh! Rasanya pengen getok mulut adikku yang comel itu.
             Rumahku? Hanya butuh sepuluh menit untuk ngepel dari ruang tamu ke dapur, bolak balik. Mungkin garasi mobilnya Arumi lebih besar dari rumahku.
Aku tidak punya kamar sendiri. Aku tidur bersama adikku. Hanya ada sebuah radio tape tua untuk hiburan di kamar. Seringkali jadi bahan rebutan dengan adikku. Aku ingin mendengarkan One Direction, sementara adikku ingin mendengarkan Ayu Ting Ting. Seketika perang dunia Ketiga pun pecah.
            Kalau mau nonton TV, aku harus ke ruang tengah. Nonton bersama ibu, bapak dan adik. Pernah, aku minta dibelikan TV untuk di kamar sendiri. Bapak bilang begini,
            “Buat apa TV di kamar? Individualisme! Lagian, mana enak nonton sendirian. Gak seru!”
            Ibu juga ikut nambahin,
            “TV di kamar itu banyak mudhorotnya daripada manfaatnya.”
            “Maksudnya apa, bu?”
        "Nanti kamu malas belajar karena kebanyakan nonton TV. Nanti kamu kurang tidur karena kebanyakan nonton TV. Setiap hari bakal kesiangan dan terlambat ke sekolah.”
            Adikku yang comel itu juga ikut nimpalin,
            “Ah, dia mau nonton Drama Korea sampai pagi, bu…”
            TAK! Kujitak kepalanya. Kesel. Bukannya mendukung, malah membuatku gak mungkin dapat TV sendiri.
            Jangan tanya soal jaringan internet di rumahku. Kalau aku merengek minta internet, ibu sigap membuatkan semangkuk mie instan dengan telur kornet. Jika perlu koneksi internet, aku harus lari ke warnet di ujung jalan.
            Aku ingin seperti Arumi. Setidaknya itu keinginanku, sebelum aku membaca curhatnya. Gak sengaja. Catatan itu terselip di buku Arumi yang aku pinjam. Selembar kertas dengan tulisan tangan Arumi. Aku hapal tulisan tangannya. Lancip-lancip seperti paku.
            Begini ini coretan Arumi…
            Aku iri pada Ainun. Hidupnya ringan seperti kapas. Matanya indah tanpa harus memakai softlens yang membuat perih. Ainun gak pernah memusingkan model rambut atau perawatan wajah. Wajah Ainun selalu cerah terulas senyum. Lesung pipit di kedua pipinya membuat manis setiap kali dia tersenyum. Aku ingin punya lesung pipit seperti itu. Pipiku ini biasa-biasa saja. Gak ada yang menarik. Mungkin nanti aku minta Mama untuk operasi plastic membuat lesung pipit.
            Aku iri sama Ainun. Dia pekerja keras. Dia selalu membaca berulang-ulang kalau belum mengerti suatu pelajaran. Ainun gampang sekali bahagia. Kemarin dia loncat-loncat senang karena dapat nilai B. Papi Mamiku pasti marah besar kalau aku dapat nilai B. Ainun pikir aku ini pintar. Padahal, Papi Mamiku membayar mahal untuk les-les tambahan diluar jam sekolah. Nilai A adalah WAJIB hukumnya bagiku. Kalau tidak… kiamat.
            Aku ingin punya orang tua seperti Bapak dan Ibu-nya Ainun. Mereka lucu. Hangat. Bersahabat. Setiap kali aku main ke rumah Ainun, mereka selalu menyambut dengan ceria. Aku diperlakukan seperti anak kandung mereka.
            Ibu dan Bapak Ainun bukan orang penting seperti Mami dan Papiku. Bapak Ainun hanyalah seorang guru SD. Ibu Ainun hanya seorang guru menari. Tapi mereka penuh perhatian.
            “Sudah makan, Arumi?” tanya Bapak Ainun ketika aku pertama kali bermain ke rumahnya.
            “Belum, Om…”
            “Gak usah panggil Om. Panggil Bapak saja… Yuk kita makan bareng.”
            Papiku mana pernah makan bersama teman-temanku. Bersamaku saja jaraaaang banget. Kalau tidak ada perayaan, kami jarang berkumpul di meja makan.
            “Rumah kamu di mana, Arumi?” Tanya ibu Ainun.
            “Di komplek sana, Tante.”
            “Gak usah panggil Tante. Panggil ibu, saja. Wah, kamu ke sini naik apa?”
            “Diantar supir, Tan… eh, Bu…”
            “Mana supir kamu?”
            “Mungkin dia sedang menunggu di mobil.”
            “Kenapa tidak diajak masuk? Kita makan sama-sama…”
            Ha? Mana mungkin aku mengajak supirku masuk dan makan bareng. Aku bisa dimarahi habis-habisan kalau Mami tahu.
            Aku suka kamar Ainun. Biarpun tidak sebesar kamarku, tapi hangat. Seru sekali mendengarkan musik dari radio tua di kamarnya. Melihat Ainun bertengkar dengan adiknya, cuma gara-gara radio butut. Membuatku tertawa geli. Tapi setelah itu, mereka kembali akrab dan saling bercerita. Lebih seru, kalau nonton TV bersama keluarganya. Ditemani Bapak dan Ibu-nya Ainun.
            Bagi Papi dan Mami-ku, mungkin kantor dan urusan bisnis jauh lebih menyenangkan ketimbang menemaniku nonton TV. I wish I were Ainun. I wish I have what Ainun has…
            Hati-hati, kuletakkan catatan Arumi ditempat semula. Aku menarik nafas dalam.
Kini aku bisa melihat pelangi di atas kepalaku. Selama ini, aku hanya melihat pelangi di atas kepala Arumi. Pelangi itu membuatku iri dan tidak bersyukur. Pelangi di atas kepala Arumi membuatku selalu membandin-bandingkan. Pelangi yang aku lihat di atas Arumi membuatku tak pernah melihat ke bawah. Bahwa hidupku lebih dari cukup. Bahwa masih banyak yang kurang beruntung. Bahwa sebaiknya kita lebih banyak memandang ke bawah, daripada selalu memandang ke atas.
            Catatan Arumi seperti cermin. Memantulkan pelangi yang selama ini menaungi hidupku. Aku bersyukur. Aku bahagia. Aku semakin sayang pada Bapak, Ibu, Adik, dan Arumi...
‘***


1 komentar