Cerpen ini dimuat di Majalah CHIC
Edisi 18 Sept - 1 Okt 2013
MIMPI DALAM KABUT
PAGI
Oleh Dwi Indarti
(@itsjustdwi)
Tak perlu memiliki kemampuan seorang cenayang. Tak perlu
punya indra keenam. Tak perlu membaca kartu tarot. Sudah lama aku tahu bahwa
hari ini akan tiba.
Hari dimana aku melihatmu bersinar di atas panggung. Hari dimana ribuan penonton bergemuruh meneriakkan satu nama. Namamu. Hari dimana aku lupa hangatnya ujung jemarimu yang menggenggam jari-jariku. Hari dimana aku hanya bisa menyentuhmu melalui layar kaca.
Hari dimana aku melihatmu bersinar di atas panggung. Hari dimana ribuan penonton bergemuruh meneriakkan satu nama. Namamu. Hari dimana aku lupa hangatnya ujung jemarimu yang menggenggam jari-jariku. Hari dimana aku hanya bisa menyentuhmu melalui layar kaca.
Siapapun yang mengenalmu akan tahu, bahwa kau akan menjadi
seorang bintang di masa depan. Itulah takdirmu, garis tanganmu, jalan
hidupmu. A superstar. An idol. A role
model.
‘***
“Aku akan merindukan pagi berkabut seperti ini.” Bisikmu.
“Kau masih bisa merasakan dingin yang menggigit setiap pagi.
Pasti hotel tempatmu menginap nanti dilengkapi dengan AC.” Sahutku.
“Tidak akan sama.”
Aku tak tahu harus bicara apalagi. Kesunyian mengambil alih.
Ini bukanlah kesunyian yang menyesakkan, namun kesunyian yang indah. Aku dan
kamu duduk bersisian. Tangan kirimu menggenggam tangan kananku. Dingin dan beku
berganti hangat.
Perlahan, kabut pagi mulai terangkat. Sinar matahari memaksa
mereka pergi. Aku dan kamu akan menunggu sampai mereka benar-benar menghilang
dan sinar matahari menguasai alam raya. Bagiku, bagimu, kabut bukanlah musuh.
Kabut adalah sahabat. Kami selalu menunggu kabut. Kami mencintai kabut pagi, seperti
kami mencintai embun di ujung daun.
“Haruskah aku pergi, Nar?” Tanyamu. Seketika udara tercemar
oleh aroma keraguan. Aku tahu, lagi, kegamangan sedang menguasai hatimu.
‘I spread my wings and I learn how to fly and I’ll learn
how to fly. I’ll do what it takes ‘till I touch the sky. And I’ll make a wish,
take a chance, make a change and breakaway. Out of the darkness and into the
sun, but I won’t forget all the ones that I love. I’ll take a risk, make change,
take a chance and breakaway’
Sumbang, kunyanyikan sepotong lirik lagu milik Kelly
Clarkson. Kau tersenyum. Ah, itu adalah senyum seorang calon bintang. Batinku
berkata.
“Lihat! Kelinci itu kabur begitu mendengar kau bernyanyi!”
“Kalau begitu, kau saja yang nyanyi agar kelinci itu balik
lagi ke sini. Bahkan binatang-binatang pun menyukai suaramu!”
“Pujianmu berlebihan, Nona!” Kau ingin mengacak rambutku
seperti yang biasa kau lakukan. Namun urung demi melihat ekspresi serius di
wajahku.
“Pergilah, jangan ragu. Kejarlah impianmu. Kota Metropolitan
adalah tempatmu berada. Kota ini terlalu kecil untuk bakatmu yang luar biasa.”
Aku berusaha tegar saat mengucapkan kata-kata itu. Seandainya kau tahu apa yang
berkecamuk di dalam hatiku.
Kelak kau 'kan menjalani hidupmu sendiri. Melukai
kenangan yang telah kita lalui. Yang tersisa hanya aku sendiri di sini. Kau
akan terbang jauh menembus awan. Memulai kisah baru tanpa diriku.*
‘***
“AKU INGIN MENJADI SEORANG BINTANG!” Teriakmu
lantang. Angsa-angsa putih yang sedang berenang di tepi danau berlompatan
kesana kemari demi mendengar teriakanmu. Kita terbahak.
“Teriakkan lagi! Sambil lempar kerikil ini. Jika
lemparanmu memantul tiga kali, maka mimpimu akan menjadi kenyataan.”
“Takhayul!” Sanggahmu. Namun tetap kau melakukan apa yang
aku bilang. Matamu terpejam saat kau melempar kerikil ke tengah danau.
“Satu! Dua! Tiga! Tiga kali pantulan! Wow!” Seruku takjub.
“Jangan terlalu percaya, Nona. Bagaimana caranya aku bisa
menjadi seorang bintang di kota kecil seperti ini?”
Jawaban atas pertanyaan itu datang seminggu kemudian.
“Elaaaang!” Aku berteriak menghampirimu yang sedang duduk
membaca di bawah pohon rindang.
“Wo wo wo! Siapa yang melahirkan? Kenapa kau
berteriak-teriak seperti itu?” Elang menahan tubuhku sebelum jatuh terjerembab.
“Baca ini!” Aku menyodorkan selembar kertas sambil
terengah-engah. Selebaran itu baru saja aku dapatkan dari pasar tempat bapak
berjualan telur ayam. Kemudian kau membacanya.
“Ya?”
“Lalu?”
“Lalu apa?”
“Ini audisi, Elang! Audisi mencari Idola baru! Kau harus
ikut audisi ini!” Kataku menggebu-gebu.
“Tidakkah kau baca di mana audisinya, Nona Djenar? Di
Semarang! Bagaimana kita ke sana?”
“Aku punya celengan! Aku rasa celenganku cukup untuk membeli
tiket bus berdua. Ayolah, Elang! Ini kesempatan bagus! Tak ada salahnya kau
mencoba!”
“Entahlah, Djenar! Tidakkah kau sayang menghabiskan
tabunganmu untuk hal yang tidak jelas seperti ini?”
“Aku belum pernah ke Semarang. Malah, aku belum pernah
keluar dari kota kecil ini sama sekali. Maukah kau mengantarku jalan-jalan ke
Semarang sambil kau ikut audisi ini?” Bujukku.
“Apakah orangtuamu akan mengizinkan?”
Cukup alot usahaku untuk meyakinkan ibu dan bapak supaya aku
bisa pergi ke Semarang bersama Elang. Mereka khawatir, mengingat kondisiku…
Ketika akhirnya mereka mengizinkanku, rasa bahagia yang tak
bisa digambarkan memenuhi hati. Untuk pertama kalinya aku keluar dari kota
kecil tempatku lahir dan dibesarkan.
“Wow! Lihat antriannya! Aku rasa jumlah orang-orang yang mengantri
di sini lebih banyak dari warga kota kecil kita!” Kau bergumam di telingaku.
Dalam hati aku meng-iya-kan kata-katamu.
“Kau gugup?” Tanyaku.
“Iya.” Jawabmu jujur.
“Wajar. Yuk, kita daftar.” Kami mendekati meja pendaftaran.
“Mbak, kami mau daftar audisi.” Kataku kepada mbak panitia.
“Maaf… tapi… ” Mbak panitia itu menatapku gamang.
“Oh, bukan untuk saya, tapi untuk dia.” Aku menunjuk Elang
yang berdiri disampingku. Kegamangan di wajah mbak panitia itu seketika memudar
demi melihat sosokmu. Senyum mengembang di wajahnya.
“Silahkan isi formulir dan ini nomor antriannya.”
Berjam-jam waktu yang dihabiskan untuk menunggu audisi sama
sekali tak terasa. Kita pernah lebih banyak menghabiskan jam demi jam bersama,
iya kan? Jadi, saat akhirnya nomormu dipanggil, kita tengah asyik berdebat
tentang kenapa cebok harus pakai tangan kiri, gak boleh pakai tangan kanan.
Mungkin orang yang tak sengaja mendengar obrolan kita akan mengernyitkan kening
dan menatap aneh. Kau dan aku punya lelucon sektoral yang hanya dimengerti oleh
kita berdua saja. Panitia memanggil nomermu sampai tiga kali.
“Semoga berhasil!” Ucapku sebelum tubuhmu menghilang dibalik
pintu ruang audisi. Aku membayangkan kau sedang memukau para juri di dalam
sana. Detik, menit berjalan sangat lambat sebelum akhirnya pintu itu terbuka.
Ekspresimu tak terbaca.
“Maaf.” Ucapmu.
“Tidak apa-apa.”
“Maaf, aku akan meninggalkanmu untuk sementara waktu. Aku
akan ke Jakarta!”
‘***
Seandainya kau tau, ku tak ingin kau pergi.
Meninggalkanku sendiri bersama bayanganmu. Seandainya kau tau, aku kan selalu
cinta. Jangan kau lupakan kenangan kita selama ini.
Ya, janganlah kau lupakan semua kenangan yang tersimpan
dalam kabut pagi. Kita selalu bangun mendahului cahaya. Suaramu yang indah
mengisi sudut-sudut kota kecil dengan lantunan azan setiap pagi. Setelah itu,
kau akan duduk di teras rumahku. Lalu kita bersama-sama menunggu kabut pergi
agar bisa menyebrangi jembatan di atas danau untuk menuju sekolah tempatku
mengajar. Selalu seperti itu. Setiap pagi.
Jika libur sekolah tiba, kau dan aku senang berlama-lama
duduk di tepi danau, memberi makan angsa-angsa, mencari bunga-bunga liar,
membaca buku di bawah pohon rindang, dan khusus dirimu, memanjat pohon sambil
bernyanyi lantang. Aku menonton dan bertepuk tangan dibawahnya.
Semoga kau tidak melupakan semua itu, ya. Meskipun sekarang
kau sudah terbang jauh. Meskipun dunia kita telah berbeda. Meskipun kau telah
berhasil menembus awan. Meskipun sayapmu telah menemukan angkasanya.
Ada rasa bahagia, bangga, juga rindu sesak yang bergemuruh
di hati ini setiapkali melihatmu di TV. Kenangan demi kenangan berlarian dalam
benakku.
“Apa rasanya masuk TV? Ditonton berjuta-juta orang.” Katamu
suatu ketika, dulu. Berkhayal.
“Mungkin rasanya seperti permen Nano-Nano. Campur aduk.
Senang, bangga, gugup, takut, jadi satu. ” Jawabku
“Aku ingin masuk TV suara hari nanti.”
“Mana muat? TV sekecil ini mau dimasukin badanmu yang besar
itu.” Kau mencubit lenganku.
‘***
Aku meraba lengan kiriku, dimana tersemat sebuah gelang
sederhana yang terbuat dari untaian akar pohon. Kau yang membuatnya.
“Untukmu!” Kau menyodorkan sebuah tali gelang.
“Apa itu? Jelek sekali!” Sahutku.
“Ya sudah, aku kasih ke Mira saja. Dia selalu rajin mengirimiku kue kukus setiap
hari.”
Mendengar itu, aku segera mengulurkan lengan kiriku. Kau
menyeringai lebar dan memasangkan gelang sederhana itu.
“Jangan dilihat bagus atau jeleknya. Tapi rasakanlah apa
yang tersimpan di setiap simpulnya. Aku memasukkan banyak rasa di sana.”
‘***
Ingatkah kau akan semua itu, saat kau bernyanyi di atas
panggung megah diiringi oleh penari-penari cantik jelita berbaju indah dan
terbuka? Ingatkah kau pada seorang gadis
di sebuah kota kecil berambut panjang yang tak pernah berdandan, saat kau mendapat
kecupan dari penggemar-penggemar cantik? Ingatkah kau pada aroma segar yang
dibawa oleh kabut pagi, saat kau dikelilingi oleh bermacam semprotan wewangian
dari gadis-gadis jelita yang tak pernah kehabisan suara untuk meneriakkan
namamu?
Ingatkah kau pada kursi roda ini? Kedua pegangannya telah
terbiasa oleh genggaman telapak tanganmu. Kalau mereka bisa berbicara, mungkin
mereka ada bertanya kepadaku,
“Dimana dia?”
“Siapa?”
“Pemilik telapak tangan kokoh yang selalu menggenggamku.
Pemilik jari-jari panjang yang selalu mendorongku. Pemilik lengan yang rajin
membersihkan kotoran di roda-rodaku.”
“Dia telah pergi mengejar mimpinya. Dia telah menemukan
dunianya.”
“Apakah dia akan kembali?”
“Aku rasa tidak.”
Bilakah kau akan kembali dan menemui kursi roda beserta
gadis cacat berambut panjang yang duduk di atasnya?
‘***
“Djenar, Nak. Saatnya tidur. Acara TV nya sudah habis.”
Suara ibu menyadarkan lamunanku. Acara TV memang sudah hampir habis. Dirimu
menjadi penyanyi terakhir yang tampil dalam acara penghargaan ini.
Malam ini kau menjadi bintang dengan memborong beberapa
penghargaan sekaligus. Konfeti warna warni bertaburan di atas panggung megah.
Lampu-lampu berkelebatan. Sosokmu hampir tak terlihat, terhalang oleh banyaknya
orang di atas panggung. Namun kamera terus mencari dan menangkap sosokmu, karena
kau adalah bintangnya.
Hingga akhirnya acara benar-benar usai dengan senyuman dan
lambaian tanganmu ke arah kamera. Aku menempelkan tanganku di layar kaca,
berharap bisa merasakan hangatnya kulitmu.
Apakah kau merasakannya?
‘***
Pagi yang berkabut. Dingin membekukan. Sebeku irama hidupku
sepeninggal dirimu. Bangun tidur, aku bersiap ke sekolah diantar oleh Bapak.
Kubuka pintu, dan…
“Selamat pagi, Nona Djenar. Kabut pagi masih terlalu tebal.
Kita tunggu sampai sinar matahari mengusir mereka dulu, ya…”
“E…E…Elang?! Kenapa kamu ada di sini? Kapan kamu datang?”
“Semalam, setelah acara pengharaan aku memutuskan untuk
pulang”.
“Tapi kenapa?”
“Aku rindu tempat ini. Aku rindu kabut pagi. Aku rindu
angsa-angsa danau. Aku rindu kamu.”
“Bagaimana dengan impianmu?”
“Kamu dan kabut pagi adalah mimpiku. Cukuplah untukku. Bukan
fatamorgana yang ditawarkan dunia gemerlap itu. ”
Seperti tirai, kabut pagi perlahan naik…
‘***


Dik, cerpen cerpenmu luar biasa dik.
BalasHapusKapan kapan pengen belajar bikin cerpen.
Mau ya dik, sharing pengalaman bikin cerpen.
Bu Ira, terima kasih sudah mampir ke blog ini dan membaca cerpen-cerpen saya. saya juga pingin belajar nulis sama bu Ira. Kan bu Ira lama di dunia tulis-menulis. Ilmu nya banyak banget...
BalasHapus