Belakangan ini saya lagi suka
dengan sebuah Band Indie “PAYUNG TEDUH”. Berawal dari seorang teman yang rajin
nge-tweet tentang Band Payung Teduh, saya jadi penasaran. Apa sih PAYUNG
TEDUH?
Saya sempat melihat salah satu
video klip mereka di Youtube. Tapi, karena keterbatasan koneksi internet di
kantor, terpaksa saya menahan rasa keingintahuan tentang Band satu ini.
Lalu saya berhasil mendapatkan
tiga buah lagu Band ini dari seorang teman yang lain. “Berdua saja”. “Cerita
tentang gunung dan laut.” “Resah”. Mendengarkan ketiga lagu itu, awalnya sih
biasa saja. Tapi, semakin di dengar, kok semakin …. Apa, ya ? … ntahlah … gak
bisa dijabarin dengan kata-kata. Mungkin ‘semakin teduh’ adalah frase yang bisa
mewakili perasaan saya saat mendengarkan lagu-lagu mereka.
Keingintahuan saya berlanjut
dengan mem-follow twitter mereka @payungteduh. Mencari informasi tentang para
personilnya. Memburu album-album yang telah mereka rilis. Sejauh ini mereka
telah mengeluarkan dua buah album. Berhubung mereka adalah Band Indi, album
mereka agak susah di dapat. Gak semua toko musik menjual album-album mereka.
Adalah jumat pagi, 14 Desember
2012, kawan saya yang rajin nge-tweet tentang Payung Teduh itu, mengajak saya untuk melihat show Payung Teduh
di Taman Ismail Marzuki nanti malam. Tentu saja, saya mau. Tapi kawan saya ini
gak tau, Band Payung Teduh tampil dalam acara apa, dan detil-detilnya. So, saya
‘ditugasi’ untuk mencari tahu.
Ternyata, malam itu, Band Payung
Teduh menjadi pengisi acara “Malam Anugerah Sayembara Novel Dewan Kesenian
Jakarta” di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki.
Selain Payung Teduh, akan tampil juga Atiqa Hasiholan yang akan
membacakan kutipan-kutipan novel para pemenang.
Seorang teman saya yang lain juga
menginformasikan bahwa malam itu akan ada acara “Kenduri Cinta” yang di isi oleh
Emha Ainun Najib dan gamelan Kyai Kanjeng. Wih, saya semakin bersemangat untuk
bolos kuliah dan melipir ke TIM.
Jadilah agenda malam itu adalah
ke Teater Kecil bersama teman untuk nonton Payung Teduh, lalu ke pelataran parker
di depan Planetarium untuk nonton Kyai Kanjeng.
Taman Ismail Marzuki basah oleh
hujan yang baru saja reda, saat saya sampai di sana . Teman saya sudah menunggu di depan
Teater Djakarta. Kami langsung masuk dan mencari informasi. Tapi yang kami
dapat adalah suguhan pengisi perut yang … yummy!… Wedang Ronse, pisang rebus,
ubi rebus, kacang rebus.
Sambil menunggu acara dimulai
pukul 19:30, kami memutuskan untuk mencari makanan yang lebih 'serius'di kantin.
Makanan serius buat kami adalah : saya : indomie telor plus es teh manis. Teman
saya : Popmie plus kopi jahe.
Saat jarum jam menunjukkan angka
19.00, kami cabut dari tempat makan dan menuju ke Teater Kecil, demi mengincar
kursi depan. Gak percuma, sebab kami memang berhasil duduk di deretan depan.
Dan itulah pertama kali saya
menyaksikan dan mendegarkan lagu-lagu dari Payung Teduh secara lengkap dan
live. Mereka perform ditengah acara dan akhir acara. Ada sekitar 7-8 lagu yang mereka bawakan.
Terus terang, saya belum terlalu
mengenal lagu-lagu mereka. Saya hanya menyimak, sementara, orang disekitar saya
kebanyakan ikut menyanyi. Tapi sumpah, petikan gitar yang dimainkan oleh
Muhammad Istiqamah Djamad, cabikan bas Comi Aziz Kariko, gesekan gilar ukulele
Ivan Penwyn dan pukulan lembut drum Alejandro Saksakame, bikin teduuuuuuh.
Selain musiknya, kekuatan Band
Payung Teduh adalah pada liriknya. Cobalah simak lirik lagu “Resah” ini :
Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapia ku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu
Diantara daun gugur
Akun ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat
keresahanmu
Aku menunggu dengan sabar
Diatas sini melayang-layang
Tergoyang angina, menantikan
tubuh itu
Selama pentas, Payung Teduh
berinteraksi dengan para penonton di sela-sela lagu, membuat kami tertawa-tawa
kecil. Mereka bercerita tentang awal pembentukan Band yang bermula dari kampus
UI. Untuk sejarah lengkap Band ini, bisa dibaca dalam blog mereka
www.payungteduh.blogspot.com
Barangkali, Teater Kecil memang
di design untuk kedap sinyal. Pasalnya, begitu masuk ke ruang pertunjukan itu,
sinyal dari provider apapun langsung hilang! BLEP! Mungkin sengaja, kali ya …
agar mencegah suara-suara dari gadjet terdengar.
Walhasil, janji untuk bertemu
kawan yang lain di luar sana ,
akhirnya batal. Well, semoga lain waktu bisa ketemu, ya …
Sepanjang pertujukan Payung
Teduh, saya menyandarkan badan di kursi dan siap untuk terlelap. Beneran deh,
musik Payung Teduh ini dilarang keras untuk didengarkan saat berkendara dan
sangat dianjurkan untuk diputar menjelang tidur. Buktikan saja sendiri …
Malam itu, Payung Teduh menutup
dengan lagu “Cerita Tentang Gunung dan Laut”. Sebenarnya para penonton ingin
tambahan lagu lagi, tapi panitia hanya memberi bonus satu lagu tambahan.
Selain Payung Teduh dan
lagu-lagu nya yang bikin teduh, malam itu saya pulang dengan membawa sebuah
kalimat. Kalimat ini diucapkan oleh seorang pemenang Sayembara Novel DKJ.
Cewek, masih muda, umurnya pasti jauh di bawah saya, - yang sebenarnya hari itu sedang ulang tahun yang ke ...*sensor.
Beda ya rasanya mendengarkan
omongan orang yang pintar. (pintar yang sebenar-benarnya pintar, bukan yang sok
pintar atau belagak pintar). Kata-katanya sederhana, jauh dari kesan sombong tapi penuh makna.
Cewek itu (lupa namanya), bertutur tentang proses penulisan novel, yang memakan
waktu kurang lebih satu tahun, yang merupakan novel pertama yang dia tulis dan langsung
menang sayembara novel DKJ sebagai novel terbaik.
“Banyak membaca dan banyak
menulis. Cuma itu kuncinya.”
Menjelang tengah
malam itu, selepas hujan, dalam taksi di tengah kemacetan Jakarta yang tak pernah tidur, saya mengucapkan berjuta
rasa syukur kepada-NYA atas segalanya.
Walaupun terselip sepotong kesedihan Tak ada sekedar ucapan "selamat" dari orang yang diharapkan … *hhh…



Maaf tidak bisa ikut bergabung menikmati payung teduh.
BalasHapussaya juga gak bisa ngeliat Kyai Kanjeng. Semoga lain kali semesta berkonspirasi ... :)
BalasHapusemang mantap si payungteduh
BalasHapuscerita yang sangat menarik sekali dan saya sangat menyukainya :0
BalasHapushttp://www.maxisbola.com/NewIndex.aspx