
Cerpen ini dimuat di Majalah HAI
Edisi Februari 2012
PERBEDAAN
Oleh Dwi Indarti
Sendiri resapi heningnya malam ini. Tanpamu di sini hatiku sunyi. Berharap engkau kembali, oh…Mengisi hari bersama lagi.
Kuhayati lagu milik Ari Lasso yang seminggu belakangan ini menjadi soundtrack hidupku. Hampir saja air mataku jatuh. Tapi ‘kan cowok gak boleh cengeng.
Segala perbedaan itu, membuatmu jauh dariku. Biarlah sang waktu menjaga cintamu. Nyalakanlah api cinta. Membakar ragu yang ada. Ku kan selalu setia. Hingga saat tiba…
Ingatanku melompat ke masa-masa itu ….
‘***
Tiga bulan yang lalu, aku dan dia memulai sebuah kisah. Kisah kami bergulir seperti sebuah bola salju. Semakin lama semakin membesar. Mengalir bersama arus rasa cinta dan kasih sayang. Tiga bulan yang penuh kenangan manis. Kisah tiga bulan yang bermula pada sebuah siang, di teras Sevel…
“Gue sayang elo, Nyet.”
“Hah?!”
“Gue-Sayang-Elo.” Aku mengulangi perkataanku. Aku sengaja memenggal setiap kata, agar dia tahu bahwa aku sedang serius. Dia menjadi salah tingkah. Gugupnya ditutupi dengan menyeruput slurpy dan mengunyah Chitato cheese.

“Elo nembak gue, nih?” Tanyanya kemudian. Aku tak memberi jawaban sepatah kata pun. Tapi aku menatapnya tajam dan dalam. Sudah lama aku melihat kecantikan alami yang tertutup oleh sikap cuek cewek yang satu ini.
Tapi, bukan hanya karena kecantikannya, lantas aku memutuskan untuk menaikkan status hubungan kami. Dari teman menjadi pacar. Melainkan karena aku merasa telah menemukan seseorang yang ‘click’ dalam banyak hal.
Jarang ada cewek seumuranku yang menyukai film-film kelas ‘berat’ seperti yang diputar di JIFFEST. Itulah sebabnya, aku selalu sendirian menikmati film-film JIFFEST. Namun, suatu hari, di sebuah perhelatan JIFFEST Blizt Megaplex Grand Indonesia, seolah semesta telah mengatur sedemikian rupa…
“Hey! Elo anak BENJI ‘kan?” Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. Dia menyebutkan julukan nama sekolahku yang diambil dari nama jalan Benyamin-Jiung. Aku menoleh.
“Iya. Kok tahu.”
“Gue juga anak BENJI. Kelas satu. Gue sering ngeliat elu di kantin. Elu anak kelas tiga, ya? Ups! sorry gue banyak omong. Gue Ranu.” Dia mengulurkan tangan. Aku menyambutnya.
“Galang. Ngapain di sini?” Tanyaku.
“Mau nontonlah! Masa mau main gundu. Elu lagi nunggu film apa?”
“Under the tree. Auditorium 8. Sepuluh menit lagi main.”
“Sama!” Dia menunjukkan tiketnya.
“Memang kuat nonton film-nya Garin Nugroho?” Gue lumayan suprise. Gue merasa film-film Garin Nugroho adalah film kelas ‘berat’.
“Eits, don’t underestimate me, Gentleman! Sebut saja judul film-filmnya Garin. Opera Jawa, Pasir Berbisik, Aku ingin menciumu sekali saja, Daun di atas bantal, Rindu kami pada-MU, sebut aja ! gue udah lahap semuanya. Lalu kami terlibat perbincangan seru soal film.
Baru kali ini aku bertemu cewek yang tahu banget soal film-film yang tidak terlalu popular. Aku benar-benar kagum. Sepanjang pemutaran film, kami jarang bicara satu sama lain. Namun sesudahnya, kami larut dalam diskusi seru tentang film itu.
Well, that was the beginning. Sejak saat itu kami selalu bersama. Ada empat tempat yang selalu kami kunjungi. Tempat-tempat itu menjadi semacam tempat wajib.
Pertama toko buku : ngubek-ngubek seksi sastra sambil diskusi seru soal puisi, prosa dan sastra. Kami saling menguji hapalan puisi dari penyair-penyair kondang. Kami sama-sama pecinta buku-buku Djenar Maesa Ayu, Dan Brown dan JK-Rowling. Pun kami sama-sama mencibir Twilight Saga. Ranu bilang,,” itu buku “menyek-menyek”
Kedua toko musik : hunting album-album Paramore, The Script, dan Arctic Monkeys. Kami selalu duet bareng – dengan suara rendah dan berbisik - setiap kali melihat salah satu judul lagu dari band-band tersebut.
Waktu Paramore konser di Jakarta, aku dan dia datang ke lokasi sejak pagi. Dia hampal hampir semua lagu Paramore. Saat lagu “You’re the only exception” kami nyanyi sambil berangkulan. Indahnya…
Ketiga restauran vegetarian. Yap! Both of us are vegetarians. It is so coinsident, isn’t it? Aku senang sekali waktu pertama kali mengetahui tentang hal ini.
“Mau makan di mana ? KFC, McD, Pizza, Restauran Jepang?” Tanyaku saat kami selesai nonton Under The Tree di JIFFEST. Aku sudah biasa menemani teman-temanku makan di tempat-tempat itu, meskipun aku hanya memilih kentang goreng atau burger isi telur.
“Yaiks! Gue gak makan binatang. Kita cari restauran Vege yuk! Elo bisa makan jamur yang rasanya mirip ayam.”
“Serius elo Vege? Gue juga!” Lalu kami tertawa terbahak-bahak dan melahap berbagai menu vegetarian dengan rakus.
Tempat terakhir adalah Sevel, dimana kami menghabiskan berjam-jam setelah pulang sekolah, mengobrol tentang siapa pun dan apa pun. Dari hal yang penting sampai gak penting. Seperti saat ini…
“Jaaaaaaaadiiiiiiii?” Gue memecahkan kesunyian yang menelingkup diantara kami. Kok dia malah asyik dengan notebook-nya? Bukannya menjawab pertanyaanku!
“Buka FB, gih!” Katanya.
“What?” Aku melongo heran.
“Buka aja. Liat notification-nya. ” Aku nurut dan sign-in Facebook. Ada satu notification. Permintaan berpacaran dari Ranu Ambar Putri. Aku tersenyum. Jadi, beginilah cara dia menjawab pertanyaanku tadi. Dia memang selalu melakukan hal-hal yang tak terduga. Kemudian aku menulis di wall-nya.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya abu.
Lalu, dia menulis balik di wall-ku, meneruskan bait puisi karya Sapardi Djoko Damono itu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada.
Lalu kami sign out, tanpa memperdulikan puluhan notification yang masuk bertubi-tubi, mengomentari status hubungan baru kami.
Hari demi hari kami lalui selayaknya dua sejoli yang sedang tenggelam dalam cinta.
‘Gue-elo’ berganti ‘aku-kamu’. Everything seems so smooth and beautiful. It is as a good as I can expect.
Hingga suatu saat, kami mulai menyadari keberadaan duri itu. Sebuah perbedaan keyakinan dan prinsip. Kami mencoba bertahan. Apalah arti sebuah perbedaan diantara banyaknya persamaan yang kami miliki.
Awalnya, hal ini sama sekali tak mengganggu. Itu hanyalah sebuah onak kecil dalam sebuah hubungan. Ibarat garam dalam makanan, hal-hal semacam ini dibutuhkan dalam sebuah hubungan agar tidak terasa hambar. Namun, seperti garam, hal itu justru merupakan bagian yang penting.
Aku menganggapnya sebagai sebuah prinsip. Aku ingin dia mengerti akan hal ini. Aku ingin dia sama seperti diriku, menganggap hal ini sebagai sebuah hal yang penting. Aku ingin dia mempunyai pandangan dan keyakinan yang sama dengan diriku.
Namun, dalam hal ini, dia sama sekali tidak mau bertoleransi. Dia bersikukuh dengan keyakinannya. Dia berubah menjadi batu karang yang tak goyah diterjang ombak. Bagaimanapun upayaku untuk menggoyahkannya, selalu mental. Sekeras apapun usahaku untuk membuat dia sependapat denganku mengenai hal ini, selalu gagal.
Setiap kali kami menyinggung masalah ini, pasti akan selalu berujung dengan pertengkaran hebat. ‘Aku-kamu’ berubah kembali menjadi ‘gue-elo’ …
“Gue gak setuju, Lang!”
“Itu karena elo terlalu egois!”
“Elo yang egois, Galang! Elu gak bisa maksa setiap orang untuk punya keyakinan seperti elo!”
“Tapi, gue gak maksa setiap orang, Ranu! Gue hanya ingin elu, sebagai PACAR gue, sependapat dengan gue!”
“Nah, itu! Dari awal udah gue bilang, gue gak bisa untuk setuju dengan elo dalam hal ini. Lagian, sepenting apa sih pengakuan gue?”
“Buat gue penting banget, Ranu! Gue butuh pengakuan dari pacar gue sendiri. Kalau pacar gue sendiri gak ada di pihak gue, apa gunanya ?”
“Gue capek, Lang! Gue capek dengan semua ini. Kalau elu terus-terusan maksain, gue nyerah aja. Lebih baik elu cari cewek lain yang mau nurut dengan apapun yang elu mau. Mungkin elu akan menemukan gadis yang dengan senang hati mendukung 100% keyakinan elu. Maaf, gue gak bisa…”
Well, this is it. The end of my love’s story with Ranu Ambar Putri. Cewek pertama yang mampu membuat gue merasa senang sekaligus sedih. Senang karena begitu banyak persamaan diantara kami. Sedih karena justru kami terbentur sebuah perbedaan dalam hal yang aku anggap sangat crusial.
Dan di sinilah aku. Duduk sendiri dalam kelas, memakai headset, mendengarkan lagu Perbedaan-nya Ari Lasso untuk kesekian kalinya. Kegalauan melanda. Bahkan suara gaduh anak-anak terasa jauh. Aku mulai merindukan kehadiran Ranu. Namun, sekali lagi, prinsip itu terlampau penting bagiku.
Perpisahan ini, hanya tuk sementara. Sabarlah menanti, usah gelisah.
Kuharap perpisahan ini untuk sementara. Aku berharap Ranu akhirnya sadar dan mengakui bahwa aku benar. Lalu dia menyesal dan ingin kembali kepadaku. Sampai saatnya tiba, aku akan terus berusaha membuatnya berubah.
“Hey, Galang! Ranu mana? Biasanya kalian nempel terus kayak idung dan upil!” Tepukan Rio di bahuku membuyarkan lamunanku. Aku melepas headset.
“Kita udah gak jalan bareng lagi…” Jawabku.
“Kalian udah putus?” Tanya Rio. Aku mengangguk.
“Yah, sayang banget! Padahal kalian itu pasangan serasi, loh! Karena orang ketiga, ya?” Rio menyelidik.
“Bukan. Bukan karena orang ketiga. Ini masalah perbedaan.”
“Perbedaan? Maksud lo?”
“Kami berbeda keyakinan.”
“Oh,kalian beda agama?”
“Bukan. Bukan beda agama.”
“Lantas?”
“Kami beda keyakinan. Gue yakin, gue ganteng. Dia gak…”
Rio pingsan dengan anggun…
‘***
Mba Dwiiii....lucu ishhh...
BalasHapus