
Cerpen ini dimuat di Majalah HAI edisi Desember 2011
SI UJANG
Oleh Dwi Indarti
Hai, perkenalkan. Namaku Ujang. Sebenarnya aku gak suka dengan nama ini. Selain terdengar sangat kampungan, nama ini sama sekali tidak cocok untukku. Lihatlah penampilanku! Tubuhku berwarna pink, ada pita warna-warni yang menggayut-gayut di telingaku dan sebuah keranjang putih bermotif bunga-bunga bertengger manis di dadaku.
Nama yang cocok untukku adalah Meisha, Grizelda, or at least Siti Rohana. Nama-nama tersebut menunjukkan sisi feminis yang manis seperti diriku.
“Ujaaaaang !” Teriak remaja tanggung itu sambil berlari saat pertama kali melihatku. Dia berhenti mendadak dan melotot. Ehemm.. aku memang cantik, kaaan ? Aku tersipu malu.
“Abah! Kok sepeda mini ?!” Jeritnya kepada laki-laki yang memegangiku.
“Siapa Ujang ?” Tanya si Abah balik.
“Ujang adalah nama yang Asep siapin untuk sepeda baru. Asep‘kan pesennya sepeda sporty!”
“Uang Abah hanya cukup untuk beli sepeda mini, Sep! Yang penting, kamu sekarang punya sepeda untuk pergi ke sekolah dan gak ada alasan bolos!”

Asep memberengut tapi hanya sebentar. Kekecewaannya segera berganti dengan binar bahagia di matanya. Dia menghampiriku dan mengelus-elus tubuhku. Dia mencoba duduk di atas sadelku dan membunyikan bel. Tring…tring…tring. Aku mengeluarkan suara merdu agar Asep menyukaiku. Dia tampak puas. Dia memandangiku lama sekali sambil mengelus-elus dagunya. Aku juga memperhatikan ‘majikan’ baruku itu.
Dia seorang bocah tanggung. Tubuhnya kurus, kulitnya hitam dan rambutnya ikal keriting. Bola matanya berbinar jenaka. Kedua mata itu melebar saat menatapku.
“Aha!” Serunya. Lalu dia melesat ke dalam rumah. Tak sampai sepuluh menit dia muncul membawa setumpuk benda. Kemudian…
Cress….cress….! Aaaaaaaaahhh…!! Aku berteriak. Tanpa babibu, Asep memotong pita-pita yang menjurai di kedua telingaku. Aku merasa dizholimi.
Aksi brutalnya tak berhenti sampai situ. Dia mengeluarkan tang besi dan berusaha mencopot bel kerincingan yang bertengger indah di hidungku. Aku berusaha sekuat tenaga mempertahankannya tapi sia-sia. Dia berhasil mencabut bel kecil bersuara merdu itu dan melemparkan begitu saja ke dalam selokan. “Kring…” aku mendengar suara lemah kerincingan itu untuk yang terakhir kalinya.
Penganiyaan masih terus berlanjut. Sekarang Asep berusaha memasang sebuah terompet ditempat kerincingan tadi berada. Dia tertawa puas dengan hasil kerjanya. Dia mencoba membunyikan terpompet itu. Tettot…tettot…tettooooot…Aku mengerang dalam hati. Mulai sekarang itu menjadi suaraku. Aih, menjijikkan sekali!
Kupikir Asep sudah cukup puas dengan aksi brutalnya. Ternyata aku salah. Kali ini apa yang diperbuatnya benar-benar sadis. Dia mengeluarkan sekaleng cairan hitam dan kuas. Seeet…seeet…seeet. Dia mengoleskan cairan hitam itu ke tubuhku. Aku merintih pilu.
“Tolooooong, jangan rubah aku menjadi hitam.” Rintihanku hanya bergema di dalam hati. Setengah jam kemudian dia selesai dan menaruhku di bawah terik matahari.
Kemudian dia berusaha melepaskan keranjang di dadaku namun urung. “Ah, lumayan euy, buat taruh tas, gak usah dicopotlah!” Gumamnya.
“Ya ampun, Asep! Kumaha, euy! Sepeda mini jadi berubah warna hitam begitu?!” Seru ibunya dari teras. Dia terpana melihat kelakuan anak laki-lakinya tapi tak bisa berbuat apapun selain geleng-geleng kepala.
“Keren ‘kan, Mah! Perkenalkan…namanya Ujang Seroja. He he he.”
‘***
“Asep edun! Masa sepeda mini dikasih nama Ujang!” Ledek Mamat, sahabatnya sewaktu mereka berangkat sekolah bareng.
“Biarin! Suka-suka, euy! Ayo kita balapan sampe ke sekolah! Yang kalah traktir es kebo!”
Walhasil, hari pertamaku menemani Asep ke sekolah adalah hari yang paling mengerikan. Asep menggenjotku kencang-kencang dan memaksaku berlari ngebut. Aku terpaksa mencium bokong sapi yang sedang menyebrang jalan desa. Untung saja sapi bukanlah binatang pemarah seperti anjing atau buaya. Sapi itu melenguh keras. Mungkin bokongnya memar terhantam stang-ku. Asep terkekeh-kekeh dan terus ngebut menuju sekolah.
Mamat terseok-seok dengan sepeda buntut yang sudah berkarat. Suara sepeda Mamat terdengar memilukan setiap kali digenjot. Ngik…Ngik…Ngik…seperti orang punya penyakit asma.
“Menaaaaang!” Teriak Asep begitu sampai di gerbang sekolah. Aku ngos-ngosan dan rasanya mau pingsan.
Mamat berhasil sampai dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Aku melirik sepeda buntut yang tergeletak di tanah, sementara si Mamat duduk menggelosor di sebelahnya. Kasihan sekali mereka. Aku merasa beruntung masih bisa berdiri tegak walaupun seluruh persendianku serasa mau copot.
“Terang saja kamu pake sepeda baru! Curang, euy!” Protes Mamat. Kemudian aku dituntun masuk ke sekolah SLTA Desa Suka Sari.
Sejak saat itu aku dan Asep tak terpisahkan. Kemanapun dia pergi, aku selalu bersamanya. Kami menyusuri jalan setapak desa, mendaki bukit, menerabas padang savana, berteduh di bawah pohon besar, berbasah-basah menyebrangi kali, tertatih-tatih melintasi jembatan gantung, dan membuat kegaduhan di pasar kecamatan desa.
Pernah suatu kali, aku dan Asep ngebut di tengah pasar. Semua orang terkejut. Teettoot…teettott…teettott suara terompetku bergema di seantero pasar. Aku menabrak sebuah kurungan ayam dan membuat ayam-ayam di dalamnya berhamburan kemana-mana. Aku juga menghantam sebuah lapak cabai rawit. Orang sepasar mengejar, tapi kami berhasil lolos. Asep terpingkal-pingkal di sudut jalan dan mengelus-elusku dengan bangga.
“Yes! Kita berhasil, Ujang!” Serunya girang. Tapi sepuluh menit kemudian dia menangis sesenggukan akibat jeweran si Abah.
“Ampun, Bah…Ampun, Mah…Asep gak nakal lagi. Janji!” Raungnya saat Abah dan Mamah marah dan mengancam akan menjualku. Aku hanya menunduk takut di sudut rumah.
Hari demi hari kami lalui dengan petulangan-petualangan seru. Hari-hari yang indah di sebuah desa kecil di lereng bukit. Kami saling menyayangi. Asep selalu menjagaku dan aku berusaha sekuat tenaga menjaganya.
Lalu suatu hari terjadi kesibukan yang luar biasa di rumah Asep. Semua orang sibuk mengepak dan mengangkut barang.
“Ujang…kita akan pindah ke kota! Abah dapat kerja di kota jadi sopir. Kita akan ke Jakarta!”
Jakarta? Seperti apa itu? Kedengerannya seperti nama cendol. Ternyata Jakarta memang seperti cendol.
Kacau sekali. Semua bercampur aduk di sini. Tak ada ruang kosong. Jalanan dijejali berbagai macam kendaraan. Asap hitam dan suara bising memenuhi udara. Tak ada lagi udara sejuk, bersih dan tenang seperti di desa. Meskipun aku benda mati yang tidak memerlukan oksigen untuk bernafas, tapi aku lebih suka udara yang bersih.
Keluarga Asep tinggal di rumah kontrakan kecil di dalam gang sempit. Setiap mau keluar atau masuk, aku pasti menyerempet barang-barang yang berjejer di sepanjang gang sempit ini.
Sekolah Asep sebenarnya tidak jauh, tapi untuk mencapai ke sana diperlukan usaha keras. Asep harus extra hati-hati membawaku kalau tidak mau terserempet bajaj, metromini, mikrolet, mobil pribadi, dan yang lebih parah adalah motor. Di Jakarta, motor sudah seperti ketombe. Setiap hari semakin banyak dan sangat mengganggu. Para pengendara motor itu tidak mau mengalah satu sama lain, apalagi pada bocah yang menggowes sepeda mini.
Di sekolah Asep yang dulu, ada tanah lapang khusus untuk memarkir sepeda. Sekarang Asep bingung mau memarkirku dimana karena di sekolah ini hanya ada parkir mobil dan motor. Hari pertama tiba di sekolah, kami menjadi tontonan. Anak-anak kota itu cekikikan melihat Asep kebingungan mencari parkir sepeda. Untunglah, Pak Dirman, salah seorang satpam sekolah membolehkan Asep untuk memarkirku di pos satpam. Asep tetap membawaku setiap hari ke sekolah dan aku tetap setia menemaninya kemanapun dia mau. Hingga suatu hari …
“Abah, Asep minta tambahan uang saku mulai besok karena mau naik angkot saja.”
“Kenapa, Sep? Kan lebih enak pakai sepeda. Lebih cepat dan gak kena macet.” Tanya Abah.
“Asep malu! Tiap hari diledek. Mereka nyanyi Kring kring kring ada sepeda. Sepedaku roda dua. Kudapat dari abah. Karena rajin ngitung gabah.”
Aku tercengang. Asep Sukasep telah berubah. Pengaruh ibu kota sangat dasyat. Kini aku tak lagi menemaninya ke sekolah atau kemanapun. Aku hanya dibiarkan di sudut belakang rumah. Sendiri. Berdebu. Ditutupi berbagai barang tak terpakai. Terlupakan.
Asep tidak pernah memperdulikanku lagi. Hingga suatu hari Abah mendorong sebuah sepeda motor berwana merah berkilat. Asep teriak girang.
“OMG! Thanks so much, Dad! I love you!” Ciih! Sekarang Asep sudah malas berbahasa Indonesia, rupanya.
“Ini motor kredit. Sehabis kamu pakai ke sekolah, Abah pakai buat ngojek. Lumayan buat tambahan. Sepeda kamu dijual saja, ya?” Tanya Abah.
“Whateva alias terserah!” Jawab Asep tak acuh. Jleb! Aku seperti ditebas samurai. Pedih. Sakit. Tercabik. Marah. Tapi tak ada yang bisa kulakukan. Kutatap wajah bocah yang beranjak remaja itu. Dulu wajah itu begitu polos, lugu dan sederhana. Kini semua telah berubah…
Akhirnya aku dijual kepada seorang bapak tua. Kini aku menemani hari-hari pak tua. Dia menjadikanku sebagai kendaraan untuk menjual berbagai macam minuman. Setiap hari aku membawa termos air, minuman sachet, rokok, mie instant dan lain-lain. Kami berkeliling dari pagi sampai malam. Pak tua itu menggowesku pelan karena tenaganya, juga tenagaku, sudah terlalu tua untuk bersaing dengan kendaraan mesin.
Sesekali, aku bertemu dengan Asep. Tentu saja dia tidak mengenaliku. Dia terlihat gagah dan trendy di atas Ronald, motor matic-nya yang baru. Hhh…
tersingkir,, kalah dengan yang baru.. sebuah cerpen yang emang terjadi di sekitar kita..
BalasHapus