
Sebuah Catatan Perjalanan
1 - 2 Oktober 2011
“Lihat segalanya lebih dekat dan kau akan menilai lebih bijaksana” – Sherina Munaf
“Lo beneran mau ke Badui?” itu pertanyaan yang diajukan temen gw waktu baca status BB.
“Iya. Emang kenapa?”
“Hati-hati lo! Gw bilangin aja, ya orang Badui itu …bla bla bla, ble ble ble, blo blo blo. Mereka itu punya ilmu buat was wes wos…was wes wos…was wes wos.
Akh! Gw sebel banget baca BBM-nya. Bikin mindset gw tentang orang Badui jadi negatif. Akhirnya, gw hapus semua BBM-nya. Sorry, deh ya…gw mau menikmati perjalanan ini tanpa pikiran-pikiran negatif.
Sabtu jam 7 pagi, gw sampai di Stasiun Kota. Eh, ketemu sama salah seorang teman perjalanan waktu ke Teluk Kiluan. Syukurlah, ada temen yang udah kenal. Sisanya, belum kenal dan baru kenal di sana. Total rombongan ada 18 orang.

Jam 7.30 kereta ekonomi Kota – Rangkasbitung berangkat. untuk jarak sejauh itu, ongkosnya cuma 2.000 perak! Pantes aja, di dalem kereta dapat ‘bonus’ dibentak-bentak sama pengemis galak dan maksa. Namanya juga kereta ekonomi yang jeleknya semena-mena. Hhhh…, kapan ya sistem perkereta apian kita bisa seperti di Jepang atau Inggris. Khayalan tingkat tinggi!
Sekitar jam 11 an, kereta berhenti di stasiun RangkasBitung. Kami istirahat, makan, sholat di sebuah warung makan. Sekitar jam 12- an, kami melanjutkan perjalanan dengan Elf menuju Badui Luar. Seru, euy! Elf-nya ngebut di jalanan yang berkelok-kelok dengan tanjakan dan turunan tajam. Jalanannya mengingatkan gw pada jalanan ke Kawah Putih.
Jam 2 an, akhirnya kami sampai di Badui Luar. Sekelompok orang Badui sudah berkumpul menunggu kami. Mereka siap jadi petunjuk jalan sekaligus porter untuk mengangkut barang.
Lanjut jalan kaki, cuy! Trekking gunung! Medannya mengingatkan gw pada pendakian ke Gunung Gede. Coba Voldemort ikut, ya… Pasti tambah seru.
So, gw jalan bareng salah seorang porter. Namanya Samin. Umurnya baru 18 tahun. Awalnya gw jalan sambil diam. Gak sadar, rombongan yang lain tertinggal jauh di belakang. Kata mereka, gw jalannya cepet banget.
“Kok kamu jalannya cepet banget sih,… tanjakannya ‘kan tinggi.” Tanya salah seroang teman waktu istirahat.
“Saya pernah naik gunung, Mba. Dua kali. Jadi, gak terlalu kaget sama tanjakan kayak gini. Apalagi sekarang saya gak bawa apa-apa. Rasanya badan enteng, euy.”
“Pantes…”
Untuk memecah kesunyian, akhirnya gw mulai ngajak si Samin ngobrol.
“Pernah ke Jakarta, A’ ?
“Pernah.”
“Naik kereta, ya?”
“Jalan kaki.”
“Ha? Beneran? Berapa lama sampai di Jakarta?”
“Dua hari setengah.”
Gw baru tahu kalau orang Badui Dalam dilarang naik kendaraan apapun, pakai alas kaki, pakai baju selain baju khas mereka (Orang Badui Luar berwarna hitam, orang Badui Dalam berwarna putih plus ikat kepala), gak boleh sekolah, gak boleh menikah dengan orang di luar Badui.

Di perkampungan Badui Dalam, semua binatang berkaki empat dilarang dipelihara (sapi, kambing, kucing, anjing, kuda, dll). Kecuali kalau ada binatang liar yang masuk ke kampung. Itu juga buru-buru diusir sama mereka.
“Kalo misalnya Aa naik mobil di Jakarta, kan gak ada yang tahu, tuh! Kan jauh dari sini.” Tanya gw penasaran. Abis, gw pikir, gile aje! Jalan kaki dua hari, cuy!
“Pasti ketahuan, Teh! Orang tua kami pasti tahu. Mereka bisa “mencium”…”
“Sanksinya apa?”
“Dikeluarkan dari suku.”
“Apa sih sanksi yang paling berat kalo melanggar larangan-larangan adat?”
“Dikeluarkan dari suku. Itu aib seumur hidup.”
“Wow!”
“Aa senang gak kalau lagi di Jakarta?”
“Senang, Teh. Ramai.”
“Sudah kemana aja?”
“Monas, Ancol, Istana, Blok M, Senayan, Bekasi sampai Karawachi.”
“Jalan kaki?”
“Jalan kaki, Teh.”
“Tidurnya di mana.”
“Di rumah kawan yang pernah berkunjung ke kampung kami.”
Hoo…jadi mereka nginap di rumah orang Jakarta yang pernah berkunjung ke Badui. Semacam kunjungan balasan begitu. Orang Jakarta itu meninggalkan alamat kepada orang Badui Luar yang punya HP. Ah, pokoknya, sejauh apapun, orang Badui Dalam pasti akan sampai ke alamat yang dituju dengan jalan kaki. Gw ulangi ya, JALAN KAKI (CAPSLOCK, BOLD, ITALIC).
Masyarakat suku Badui Dalam masih buta hurup. Sedangkan di Badui Luar sudah ada beberapa orang yang bisa baca tulis. Mereka menyebutnya dengan “aksara”. Jika ada anak Badui Luar yang ingin bersekolah, maka dia harus sekolah di kampung di luar wilayah Badui. Dan itu masih dilakukan dengan diam-diam.
Kepercayaan yang dianut oleh suku Badui adalah Sunda Wiwitan.Perayaan Hari besar yang selalu mereka nantikan adalah saat panen raya dan pernikahan, karena saat itu mereka memasak dan mengundang seluruh kerabat orang Badui, Luar dan Dalam.
Jalan sambil ngobrol bikin perjalanan naik turun bukit selama hampir dua jam jadi gak terasa. Oia, setelah melewati sebuah jembatan gantung, kami dilarang menggunakan alat elektronik termasuk kamera, HP, radio, dll. Pokoknya semua yang ber’bau’ teknologi kudu dimatikeun.
Jadi, setelah memasuki wilayah Badui Dalam, gak bisa ambil foto. Padahal, pemandangan alamnya bagus banget! Amazing! Kami melewati lumbung-lumbung padi, sawah-sawah di lereng bukit, ladang-ladang, pohon duren, pohon rambutan, pohon kecapi, dll.
Sepi senyap. Itu kesan pertama yang gw rasakan saat menginjakkan di desa Cibeo, salah satu kampung di wilayah Badui Dalam.
“Pada kemana orang-orangnya, A’?” Gw bertanya ke Samin
“Di ladang.”
“Semuanya? Perempuan, anak-anak?”
“Iya. Semua. Sebentar lagi pulang.”
Gw istirahat di sebuah rumah yang bakal jadi tempat bermalam rombongan kami. Rumah Pak – duh, gw lupa namanya- Rumah panggung dengan bilik-bilik bambu dan atap rumbai. Penerangannya menggunakan lampu minyak tanah.
Di depan setiap rumah, gw perhatikan ada bambu-bambu di jejerkan. Awalnya, gw pikir itu kentongan maling! Banyak amat, yak! Setelah gw tanya, ternyata itu bambu untuk mengambil air di sungai. hooo… #angguk-angguk sambil elus jenggot
Satu per satu, anggota rombongan yang lain berdatangan. Wuih! Pada basah keringat, euy! Capek yaa…? Gw cengar-cengir sambil duduk selonjoran di teras bambu. #gayanya gw minta digampar.
Begitu semua udah sampai, Mas Marshad, ketua rombongan ini, menyuruh kami untuk mengumpulkan sumbangan. Sebelumnya kami telah diberitahu untuk membawa sumbangan berupa beras / indomie/ obat-obatan/makanan ringan.
Gw bawa beras. Gak banyak sih, cuma lima kwintal. #eh? Gak kok, cuma setengah liter. Semua bahan-bahan itu dikumpulkan lalu diserahkan kepada pemilik rumah. Istri pemilik rumah itu langsung memasaknya untuk makan malam. Sementara itu, kami menuju sungai.

Musim kemarau yang berkepanjangan membuat sungai itu kering. Tapi tetap jernih dan mengalir. Semua keperluan MCK dilakukan di sungai itu. Maka dari itu, kami dilarang menggunakan semua hal yang mengandung bahan kimia seperti sabun mandi, odol, shampoo, handbody, dll.
Akhirnya, gw ketemu para wanita Badui. Wih, cantik-cantik, booo! Kulit mereka putih, rambut panjang, mata sipit, tulang pipi menonjol, wajah mereka bersih! Gw pikir, kalau mereka dibawa ke kota, pasti ditawarin jadi model atau artis sinetron! Beneran, cantik! Sayang, gak ada bukti kuat untuk mendukung pernyataan ini karena gak boleh foto sama sekali.
Desa Cibeo sangat tenang dan bersih. Banyak ayam liar tapi tokai-nya gak ada. Aneh, ya…gw seperti berada di dalam lukisan perkampungan tanah Toraja yang pernah gw liat di kalender. Desa kecil yang dikelilingi bukit, rumah-rumah panggung, api unggun dengan teko di atasnya, ayunan kain untuk bayi di depan rumah, batu-batu besar, sungai yang memisahkan desa dengan sebuah hutan.

Oia, disebrang sungai, ada sebuah hutan lebat. Namanya hutan larangan. Selain orang suku Badui dilarang keras masuk ke hutan itu. Katanya, dibalik hutan itu ada desa dimana kepala suku Badui tinggal. Gak sembarangan orang bisa masuk ke desa itu dan bertemu dengan sang kepala suku.
Para tamu diperbolehkan memakai senter untuk penerangan menuju sunga dan jalan-jalan. Sambil menunggu makan malam siap, kami jalan-jalan keliling desa kecil itu, sambil sesekali menyapa rombongan lain yang juga berkunjung ke sana.
Ups, gw sempet pipis di sungai itu, loh! Caranya, kita berlima orang cewek rame-rame ke sungai, trus gantian pipis, sementara yang lain membentangkan sarung untuk nutupin yang lagi buang hajat. Rempong ye, cyiiin…?
Secara, di sebelah kami, para perempuan Badui dengan entengnya mempreteli baju mereka sampe telanjang bulet, trus nyemplung ke sungai dengan sejahtera. Glek, gw nelen ludah liat ibu-ibu, anakgadis sampe nenek-nenek telanjang bulet. Gak jauh dari situ, dibagian sungai yang lebih atas, cowok-cowok pada main-main kecimpang kecimpung di sungai. – coba Voldemort ikut - Cuma sebuah batu besar yang menutupi pemandangan ‘aduhai’ itu…
Brrr…udara mulai dingin, euy. Kami sempat ‘blasak-blusuk’ desa dan menerima ‘tatapan’ tertarik dari pada penduduk desa. Mereka hanya menatap kami tanpa berkata apa-apa.
“Lihat ke langit, deh!” kata temen gw.
“Wow!” langit seperti pasir pantai. Bintang banyaaaaaaaaaaaaaak banget! Bener-bener penuh bintang. Bulan muda menyeringai di tengah bintang-bintang. Hilal muda itu seperti mulut yang menyunggingkan senyum.
“Matiin semua senter, deh!” kata Mas Marshad. Kami mematikan semua senter yang kami bawa.
“Lihat! Terang, kan!” Padahal itu bukan bukan bulan purnama tapi tanah yang kami pijak terang oleh cahaya bulan dan bintang di atas langit. Subhanallah…gw gak inget kapan terakhir kali lihat bintang sebanyak ini. Langit Jakarta sudah terlampau penuh polusi udara.
Makan malam yang indah. Kami semua duduk melingkar, menikmati sebakul nasi panas, indomie panas, sosis, nuget, sambal, tempe orek. Lahap, euy!
Abis makan, lanjut ngobrol-ngobrol sebentar sama bapak pemilik rumah. Badan capek, perut kenyang, udara dingin adalah kombinasi sempurna untuk memanggil kantuk. Gw keluarin sarung dan siap-siap tidur. Dingin sih, tapi gak dingin-dingin amat kok, jadi sarung aja cukup. Itu pikiran songong gw.
Tapi, jam 10 malam gw terbangun dengan badan gemetar menggigil. Gelap-gelap, gw bongkar tas dan ngeluarin sleeping bag. Meringkuklah gw di bawah sleeping bag dengan semena-mena sampai pagi…
Tau gak, alarm yang dipake suku Badui tiap subuh? Bukan azan subuh apalagi alarm jam weker. Tak lain dan tak bukan adalah kokok ayam. Gile, berisik banget! Serasa ayam-ayam itu berkokok tepat di samping telinga. Walhasil, jam 5 subuh gw udah bangun dan gak bisa tidur lagi. Mau ke sungai, tapi masih gelap banget. Untunglah gw gak pengen pup, seperti kebiasaan gw di rumah tiap pagi.
Kira-kira jam 6, gw, Dina dan Puri baru berani ke sungai. Kami cuma duduk-duduk di pinggir sungai, ngeliatin para perempuan Badui ‘do their morning duties’. Ada yang cuci piring, cuci baju, mandi, buang hajat, dll. All in one place.
“Sarapan udah siap, euy! Jam 7 kita berangkat!” Mas Marshad kasih instruksi. Gw sih gak laper-laper amat, tapi tetep nyarap lah. Asyik, ada telor orek! Gw ambil banyak-banyak deh. Enak banget, pagi-pagi dingin, nyarap nasi panas dan telor. Sedaaap. Eh, tapi kok, rasanya begini ?
“Itu bukan telor! Itu duren goreng.” Waks…gw bengong dengan anggun. Duren goreng?
“Iya. Ini duren yang masih mentah. Duren kampung loh ya. Bukan duren montong. Dagingnya dikelupasin trus di goreng. Enak, ya…” Kata Mas Marshad.
Oalaaah…ini makanan baru buat gw. Kadung ambil banyak, harus gw abisin. Gw takut kalo sisain makanan, trus nanti tuan rumah Badui-nya tersinggung. Jadi, pelan-pelan gw makan nasi sama duren goreng itu sampe abis. Hmm…aneh, tapi mayan enak juga. Sekilas, rasanya kayak sukun goreng.
Abis sarapan, kami packing.
“Kita akan jalan kaki selama kurang lebih 5-6 jam . Rutenya beda sama yang kemaren, tapi medannya kurang lebih sama, bahkan lebih parah. Kita akan melewati dua tanjakan cinta, tiga turunan penyesalan dan beberapa jembatan gantung.”
“Kenapa namanya jembatan cinta dan turunan penyesalan, Mas?” Ada yang tanya.
“Karena melewati tanjakan itu sangat menyakitkan seperti cinta. Sakiiit rasanya. Turunannya bikin kita nyesel.”
Kami pamit pada pemilik rumah. Sampai ketemu, ya. Semoga suatu saat nanti bisa ke sana lagi. Eh, tapi mau gak ya ke sana lagi? Ntahlah. Saat gw bikin catatan perjalanan ini, pegel-pegel di betis dan paha belum ilang sepenuhnya.
Lagi-lagi, tanpa sadar, gw jalan paling depan. Yang dibilang Mas Marshad ternyata benar. Tanjakannya benar-benar menyakitkan. Si Andi, cowok asal Medan, nyeletuk,”Ini sih sama aja naik gunung!”
Yap, ini hampir sama dengan trek gunung Lawu. Bukit-bukit merah, yang lereng-lerengnya ditanami padi-padian, sayur mayur, pohon-pohon tinggi, dan semak belukar. Udara mulai panas. Matahari terik menyorot tajam tanpa dihalangi oleh dahan-dahan pohon.
Gw cuma nenteng dua botol air minum, tissue, permen dan kamera siap di tangan. Tas carrier gw dibawa sama porter. Aduh, namanya gw juga lupa euy! Kelemahan gw adalah susah mengingat nama orang yang baru kenal.
Pemandangannya benar-benar spektakuler. Berkali-kali gw tanya sama si Aa Badui,
“Udah boleh foto belum, A’?”
“Belum.”
“Masih jauh, ya?”
“Dekat.”
(jangan percaya)
Ah, masih kebayang pemandangan itu. Gw sempet istirahat sejenak di puncak dan memandang hamparan hutan di bawah kaki. It was more than words can say, you know!
Akhirnya si Aa bilang “setelah jembatan ini, boleh ambil foto.” Jiaah…temen-temen yang lain pada gila-gilaan jepret sana jepret sini. Gw rasa mereka dendam kesumat. Temen gw, si Dina langsung ngeluarin BB-nya. Tapi percuma, ga ada sinyal sama sekali.
Hampir 15 menit kami ngaso di tepi sungai sambil berfoto dengan semena-mena.
Perjalanan kami lanjutkan. Masih jauh euy. Kami melewati desa-desa kecil yang tersembunyi di tengah hutan. Menyapa para penduduk yang sedang berladang. Beristirahat di bawah pohoh. Hati-hati ya memilih pohon untuk istirahat. Jangan sampai lagi duduk imut di bawah pohon, trus tau-tau ketiban duren jatuh dan bonyok sampe Jakarta.
Kami melewati para perempuan desa yang sedang menenun di depan rumah mereka. Sekekali bertemu dengan rombongan orang asing.
“A’ emang orang asing boleh ya masuk ke Badui?”
“Tidak boleh.”
“Lah, itu?” gue nunjuk ke Bule-bule yang baru melintas.
“Ini sudah di luar wilayah Badui. Mereka hanya dibawa keliling desa-desa yang di luar Badui.”
“Oooh…kalo orang Cina, boleh gak A’?”
“Boleh. Tapi tidak boleh banyak-banyak. Satu rombongan hanya boleh ada satu orang Cina. Dulu tidak boleh sama sekali.”
“Hooo…” gw ber hoo-hoo ria
Sekitar jam setengah 12 siang, akhirnya kami tiba di desa Badui Luar yang dituju. Kami ke rumah Bpk Mulyono (hah! Gw inget namanya). Di sana kami bisa bersih-bersih dan mandi.
Secara, gw yang nyampe duluan, gw langsung menuju kamar mandi. Badan lengket oleh debu dan keringat, gak sikat gigi dari kemaren, gw yakin, komodo pun akan langsung mati kalo deket gw.
Gw langsung jebar-jebur di kamar mandi sederhana itu. Mengganti semua baju dari luar sampe dalam. Gw udah denger suara-suara teman-teman yang lain berdatangan. Gw mandi cepat dan tepat.
Tapi…huaaaa….ternyata kaos Manchaster United warna ijo gw ketinggalan di kamar mandi itu. Gw baru sadar kaos kesayangan gw itu gak ada, pas bongkar tas di rumah pada hari senin pagi. Akh, sedih banget deh. Gw kan selalu nge-trip pake kaos itu. Kaos itu udah nemenin gw berhari-hari di gunung Lawu, Gunung Gede, Puncak, Teluk Kiluan, Gunung Krakatau, Kawah Putih, Situ Patengan, Pulau Tidung, dan banyak tempat lainnya. Cediihhh…
Makan siang euy! Kali ini menunya sangat menggiurkan. Nasi panas, sayur asem, ikan goreng, sambal, lalapan, ikan asin, pete rebus – ah, lagi-lagi, coba Voldemort ikut -. Gw sampe nambah, euy! Sedap bangeeeeeeeet.
Ternyata, setelah makan siang, perjalanan masih jauh. Masih satu jam lagi jalan kaki menuju desa Cibageler, tempat jemputan Elf.
Perjalanan ini lumayan berat karena dilakukan di tengah hari bolong. Udara panas beud! Segelas coca cola dingin menjadi sebuah obsesi.
Di tengah perjalanan, gw mampir beli duren. Desa yang kami lewati ini penghasil durian. Hampir di setiap teras rumah, teronggok duren-duren untuk di jual. Si Aa porter ketambahan beban tiga buah duren.
“Berat ya, A’?”
“Tidak. Saya biasa bawa duren 80 biji.”
Hmm…Baiklah
Akhirnya, sampai juga di pemberhentian terakhir tempat kita menunggu elf jemputan dari Jakarta datang. Jam dua siang, Elf datang dan kami langsung bersiap kembali ke ibu kota Jakarta (tak) tercinta.
Kami pamitan, foto-foto untuk terakhir kali, sama Aa-Aa Badui. They are my new friends, my new brothers. Di perjalanan pulang menuju Jakarta, di atas jalanan rusak Rangkasbitung – Balaraja, gw teringat BBM temen gw kemaren. Tentang pandangan negatif terhadap suku Badui.
Well, yang suka bilang KATANYA, berarti dia BELUM pernah, dan GAK tau apa-apa tentang hal apapun yang dia bicarakan. KATANYA dia begini, KATANYA si anu begitu. Itu artinya BIG ZERO dan gak perlu didengerin sama sekali.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung.” Alhamdulillah, perjalanan mengunjungi suku Badui memberi gw kesempatan untuk membuktikan kebenaran pribahasa ini. Suku Badui bagai sebuah mata air jernih di tengah peradaban dan kemajuan teknologi.
Mereka tinggal tak terlampau jauh dari pusat pemerintahan negara ini.
Bandingkan dengan Suku Anak Rimba di pedalaman Jambi, Suku Dayak di pedalaman Kalimantan, atau suku Dani di Pedalaman Papua dan ribuan suku-suku yang tersebar di Indonesia. (Indonesia is amazing, isn’t it?).
Suku Badui tinggal di Pedalaman Banten, Kabupaten Lebak. Hanya sehari perjalanan saja untuk mengunjungi mereka. Namun, mereka bisa mempertahankan keunikan adat istiadat dan sangat patuh pada warisan leluhur.
Dari Badui, gw belajar tentang kesetiaan terhadap keluarga. Dari Badui, gw belajar tentang kesederhanaan. Dari Badui, gw belajar tentang uang senilai Rp. 15.000. (ongkos porter barang –tak perduli seberapa beratnya- selama seharian penuh, melalui medan yang bikin nafas ngos-ngos-an, mereka ‘hanya’ meminta upah sebesar Rp. 15.000).
Dari Badui, gw belajar tentang kejujuran. (Bahkan anak-anak Badui itu gak berani naik kendaraan di Jakarta meskipun jauh dari tanah leluhur mereka. Itu sebuah kejujuran dan kesetiaan yang sangat mengagumkan, bukan?).
Dari Badui, gw belajar banyak. Diantara perjalanan-perjalanan gw yang sudah lewat, perjalanan ke Suku Badui inilah yang sangat berkesan. Gw dipertemukan oleh dua komunitas baru yang sangat berbeda.
Pertama, teman-teman seperjalanan baru yang punya background sangat menarik. Ada yang bekerja di Trans 7, ada yang menjadi Radio Progammer di Radio Gen FM, ada yang bekerja sebagai Editor sebuah penerbitan, Wartawan, Dosen Binus,Bank Syariah Mandiri, dll. Saat memperkenalkan diri dan menyebutkan pekerjaan mereka, gw membatin…”wow! They are great!’
Kedua, teman-teman dari suku Badui dengan kepolosan dan kesederhanaan meraka. Hampir semuanya buta aksara. Hidup bagi mereka adalah bangun pagi – berkebun – tidur. Kalau sudah 18 tahun akan dijodohkan – menikah – punya anak. Selesai.

Beberapa anak-anak muda Badui itu mengaku mereka senang jika sabtu-minggu, sebab biasanya banyak tamu datang ke desa mereka. Mereka jadi punya penghasilan tambahan dan mempunyai alasan untuk keluar kampung.
Gw gak sehebat teman-teman seperjalanan tapi –Alhamdulillah- gw udah sedikit lebih maju dari kawan-kawan Badui. Gw hanyalah orang yang sedang senang-senangnya belajar.
Belajar melihat segala sesuatu dari dua sisi. Belajar tak menilai orang lain. (who the hell are you anyway? Dare to judge other people!). Belajar menghargai apapun. Belajar jujur. Belajar mengerem keinginan yang bejibun. Belajar bersyukur. Belajar setia. Belajar fokus. Belajar tekun. Belajar berani. Belajar melupakan … -mu- *uhuk! Batuk-batuk ketelen kulit duren.
wow,,amazing, pasti tdk terlupakan yahh...eniwei klo baru denger "katanya" mending ga usah dipercaya yahh...buktinya travel to Badui asyik2 aja khan :)
BalasHapus" was a wonder experience for traveling, want try next time "....keep do traveling cause its make you know abt every culture from one place that you visit"......
BalasHapuskeren pengalaman dan tulisannya. aku googling karena barusan diceritain temen yang baru otw pulang dari sana. katanya cewe2nya cantik2.. sampe bingung dengernya. tapi katanya jauh banget jalan kakinya 5 jam ya? haduh... mikir juga kalo harus jalan kaki 5 jam setelah naik mobil dari bandung 5 jam :D ... salam kenal and keep writing ya... www.adinoto.org
BalasHapusHai, terima kasih udah baca dan komen di blog saya. Iya, pengalaman mengunjungi suku Badui seru banget ... yuk, ke sana dan kenalan sama orang-orang badui yang baik hati itu ... :D
BalasHapusWaduuuuh ceritanya asyik banget. Cerita yang membumi. Apa adanya. Saya suka dengan cerita-cerita yang begini. Jadi inget perjalanan kita.
BalasHapusMakasiy tulisannya. Saya mau kesana besok lusa. Moga niy kaki kuat, deh :p
BalasHapus