Satu waktu Ketika Aku Membalik Arah hidupku

Tulisan ini dibuat untuk lomba menulis internal FLP Jakarta
Alhamdulillah, tulisan ini menang euy! Jadi juara satu!


Hadiahnya buku berjudul TUNNELS...Lumayan...

“Satu waktu, Ketika Aku Membalik Arah hidupku”
Pramuda FLP angkatan 13


Minggu, 8 Maret 2009

Minggu pagi adalah waktu saya untuk bermalas-malasan di depan TV. Menonton acara infotainment yang kadang bikin mual, (tapi tetap saja ditonton), berita pagi, atau film kartun , sambil menikmati semangkuk mie ayam, menjadi “my Sunday morning blues”, irama minggu pagi.

Sadar betul kalau rutinitas ini tidak baik untuk kesehatan, apalagi setelah perut kenyang, kantuk menyerang dan tanpa perlawanan apapun, saya langsung menyerah dan kembali terbuai mimpi hingga tengah hari.

Hasilnya, ketika bangun tidur kepala pusing, badan pegal-pegal, lapar (lagi…), dan rasa malas yang berkepanjangan.

Tekad untuk merubah irama minggu pagi ini sebenarnya sudah lama teronggok jauh di lubuk hati tapi selalu kalah oleh pembelaan yang dibisikan oleh suara hati yang lain. “Senin sampai jumat kan udah capek kerja dan kuliah, jadi boleh dong kalau weekend dijadiin saat untuk memanjakan diri alias malas-malasan.”

Tapi, minggu pagi ini sebuah ide mengusik ritual itu . Sebenarnya, sejak hari rabu sebelumnya ide ini memenuhi rongga kepala, ketika tanpa sengaja saya bertemu seorang teman dalam perjalanan pulang dari kantor.

Dengan malu-malu, dia bertanya (heran, kenapa dia harus malu, ya ? ) di mana letak masjid Amir Hamzah komplek TIM.

Kontan saja, saya langsung memberi arahan yang akurat, karena memang saya tahu persis lokasi mesjid itu. Dulu, sambil menunggu film Harry Potter 3 di putar di TIM 21 yang kira-kira masih dua jam lagi, (maklum, film itu ‘booming; banget, jadi untuk antisipasi saya datang dan beli tiket dua jam lebih awal) saya mencari masjid untuk sholat zhuhur dan terdamparlah saya di mesjid ini.

Sekedar untuk meneruskan topik pembicaraan dan tanpa ada maksud lain, saya bertanya, ada keperluan apa mencari mesjid Amir Hamzah. Teman saya menjawab dengan senyum malu-malu tanpa kata (heran lagi ….).

Iseng dan kali ini di tambah rasa penasaran, saya menebak-nebak; “ walimahan, ya ? acara pengajian, ya ? acara partai, ya ? kok jauh amat, dari Cililitan ke Cikini ?”.

Terus saja saya mendesak tanpa ampun dan tanpa malu. Salah sendiri kenapa dia gak langsung bilang saja ada acara apa, pastinya bukan acara yang ‘haram’ kan ? Jadi , kenapa harus malu untuk di ceritakan ?

“Pernah dengar FLP ?” Teman saya bertanya dan saya jawab dengan anggukan singkat.

“Forum Lingkar Pena,kan ?” Tebak saya.

“Betul,… saya daftar jadi anggota baru Pelatihan Penulisan anggatan ke 13.
Pertemuannya di Mesjid Amir Hamzah TIM.…” Papar teman saya.

Ahay ! Topik tentang buku dan dunia tulis menulis langsung membangkitkan selera saya, seperti binatang yang menegakkan telinga begitu mendengar mangsanya lewat, seperti orang yang kehausan ditawarkan segelas air dingin. Begitu menggairahkan..

Seumpama amphibi, saya merasa hidup dalam dua dunia, dunia nyata dan dunia buku. Suatu saat, saya berada di balik partisi kantor, menghadapi komputer, tenggelam dalam rutinitas kerja sehari-hari yang monoton.

Namun, disaat yang lain, saya seperti berada di Kastil Hogwards, menghadapi pelajaran-pelajaran sihir, menyusuri lorong-lorong rahasia, memecahkan misteri-misteri, terbang di atas sapu dan menggumamkan mantra-mantra sihir.

Atau, saya bisa berada di tengah eksotiknya kota Paris, menikmati kemegahan si Nyonya Besar, Menara Eifel sambil memecahkan misteri pembunuhan seorang kutator terkenal Jacques Sauniere di Galeri Agung Museum terbesar di dunia, Louvre.

Di saat lain, jiwa dan raga menyatu, menyimak dengan penuh konsentrasi uraian dosen dalam ruang kampus, namun setelah itu, jiwa saya terbang meninggalkan raga yang tertelungkup di atas kasur, berasyik-masyuk dengan Edward Cullen, si vampire yang tampan, berkhayal seandainya saya secantik Isabella Swan.

Atau terlarut dalam kisah cinta yang mengharu biru, atau ikut merasakan pedihnya cinta Noura yang tak dibalas oleh Fahri Abdullah.

Kadang pula, saya begitu asyik menyimak kisah-kisah penuh hikmah yang diuraikan oleh Ust Yusuf Mansyur sementara di saat yang berbeda, saya bisa sangat bersemangat menjalakan tips dan trik bisnis yang di anjurkan oleh Tung Desem Waringin.

Rasanya sangat menyenangkan, mempunyai dunia lain yang bisa mengalihkan pikiran walaupun untuk sementara. Kala kehidupan di dunia nyata terasa begitu sesak oleh berbagai persoalan, saya bisa berimigrasi sejenak ke dunia buku.

Menenggelamkan pikiran-pikiran yang kusut masai, terbuai oleh alur cerita yang kadang mengharu biru emosi jiwa, atau terkagum-kagum pada ide-ide yang disampaikan dalam sebuah tulisan, lalu pikiran yang kusut tadi terurai kembali dan menjadi jernih.

Melalui buku, saya bisa menjelajahi negeri-negeri jauh yang belum dan mungkin tak kan pernah bisa saya kunjungi.

Begitulah, sebuah buku bisa sangat mewarnai suasana hati saya. Selintas pikiran berkelebat dalam benak saya. “Kalau aku bisa membaca buku, aku pasti bisa menulis buku!”.

Aku sangat kagum kepada para penulis. Bagaimana mereka dapat menyihir, memperngaruhi jalan pikiran seseorang, mengobarkan semangat, mengharu biru perasaan, menyampaikan ide-ide, mendreskipsikan seseorang atau suatu tempat dengan sangat detil, sehingga kita seolah bisa melihat jelas apa yang di deskripsikan, atau menggambarkan imajinasi mereka yang kadang liar dan melompat sangat jauh.

Atau bagaimana seorang penulis bisa menyampaikan pesan-pesan kebaikan tanpa si pembaca merasa di gurui, dan bahkan seorang penulis bisa menyebarkan kejahatan yang terselubung. Semua itu ‘hanya’ melalui kata-kata.

Saya terinspirasi oleh sebuah film lama yang berjudul The Mighty (Gillian Anderson, Kieran Culkin, Sharin Stone). Film itu bercerita tentang persahabatan seorang anak yang sehat secara fisik namun terbelakang secara mental dengan seorang anak cacat fisik tapi jenius.

Mereka saling mengisi kekurangan satu sama lain, yang satu menjadi tubuh sementara yang lain menjadi otak. Dengan sabar, si anak jenius mengajari sahabatnya mengenal huruf, mengeja, sampai akhirnya si bodoh bisa membaca.

Ketika si bodoh dapat membaca, dia sangat keranjingan oleh buku, lalu berfikir, kalau aku bisa membaca pasti aku bisa menulis !
Di bimbing oleh sahabatnya yang jenius, si bodoh mulai belajar menulis,menulis dan menulis. Segala sesuatu dia tuangkan dalam tulisan. Sampai pada akhirnya, sahabat terbaiknya harus pergi selamanya, Si autis bertekad akan menjadi seorang penulis terkenal. Dan dia berhasil meraih impiannya.

Dari sanalah tercetus niat saya untuk menjadi seorang penulis. Tapi, menulis itu ada ilmunya. Harus belajar dan dipelajari. Bisa saja sih, seseorang belajar menulis secara otodidak dan banyak yang telah berhasil.

Tapi, faktor bakat sangat berperan di sini. Bagaimana dengan saya, yang sampai saat ini merasa tidak terlalu berbakat dalam dunia tulis-menulis ?. Tentunya perlu pelatihan dan ketekunan disamping tekad yang besar, bukan ?

Saya ingin belajar tentang bagaimana menjaring sebuah ide, kemudian mengembangkannya dalam bentuk tulisan yang baik dengan tata bahasa yang mengalir lancar. Saya juga ingin belajar untuk tetap istiqomah dalam menulis, bukan hanya keinginan sesaat yang menggebu-gebu lalu hilang berlalu begitu saja tanpa ada hasil.

Saya merasa, berada di tengah orang-orang yang mempunyai minat yang sama mungkin bisa menambah semangat dan fokus. Melihat karya-karya teman lain yang telah tersebar di berbagai media, membuat saya bertekad bahwa suatu hari nanti, saya ingin nama saya tercetak di bawah sebuah tulisan di media massa.

Atau sebuah buku dengan nama saya sebagai pengarangnya bertengger terpajang manis di etalase toko-toko buku di seluruh dunia.

Sah-sah saja dong, mempunyai sebuah mimpi besar. Kan ada ungkapan yang kira-kira berbunyi seperti ini : “Manusia dapat bertahan hidup selama seminggu tanpa makan. Bisa bertahan hidup selama tiga hari tanpa minum. Namun, manusia tak akan bisa bertahan hidup seharipun tanpa mimpi…”

Dan demi mendengar informasi dari teman saya tadi, sebersit asa kembali muncul di benak.

“Masih buka pendaftaran gak ? apa persyaratannya ? berapa biayanya ?” bla bla bla saya ajukan pertanyaan dengan bertubi-tubi kepadanya. Teman saya menjawab dengan sabar. Pendaftaran masih dibuka, persyaratannya cukup membawa pas photo ukuran 4 x 6 sebanyak 2 lembar dan biaya administrasi sebesar Rp. 80.000,- untuk enam bulan pelatihan tiap hari minggu pagi di markas FLP Jakarta, yaitu di Mesjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marzuki.

Jadilah, minggu pagi jam 9.30 saya langkahkan kaki, melawan semua rasa malas yang menggelayuti tubuh ini. Sebenarnya, dalam sms pemberitahuan yang di kirim oleh Kepsek FLP, acara dimulai pukul 9.30, yang artinya jam setengah sepuluh, saya harus sudah berada di lokasi.

Tapi, saya 'kan orang Indonesia asli, jadi kalau di suruh datang jam setengah sepuluh, yah berangkat dari rumah jam setengah sepuluh. He he he (gitu kok, bangga !). Toh, tebakan saya benar. Sampai di mesjid acaranya juga belum di mulai. Jadi, gak salah dooooong.

Setelah menyelesaikan administrasi yang sederhana dan mudah, (I like it !), saya bergabung dengan yang lain, membentuk lingkaran besar.

Sang ketua, Kang Taufan, mengisi materi tentang ke FLP-an. Banyak ucapan-ucapan beliau yang saya garis bawahi, seperti bahwa sebuah tulisan itu lintas ruang dan waktu. Jadi, jika kita menulis tentang kebaikan, maka kebaikan itu akan melintasi ruang dan waktu, menjadi amal zariah yang jika bisa membawa kebaikan bagi sesama, maka pahalanya akan terus mengalir. Begitu juga sebaliknya.

Ijinkan sayau mengutip dua paragrap kata-kata kang Taufan yang tertulis di Bulletin Pena. Kata-kata ini mengubah cara pandang dan tujuan saya dalam menulis.

Menjadi lebih berbobot pilihan itu, manakala menulis tidak sekedar menulis. Menulis tidak hanya merangkai kata, menjadi kalimat tanpa makna, dangkal dan hanya bermain-main, berenang-renang dengan penuh kecipak, membuat buih. Menulis bisa menjadi pilihan melampaui cita-cita untuk menjadi penulis, ingin punya buku, ingin popular, atau sekedar memenuhi hasrat akan eksistensi diri.

Menulis untuk menebarkan kebaikan. Menulis untuk mengalirkan keluasan ilmu yang tak cukup tinta tujuh samudra. Menulis untuk mangaruskan kebeningan pandang, kejernihan pikiran hingga manusia terus ingat untuk bertaut pada kemahaan Allah Swt, itulah kiranya yang ingin kita lakukan di komunitas ini. Bahwa, menulis tidak sekedar menuangkan rasa dan ide-ide yang terus mengapung bak capung, meronta laksana angin putting beliung.”

Ah…jika saya ditanya, adakah moment dimana saya membalik arah hidup, mempunyai tujuan baru, terusik oleh sebuah lintasan keinginan baru, mungkin jawabannya adalah saat saya berada di Mesjid Amir Hamzah, minggu 8 Maret 2009.

Demi mendengar uraian yang disampaikan, demi merasakan kehangatan ukhuwah yang langsung menyergap seluruh panca indra, membuat saya merasa de javu, seolah tempat itu tak asing lagi, pernah menjadi bagian dalam hidup saya dimasa lalu.

Saya merasa bukanlah orang asing, meskipun baru pertama kali hadir di sana dan tak mengenal siapapun. Senyum dan salam yang dilontarkan dengan ketulusan oleh para senior membuat saya merasa home sweet home.

Tawa canda yang disisipkan di sela-sela materi yang sedang disampaikan membuat suasana santai namun santun. Kedalaman ilmu dan keluasan pengalaman dari para pengisi materi yang dibalut dengan kerendahan hati, membuat saya tidak merasa terintimidasi.

Tak ada kesan riya atau pamer ketika bercerita tentang karya-karya mereka yang telah melalang buana di berbagai media. Bahkan hal itu membuat saya ingin segera mengikuti jejak mereka.

Dan suasana teduh nan islami di pelataran masjid Amir Hamzah, membuat hati dan fikiran khusuk menyerap ilmu yang sedang di transfer. Tapi, kok banyak nyamuk, ya ? he he he…

Sempat terpikir, kenapa baru sekarang saya bergabung, padahal sudah sejak masa-masa sekolah dulu saya mendengar tentang FLP. Tapi semua peristiwa sudah ditentukan waktunya. Mungkin baru sekarang inilah saat bagi saya….

Sepulang dari pertemuan itu, berbekal semangat dan tekad baru dalam hidupku, saya membuka Laptop yang selama ini hanya teronggok di sudut kamar.

Tuhan telah menitipkan benda ini padaku, tentunya bukan tanpa maksud dan tujuan. DIA telah menyediakan sarana dan prasarana itu jauh sebelum kutemukan komunitas ini.

Dear lappy, mulai saat ini, kau akan manjadi tempat penampungan semua ide-ideku, kau akan bekerja lebih keras, menyimpan semua yang ku tuangkan padamu. Sudah cukuplah tidur panjangmu selama ini… Kau akan menjadi sahabatku. Dan ingat ! Jangan sering-sering ‘ngadat’ ya ….

Kemudian, saya meraih handphone. Sebuah sms saya kirim kepada seorang teman.

Dear pren, sepertinya gue telah menemukan komunitas gue, dunia gue, danau gue, laut gue, langit gue, hutan gue, gunung gue. Seperti elu telah menemukan komunitas teater yang menjadi dunia lu. Di sinilah gue…di FLP…I am home …”Inilah dunia gue !”

4 komentar

  1. Titik balik yaa, kyk ada yg "nampar" ya dan jd semacam trigger yaa...nice ^_^

    Klo buat gw mengajar anak2 di sekolah minggu memberikan ketenangan batin yg luar biasa karena hanya ada kepolosan disana...and it feels happy doing something that we love...

    BalasHapus
  2. That's it! elu ngerasain juga ! istilah kata, hidup ini kudu imbang. Ga melulu sibuk sama dunia yg pasti ilang... (jiaah...kenapa kita lurus begini?) balik miring, ah ...

    thanks for reading...

    BalasHapus
  3. seimbang..yup...setuju!!!! tp jgn kelamaan lurus ahh,, pegel...^_^

    BalasHapus
  4. was good and i like you change it friend, cause its mean your open your minded for world and people around you then first time i know you in this company :D

    BalasHapus