Statusmu, harimaumu

The Eight Best Types of Social Media for Advertising
Gambar diambil dari Google

“Marah-marah sama rekan kerja, bos, klien aja naik jadi status. Kecuali udah gak butuh kerjaannya, mendingan jangan.” @sepatumerah

“Makin lama standar apa yang bisa ditampilin online dan mana yang nggak makin rendah.” @sepatumerah

Kedua tweet di atas saya ambil dari twitter-nya @sepatumerah. Punya teman kerja yang seperti itu? Yang apa-apa nulis di status. Yang sedikit-sedikit pasang status. Marah, kesal dan punya masalah sama seseorang, gak mau dan gak berani ngomong langsung, tapi misruh-misruh dan nyindir di status. Hobby banget menulis status yang membuat orang lain bertanya-tanya ,”Ini status buat saya bukan, ya?” Atau, jangan-jangan  anda sendiri melakukan hal itu? Ups!

Memang sih, itu hak masing-masing orang. Kita gak bisa melarangnya. Tapi, dunia kerja kan beda dengan lingkungan sekolah atau kampus. Para manusia yang sudah berkecimpung dalam dunia kerja sudah usia dewasa - kalau gak mau dibilang tua. Seharusnya, kita bisa dewasa dalam bersikap, termasuk menyikapi sosial media.

Saya heran melihat salah seorang rekan kerja yang suka sekali menulis status di jejaring sosial. Tapi status-status yang dia tulis kebanyakan bernada kecaman, kesal, marah, mencaci maki sesama rekan kerja bahkan atasannya.

 Saya lebih heran lagi kalau dia marah jika ada orang yang iseng me-re-tweet status-status tersebut. Dan saya super heran, ketika dia marah besar saat mengetahui sang atasan membaca status berisi cacian yang memang ditujukan kepadanya. Dia akan menuduh seseorang sebagai ‘tukang ngadu’.

Helloo, itu ‘kan jejaring sosial. Siapa saja bisa membaca dan mengaksesnya. Kalau tidak mau dibaca, ya jangan pasang status di sana. Logikanya, seseorang menulis status agar dibaca oleh orang lain,. Dengan kata lain, orang yang menulis status itu sedang  'curhat’ kepada para follower. 

Jika kita punya masalah dengan rekan kerja, atau ada ganjalan dengan atasan atau klien, sebaiknya kita utarakan langsung kepada yang bersangkutan. Kalau kita menumpahkannya ke dalam status di Jejaring Sosial atau status WA, itu sama saja kita mengobral ‘drama’.

Sama saja kita sedang ‘memproklamasikan’ masalah kita kepada khalayak. Sama saja kita sedang menceritakan bahwa kita bermasalah dengan orang lain. Bisa jadi, bukan simpati yang kita dapatkan dari orang yang membaca status bernada cacian itu, malah sebaliknya. Orang yang membaca status-status itu akan mengernyit dan bertanya kepada rekan yang lain. “Eh, si anu lagi kenapa tuh?”

Dunia kerja bukan tempat ABG-ABG alay yang tidak punya nyali untuk menghadapi masalah, lalu melarikan diri ke dunia maya. Dunia kerja menuntut sikap dan perilaku dewasa. Seperti tweet @sepatumerah, jika masih ingin pekerjaannya, lebih baik jangan, deh

Tidak ada komentar