![]() |
| Gambar diambil dari Google |
“Marah-marah sama rekan kerja, bos, klien aja naik jadi status. Kecuali udah gak butuh kerjaannya, mendingan jangan.” @sepatumerah
“Makin lama standar apa yang bisa ditampilin
online dan mana yang nggak makin rendah.” @sepatumerah
Kedua
tweet di atas saya ambil dari twitter-nya @sepatumerah.
Punya teman kerja yang seperti itu? Yang apa-apa nulis di status. Yang sedikit-sedikit
pasang status. Marah, kesal dan punya masalah sama seseorang, gak mau dan gak
berani ngomong langsung, tapi misruh-misruh
dan nyindir di status. Hobby banget menulis status yang membuat orang lain
bertanya-tanya ,”Ini status buat saya bukan, ya?” Atau, jangan-jangan anda sendiri melakukan hal itu? Ups!
Memang
sih, itu hak masing-masing orang. Kita gak bisa melarangnya. Tapi, dunia kerja kan beda dengan
lingkungan sekolah atau kampus. Para manusia
yang sudah berkecimpung dalam dunia kerja sudah usia dewasa - kalau gak mau dibilang
tua. Seharusnya, kita bisa dewasa dalam bersikap, termasuk menyikapi sosial
media.
Saya
heran melihat salah seorang rekan kerja yang suka sekali menulis status di
jejaring sosial. Tapi status-status yang dia tulis kebanyakan bernada kecaman,
kesal, marah, mencaci maki sesama rekan kerja bahkan atasannya.
Saya lebih
heran lagi kalau dia marah jika ada orang yang iseng me-re-tweet status-status
tersebut. Dan saya super heran, ketika dia marah besar saat mengetahui sang
atasan membaca status berisi cacian yang memang ditujukan kepadanya. Dia akan
menuduh seseorang sebagai ‘tukang ngadu’.
Helloo,
itu ‘kan
jejaring sosial. Siapa saja bisa membaca dan mengaksesnya. Kalau tidak mau
dibaca, ya jangan pasang status di sana.
Logikanya, seseorang menulis status agar dibaca oleh orang lain,. Dengan kata lain,
orang yang menulis status itu sedang 'curhat’ kepada para follower.
Jika
kita punya masalah dengan rekan kerja, atau ada ganjalan dengan atasan atau
klien, sebaiknya kita utarakan langsung kepada yang bersangkutan. Kalau kita
menumpahkannya ke dalam status di Jejaring Sosial atau status WA, itu sama saja
kita mengobral ‘drama’.
Sama saja kita sedang ‘memproklamasikan’ masalah kita
kepada khalayak. Sama saja kita sedang menceritakan bahwa kita bermasalah
dengan orang lain. Bisa jadi, bukan simpati yang kita dapatkan dari orang yang
membaca status bernada cacian itu, malah sebaliknya. Orang yang membaca
status-status itu akan mengernyit dan bertanya kepada rekan yang lain. “Eh, si
anu lagi kenapa tuh?”
Dunia
kerja bukan tempat ABG-ABG alay yang
tidak punya nyali untuk menghadapi masalah, lalu melarikan diri ke dunia maya.
Dunia kerja menuntut sikap dan perilaku dewasa. Seperti tweet @sepatumerah, jika
masih ingin pekerjaannya, lebih baik jangan, deh…

Tidak ada komentar