Panic Buying

Keuntungan Belanja di Pasar Tradisional
Gambar diambil Google

Pagi ini, saya berangkat ke kantor seperti biasa, pukul 5.30 pagi. Saya selalu suka suasana pagi. Udara masih segar dan sejuk. Busway masih kosong, gak berdesakan dan bisa bebas memilih tempat duduk. 

Dalam perjalanan menuju halte busway, saya melewati pasar tradisional. Saya mampir beli sarapan nasi uduk dan tempe goreng Rp. 7.000,-. Saya juga membeli tape singkong untuk cemilan Rp. 5.000,- dan susu kacang kedelai Rp. 5.000,-. 

Saya perhatikan suasana pasar tradisional itu. Para pedagang berjualan seperti biasa. Ada yang masih terkantuk-kantuk menunggui dagangannya. Ada yang sambil bercanda dengan pembeli. Ada yang sambil sarapan. Ada yang sambil mengebulkan asap rokok.

Saya perhatikan para pembeli di pasar tradisional itu. Mereka berbelanja seperti biasa. Tidak ada yang tergesa-gesa. Tidak ada antrian mengular. Tidak ada kepanikan. Tidak ada pembelian dalam jumlah banyak. Kalau pun ada yang berbelanja sampai satu becak, itu karena mereka memang pemilik rumah makan / warteg.

Lalu saya teringat suasana di kantor kemarin. Saat Pak Jokowi dan Pak Menteri Kesehatan mengumumkan secara resmi tentang virus corona yang sudah ada di Indonesia.

Teman-teman di kantor langsung panik. Mereka menelpon orang rumah, menyuruh membeli kebutuhan rumah dalam jumlah banyak. Saat istirahat makan siang, mereka pergi ke supermarket terdekat untuk berbelanja. Sesampainya kembali di kantor, mereka lanjut belanja online. 

Hal ini dipicu dan diperparah oleh berita-berita melalui social media dan group group WA. Setiap terima info, kepanikan mereka semakin menjadi-jadi. Apalagi info tentang stock-stock barang di supermarket yang sudah mulai menipis. Juga foto-foto suasana ‘panic buying’ yang beredar di sosmed.

Saya ? Saya seperti biasa, hanya cuma jadi si pemerhati. A silent observer. Apakah saya ikut berbelanja? Iya. saya pesan madu hitam, karena persediaan madu di rumah sudah mau habis. Itu saja.

Saat orang kantor masih sibuk dengan kepanikan dan belanjaan mereka, saya pulang. Sebelum sampai rumah, saya mampir ke minimart. Apakah saya berbelanja? Iya. Saya beli minyak kayu putih, karena memang perlu. Itu saja.

Saya cerita tentang perbedaan suasana ini kepada yang tersayang, ibu. As usual, jawaban kekasih saya itu polos, “Yang panik itu orang-orang ekonomi menengah ke atas. Gampang ketakutan. Yang dipikirkan hanya diri dan keluarga sendiri. Jadi numpuk bahan-bahan biar merasa aman. Kalau orang-orang bawah kayak kita sih biasa-biasa aja, lah . Nih, ibu barusan dari warung beli indomie 5 bungkus. Buat tukang-tukang yang lagi kerja di rumah. Ntar jam 3 sore mau ibu bikinin indomie, biar semangat kerjanya.”

Hmm, baiklah ibuku sayang …

Tidak ada komentar