Kami Butuh Mereka
Oleh
Dwi Indarti
Sungguh,
kami butuh mereka. Orang-orang yang kami pandang sebelah mata di kampung ini.
Mereka selalu diremehkan dan diolok-olok sebagai orang-orang yang kuno, kolot,
udik, kampungan. Kami merasa mereka sangat sombong, eksklusif, idealis dan terlalu
fanatik pada agama.
Mereka
adalah segelintir orang yang selalu berjalan dengan pandangan tertunduk dan
bergegas, bagai berjalan di jalanan yang menurun.
Kaum
lelaki mereka selalu tampak malu dan risih ketika lewat di hadapan ibu-ibu kami
yang sedang asyik bergosip, tak kenal siang dan malam, di depan gang sempit
dengan baju daster seadanya, memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh berlemak mereka. Ibu-ibu
kami tak pernah kehabisan bahan untuk digosipkan. Apalagi infotainment di
televisi selalu punya stock asupan
bahan gossip yang lebih dari cukup untuk diperbincangkan. Terkadang sampai
menimbulkan pertengkaran diantara mereka.
“Salahnya
si cewek dong, mau saja dinikahin secara sirih ! Kalau nanti dicerai, dia gak dapat harta dari pejabat kaya itu.”
“Yee…yang
salah ya si pejabat itu. Gampang amat tergoda sama rayuan artis kacangan kayak
gitu!”
“Enak
aja ! Idola gue dibilang kacangan ! Muka lu, tuh kacangan !”
Dan
kaum wanita mereka sebisa mungkin menghindar, bahkan rela mengambil jalan memutar
yang lebih jauh, agar tidak lewat di
depan sekelompok pemuda yang sedang bermain gitar di pinggir jalan sambil
mambanting kartu dan mabuk-mabukan. Pemuda-pemuda pengangguran itu kerjanya
hanya nongkrong dipinggir jalan sambil menggoda orang-orang yang lewat.
Beberapa diantara mereka bahkan berani meminta duit secara paksa kepada pelintas
jalan.
Ah,
sebelumnya perkenalkan. Kami adalah pemuda pemudi kampung kumuh dibantaran kali yang
mengikrarkan diri sebagai anak muda trend
masa kini. Kami selalu mencemooh cara berpakaian orang-orang kolot itu,
terutama cara berpakaian kaum wanita mereka. Buat apa pakai baju panjang dan
menutup kepala dengan kain lebar seperti itu? Tak sesuai dengan iklim Jakarta yang panas! Lihatlah
kami, yang selalu tampil mengikuti mode
yang dicontohkan artis-artis idola di TV,
majalah, koran, dan poster-poster. Kami meniru gaya mereka dari ujung rambut sampai ujung
kaki. Kami tak peduli meskipun para orang tua bilang bahwa warna kulit kami tak
cocok dengan rambut pirang.. Kaos kami terlalu ketat hingga tak cukup untuk
menutup sebagian perut kami yang buncit. Celana kami terlalu sempit sampai
turun ke pantat, menampakkan sebagian gambar celana dalam.
“So what, gitu loh? EGP!” Begitulah jawaban yang
kami lontarkan bila ada yang mengkritik penampilan kami. Toh, penampilan para orang tua kami pun tak
jauh beda.
Kegiatan
mereka, orang-orang kolot itu, hanyalah mengumpulkan anak-anak kecil di
musholah kami yang kecil dan hanya ramai pada awal bulan puasa. Mereka mengajari
anak-anak kecil itu membaca kitab, menghapal doa ini dan itu, sembahyang, dan
segala sesuatu yang sudah ketinggalan zaman. Kami sebal sekali melihat
orang-orang sok suci itu mencuci otak anak-anak kecil. Maka, untuk ‘meluruskan’
kembali pikiran bocah-bocah ingusan itu, setelah bubaran mengaji, kami ajak
mereka untuk menonton konser dangdut di hajatan kawinan sambil saweran penyanyi
dangdut yang bohay dan bersuara cempreng.
Atau kami ajak mereka nongkrong sambil main gitar menyanyikan lagu-lagu yang sedang
hits di radio. Anak-anak kecil itu lebih cepat hapal lagu-lagu ketimbang
doa-doa yang ditugaskan kepada mereka untuk di hapal. Kalau disuruh menghapal
doa-doa, anak-anak kecil itu selalu kami ingatkan untuk bernyanyi,
“Lupa….Lupa lupa lupa…lupa lagi….”
Pun
sudah berulang kali orang-orang udik itu berusaha mengumpulkan ibu-ibu dan
bapak-bapak kami di musholah untuk pengajian rutin mingguan. Tapi biasanya pengajian-pengajian
itu hanya bertahan sebentar.
“Bosan,
aah…!”
“Capek,
aah…!”
“Sinetronnya
lagi seru !”
“Pertandingan
bola….!”
Dan beribu alasan lain yang menyebabkan pengajian
itu berumur pendek. Seperti kami katakan tadi, ibu-ibu kami lebih suka bergosip
sambil mencari kutu rambut. Sedangkan bapak-bapak kami lebih suka menonton pertandingan
bola dengan memasang taruhan.
Orang-orang
sok baik itu juga pernah berusaha mengumpulkan kami, anak-anak muda untuk
belajar agama. Tapi, hasilnya nihil. Akhirnya mereka menyerah setelah diancam.
“Kalau
masih mau tinggal di daerah sini, jangan macam-macam deh! Urus saja kelompok kalian
sendiri. Jangan sok kasih ceramah!”
Begitu ancaman yang dilontarkan oleh ketua preman di perkampungan kumuh ini.
Narkoba
sudah menjadi barang biasa di lingkungan kami. Siapa bilang narkoba hanya untuk
konsumsi orang-orang berduit saja? Banyak diantara kami yang tak kerja alias
pengangguran, namun kami bisa membeli dan mengkonsumsi barang psikotropika itu.
Banyak diantara kami yang menjadi pengedar barang haram itu. Kemakmuran yang
bisa diraih dalam waktu singkat dengan menjual barang-barang setan itu sangat
menjanjikan. Padahal sudah banyak korban mati diantara kami. Contohnya kakak
beradik Boim, Imron, dan Saipul yang
mati karena overdosis secara bersamaan. Namun kematian mereka yang tragis tak
menyurutkan nyali kami untuk terus menggunakan dan menjual barang tersebut.
Perjudian
juga merajalela di kampung ini. Sebagian besar bapak-bapak kami berprofesi
sebagai pedagang kecil, buruh dan kuli bangunan. Uang yang mereka dapat dengan
susah payah itu dipertaruhkan begitu saja di atas meja judi. Mereka tak peduli
pada anak-anak mereka yang merengek meminta uang sekolah dilunasi. Mereka
meminta anak dan istri bersabar. Siapa tahu, duit dua puluh ribu bisa menjadi dua
puluh juta dalam semalam, begitu kata mereka.
Pergaulan bebas ? Nah, ini yang lagi trend di sini. Penghulu hanya bisa
menggelengkan kepala, ketika mengetahui mempelai wanita sudah berbadan dua.
Awalnya, kami memang menggunjingkan mereka yang kebablasan, namun tak perlu
waktu lama untuk melupakan aib itu dan menganggap hal itu adalah sesuatu yang lumrah.
Maklum, gejolak masa muda.
Begitulah
kira-kira kehidupan kami di lingkungan ini. Hingga sampai pada suatu ketika
Tuhan menegur kami dengan sedikit ketakuan. Peristiwa kebakaran membuat kami
takut setengah mati. Bayangan api melahap rumah-rumah kontrakan dari triplek
yang berhimpitan, menghanguskan harta benda yang sedikit, membayangkan kami berlari
menyelamatkan diri hanya dengan pakaian yang menempel di badan, dan kehilangan
tempat tinggal. Bayangan seram-seram itu menghantui pikiran kami ketika melihat
pemadam kebakaran berusaha memadamkan api. Kalut, takut, gemetar, tangis, jerit
dan teriakan mewarnai siang yang terik itu. Penyebabnya adalah salah satu
tetangga kami pergi dan lupa mematikan kompor minyak tanah hingga kompor itu
meleduk.
Allah
Maha Baik. Bayangan ketakutan kami tak menjadi kenyataan. Api berhasil
dipadamkan sebelum menimbulkan korban.
Seorang
bapak yang tak kami kenal berkata kepada kami, yang masih dalam keadaan shock, bahwa
mungkin di lingkungan ini masih ada orang-orang baik. Orang-orang yang masih
mengingat Allah. Orang-orang yang bangun tengah malam ketika kami semua
tertidur pulas. Orang-orang yang mendoakan kami diam-diam d sepertiga malam
terakhir. Orang-orang yang membaca kitab suci, dan mengajarkan kepada
sebanyak-banyak manusia. Orang-orang yang selalu berusaha memakmurkan rumah
Allah. Orang-orang yang memelihara dirinya dan keluarganya dari perbuatan
maksiat. Orang-orang seperti itulah yang meredam murka Allah, hingga Allah
menahan azab NYA.
Apakah
mereka itu, yang pada hakikatnya menyelamatkan kami? Orang-orang yang kami
remehkan, kami tertawakan, kami olok-olok, dan kami rendahkan?
O,
ternyata mereka bagai mata air di tengah gurun. Bagai cahaya di malam gelap. Bagai
hujan di tengah kemarau panjang.
Ya
Tuhan, sungguh, kami berhutang pada mereka. Dan sungguh, kami butuh mereka
dalam berproses memperbaiki diri dan lingkungan.
Di
tengah kemaksiatan yang melanda kampung ini, kami butuh orang-orang yang
mengingatkan kami pada Tuhan dan kematian yang pasti datang.
Di
tengah serbuan media pornografi, kami butuh pemandangan yang menyejukkan mata
dan hati kami.
Di
tengah judi dan miras yang merajalela, kami butuh mendengar suara azan berkumandang
dari mushola kecil yang terlupakan. Kadang, jika masuk waktu sholat, hanya ada
seorang bapak tua yang berjalan tertatih-tatih dengan tongkat, menyalakan
lampu, azan, iqomat, menjadi imam sekaligus makmum. Sementara kami, asyik
masyuk di depan televisi atau bergumul dalam kemaksiatan.
Pasti
akan ada orang-orang yang tak menyukai mereka, menfitnah mereka, mengolok-olok
dan mencemooh mereka, bahkan mencurigai mereka sebagai bagian dari kelompok
teroris. Namun, sebagian dari kami telah sadar dan terbuka mata dan hati kami.
Kami hanya bisa berharap dan berdoa supaya orang-orang soleh itu masih mau
tinggal di lingkungan kami. Mewarnai kami tanpa ikut terwarnai. Membimbing kami
dengan ikhlas dan sabar. Menuntun kami pada jalan yang lurus.
Ya
Allah, sungguh kami butuh mereka.

Tidak ada komentar