Cerpen ini dimuat di Majalah GADIS
edisi 29 Agustus 2015 - 11 September 2015
Rahasia Langit Merah
Oleh Dwi Indarti
Langit Merah
Samudra Biru? Nama macam apa itu?
Apa yang dipikirkan oleh orang tuanya saat menyematkan nama itu? Apakah mereka
tidak sadar bahwa nama itu akan menempel seumur hidup pada anaknya? Seperti
nama Langit Merah yang akan menempel pada diriku sampai mati.
Cewek
itu mengulurkan tangan kepadaku.
“Hai, aku Biru.”
“Merah.”
“Are
you kidding?”
“I
wish it was a joke too. But unfortunately, it is not.”
“Merah…?” Dia menggantung kalimat
itu menjadi sebuah tanya.
“Langit Merah.”
“Wow! Keren.”
“Apanya yang keren?”
“Langit Merah! Itu sebuah nama yang
keren, tahu!”
“Aku ke sini bukan untuk
membicarakan nama. Aku ke sini karena disuruh guru BP!”
‘***
Samudra Biru.
Cowok kok judes! Untung dia ganteng.
Kalau tidak, aku malas untuk menemuinya. Aku bisa saja menyuruh Intan untuk
memberikan brosur-brosur Eskul ini kepadanya. Tapi, wajah tampan dengan mata
yang tajam itu lumayan menyegarkanku. Walaupun, tak ada seulas senyum pun yang
menghiasi bibirnya.
“Bagaimana kamu bisa nememukan aku?”
Tanyaku, berusaha untuk memecah kebekuan.
“Sesulit apa sih mencari kamu?
Memangnya ada berapa siswa yang namanya ‘Samudra Biru’?
“Ha ha ha. Benar juga, ya.”
“Jadi, kenapa guru BP menyuruhku
untuk menemuimu?” Tanya cowok yang bernama Langit ini.
“Memangnya beliau menjelaskan apa kepadamu?”
Aku menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan juga.
“Temui
siswi kelas dua yang bernama Samudra Biru. Dia akan membantumu untuk memilihkan
Eskul yang cocok untukmu.” Langit menirukan suara Bu Bertha dengan lucu.
Hampir saja aku tertawa dibuatnya. Tapi, aku tidak tertawa. Kata-kata guru
tidak boleh dijadikan bahan tertawaan.
“Well,
kamu berarti kamu sudah tahu untuk apa kamu mencariku.”
“Tapi aku tidak mau ikut Eskul apa
pun. Aku hanya ingin sekolah. Itu saja.”
“Sayangnya, tidak bisa. Eskul adalah
hal wajib bagi seluruh siswa di sekolah ini.” Aku mengeluarkan setumpuk kertas
dari dalam tas.
“Ini Eskul-eskul yang ada di sekolah
ini. Kamu bisa memilih satu atau beberapa Eskul sekaligus. Sekolah tidak
membatasi jumlah Eskul yang diikuti selama siswa tersebut bisa mengikuti tanpa
mengorbankan nilai-nilai pelajaran. Let
me explain to you one by one ya…”
‘***
Langit Merah.
Sekolah apa ini yang mengharuskan
siswanya ikut Eskul? Bukankah Eskul itu hanya kegiatan ekstra alias tambahan?
Namanya juga Ekstrakulikuler.
“Ada eskul pecinta alam. Secara
berkala Eskul ini mengadakan pendakian bersama ke gunung-gunung yang ada di
pulau Jawa, seperti gunung Gede, Merbabu, Semeru dan lain-lain. Tentunya
dilakukan saat libur sekolah. Kalau kamu berminat, kamu bisa menghubungi Edi,
ketua SINAPALA. Dia ada di kelas XI biologi 2. Ini aku kasih nomor kontaknya…” Cewek
yang bernama Samudra Biru itu menjelaskan panjang lebar.
Naik
gunung? Yang benar saja! Sengitku dalam hati.
“Ada eskul olah raga. Tim footsal
dan Tim basket kami cukup disegani karena sering menjuarai pertandingan antar
sekolah. Ini kontak ketua masing-masing tim. Mereka selalu membuka pendaftaran
anggota baru sepanjang tahun.”
Olahraga?
Please, deh! Rutukku dalam hati.
“Kalau kamu tidak suka kegiatan outdoor, ada juga eskul indoor. Kami punya club bahasa dan
sains. Kalau kamu tertarik, kamu bisa menghubungi Debra di perpustakaan karena di
situlah basecamp club bahasa dan
sains.”
Yeah,
right! Siapa juga yang mau gabung sama anak-anak Nerd! Thank you but no thanks.
Cibirku dalam hati.
“Jadi, kamu minat untuk gabung
dengan Eskul yang mana?” Biru bertanya kepadaku.
‘***
Samudra Biru
“Jadi, kamu minat untuk gabung sama
Eskul yang mana? Tanyaku kepadanya. Sepanjang aku bicara, dia hanya diam saja.
Tak merespon sedikitpun. Tak ada pertanyaan atau apa pun yang menunjukkan
ketertarikan pada salah satu Eskul. Apakah aku kurang menarik saat mempromosikan
Eskul-eskul itu?
Mungkin seharusnya aku menceritakan
tentang prestasi masing-masing Eskul. Seperti anggota Eskul pecinta alam yang
berhasil summit di puncak gunung
tertinggi di Jawa, Mahameru tahun kemarin. Harusnya aku menceritakan tentang
tim basket yang menjadi juara lomba basket antar sekolah se-provinsi selama
tiga tahun berturut-turut. Atau, aku sebaiknya menceritakan bahwa sebagian
besar anggota Eskul bahasa dan sains diterima di perguruan tinggi negeri
melalui jalur beasiswa dan mereka diminta mengajar di pusat-pusat bahasa.
Mungkin sebaiknya aku menceritakan semua itu.
Tapi
dia ‘kan bisa bertanya kepadaku, tidak diam saja seperti ini. Aku seperti
ngomong sama patung Pancoran.
“Bagaimana,
Langit?”
“Oh,
apa?” Dia gelagapan.
“Kamu
mau gabung dengan Eskul yang mana?”
“Kamu
sendiri gabung dengan Eskul yang mana, Biru?” Pertanyaan dia membuatku kaget.
‘***
Langit Merah.
Shit!
Kenapa aku bertanya Biru gabung dengan Eskul yang mana? Nanti dia bakal mengira
aku ingin gabung dengan Eskul yang dia masuki.
“Aku gabung dengan SINAPALA sejak
kelas satu. Ayahku seorang pendaki gunung, meskipun bukan seorang pendaki
professional. Ayahku mendaki gunung disela-sela pekerjaan mengajar sebagai
dosen. Sejak kecil, aku sering diajak ayah mendaki gunung. Aku suka kegiatan
pecinta alam.”
Syukurlah.
Aku lega. Peluangku untuk bergabung dengan Eskul pecinta alam adalah sebesar
nol persen. Artinya, mustahil aku bergabung dengan Eskul ini.
“Kamu minat? Aku bisa mendaftarkanmu
sekarang juga.”
“Gak.”
“Kenapa? Coba saja dulu! It is fun! Kami selalu melalukan
pelatihan dan pemanasan sebelum mendaki. Kebetulan, kami sedang melakukan
persiapan pendakian bersama ke Gunung Papandayan di Garut. It is light hiking, semacam pendakian ringan. Tidak seberat kalau
mendaki Semeru atau Rinjani.”
“Gak, deh. Terima kasih.”
“Kalau begitu, kamu bawa saja
brosur-brosur ini dulu untuk dilihat-lihat. Kalau ada yang mau ditanyakan, kamu
bisa menghubungiku di nomor ini.” Biru menuliskan sebuah nomor handphone di
atas secarik kertas.
‘***
Samudra Biru
Aku merasa gagal. Biasanya, anak
baru pasti langsung memilih salah satu Eskul setelah bertemu denganku pada
pertemuan pertama. Tapi, cowok yang bernama Langit Merah ini sama sekali tidak
menunjukkan minat sama sekali pada Eskul-eskul itu. Ada apa sih dengannya?
“Biru! Biru!” Alicia
berteriak-teriak memanggilku. Aku melambatkan langkah untuk menunggunya.
“Tadi ada yang mencarimu! Cowok
ganteng! Sepertinya anak baru.”
“Aku sudah bertemu dengannya
barusan.”
“Siapa nama cowok itu?”
“Langit Merah.”
“Ha?” Alicia melongo.
“L-A-N-G-I-T M-E-R-A-H” Aku
mengulangi setengah berteriak. Alicia menutup kuping dan hidung. Sialan!
Memangnya mulutku bau, apa!
“Wow! Itu pasti jodohmu, Biru!” Kata
Alicia tiba-tiba.
“Kok bisa?”
“Kamu Samudra Biru. Dia Langit
Merah! Klop banget!”
“Super ngaco!”
“Ganteng, lho! Dia pindahan dari
mana?”
“Kata Bu Bertha, dia pindahan dari
Surabaya. Cuma itu info yang aku tahu. Jadi, kalau kamu mau tanya-tanya yang
lain, seperti nomor HP, hobby, ukuran sepatu, udah punya pacar atau belum dan
lain sebagainya, aku gak tahu. Clear?”
Kataku.
“Ha ha ha, jadi dia gabung dengan Eskul
yang mana? Semoga dia gabung dengan Tim Basket. Dia tinggi. Dia pasti diterima.
Kalau dia gabung dengan Tim basket, aku pasti bakal rajin latihan cheerleader. Aku pasti… hey, Biru! Mau
kemana?” Aku meninggalkan Alicia yang masih berceloteh.
“Masuk kelas! Udah bel!”
Alicia tersadar dan dia terbirit-birit
masuk ke kelas.
‘***
Langit Merah.
Barusan Mama dan Papa masuk ke
kamarku.
“Bagaimana hari pertamamu di sekolah
baru, Langit?” Tanya Mama.
“Oke.”
“Kamu mendapat kesulitan?” Tanya
Papa. Kesulitan? Pastinya! Aku akan
selalu mendapat kesulitan dimana pun aku sekolah, Pa. Kata-kata itu
bergaung dalam rongga dadaku.
“Tidak. Tapi aku harus ikut salah
satu Eskul di sekolah. Itu keharusan.”
“Tapi kamu tidak bisa…”
“Biar besok Papa bicara dengan
kepala sekolah. Kamu tidak perlu ikut salah satu eskul itu.”
“Papa akan menceritakan tentang
keadaanku kepada Kepala sekolah? Lalu Kepala Sekolah akan menceritakannya
kepada guru-guru. Lalu guru-guru akan memperlakukanku berbeda dengan murid yang
lain. Lalu mereka akan kasak-kusuk. Lalu, seluruh sekolah akan tahu tentang
keadaanku. Lalu aku akan minta pindah sekolah lagi..” Kata-kata itu membuat
kedua orangtuaku terdiam. Mereka saling melirik.
“Coba Mama lihat Eskul apa saja yang
ada di sekolahmu.” Tanya Mama. Aku menyerahkan brosur-brosur yang diberikan
oleh Biru tadi siang.
“Kamu tidak mungkin ikut Eskul
pecinta alam.” Mama menyingkirkan brosur itu sesaat setelah melihat judulnya,
tanpa perlu membuka halaman-halaman berikutnya yang penuh foto-foto para
anggota Eskul yang membuat iri. Mereka berpose saat matahari terbenam dan
membentuk bola merah kecil, seolah-olah mereka menggenggam bola matahari itu di
tangan. Mereka berpose di depan tenda. Mereka berpose di puncak gunung dengan
selembar tulisan di dada SELAMAT PAGI DUNIA
DARI KETINGGILAN 2850 MDPL. Mereke berpose di tempat-tempat yang tidak akan
pernah bisa aku datangi.
“Kamu juga tidak bisa ikut Eskul
olah raga.” Papa sempat membolak balik brosur yang berisi berbagai piala yang
telah diraih oleh Tim basket dan Tim Footsal.
“Hey, mungkin kamu bisa gabung
dengan club Bahasa dan Sains.” Usul Papa.
“Tapi, jadwal pertemuan mereka tiga
kali dalam seminggu. Mereka juga mengadakan latihan praktikum di hari minggu.
Langit akan kelelahan, Pa.” Kata Mama setelah membaca jadwal kegiatan eskul
itu.
“Nanti kita cari jalan keluar supaya
kamu tidak perlu ikut Eskul-eskul ini. Sekarang kamu istirahat, Nak. Kamu sudah
minum obat?” Tanya Papa. Aku mengangguk.
Setelah Mama dan Papa keluar kamar,
aku mengeluarkan ponsel pintar dan mengetik sebuah pesan.
Biru,
ini aku. Langit Merah.
‘***
Samudra Biru
Biru,
ini aku. Langit Merah. Pesan WA itu masuk saat aku sedang nonton drama
serial Korea di sebuah channel TV kabel. Aku tersenyum dan buru-buru membalas
chat-nya.
Hai,
Langit. Sudah memutuskan untuk gabung dengan eskul yang mana, kah?
Belum.
Tapi aku ada beberapa pertanyaan tentang Eskul pecinta alam.
Sudah
kuduga kamu akan tertarik dengan Eskul ini. Kamu mau tanya apa?
Apa
saja persyaratannya?
Tidak
ada persyaratan khusus, kok. Biasa saja. Sehat jasmani dan rohani. Mendapat
izin dari orang tua.
Sepertinya
aku tidak bisa.
Kenapa?
Kalau soal kesulitan mendapat izin dari orang tua, kami bisa membantu dengan
memberi penjelasan kepada orangtuamu. Kegiatan Eskul ini aman karena diawasi
dan didampingi oleh para pendaki professional dan senior. Aku mengetik
panjang lebar.
Bukan
soal itu. Ya sudah, gitu aja. Maap mengganggu kamu.
Gak,
kok. Hey, Langit! Kamu dapat salam.
Dari?
Alicia.
Teman sekelasku.
Oh.
Chat-pun berakhir. Dasar cowok
gunung es! Aku merutuk.
‘***
Langit Merah.
Damn!
Aku tidak bisa menemukan obatku dimana-mana. Kupikir obat itu tertinggal di tas
yang satunya lagi, sebab aku mengganti tas. Tapi ternyata tidak ada. Sudah tiga
hari aku tidak minum obat. Aku tidak menceritakan hal ini pada Mama dan Papa.
Mereka pasti marah.
Obat itu mungkin terjatuh saat aku
mengeluarkan buku-buku pelajaran. Mengejar ketertinggalan pelajaran selama satu
semester cukup melelahkan. Untung Biru selalu membantuku. Pagi ini aku bangun
dengan sakit kepala yang lebih parah dari kemarin. Serangan itu mulai terasa
saat aku mandi. Hanya serangan kecil, jadi aku abaikan saja.
Rencanaku, sepulang sekolah nanti mampir ke Dokter Wijaya untuk membuatkan resep
obat baru untukku. Dokter Wijaya adalah dokter keluargaku dan telah menangangi
penyakitku sejak aku kecil. Beliau pasti tak akan memberitahu Mama dan Papa.
Yang harus aku lakukan sekarang adalah bertahan.
Mama sempat curiga.
“Langit, kamu sakit? Wajahmu pucat.”
“Tidak, Ma. Mungkin hanya sedikit
lelah. Aku harus mengejar pelajaran-pelajaran yang tertinggal.”
“Selesai sekolah, kamu langsung
pulang, Nak?”
“Tidak bisa, Pa. Aku belajar dengan
temanku, Biru. Dia banyak membantuku dalam pelajaran.”
“Tapi kamu tidak boleh lelah,
Langit. Ingat kondisimu.” Papa mengingatkan.
“Kamu minum obat secara teratur,
kan?” Tanya Mama. Aku mengangguk, tak mampu menatap wajah Mama.
“Aku berangkat ke sekolah sekarang,
ya…”
‘***
Samudra Biru
Langit kemana, ya? Sejak pagi aku belum bertemu dengannya. Kelas
kami beda, tapi kami selalu belajar bersama setiap pulang sekolah. Langit
memintaku untuk mengajarinya pelajaran-pelajaran yang dia lewatkan selama satu
semester. Langit cukup menyenangkan jika sudah mengenal dia. Hanya saja, dia
susah untuk bergaul dengan orang baru. Dia akan memasang sikap dingin dan
menciptakan semacam tembok tak kasat mata. Tak salah, jika banyak yang bilang
Langit sombong. Salah satunya Alicia.
“Woi, bengong aja! Mikirin apaan,
sih.”
“Dari tadi aku gak lihat Langit.”
“Oh, cowok sombong itu.”
“Dia gak sombong, kok.”
“Iyalah, dia cowokmu.”
“Bukan. Dia teman baikku. Kamu lihat
dia, gak?”
“Cari saja di perpus. Kalian berdua
kan selalu pacaran di sana.”
“Gak pacaran. Kami belajar bareng.
Ya sudah, aku ke perpus lagi, deh.”
Sebenarnya aku sudah ke Perpus
mencari Langit saat istirahat, tapi dia tidak ada. Pesanku pun tak dibalasnya.
Apakah Langit masuk sekolah atau tidak hari ini?
Aku telat keluar kelas karena guru
Biologi menitipkan tugas membuat salinan materi. Sekolah lengang karena
anak-anak sudah pulang. Kupikir, aku akan mampir ke Perpus sebentar, siapa tahu
Langit ada di sana.
Dalam
perjalanan ke Perpus untuk mencari Langit, aku melihat Pak Rohman, supir
Langit, tergopoh-gopoh dari arah parkir mobil. Lalu aku melihat Langit. Dia berjalan
terhuyung-huyung sempoyongan. Tiba-tiba saja, tubuh Langit kaku dan menggelepar-gelepar.
Aku berlari menghampiri mereka.
“Langit!”
Langit kejang-kejang. Pak Rohman
membimbingnya masuk ke mobil. Tanpa pikir panjang, aku ikut masuk. Langit masih
kejang-kejang. Mulutnya mengeluarkan suara yang mengerikan, seperti hewan
disembelih dan mulai mengeluarkan buih. Aku panik.
“Pak, Langit kenapa?” Aku bertanya
pada Pak Rohman yang melarikan mobil secepat mungkin ke Rumah Sakit.
“Serangan epilepsi, Neng…”
‘***
Langit Merah.
Tolong,
jangan. Tolong, jangan sekarang. Pintaku dalam hati. Serangan itu bisa
datang kapan pun. Aku minta Pak Rohman untuk menjemputku sekarang.
“Langit!” Aku mendengar suara
memanggilku. Tolong, jangan ada yang
tahu. Tolong, Tuhan. Lalu serangan itu benar-benar terjadi.
Ketika aku membuka mata, aku sudah
berada di kamar rumah sakit. Dan seorang gadis menungguiku di samping tempat
tidur. Samudra Biru…
‘***
Samudra Biru
Aku tahu rahasiamu, Langit Merah.
Inilah sebabnya kamu tidak bisa mengikuti Eskul mana pun. Inilah sebabnya kamu
menciptakan tembok tak kasat mata di sekelilingmu dan tak mudah membiarkan
orang masuk dalam kehidupanmu.
Rahasiamu ada padaku, Langit Merah.
Dan aku akan menjaganya. Your secret
saves with me. I Promise.
‘***


Tidak ada komentar