Malam Valentine



Cerpen ini dimuat di Majalah GADIS
Edisi 03 - 12 Februari 2015
Malam Valentine
Oleh Dwi Indarti
Tak ada yang sempurna. Tidak juga sebuah hari Valentine. Tapi aku ingin hari ini sempurna. Se-sempurna yang bisa aku harapkan.
Valentine. Hari Cinta.

“Ungkapankan rasa sayangmu kepada siapa pun yang engkau kasihi, Arnie. Jangan menunggu. Kamu akan menyesal. Ingat lirik lagu Ronan Keating? ‘Cause I’ve lost loved ones in my life. Who never knew how much I loved them. Now I live with the regret that my true feelings for them never were revealed. So I made a promise to myself. To say each day how much she means to me. And avoid that circumstance where there’s no second chance to tell her how I feel.” Pesan Papa. Dulu.
“I love you, Pa.”
“I Love you, too little angle…”
“Every little girl should grow up knowing how much their mother loves them. Tau gak, itu kata-kata siapa?” Tanya Mama. Dahulu kala.
“Siapa, Ma?”
“Marilyn Monroe…”
So…?”
“So… Mama akan selalu menghujanimu dengan ungkapan cinta dari dasar hati yang paliiiing dalam, biar kamu tahu, kalau kamu itu dicintai. Dan kamu akan tumbuh menjadi seorang pecinta. Cintamu tak hanya diberikan kepada Mama, Papa, Arnold, tapi kepada seluruh dunia. Kepada kucing, anjing, ayam, semut, kodok, pohon, daun, bunga… semuanya, deh!”
“I love you, Ma.”
“I love you too, sweet pea…”
Begitulah. Aku tumbuh dalam cinta dan terbiasa dengan ungkapan-ungkapan cinta. Sampai-sampai, teman-temanku mengatakan keluargaku sok dan lebay. So what?
Valentine. Hari istimewa.

            Ada sebuah tradisi yang tidak boleh dirubah oleh siapa pun. Makan malam Valentine. Hanya kami ber-empat. Mama, Papa, Arnold dan aku. Tak ada orang lain.  Meskipun Arnold dan aku masing-masing sudah punya pacar. Aku dan Arnold tak pernah merayakan Valentine dengan pacar-pacar kami. Valentine, bagiku dan Arnold, hanya untuk keluarga. Dan tak boleh ada yang berubah. Meskipun...
Happy Valentine! I love you to the moon and back. Tulisku di beberapa helai kartu berwarna pink pada malam sebelum Valentine tiba. Kuselipkan salah satu kartu itu di bawah pintu kamar Mama. Lalu aku berjingkat-jingkat menuju kamar Arnold. Kuletakkan sehelai kartu di atas keyboardnya. Layar komputer masih menyala, menampilkan game yang sedang dimainkan Arnold sebelum ketiduran. Sekuat tenaga aku menahan kikik melihat Arnold tertidur dengan mulut menganga. Kartu Valentine untuk Papa sudah kukirim ke kantornya tadi pagi.
            Paginya, kutemukan kartu-kartu ucapan serupa. Satu helai berada di atas meja belajarku. Entah jam berapa Arnold masuk ke kamarku dan meletakkan kartu itu. Kartu bergambar anak-anak anjing menggemaskan dengan gambar love, love, love bertebaran. Tulisan tangan Arnold masih seperti ceker bebek. Berantakan. Dia mengutip kalimat dari film Interstellar. Love is the one thing we're capable of perceiving that transcends time and space”. Aku tersenyum geli. Kakakku itu sangat menyukai film tentang planet-planet luar angkasa. Saking sukanya, dia nonton film Interstellar empat kali. Satu kali bersama pacarnya. Satu kali bersamaku. Satu kali bersama Mama. Satu kali bersama Papa. Freak!
            Sehelai kartu terjatuh saat aku melipat selimut. Pasti semalam Mama masuk ke kamarku, merapihkan selimut di tubuhku seraya menyelipkan kartu di dalamnya. Tulisan tangan Mama yang indah terukir di atas kartu berwarna pink. Sebuah penggalan lirik dari lagu anak-anak yang abadi sepanjang masa. “Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia” itulah Cinta. Happy Valentine! Love, Mama.
            Kartu ucapan dari Papa kutemukan di kotak surat. Sehelai kartu sederhana. Tanpa hiasan apapun, kecuali sebentuk hati mungil di sudut kartu. Happy Valentine! You are my angel, forever. Love, Papa.
            BBM-ku bergetar. Ada pesan masuk di salah satu group chat BBM. Group yang hanya terdiri dari 4 orang. Mama, Papa, aku dan Arnold.
            Mama  : Happy Valentine semua. Jangan lupa, Dinner malam ini jam 7. Mama akan pulang cepat dari kantor untuk memasak makanan kesukaan kalian.
Arnold : Happy Valentine! Asyik... jangan lupa masak Bebek panggang bumbu kecap, ya, Ma!
            Mama  : Pasti, sayang... kamu sudah berangkat ke sekolah?
            Arnold : Sudah, dong Ma. Hari ini aku tugas piket. Jadi aku berangkat jam enam pagi.
            Mama  : Kamu tidak menunggu adikmu?
            Arnold : Mama tahu sendiri, Arnie kalau tidur seperti kerbau! Susah dibangunin!
            Arnie   : Enak, aja! Aku sudah bangun, tau! Arnold jahat ninggalin aku ke sekolah
            Arnold : Sorry, little sister. Hari ini aku harus piket. Kamu sudah hapal ‘kan jalan ke sekolah? Kalau lupa, coba kau bertanya pada rumput yang bergoyang
            Aku nyengir membaca BBM Arnold. Ya masa aku gak hapal jalan ke sekolah? Yang benar saja!
            Mama  : Have a nice day, Kids! See you all tonight
            Papa    : Happy Valentine! Papa lagi nyetir nih...
            Arnie   : Duh, Papa kalau lagi nyetir jangan sambil BBM-an, dong
            Papa    : Gak, kok sayang. Ini lagi kena lampu merah.
            Arnie   : Hati-hati, ya Pa
            Papa    : Hey, a little quiz to start this loving day. What is the greatest love song ever?
            Arnie   : For me? Of course First love-nya Nicka Costa.
            Papa    : Great song! How about you, Arnold?
            Arnold : Pemuda Idaman by Tarling Cirebonan.
            Arnie   : what?
            Papa    : ha ha ha… Keren!
            Arnie   : Mama apa?...
            Tak ada balasan
            Papa    : Mungkin Mama sudah mulai sibuk. Ok, guys… see you tonight!
            See? Kau tahu sekarang bagaimana aku sangat menyayangi keluargaku. Aku tak sabar menunggu malam datang. Ketika bel sekolah berbunyi kencang, aku segera membereskan buku tanpa memperdulikan apapun. Bahkan aku tak melihat Armand yang menghampiri mejaku dan menyerahkan sepucuk kartu ucapan Valentine.
            “Happy Valentine!”
            “Oh!”
            Aku merasa bersalah padanya. Aku melupakannya. Pikiranku hanya tertuju pada acara makan malam keluarga, sampai aku lupa ada seseorang yang tengah dekat denganku saat ini.
            “Happy Valentine, Armand! Maaf, aku lupa menyiapkan kado dan kartu untukmu!”
            “Aku mengerti, kok. Kamu sangat menantikan makan malam bersama keluargamu nanti malam. Iya, kan?”
            “Terima kasih atas pengertiannya.”
            “Mau buru-buru pulang, ya?”
            “Iya. Aku ingin membantu Mama masak untuk acara nanti malam.”
            “Aku gak diundang?”
            “Maaf, ya Armand. Ini acara khusus keluarga. Hanya Papa, Mama, aku dan Arnold. Arnold pun gak ngajak ceweknya.”
            “Iya, iya… aku ngerti. Walaupun…”
            “Walaupun kamu merasa aneh pada keluargaku. Ya, kan?”
            “Sedikit. Tapi, setiap keluarga punya keunikan sendiri, kan. Mau aku antar?”
            “Tidak apa-apa. Arnold sudah menungguku.”
            “Kamu baik-baik saja, Arnie?” Armand memandangku dengan tatapan yang penuh arti.
            “Aku baik! Sangat baik! Memangnya kenapa kamu tanya begitu..
            “Arnie... tolong jangan...”
            Stop! Stop it! Armand mulai lagi. Ini bisa merusak hariku. Mati-matian aku berusaha membuat hari ini sempurna. Dan aku tak akan membiarkan apapun atau siapa pun merusaknya.
            “Arnold sudah menungguku. Kamu tahu kan, abangku itu orangnya tidak sabaran. Sampai ketemu besok, ya! Happy Valentine!” Aku menghambur, meninggalkan Armand yang berdiri mematung. Tak sempat menyelesaikan kalimatnya.
            “Lama...!” Arnold bersungut-sungut dari balik kemudi.
            “Sorry, tadi ada Armand...”
            “Gimana harimu?” Tanya Arnold.
            “Fine. Tadi Armand memberiku kartu ucapan Valentine, sementara aku lupa memberinya. Kalau Freya, gimana?” Aku penasaran, apakah Arnold memberi kartu Valentine kepada pacarnya.
            “Tak perlu kartu. Cukup ucapan via BBM. Kartu Valentine hanya untuk keluarga. Bukan begitu, Nona manis?”
            “I love you, Arnold.” Aku ingin memeluknya, tapi urung. Arnold suka gugup kalau diganggu saat nyetir. Daripada beresiko nabrak trotoar, lebih baik aku urungkan niat memeluk kakakku itu. Masih banyak waktu dan kesempatan untuk memberinya pelukan hangat.       
            Kami terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
            “Arnie, berjanjilah...” Arnold memecah kesunyian.
            “Berjanji apa?”
            “Berjanjilah untuk tidak menangis. Berjanjilah untuk tidak mempertanyakan hal yang satu itu lagi. Berjanjilah untuk menerima kenyataan. Berjanjilah untuk...”
            Soal ini lagi. Aku menghela nafas.
            “Kamu sudah menyerah, Arnold?”
            “Aku hanya berusaha untuk menerima semuanya...”
            “Aku tidak akan menyerah. Tidak akan!”
            “Arnie...”
            “Kalau kamu tidak mau mendukungku, tidak apa-apa. Tapi setidaknya jangan melarang aku untuk terus berusaha!”
            “Tapi...”
            “Semua masih bisa diperbaiki, kan?”
            “Arnie, kamu terlalu memaksakan diri. Kamu selalu menyangkal. Kamu gak mau …”
            Hey, Mama sudah di rumah! Lihat, mobilnya sudah ada!” Aku menghambur turun tanpa memperdulikan ucapan dan tatapan Arnold. Aku merasa agak kesal padanya. Aku bergegas mencari Mama. Beliau sudah sibuk di dapur.
            “Mama...”
            “Hai, Sayang... Mau bantu Mama?”
            “Pasti!... aku ganti baju dulu, ya...”
            “Kamu istirahat dan makan siang dulu. Arnold, mana?”
            “Aku di sini!”
            Siang itu, aku dan Mama sibuk di dapur, menyiapkan makan makan Valentine. Sementara Arnold mendekam di kamarnya sampai dipanggil keluar. Menjelang pukul tujuh, semua hidangan sudah tertata apik di atas meja. Kami bertiga duduk di ruang tamu, menunggu Papa.
            Saat deru mobil Papa memasuki halaman, aku tersenyum lega. Inilah saat yang sempurna. Saat yang selalu aku nantikan. Kami berempat duduk bersama.
            “Bagaimana sekolah kalian?” Tanya Papa
            “Arnold diangkat jadi ketua OSIS, Pa!” Jawabku
            “Wow! Selamat, ya! Kamu memang berbakat jadi pemimpin. Tapi ingat, jangan sampai kesibukanmu jadi ketua OSIS melalaikan pelajaranmu.”
            “Iya, Pa!” Jawab Arnold, singkat.
            “Bagaimana denganmu, Arnie?” Tanya Papa.
            “Cerpen pertama Arnie baru saja dimuat di Majalah minggu ini.” Mama menjelaskan.
            “Selamat, Arnie! Dari dulu Papa tahu kalau kamu punya bakat untuk jadi penulis.”
            “Thanks, Pa. Papa mau membacanya?”
            “Pasti sayang. Kirim satu copy majalah ke kantor Papa, ya.” Papa melihat jam tangannya.
            “Honor pertamaku untuk traktir makan. Bagaimana kalau minggu depan. Kita pergi ke salah satu restaurant di Bogor. Yang dulu itu, Pa?” Tanyaku bersemangat. Aku menatap wajah Papa penuh harap. Mama menunduk. Arnold menekuri piringnya yang sudah kosong.
            “Minggu depan… Hmm…”
            “Minggu depan Papa ada meeting, sayang….” Aku tahu Mama berusaha ‘menyelamatkan’ Papa.
            “Honornya kamu tabung, saja.” Saran Papa.
            “Aku mau kok ditraktir.” Celetuk Arnold. Aku hanya mencibir dan menghela nafas. Usahaku tidak berhasil. Belum. Nanti dicoba lagi…
            “Pa, cobain puding cokelatnya, ya! Aku yang buat tadi siang. Aku siapkan dulu...” Aku bangkit dari kursi.
            “Arnie... Papa harus...”
            “Sebentar, kok, Pa...”
            “Arnie...”
            “Sedikit saja, Pa! Aku membuat fla rasa vanila, kesukaan Papa.”
            “Arnie...Tolong...” Mama menggenggam tanganku.
            “Kenapa?”
            “Arnie, kamu sudah berjanji...” Arnold bergumam.
            “Aku tidak pernah berjanji!” Akhirnya aku meledak.
            “Arnie, sudahlah...” Mama berkata lemah.
            “Tapi kenapa? Kenapa, Ma? Kenapa, Pa? Kenapa kita tidak bisa seperti ini seterusnya? Apa yang salah?”
            “Tidak ada yang salah, Nak.”
            “Arnie... ada hal-hal yang tidak bisa kamu pahami. Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya.”
            “16 tahun! Aku 16 tahun! Dan itu bukan usia untuk anak kecil!”
            “Papa dan Mama masih saling mencintai. Tapi cinta kami tumbuh ke arah yang berbeda. Kami tidak bisa memaksakan diri untuk tetap bersama. Jika kami memaksakan keadaan, kami akan saling menyakiti. Kami akan menyakiti diri sendiri, juga kalian. Jelas Mama.
            Arnie, walaupun Papa dan Mama tidak bersama lagi, tapi kami tetap orang tua kalian. Kalian berdualah yang selalu menyatukan kami. Papa berjanji akan terus hadir dalam setiap moment penting kalian, seperti ini. Papa berjanji...”
            Tapi sampai kapan Papa bisa memenuhi janji itu?”
            “Papa usahakan semampunya.”
            “Bullshit!” Satu kata itu membuat mereka terperanjat. Masa bodo! Mereka pikir aku tidak tahu kata-kata makian. Mereka pikir di dunia ini hanya ada kata-kata cinta yang indah.
            “Arnie, belajarlah untuk menerima keadaan ini....” Kata Mama
            “Maaf, Papa harus benar-benar pergi. Terima kasih untuk makan malamnya. Terima kasih untuk malam yang sempurna ini.” Papa bangkit dari kursinya. Aku menghindar saat Papa berusaha mengecup keningku. Papa menyerah. Dia mengangguk sopan pada Mama, yang dibalas dengan anggukan yang juga sopan. Papa juga menepuk bahu Arnold. Arnold hanya bergeming.
Dengan kepergian Papa, maka berakhirlah sudah makan malam yang sudah direncanakan dengan sempurna. Sebab aku tahu, di sana, di belahan jantung kota yang lain,  ada sebuah keluarga kecil yang sedang menunggu Papa di rumah yang lain. Keluarga yang terdiri dari seorang wanita yang kini berstatus sebagai istri Papa dan seorang anak perempuan kecil berusia 3 tahun. Mereka pasti sedang menunggu Papa untuk merayakan hari Valentine.
            Setelah Papa pergi, Mama kembali ke kamar, tenggelam dalam pekerjaannya. Setiap malam, Mama harus menjawab puluhan surat-surat yang meminta nasihat tentang pernikahan. Mama adalah seorang konsultan pernikahan. Mama membuka praktek di hari kerja, dan selalu membawa pulang banyak sekali berkas untuk dijawab setiap malam. Ironis, bukan? Seorang penasehat pernikahan yang tidak mampu mempertahankan pernikahannya sendiri.
            Arnold akan kembali tenggelam dalam dunianya. Komputer dan game dunia maya. Seandainya Papa dan Mama tahu kalau Arnold sudah menunjukkan gejala kecanduan game-game online. Aku tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya.
            Aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Kali ini tak ada air mata seperti tahun-tahun yang sudah berlalu. Hanya ada sebersit rasa kecewa. Setelah itu hampa. Mungkin aku sudah mulai belajar. Seperti kata Arnold, aku harus mulai menerima kenyataaan. Bahwa Papa dan Mama telah berpisah, karena alasan yang sampai saat ini belum bisa aku mengerti. Tapi, seperti kata Arnold lagi, suatu saat nanti aku akan mengerti. Aku harus mulai jujur, bahwa keluargaku bukanlah keluarga yang sempurna, seperti yang terlihat dari luar.
Aku masuk ke kamar. Tak ada gunanya menangisi keadaan. Aku ingin menulis sebuah cerita. Tentang makan malam Valentine sebuah keluarga yang sempurna. Se-sempurna yang bisa aku harapkan. Meskipun tidak ada yang sempurna. Tidak juga sebuah hari Valentine.
‘***

           

           

Tidak ada komentar