Cerpen ini dimuat di Majalah Kawanku
Edisi 01 - 15 Oktober 2014
Tetangga Baru
Oleh Dwi Indarti
Ada tetangga baru. Mereka menempati
rumah di sebelah rumahku. Rumah yang berlantai dua dan bercat biru. Hari ini, aku
baru menyadari hal itu.
“Mereka sudah di sini seminggu yang
lalu.” Mama memberitahuku.
“Seminggu yang lalu? Kenapa aku baru
tahu sekarang, ya?” Tanyaku.
“Pertanyaan bagus! Coba kamu jawab
sendiri.” Sindir Mama kepadaku.
“Mama ‘kan tahu. Aku ini sibuk
sekali. Dari pagi sampai siang sekolah. Sore ikut les ini itu. Terus belajar
kelompok, lanjut hangout sama teman-teman...”
Aku menjawab sindiran Mama.
“Kamu jadi anti-sosial.”
“What?!
Aku gak anti sosial. Teman-teman di sosmedku banyak. Follower twitter-ku ratusan
orang. Belum lagi teman-teman di FB, Path, Tumblr, dan lain-lain.”
“Apakah kamu bertemu dengan mereka
setiap hari?” Tanya Mama.
“Ya, tidak.”
“Apakah kamu mengenal mereka secara
pribadi?”
“Tidak juga.”
“Apakah mereka yang ada di dekatmu,
siap membantumu saat kamu lagi ada masalah?”
“Bukan…”
“Kalau kamu jatuh di jalan gara-gara
sibuk liat HP, apakah teman-teman di chat kamu yang akan nolongin?”
“Bukan…”
“Seandainya kamu kena musibah, lalu
kamu pengumuman dengan pasang status di media social, apakah orang-orang yang
berada di dunia maya itu yang akan menjadi penolong pertama?” Cecar Mama
“Mereka paling cuma bisa komentar
‘ugh…kasian, hati-hati dong’ ‘semoga lekas sembuh’. Gitu ‘kan?”
“Iya, Ma…”
“Lalu siapa yang akan nolongin
kita?”
“Hmm… pastinya orang yang nyata ada
di dekat kita, Ma…”
“Teman-teman di dunia maya tidak
sama dengan teman di dunia nyata, Jena. Jangan tenggelamkan dirimu di dunia
maya, sampai kamu mengabaikan apa yang ada di hadapanmu.” Papar Mama. Aku hanya
diam.
“Tetangga baru itu mempunyai anak
perempuan seumuran kamu.” Lanjut Mama setelah jeda hening yang agak lama.
“Iya, tadi aku melihatnya. Dia
sedang bermain biola di teras.”
“Apakah kamu menyapanya?”
“Tidak, Ma. Aku terlalu sibuk membalas
chatting di gadget. Aku juga baru menyadari kalau rumah kosong di sebelah itu
sekarang sudah berpenghuni.”
“Namanya Raina. Dia jago main
biola.” Mama menjelaskan tentang tetangga baruku.
“Dia sekolah dimana, Ma?”
“Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri,
besok? Mereka mengundang kita untuk selametan rumah baru. Kamu mau datang,
kan?”
“Besok, ya Ma? Besok itu aku ada
jadwal latihan cheerleader, lalu…” Aku menghentikan kata-kataku demi melihat
ekspresi wajah Mama. Mama memandangku tajam.
“Tetangga adalah keluarga terdekat
kita. Mereka adalah penolong pertama kalau kita tertimpa kesusahan.”
“Iya deh, Ma. Besok aku datang.”
“Janji?”
“Janji, Ma…”
Mama benar. Aku harus mengurangi
kegiatan di luar rumah. Mungkin aku bisa berteman dengan tetangga baru itu. Mungkin
kami bisa ngobrol tentang banyak hal.
‘***
Keluarga itu cukup sukses. Sang ayah
adalah seorang pengusaha. Sang ibu adalah seorang psikolog. Mereka mempunyai seorang
anak perempuan. Sekarang dia sedang bermain biola di hadapan para tamu.
Dia pandai sekali. Alunan biolanya
sangat indah. Dia sangat mahir dengan alat musik yang paling susah itu. Aku
pernah belajar biola. Tapi aku menyerah. Rasanya susah sekali menguasai alat
musik gesek itu. Mungkin aku tidak terlalu berbakat seperti Raina.
Beberapa
lagu yang dia mainkan secara medley seolah
menyihir tamu undangan yang datang. Tepuk tangan meriah saat dia menyudahi
permainan biola. Aku segera menghampirinya.
“Hai, aku Jena. Aku tinggal di rumah
depan.” Aku mengulurkan tangan. Cewek itu menerima dengan hangat dan tersenyum.
“Sorry, aku baru sempat ke sini.”
Kataku. Cewek itu kembali tersenyum.
“Permainan biolamu indah sekali.
Belajar dimana?” Lagi-lagi cewek itu menjawab pertanyaanku dengan senyum. Cantik,
sih. Tapi pertanyaanku perlu dijawab dengan kata-kata, bukan hanya senyuman.
“Hmm… aku permisi sebentar, ya.” Aku
mulai kesal dan beringsut menjauh.
“Ma, aku mau pulang.” Aku menghampiri
Mama dan berbisik di telinganya.
“Pulang? Acaranya belum selesai.”
“Aku bosan.”
“Kamu sudah berkenalan dengan
Raina?”
“Sudah. Aku sudah berusaha
mengajaknya ngobrol, tapi dia sombong sekali.” Aku berbisik pada Mama.
“Sombong?” Tanya Mama. Aku
mengangguk.
“Dia
tidak mau ngobrol denganku.”
Mama tersenyum dan menarik tanganku.
Mama memaksaku kembali menemui cewek itu. Dia sedang duduk sendirian di kaki
tangga.
“Hai Raina, kenalkan, ini Jena, anak
tante yang pernah tante ceritakan itu.” Mama bicara kepada cewek itu. Disertai
bahasa isyarat.
“Ah…ah….uug…” Gadis itu membalas
dengan bahasa isyarat.
“Raina minta maaf kepadamu karena
sikapnya tadi. Dia merasa malu dan gak PD bertemu denganmu.” Mama menjelaskan
kepadaku. Aku tergugu.
“Tidak apa-apa, Raina. Anak Tante
ini memang sedikit tomboy. Tapi dia baik hati, kok. Semoga kalian bisa
berteman…” Lanjut Mama, sambil menggerakkan tangannya, membentuk bahasa
isyarat.
“Kamu masih ingat bahasa isyarat
yang dulu biasa kamu gunakan untuk ngobrol dengan Almarhum Oma, kan?” Tanya
Mama padaku. Aku mengangguk.
“Tante tinggalkan kalian berdua, ya…”
Lalu Mama meninggalkan kami.
“Hai, aku Jena. Aku tetangga barumu.
Kuharap kita bisa menjadi teman baik.” Aku mengulangi perkenalan dengan
menggunakan bahasa isyarat.
Kamu bisa bahasa isyarat? Tanya
Raina.
Bisa,
sedikit. Dulu aku selalu ngobrol dengan Almarhum Oma dengan bahasa isyarat.
Beliau yang mengajarkan bahasa Isyarat. Tapi, setelah Oma dipanggil Tuhan, aku
tidak pernah memakainya lagi. Kamu mau mengajariku?
Raina membalas. Dia bilang, aku senang sekali. Kami tersenyum.
‘***



Tidak ada komentar