Cerpen ini dimuat di Majalah HAI
Edisi 15 - 21 September 2014
Edisi 15 - 21 September 2014
Hari yang WOW!
Oleh Dwi Indarti @itsjustdwi
Wow!
banget hari ini. Pagi-pagi sudah ‘dipaksa’ olahraga jogging mengejar Pak Supri. Wow!
Aku menjadi anak terakhir yang melewati gerbang sekolah sebelum dikunci oleh
penjaga sekolah itu. Wow! Ternyata
kumis Pak Supri bisa berdiri kalau sedang marah.
“Pak Supri, tungguuuuuu…” Aku
berhasil meraih pegangan besi pagar sekolah, tepat sebelum tertutup.
“Grrrrhhh…” Pak Supri mengeram. Aku
sibuk mengatur nafas. Ngos-ngos-an.
“KENAPA TELAT?!” Pak Supri
menghardik. Biasa aja dong, Pak galaknya. Aku membatin.
“Ma…macet!” Jawabku sambil lari
meninggalkan Pak Supri dengan kumisnya yang kaku.
Padahal hari ini aku berangkat lebih
pagi dari biasanya. Motorku sedang ‘diopname’
di bengkel, jadi aku terpaksa naik Metromini. Metroini yang aku naiki tadi ngetemnya lama banget. Masih untung aku
bisa melewati gerbang sekolah tepat waktu, walaupun dapat ‘bonus’ dipelototin dan dibentak Penjaga Sekolah yang super galak.
Lalu wow! Pelajaran pertama fisika. Bu Bertha kasih ulangan mendadak.
Gak ada hujan, gak ada angin, tiba-tiba saja beliau berteriak lantang di depan
kelas.
“Hari
ini kita ulangan!”
“WHAT?!”
Protes
anak-anak seisi kelas seperti angin lalu. Lewat tak berbekas. Gak ngaruh
apa-apa. Bu Bertha tetap membagikan soal-soal ulangan. Soal-soal ulangan fisika
hari ini wow banget! Pasrah, deh.
Rumus cap-cip-cup jadi andalanku.
Cap-cip-cup
kembang kuncup. C! Kusilang huruf C.
Cap-cip-cup
kembang kuncup. A! Kusilang huruf A.
Semoga Dewa Fisika gak marah. Semoga
Dewi Fortuna gak lagi PMS, jadi dia mau memberikan sedikit keberuntungan
untukku. Doaku dalam hati.
“Gimana?” Bisik Rendra setelah
lembar jawaban dikumpulkan pada akhir pelajaran.
“Gimana, apanya?” Tanyaku balik pada
cowok yang duduk di bangku belakangku.
“Ulangan tadi…Bisa gak?”
“Iya, bisa! Bisa ANCUR!” Aku
meninggalkan Rendra dengan perasaan dongkol.
Kupikir,
ke-wow!-an hari ini sudah berakhir.
Ternyata…
Siang
ini panasnya wow! Lagi-lagi aku harus
naik Metromini untuk pulang ke rumah. Dengan sabar aku menunggu di pinggir
jalan. Banyak Metromini yang lalu lalang, tapi Metromini yang jurusan daerah
rumahku agak jarang. Kalaupun ada, penuhnya wow!
Sudah
hampir setengah jam aku menunggu. Kaki pegal. Perut keroncongan. Tenggorokan
kering. Keringat bercucuran. Akhirnya aku putuskan untuk naik Metromini yang
datang berikut. Bagaimana pun keadaannya.
Wow penuh banget! Beberapa orang bahkan
bergelantungan di pintu. Aku terlanjur memberhentikan Metromini itu. Kupikir,
toh jarak rumahku tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 10 menit. Aku bisa
bertahan. Hap! Aku naik dan….
“Aaaaah….!”
Jeritku. Ups! Kakiku terpeleset. Tiba-tiba
sebuah tangan meraihku dan menahan jatuhku.
“Pegangan.”
Kata si pemilik tangan itu. Dia menarikku masuk ke tengah Metromini yang penuh
sesak. Metromini terus melaju tanpa memperdulikan ada cowok keren yang hampir jatuh. Setelah mendapatkan posisi
yang cukup aman, aku melepaskan tangan si penolongku dan menatapnya. Wow! Cantik banget!
Bagai
embun di tengah padang
pasir yang gersang, seperti itulah senyumnya dimataku. Di dalam sesak, pengap
dan panasnya Metromini, rupanya Tuhan mengirim malaikat cantik.
“Kamu
gak pa-pa?” Tanya si cantik.
“Ho
oh.” Aku mengangguk bego..
“Terima
kasih.” Kataku.
“Kembali.”
Jawabnya.
Wow! Inikah jalan takdir cintaku? Bahwa
aku akan bertemu guardian angle di
tengah Metomini yang bau keringat?
“Pulang
sekolah, ya?” Tanyanya.
“Iya.”
Jawabku. Aku bingung harus ngomong apa. Cewek cantik itu pasti anak kuliahan.
“Aaaaaaah…!”
Sebenarnya aku mau bertanya apakah dia seorang mahasiswi. Tapi pertanyaanku
berganti teriakan gara-gara Metromini berbelok tajam. Tubuh cewek itu oleng ke
arahku. Untung tas ranselku menghalangi. “Sorry!” Dia buru-buru menarik diri.
“Si sopir kayaknya kebelet pipis.” Dia berkelakar. Ya ampun, udah cantik, lucu
pula! Sempurna! Jerit hatiku.
“Simpang!
Simpang!” Suara cempreng kernet menyebut nama daerahku. Itu adalah tanda bagiku
untuk turun.
“Eh,
aku turun duluan, ya!” Ucapku pada si cantik yang belum sempat aku tahu
namanya. Dalam hati aku berharap semoga besok aku bisa ketemu dia lagi di
Metromini.
“Oke!
Hati-hati!” Sahutnya.
Aku
meraba-raba mencari Android. Aduh,
kok gak ada? Tanganku menjelajah setiap sudut tas. Nihil! Lalu ingatanku mundur
beberapa menit sebelumnya.
Awalnya
si cantik itu menarik tanganku. Dia berdiri di depan pintu Metromini. Lalu dia
membawaku ke tengah Metromini. Lalu dia menjatuhkan badannya ke arah tasku.
Lalu sebuah kesadaran yang Wow!
Menghantamku.
Saat
kakiku memasuki beranda rumah, hanya satu kalimat yang aku teriakkan.
“Sialan….Aku
kecopetan! Cantik-cantik Copet! ”
‘***


Tidak ada komentar