Cerpen ini dimuat di Lampung Post
Tanggal 21 Mei 2012
(iya...udah 2 tahun yang lalu, dan gue baru tahu sekarang. Itu pun gak sengaja. Ah, payah deh redaksinya gak mau kasih info pemuatan cerpen...Trus, honornya gimana? Akh, sudahlah,
Burung Hantu yang sok penting
Oleh Dwi Indarti
Alkisah, ada seekor burung hantu bernama Abel. Abel adalah
seekor burung hantu yang sangat tampan. Bulunya berwarna hitam dengan
serak-serak putih dikedua ujung sayap. Matanya besar dan bulat berwarna kuning.
Paruhnya bengkok dan runcing.
Tapi, Abel mempunyai sifat yang jelek. Dia sangat sombong
dan sok penting. Dia selalu melakukan tugas seorang diri. Dia tidak pernah mau
berkerja sama dengan burung hantu yang lain.
“Tak ada yang bisa terbang secepat aku!” Abel berkoar.
“Kalian semua lambat sekali! Lebih baik aku bekerja sendiri
mengantarkan surat-surat penting!” Abel membusungkan dada.
“Minggir-minggir, aku sedang terburu-buru!” Abel terbang
dengan sok penting.
Di Kerajaan burung, para burung hantu bertugas sebagai pengantar
surat kepada
burung-burung lain. Raja burung hantu adalah seekor burung hantu tua yang
sangat bijaksana. Raja itu bernama Gordin.
Raja Gordin bertugas mengatur pengiriman surat menyurat di Kerajaan Burung. Dia
memastikan agar semua surat
sampai kepada pemiliknya dengan tepat waktu dan benar.
Suatu hari, Raja Kerajaan burung, yaitu Raja Elang akan
mengadakan pesta. Dia hendak mengundang semua jenis burung untuk ikut pesta
itu. Maka dia memanggil Raja Gordin untuk mengantarkan surat undangan kepada Kerajaan-Kerajaan
burung.
“Raja Gordin, aku serahkan semua surat undangan ini kepadamu. Tolong berikan
kepada masing-masing Raja Burung agar mereka datang ke pestaku besok.” Ujar
Raja Elang.
“Baik, Yang Mulia. Hamba akan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.”
Lalu Raja Gordin pulang ke wilayah Burung Hantu. Dia mengumpulkan para burung
hantu.
“Rakyatku, Raja Elang akan mengadakan pesta di Kerajaannya,
besok. Malam ini, kalian bertugas untuk menyebarkan undangan kepada semua Raja
Burung.” Ujar Raja Gordin.
“Ehem! Yang Mulia. Biar hamba saja yang mengantarkan semua surat itu.” Abel
menyeruak ke depan.
“Tapi surat-surat ini banyak sekali, Abel. Kita harus
membagi tugas.” Kata Raja Gordin.
“Yang Mulia, saya bisa terbang secepat angin. Saya bisa
melihat setajam silet. Saya bisa mengantarkan semua undangan itu malam ini
juga.” Kata Abel dengan pongah.
“Baiklah, Abel. Kalau itu maumu.” Akhirnya Raja Gordin
menyerahkan semua surat
undangan itu kepada Abel. Abel mencengkram bungkusan surat itu dengan kedua cakarnya. Opss! Dia
turun beberapa senti karena keberatan. Tapi Abel segera kembali pada posisi
semula, membusungkan dada dan terbang dengan laga sok penting.
Malam itu, Abel harus mengantarkan surat undangan kepada ratusan Raja Burung di
Kerajaan Burung. Dia mulai dari Kerajaan terdekat, yaitu kerajaan burung Dara.
Setelah itu dia mengunjungi kerajaan Burung Kakak tua, Burung Nuri, Burung
Gagak, Burung Kutkut, Burung Beo, dan banyak lagi.
“Kau mengantar surat
sebanyak itu seorang diri, Abel?” Tanya Burung Cendrawasih kagum.
“Iya!” Kata Abel sok penting sambil mengibaskan sayapnya.
“Apakah kau sanggup mengantarkan semua surat itu sebelum fajar, Abel?” Tanya Burung
Kutilang.
“Aku sanggup!” Jawab Abel. Tapi dalam hati Abel mulai
ragu-ragu. Hari sudah menjelang fajar,
tapi masih banyak sekali surat
undangan yang belum disampaikan. Abel merasa sangat letih. Sayapnya mulai
lemah.
Akhirnya Abel terduduk lesu memandangi bungkusan surat-surat
yang masih menggunung. Dia merasa menyesal sekali. Dia merasa malu. Dia
menyesali kesombongannya sendiri.
Semburat sinar matahari mulai muncul di ufuk timur. Abel
sekarang panik. Dia hanya punya sedikit waktu untuk menyesaikan pekerjaan yang
masih sangat banyak. Tiba-tiba saja, dari langit muncul lima ekor burung hantu. Mereka mendarat di
sekeliling Abel.
“Apakah kau baik-baik saja, Abel?” Tanya Arby, burung hantu
yang berwarna coklat.
“Kami berinisiatif untuk menyusulmu, Abel. Kami khawatir kau
tidak bisa menyelesaikan tugas ini seorang diri.” Kata Alfa.
“Maaf Abel, bukannya kami meragukan kemampuanmu, tapi kami
hanya ingin membantu agar tugas yang diberikan oleh Raja Elang dapat selesai
dengan baik.” Ucap Astro.
“Teman-teman, maafkan aku. Aku malu sekali. Aku mengaku
salah selama ini. Aku telah bersikap sombong dan meremehkan kalian. Maafkan
aku, ya …” Abel menunduk dalam-dalam.
“Kami sudah memaafkanmu, Abel.” Sahut Ames sambil memegang
bahu Abel.
“Sekarang, ayo kita selesaikan tugas menyampaikan
surat-surat ini. Agar Raja Elang bisa mengadakan pesta dengan tepat waktu. Ayo
kawan-kawan…”
Maka, ke-enam burung hantu itu membagi tugas untuk
menyebarkan sisa surat
undangan. Dalam waktu singkat, semua surat
undangan telah habis dibagikan kepada masing-masing Raja Burung.
Abel bersyukur sekali
mempunyai teman-teman yang baik hati dan bijaksana. Dia sadar bahwa dia tidak
bisa bekerja seorang diri. Dia harus bekerja sama dalam satu tim. Sekarang,
Abel bukanlah seekor burung hantu yang sombong dan sok penting lagi. Sekarang, Abel adalah seekor burung hantu
tampan yang baik hati.
Raja Elang sangat berterima kasih kepada Raja Gordon karena
telah menyebar undangan dengan baik. Pesta di Kerajaan burung berlangsung
sangat meriah.
‘***


Tidak ada komentar