Cerpen ini dimuat di Majalah HAI Edisi 28 Juli - 3 Agustus 2014
Sepotong cokelat untuk Hanna
Oleh Dwi Indarti
Sepotong coklat. Berbentuk hati. Berwarna putih. Terbungkus kotak plastik tranparan. Berhias
pita putih. Kuletakkan diam-diam di laci mejanya. Meja milik gadis yang
menciptakan badai Lanina di hatiku.
Sepotong coklat. Berwarna putih. Tanpa
kartu. Tanpa nama. Tanpa petunjuk apapun. Tentang siapa pengirimnya. Pasti
Hanna akan bertanya-tanya. Mungkin dia bertanya pada Kayla, teman sebangkunya.
“Kay, siapa yang menaruh coklat di
laciku?”
“Ciee… kamu punya secret admirer!”
“Please,
jangan bercanda dong. Aku serius, nih.”
“Lha, mana aku tahu? Kamu yang datang
duluan ‘kan?”
“Iya. Coklat ini sudah ada di laci
mejaku ketika aku datang.”
“Gak ada kartu ucapan, note atau apa
pun?”
“Gak ada.”
“Misterius…”
“Siapa pun pengirimnya, pasti dia datang
pagi-pagi sekali. Niat banget, ya…”
Iya, Han. Aku memang niat. Niat banget.
Niat ini kutimbun dalam hati. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Sambil menunggu
keberanian untuk mewujudkannya. Niat yang tercetus saat mendengar Hanna bicara tentang
coklat dan rasa.
“Aku lebih suka coklat putih. Ketimbang
coklat yang berwarna coklat. Coklat putih mewakili rasa yang paling dalam. Rasa
yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Rasa yang terpendam. Warna putih
pada coklat bagaikan selimut. Seperti cover
yang menutupi sesuatu. Rasa sebenarnya.
Namun, jika kamu berani menyibak, maka warna putih itu akan memperlihatkan apa
yang dia sembunyikan. Kalau kamu berani mencoba, maka dia akan mengeluarkan
rasa coklat sesungguhnya. Coklat sejati.”
Ugh! Aku klepek-klepek. Rasanya aku ingin berteriak saat itu.
Aku
adalah coklat putihmu, Hanna!
Rasa
di hatiku ini sepert tweet-nya ZarryHendrik. Aku mengagumimu
di dalam diam. Menahan gemetar di kedekatan. Dan melihat terasa mencuri. Betapa
hati ini menghamba pada pesonamu.
Akhirnya,
niat itu kuwujudkan. Setelah melalui perenungan panjang. Setelah melalui pertempuran
hati. Setelah mengalahkan otak dan logika. Setelah memenangkan hati dan rasa.
Hari
ini adalah hari yang sempurna. Untuk memberikan sepotong coklat. Berwarna putih.
Berbentuk hati. Dalam wadah plastik transparan. Berhias pita putih. Cantik.
Seperti dirimu.
Sejak
beberapa hari yang lalu, aku mulai bergerilya. Dari satu tempat ke tempat yang
lain. Dari satu mall ke mall yang lain. Dari satu toko coklat ke toko coklat
yang lain. Demi untuk mendapatkan sepotong coklat. Berwarna putih. Berbentuk hati.
Yang sempurna.
Besok Hanna ulang tahun.
Seorang sahabat mengirim pesan singkat. Mengingatkanku.
Aku hanya tertawa. Aku gak perlu diingatkan.
Aku sudah ingat. Bahkan mungkin lebih ingat dari ibu yang telah melahirkannya. Ah,
kapan ya aku bisa bertemu ibunya. Sekedar untuk mengucapkan terima kasih. Karena
telah melahirkan mahluk seindah dirinya
Di
kalender rumahku, tanggal ulang tahun Hana aku hias besar-besar dengan spidol
merah. Kubingkai dalam bentuk hati. Semua kalender di rumahku.
“Ih,
tanggal apaan ‘tuh? Di kasih tanda LOVE , gitu…”
“Ada,
deh…”
“Tanggal
jadian, ya?”
“Ada,
deh…”
“Cie…
ada yang lagi jauh cinta.”
“Siapa
cewek yang ketiban sial, itu?”
Plak!
Kulempar adikku dengan bantal. Kuabaikan ledekan orang rumah. Kupingku tuli.
Mataku buta. Yang dengar dan kulihat hanya Hana, Hana dan Hana.
‘***
Kelas
semakin ramai. Dari tempat dudukku, tak sedetik pun mataku melepas dirinya dalam
jarak pandang. Satu per satu, teman-teman datang kemejanya. Mengucapkan selamat
ulang tahun. Mendoakan semoga panjang umur. Selamat sejahtera. Sehat sentausa. Dan
bahagia.
Coklat
putih. Berbentuk hati. Dalam kotak plastik transparan. Berhias pita putih. Tetap
berada di tempat semula. Di dalam laci meja. Hingga siang hari. Hingga bel sekolah
berdentang. Mengusir anak-anak pulang.
“Elu
udah ngucapin selamat ulang tahun ke Hanna?” Sahabatku Edi, bertanya. Dia yang
mengirimiku pesan singkat semalam.
“Belum.”
“Ucapin,
dong! Gimana sih, elu!” Edi menarikku paksa.
Setengah
terdorong, aku mendekati Hanna.
“Listyanto
belum kasih ucapan selamat ulang tahun ke kamu, ya?” Tanya Edi pada Hanna.
“Belum.
Gimana sih sohib kamu?!”
“Buruan
ucapin, List!” Desak Edi.
“Se…
se… lamat ulang tahun, Hanna.”
“Terima
kasih Listiyanto…”
“Udah
gitu doang? Gak ada ucapan apa-apa lagi? Ha ha ha. Gimana mau dapat cewek. Ngucapin
ulang tahun aja pakai keringat dingin, gitu…” Edi menggodaku. Seperti biasa. Aku
hanya tertunduk. Digoda Edi adalah hal lumrah buatku. Makanan sehari-hariku.
Edi
sohibku. Susah senang sudah aku lalui bersamanya. Persahabatan kami sudah pada
tarap brotherhood. Gak ada satu pun yang aku tidak tahu tentangnya. Tapi, ada
satu hal yang dia tidak tahu, tentangku…
“Yuk,
sayang, kita berangkat. Nanti kesorean.” Ajak Hanna. Pada Edi.
“Cabut
dulu, ya List! Sorry, siang ini acara khusus gue dan Hanna. Nanti malam, kita kumpul-kumpul
di rumah Hanna buat ngerayain sama teman-teman. Elu datang, kan? Awas kalau
sampai gak datang!” Edi meninju bahuku.
“Bye bye, Listyanto!” Hanna melambaikan tangan
padaku.
Bye,
Hanna. Jawab hatiku.Sunyi.
Aku
mematung. Menatap belakang kepala Hanna. Yang tertutup mahkota rambut hitam panjang
lurus. Menatap punggung tegap Edi, sahabatku. Menatap tautan jari mereka yang saling
menggenggam. Menatap getaran cinta diantara mereka. Yang terpancar dari gesekan
pundak keduanya. Yang terpancar dari tatapan yang terlempar diantara mereka. Yang
terpancar dari senyum dan semua bahasa tubuh
mereka.
Sepotong
coklat. Berbentuk hati. Berwarna putih. Terbungkus kotak plastik tranparan. Berhias
pita putih. Masih tergeletak di laci mejanya. Meja milik gadis yang menciptakan
badai Lanina di hatiku. Hancur. Terlupakan. Terbaikan. Terpendam.
Apakah
Hana akan bercerita kepada Edi, tentang coklat putih yang tergeletak di
lacinya? Atau mungkin, Hana sudah lupa sama tentang coklat itu…
‘***



Ikut sedih baca ini :'(
BalasHapusHai, makasia udah mampir ke blog ini... makasih udah baca-baca... salam kenal :)
BalasHapusKeren ea ceritanya,,
BalasHapustapi sayang cintanya tak terucap ataupun terbalas.,
(y)
Sakitnya 'tuh di sini... *nunjuk hati , salam kenal. Thanks udah mampir ke blog ini, ya...
BalasHapuskakaaak, kok cerpen yang dimuat di Gadis belum diposting juga?
BalasHapusCerpen GADIS yang mana ya ? perasaan udh diposting semua, deh... :D
BalasHapus