Cerpen ini dimuat di Majalah CHIC Edisi 165 tanggal 16 April 2014
My Sister’s Wedding
Oleh Dwi Indarti
Adikku,
I’m proud to have a sister like you. Who
doesn’t? Kecantikanmu membuat setiap
orang menahan nafas. Cahaya keindahan parasmu memadamkan semua yang ada
disekelilingmu, termasuk diriku yang memang ‘berbeda’.
Adikku,
Tahukah kau, dulu waktu kita
masih kanak-kanak, aku sering bertanya pada Mama.
“Ma, kenapa Andrea cantik dan
aku tidak?’
“Siapa bilang kamu tidak cantik,
nak?”
“Orang buta juga tahu aku tidak
cantik, Ma…!”
“Anastasia, kamu tidak boleh bicara seperti itu! Berarti
kamu tidak mensyukuri karunia Tuhan dan itu dosa! Bagi Mama, kalian berdua cantik.”
“Tapi Andrea putih sedangkan aku
hitam. Hidung Andrea mancung sedangkan hidungku pesek. Rambut Andrea bergelombang
indah, sementara rambutku kribo. Andrea tinggi semampai, dan aku? Lihat Ma! Aku
pendek gendut seperti karung beras. Orang-orang memuja Andrea dan
menertawakanku. Orang-orang menahan
nafas saat melihat Andrea sementara mereka mendengus saat melihatku.!”
“Anastasia! Mama tidak suka kau
membanding-bandingkan diri dengan adikmu!” Hardik Mama. Aku terisak pelan. Mama
mendekapku.
“Anastasia, Tuhan memberimu
kelebihan lain, bukan? Kau jenius dan memilik suara yang sangat indah. Dua hal
ini tidak dimiliki Andrea. Sayang, iri hati itu tidak baik, apalagi kepada adik
sendiri. Kita harus saling menyayangi. Hanya kau dan Andrea yang Mama miliki”.
Andrea adikku,
Mama hebat, ya. Beliau
membesarkan kita berdua seorang diri. Setelah ditinggal Papa, yang dideportasi
ke negara asalnya Prancis, Mama hijrah dari Batu Merah, Ambon ke ibukota Jakarta. Sejak dulu,
keluarga besar Mama menentang pernikahannya dengan seorang ekspatriat dari
Prancis. Namun mereka tidak menunjukkannya secara terang-terangan.
Baru setelah Papa dideportasi karena masalah
ijin kerja, keluarga besar Lestahulu menekan Mama sedemikian rupa sehingga Mama
memutuskan hijrah ke ibukota.
Adikku,
Andrea Lestaluhu LeBlanch…
Beruntungnya
dirimu mengambil gen dari Papa. Perpaduan Prancis dan Ambon menjadi kombinasi yang begitu sempurna. Kau
selalu menjadi pusat perhatian. Mama menerima banyak permintaan untuk
menjadikanmu seorang model. Mama sangat selektif dalam hal ini. Beliau
memang membutuhkan uang. Gajinya sebagai
sekretaris tidak mencukupi untuk memenuhi standar hidup di ibukota. Namun Mama
tidak mau kau terjebak dalam dunia entertainment yang terkenal glamour. Jalan
hidupmu memang ditakdirkan di dunia modeling. Pelan tapi pasti, kau menggeluti
dan menikmati profesi menjadi seorang model.
Aku
menerima gen dari Mama yang asli Ambon. Hitam,
rambut keriting, gemuk, pendek dengan mata besar dan alis tebal. Aku mirip mama
sementara kau, Andrea mirip Papa. Setidaknya, begitulah wajah Papa yang ada di
album foto. Kami tak pernah bertemu dengan Papa sejak beliau dideportasi. Waktu
itu aku berumur 7 tahun dan kau, Andrea berumur 5 tahun.
Mama
bilang, kami bisa menyusul ke Lyon, kota
asal Papa, nanti jika kami sudah besar dan punya uang sendiri. Mama tidak
berniat menikah lagi.
Adikku,
Aku
sudah sangat terbiasa dengan komentar-komentar tentang perbedaan fisik kita
yang sangat mencolok. Dari komentar yang sopan sampai komentar yang membuatku
ingin melempar si komentator dengan sendal bakiak.
“Kamu
kakaknya Andrea? Yang bener? Koooook …?”
“Andrea
mana kakakmu? Katanya kau datang bersamanya? Ini pembantumu ya?”
“Anastasia,
kamu anak pungut, ya?’
“Anastasia,
kamu salah diimunisasi, ya…?”
Dulu
aku sempat frustasi. Tapi, seiring waktu aku mulai bisa menerima
komentar-komentar itu.
Bagaimana
dengan kau sendiri, Andrea…?
Tampaknya
kau sangat menyadari keindahan fisikmu. Kau senang bersolek. Bahkan sejak SD
pun, kau tidak pernah mau keluar rumah tanpa pelembab bibir merah jambu teroles
di bibir tipismu. Kau akan histeris seakan dunia kiamat jika tumbuh satu titik
kecil jewarat di wajah mulusmu. Kau tidak mau memakai baju yang sama lebih dari
tiga kali. Kau akan uring-uringan sepanjang hari jika kukumu patah, maskaramu
hilang atau rambutmu rontok sedikit.
Bahkan
sebelum akil baligh pun, tempat favoritmu adalah salon kecantikan, toko-toko
baju dan perhiasan. Dulu kau selalu merengek minta uang kepada Mama untuk
perawatan salon dan belanja baju. Kini kau tidak perlu pusing soal duit.
Penghasilan dari modeling bisa memenuhi gaya
hidupmu.
“Maintanance itu sangat penting, Kak. Aku
harus merawat kecantikanku supaya terus dapat job.” Jawabmu saat aku mengeluhkan pengeluaran yang dia habiskan
untuk urusan bersolek.
“Kau
sudah cantik dari sananya. Tidak pake make-up pun kau cantik. Lebih baik kau
tabung uangnya untuk kuliah.” Ujarku padamu.
“Malas!
Aku tidak suka sekolah. Aku mau menekuni dunia modeling. Aku ingin go international, menjejakkan kaki di
catwalk-catwalk kota
mode dunia. Paris, Millan, London,
New York, Tokyo. Aku malas mikir yang berat-berat. Life is too short, sista! Let’s have some
fun and go mad.”
Yeah, Sister…
Have fun go mad menjadi semacam tag-line hidupmu. Kau mendapatkan semua
yang di inginkan semudah kau membalikkan telapak tangan.
Termasuk
lelaki. Mungkin hanya lelaki yang
berorientasi sex ganjil yang tidak akan tertarik padamu. Selain itu, semua lelaki
bermimpi bisa menjadi pacarmu. Tak terkecuali lelaki yang aku taksir.
Aku
ingat masa SMA dulu, Andrea …
Aku
menaruh hati pada seorang cowok. Ronald namanya. He was a star in my school. Tentu saja aku hanya seekor pungguk
yang merindukan bulan. Tapi suatu ketika, Ronald menghampiriku…
“Anastasia,
boleh gak aku belajar di rumahmu?”
“Hah?
Belajar di rumahku. Sama siapa?”
“Kita
berdua saja. Kau ‘kan
pintar. Ajarin aku, boleh ya…Please.
Aku ingin ngobrol-ngobrol sama kamu”
It was like a miracle! Aku tak bisa
berkata apapun selain melesat pulang ke rumah dan mempersiapkan segala sesuatu
untuk menanti datangnya sang pujaan hati.
Sore
itu, Ronald datang dengan membawa seikat bunga mawar. Hatiku semakin
berbunga-bunga. Bagaimana mungkin Ronald suka padaku? Mungkin karena aku murid
paling pintar? Pikiran-pikiran indah memenuhi kepalaku, sampai …
“Adikmu
mana, Anastasia?”
“Andrea,
maksudmu?”
“Iya,
yang kemarin datang menjemputmu di sekolah. Andrea namanya, ya? Sekarang ada
rumah, gak?”
“Ada. Mau ketemu?”
“Boleh.
Kalau dia sedang tidak sibuk.”
Begitulah.
Ternyata Ronald menyukai Andrea, bukan aku. Of
course! Aku saja yang bodoh dan ke ge-eran. Sebulan kemudian, kalian resmi berpacaran, walaupun hanya
bertahan seumur jagung.
Adikku,
Aku
sempat khawatir tidak akan pernah mendapatkan seorang lelaki untuk menjadi
suamiku karena, ya itu tadi, mereka pasti lebih menyukaimu ketimbang diriku.
Tapi, Tuhan punya rencana. DIA mempertemukan aku dengan seorang lelaki yang
kemudian menjadi suamiku dengan cara yang indah.
Semasa
kuliah aku bergabung dengan kelompok MAPALA. Aku suka gunung. Pada suatu
pendakian ke Semeru, aku memetik gitar dan bernyanyi sendiri untuk mengusir
hawa dingin yang menggigit. Saat itu, aku sedang suka-sukanya dengan film GIE,
jadi aku menyanyikan lagu DONNA yang dinyanyikan Sita di film tersebut.
On a wagon bound for market. There’s a calf
with a mournful eye.
High above him there’s a swallow. Winging
swiftly through the sky
How the winds are laughing. They laugh with
all their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer’s night
Donna Donna Donna Donna Donna Donna Donna
Don…
“Suaramu
indah sekali!” Suara baritone menghentikan nyanyianku.
“Kenapa
berhenti? Teruskanlah. Aku juga suka lagu ini. By the way, kamu Anastasia, anak Sastra Inggris, kan?”
“Ho’oh.”
Aku menjawab dengan bego
“Aku
Sebastian.” Dia mengulurkan tangan. Sebenarnya aku sudah tahu siapa dia. Masa
anak MAPALA tidak tahu ketuanya sendiri?
“Suaramu
bagus banget. Mirip penyanyi aslinya. Kamu suka film GIE, ya?”
Lalu
kami terlibat obrolan seru dan sejak saat itu kami menjadi dekat.
Adikku,
Kau
pasti ingat ketika Sebastian datang ke rumah untuk kuperkenalkan dengan Mama
dan kau. Aku heran melihat reaksinya ketika kuperkenalkan kepada dirimu. Lelaki
lain biasanya terpana memandang kecantikanmu, tapi Sebastian hanya memandangmu
sekilas dan kembali mencurahkan perhatiannya kepadaku.
“Andrea
cantik, ya…?” Godaku waktu itu.
“Iya.”
Jawabnya singkat dan dia tidak bertanya tentang Andrea sama sekali.
Adikku
sayang,
Hari
ini, tepat setahun yang lalu, adalah hari yang paling membahagiakan dalam
hidupku. Hari itu aku resmi dipersunting oleh Sebastian. Dia lelaki sederhana
yang mencintaiku dengan tulus dan menerima diriku apa adanya.
Pernikahan
kami berlangsung sederhana. Kau menjadi pengiringku. Orang-orang berdecak
kagum, bukan karena melihat diriku, tapi karena melihatmu berjalan dibelakangku
dengan anggun sambil memegangi ekor gaun pengantinku. Bahkan di pesta
pernikahanku sendiri, aku tak mampu mendapatkan perhatian sebanyak dirimu.
Tapi
itu bukan masalah bagiku. Cukuplah seorang Sebastian Nathanel WIjaya menungguku
di depan altar untuk bersumpah setia mendampingi hidupku. Cukuplah bagiku.
Andrea
sayang,
Hari-hari
kehidupan berumah tangga kami berlangsung damai, sedamai yang bisa aku harapkan.
Aku dan Sebastian masing-masing memiliki sebuah pekerjaan dan kami telah
memiliki sebuah rumah kecil. Aku bekerja sebagai Dosen. Kadang aku harus keluar
kota karena
mendapatkan tugas untuk menjadi dosen tamu di berbagai Universitas. Sebastian bekerja sebagai seorang web
designer. Dia lebih banyak bekerja dari rumah.
My
sister,
Karier
modelingmu semakin bersinar. Tapi tidak dengan dengan kehidupan cintamu. Seringkali
kau datang kepada kami dengan linangan air mata, bercerita tentang pria-pria
yang kau kencani, yang ternyata brengsek dan hanya menginginkan raga cantikmu.
Aku
dan Sebastian menjadi pendengar dan tempat curhat setia karena kami sayang dan
peduli padamu.
“Kakak
sangat beruntung mempunyai suami seperti Sebastian.” Ujarmu suatu ketika.
“Kau
lebih beruntung, Andrea. Kau memiliki semua yang semua diimpikan oleh seorang
wanita.”
“Kecuali
cinta.”
“Kau
akan menemukannya suatu saat nanti. Pada
waktu dan cara yang indah. Kau akan menikah dengan seorang pangeran yang kau
cintai dan mencintai dirimu apa adanya. Hari itu akan tiba, Andrea.
Bersabarlah…
Andrea
adikku tersayang,
Hari
itu memang benar-benar tiba. Hari pernikahan yang telah kau nantikan sejak
lama. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia kedua dalam hidupku dan Mama.
Hari yang seharusnya berisi dengan senyuman dan suka cita.
Hari
itu seharusnya Mama merasa lega karena berhasil mengantarkan kedua anak gadisnya
memasuki gerbang kehidupan baru. Hari itu seharusnya penuh dengan pesta meriah
dan senda gurau. Hari itu seharusnya kau mendapat ucapan selamat dan doa supaya
rumah tanggamu bahagia selamanya.
Tapi
tidak…
Maaf
Andrea, aku tidak bisa – dan tidak sudi – menghadiri pernikahanmu. Saat
kuselesaikan diary ini, kau pasti tengah bersanding dengan lelaki itu sementara
aku sudah pergi jauh. Papa telah menungguku di belahan bumi Eropa. Aku tidak
akan kembali dan tidak mau kembali.
Andrea,
kehamilanmu yang sudah berusia 4 bulan-lah yang membuatku tak bisa datang di
hari pernikahanmu. Dan laki-laki yang sedang bersanding denganmu saat ini. Aku tak sudi melihatnya. Laki-laki yang telah
menanamkan benih di rahimmu adalah laki-laki yang memberiku benih yang sama. Dia Sebastian. …
‘***



Tidak ada komentar