I Know What You Did on Twitter



Cerpen ini dimuat di Majalah HAI 
Edisi 17 - 23 Februari 2014
I KNOW WHAT YOU DID ON TWITTER
Oleh : Dwi Indarti (@itsjustdwi)

I know what you did on Twitter. Di akun rahasia yang di gembok itu. Di akun yang hanya mempunyai satu follower dan hanya memfollow satu orang. Aku tahu siapa yang kamu follow dan siapa yang mem-follow kamu.

Jangan bertanya atau heran darimana aku bisa tahu. Asal kamu tahu, cowok yang sedang cemburu itu bisa lebih kepo dari hacker manapun. Cowok yang sedang marah itu bisa menyelidiki lebih canggih dari FBI atau CSI. Cowok yang sedang emosi itu bisa lebih lihai dari detektive sekelas Sherlock Holmes atau Conan Edugawa.

Secanggih apapun teknologi masih bisa dibobol. Apalagi kalau cuma akun twitter yang digembok. Apalagi kalau cuma meng-hack password. Dengan bermodalkan WIFI gratis di coffeshop, dalam waktu kurang dari satu jam, aku bisa masuk ke akun rahasia itu dan membaca semua isi TimeLine kamu.  

Jangan pandang remeh kemampuanku. Memang, kelihatannya aku ini cowok cupu, ya? Mungkin di mata kamu, aku ini cowok bodoh, penurut, unyu-unyu, kalem, kuper, dan gampang dibohongin. Mungkin di mata kamu, aku ini cowok yang gagap teknologi dan gak ngerti soal dunia per-twitter-an. 

“Sayang, RT itu apa, sih?” Tanyaku suatu ketika.

“Ya ampun, hari gini gak tahu RT? Kamu tuh ketinggalan jaman banget…!”

“Aku ‘kan gak punya akun Twitter. Aku sukanya Facebook-an.”

Facebook is soo yesterday. Masanya Facebook sudah lewat. Sekarang era-nya twitter.”

“Tapi aku masih suka sama Facebook. Asyik! Banyak game-nya.”

“Kamu itu bisanya cuma main game! Akun Facebook kamu penuh dengan notification permintaan game online atau penawaran barang-barang. Kamu juga banci status! Apa-apa pasang status di Facebook. Kamu seperti ABG labil!”

“Loh, kok kamu gitu, sih!” Cowok mana yang gak sakit hati dibilang ABG labil oleh pacarnya sendiri?

“Makanya, kamu belajar dong bikin akun di twitter…” Kamu menjawab dengan ringan, seolah tidak merasa kalau ucapan yang barusan kamu lontarkan kepadaku itu telah melukai perasaanku.

Dina sayang, kamu terlalu meremehkan aku. Kamu terlalu under-estimate kemampuanku. Tak perlu menunggu hitungan minggu atau hari. Saat itu juga, setelah kamu pergi dengan meninggalkan seberkas luka dihatiku – ‘Damn! Masa aku dibilang ABG labil!’ aku segera membuka sebuah akun di twitter dan mempelajari seluk-beluknya. Hah! Piece of cake! Yang kaya begini mah anak TK juga bisa! 

Kamu tahu tidak? Tujuanku membuka akun di twitter bukan untuk mencari follower Tapi untuk mengikuti gerak-gerikmu. I’ve become a stalker. Aku selalu stalking Timeline kamu. Jangan salahkan aku berbuat seperti ini, ya. Aku seperti ini karena aku merasa kamu sudah berubah. Sangat jauh berubah.

Kamu bukanlah Dina yang aku kenal setahun yang lalu. Kamu bukanlah Dina yang hangat, penuh perhatian, lembut dan penuh cinta. Kamu bukanlah Dina yang dulu tak pernah absen menyapa di BBM setiap pagi dengan sebaris kalimat…

 “Selamat pagi, cinta. Pagi ini terlalu indah untuk dilewatkan di bawah selimut. Bangun, yuk! Kita sama-sama berangkat ke sekolah.”

Sudah selang beberapa waktu ini, tidak ada BBM seperti itu lagi. Tidak ada sapaan hangat selamat pagi, siang atau malam. Tidak ada lagi pertanyaan,” Kamu sudah sampai rumah?” atau “kamu sudah makan belum? Jangan telat makan, ya. Nanti magh kamu kambuh.”

Kamu juga sudah malas BBM-an sama aku. Kalau aku yang mengirim BBM, menunggu balasan dari kamu lama seperti menunggu siput jalan. Seringkali kamu membiarkan pesan BBM aku ‘D’ tanpa membacanya, padahal saat itu kamu sedang seru-seruan berkicau di Twitter. Kamu juga sering membiarkan BBM aku ‘R’ tanpa dibalas. Memangnya BBM aku koran yang cuma dibaca!

“Kamu kenapa, sih?” Tanyaku suatu hari ketika sudah tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi.

“Kenapa, kenapa?” Jawabmu singkat tanpa memandangku.

“Kamu berubah!”

“Berubah kenapa?”

“Kamu sudah gak perhatian lagi sama aku.”

“Maksudnya?”

“Kamu sekarang jauh.”

“Loh? kita kan lagi duduk berhadapan begini. Kok dibilang jauh. Kamu suka lebay, deh!”

“Tapi dari tadi kamu sibuk dengan gadget. Kita gak ngobrol sama sekali. Apa gunanya kalau kita dekat tapi gak saling bicara?”

“Lalu, mau kamu apa sekarang?” Tanyamu kemudian.

“Aku ingin seperti dulu.”

“Tapi aku tidak merasa ada yang berubah.”

“Apakah ada yang lain?” Akhirnya aku mengajukan pertanyaan yang selama ini aku pendam. Kecurigaanku sangat beralasan. Semua sikap Dina belakangan ini mungkin disebabkan oleh orang ketiga. Mungkin ada seorang cowok lain yang menarik perhatiannya dan mengalihkan dunianya.

“Maksudmu?”

“Jangan belaga bodoh, deh. Kamu selingkuh, ya?”

“Hey, jangan nuduh, ya! Mana buktinya?” Dina tiba-tiba menjadi emosi. Nada suaranya meninggi. Aku terhenyak. 

“Aku capek! Pembicaraan ini gak akan berujung kemana pun! Sekarang semua terserah kamu!” Tiba-tiba Dina bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan aku sendiri.

Kecurigaanku akan adanya orang ketiga semakin meruncing sejak pertengkaran itu. Tapi sejauh ini, aku belum menemukan bukti-bukti apapun. Aku dan Dina satu sekolah tapi beda kelas. Aku bisa mengawasinya selama jam-jam sekolah. Namun aku tidak melihat sesuatu yang bisa membuktikan dugaanku.

Aku tidak pernah melihat Dina jalan dengan cowko lain di sekolah. Aku tidak pernah melihat Dina ngobrol berdua dengan Cowok. Kalau pun dia ngobrol dengan cowok, pasti dalam suatu kelompok atau ramai-ramai. Informasi yang aku dapat dari Maya, temanku yang sekelas dengan Dina juga negatif.

“May, kamu tahu gak, sekarang Dina lagi dekat sama siapa?” Tanyaku padanya.

“Loh, kan Dina pacar kamu. Ya dekat sama kamu, dong.”

“Kami lagi break. Aku curiga dia punya cowok lain. Dina sekarang berubah. Dia bukan Dina yang aku kenal dulu.”

“Yah, namanya juga orang pacaran, pasti ada berantem-berantemnya. Sabar saja, Bayu.”

“Tapi apa kamu pernah lihat Dina dekat atau jalan sama cewek lain?” Desakku pada Maya.

“Setahuku tidak pernah. Sehari-hari, Dina selalu berkumpul dengan genk Cheerleadernya. Janet, Rani, Rosa, Putri. Mereka selalu berlima, kayak girlband. Ha ha ha.” Maya tertawa tapi segera berhenti saat melihat ekspresi wajahku.

“Sorry, Bayu. Aku tidak bisa membantumu. Aku benar-benar tidak tahu apakah Dina sedang dekat dengan cowok lain. Pokoknya, kalau sampai aku melihat sesuatu yang mencurigakan, aku langsung cerita ke kamu, ya.”

Titik terang kecurigaanku muncul ketika tanpa sengaja aku menemukan sebuah akun twitter yang mencurigakan. Akun twitter dengan nama @akusayangkamu ini kutemukan di salah satu followermu.  Akun twitter ini terkunci. 

Saat akhirnya aku berhasil meng-hack dan masuk ke dalam akun twitter ini, apa yang aku temukan benar-benar membuatku terkejut setengah mati. Apa yang aku baca di TimeLine-nya membuatku mau pingsan.

Isi timeline-nya bukan saja membuktikan bahwa kecurigaanku benar. Firasatku tentang adanya orang ketiga yang merusak hubunganku dengan Dina memang benar. Tapi, ada yang lebih penting dari semua itu. Sosok misterius yang menjadi penyebab retaknya hubungan kami, benar-benar diluar dugaanku. Aku tidak pernah menyangka sama sekali …

@imyours Thanks untuk malam ini. What a wonderful night...

@akusayangkamu You’re welcome.. Sudah sampai rumah?

@imyours Sudah. Sepuluh menit yang lalu.

@akusayangkamu Sepuluh menit yang lalu? Kok baru ngabarin sekarang. Aku ingin kamu langsung kasih kabar begitu sampai rumah, biar aku tenang.

@imyours tadi aku mandi dulu. Btw, Bayu mulai curiga.

@akusayangkamu curiga bagaimana?

@imyours dia menyangka aku selingkuh dengan cowok lain

@akusayangkamu ha ha ha, tapi benar ‘kan, kamu memang selingkuh

@imyours aku gak selingkuh. Aku hanya menemukan belahan jiwaku dan aku bahagia

@akusayangkamu kamu siap dengan semua resikonya?

@imyours itu dipikirkan nanti saja.

@akusayangkamu iya. Sekarang kita nikmati saja saat-saat ini

@imyours kamu sudah ngantuk, ya?

@akusayangkamu lumayan. Tadi aku makan kekeyangan. Kamu sih, maksa aku ngabisin kwetiaw itu.

@imyours biar kamu gak terlalu kurus, sayang

@akusayangkamu tidur, yuk! Besok ‘kan kita harus latihan cheerleader

@imyours tapi pulangnya kita nge-date lagi, ya. Aku tunggu di tempat yang sama.

@akusayangkamu sure! Semoga anak-anak gak curiga

@imyours Tenang. We are safe. Mereka memang tahunya dari dulu kita dekat

@akusayangkamu Yaudah, goodnight Dina sayang. I Love you.

@imyours goodnight, Janet-ku. Sweet dream

Ja…jadi, Dina itu … ?

‘***






2 komentar

  1. Dear Dwi Indarti. Tulisan-tulisan kamu keren ya? Sering dipublish di majalah pula. Kasih resepnya dong :D

    BalasHapus
  2. Hai... thanks ya udah mampir ke blog ini... resepnya, cuma rajin nulis aja. Tapi kalau lagi gak 'mood' juga males kok... hehehe...

    Salam kenal...

    BalasHapus