Cerpen ini dimuat di Majalah HAI
Edisi 27 Jan - 2 Feb 2014
KESURUPAN
Oleh Dwi Indarti
“Dika kesurupan lagi!” Seru Aryo
“Gila! Ini udah yang ketiga kali
dalam sebulan dia kesurupan di sekolah! Angker banget ini sekolah!” Sahut
Bimbim. Mereka menghampiri kerumunan anak-anak di sudut belakang sekolah.
“Minggir! Minggir!” Bimbim menyibak
kerumunan itu dan mendapati Dika sedang duduk melorot di bawah pohon tua.
Matanya terpejam dan air liurnya berlelehan..
“Siape, lo!” Tanya Dika begitu
Bimbim mendekat.
“Elu yang siape? Ngapain masuk ke
tubuh temen gue?” Tanya Bimbim.
“Gue dedemit penghuni pohon ini!
Udah puluhan tahun gue anteng di sini! Gak ada yang berani gangguin gue. Tapi cowok
ceking ini berbuat kurang ajar sama gue!” Jawab dedemit itu melalui mulut Dika
“Emang dia ngapain?’ Tanya Bimbim.
“Dia kencing di sini! Pas di tempat
tidur gue!”
“Ha ha ha…” Anak-anak yang
berkerumun tertawa terbahak-bahak.
“Diaaaaaaaam!!!” Teriak dedemit
Dika. Anak-anak langsung diam.
“Sekarang lo mau apa biar cepet
pergi dari tubuh temen gue?” Tanya Bimbim.
“Gue minta rokok!” Jawab Dedemit
Dika.
“Gak boleh! Ini sekolah! Dilarang
merokok disini!” Sahut Bimbim.
“Kalo gitu, gue mau minum!”
“Oke! Ada yang bawa air gak?” Teriak Bimbim kepada
teman-temannya. Seorang menyodorkan sebotol air.
“Nih!”
Dedemit Dika menerimanya dan langsung
minum. Tapi baru seteguk, dia melempar botol itu ke arah anak-anak dan membuat
mereka jadi basah.
“Apaan, nih?! Gue mau minum bandrek!
Aaaaaaah…gue marah sekarang!!!” Tiba-tiba dedemit Dika bangkit berdiri
terhuyung-huyung.
“Panggil guru! Panggil guru!” Kata
anak-anak.
“Pak Sofyan, aja! Guru agama. Biar
ngusir si dedemit preman ini.!” Kata Bimbim.
“Jangaaaaaaaaaaaaaaaan!!!”
Teriak dedemit Dika.
“Awas
kalo manggil pak tua jenggotan itu. Gue benci dia!”
“Makanya,
elu pergi dong dari tubuh temen gue.” Kata Bimbim
“Gini
aja, deh. Gue bakal pergi sekarang juga. Tapi ada syaratnya!”
“Apaan?
Jangan yang aneh-aneh, deh!” Kali ini Aryo yang angkat suara.
“Elu
kumpulin uang masing-masing goceng. Trus kubur uang itu dibawah pohon asem
deket pos satpam sekolah. Kasih gambar tengkorak ditempat uang itu dikubur.”
“Kenapa
di pohon asem? Kenapa gak disini aja? Kan
rumah lu disini.”
“Ah,
jangan tanya-tanya! Asal tau aja, pohon asem itu rumah si Markonah, cewek gue!
Cepetan kumpulin kalau mau temen lo ini balik normal!”
“Cepet-cepet!
Demi solidaritas temen. Kasihan si Dika menderita ditumpangin dedemit mata
duitan itu.” Bimbim mengumpulkan duit dari teman-temannya dan salah seorang
dari mereka pergi ke pohon asem yang ditunjuk untuk menguburkannya.
“Udah,
tuh! Sekarang elu pergi dari sini!”
“Tengkyu,
cuy! See you…Ha ha ha ….” Tawa melengking itu lenyap seiring tubuh Dika
yang roboh ke tanah.
“Dika,
Dika, elu gak papa?” Bimbim mengguncang-guncang tubuh Dika.
“Eh,
Bimbim. Elu ngapain? Kenapa gue ada di sini?” Tanya Dika bingung. Dia
garuk-garuk kepala dan memandangi wajah teman-temannya satu per satu.
“Lo
abis kesurupan lagi. Gue heran, belakangan ini elu sering kesurupan. Pikiran lo
jangan kosong! Lagi banyak masalah? Cerita aja, bro! Kalau jiwa kita labil,
maka akan mudah sekali dikuasai mahluk ghoib!”
Tutur Bimbim sok bijaksana.
“Ah,
nggak kok. Gue lagi apes aje, kali! Tapi guru-guru gak tau, kan?”
“Kagak!”
“Thanks,
sob!”
“Sekarang
elu udah baikan? Mau ikut pelajaran apa mau pulang?”
“Gue
gak papa, kok. Gue ke kelas aja.”
Mereka
bubar karena bel tanda masuk berbunyi.
“Bim,
gue curiga deh sama si Dika. Ada
keanehan setiap kali dia kesurupan.” Bisik Aryo ketika mereka berjalan berdua
menuju kelas.
“Hmm…iya,
sih. Aneh! Semua setan yang ngerasukin dia selalu minta duit.” Jawab Bimbim.
“Nah,
itu dia! Coba inget, waktu kesurupan yang pertama, kuntilanak yang merasukinya
nyuruh ngumpulin duit dua ribuan seorang trus di gantung di kusen gudang tua
sekolah. Gue inget waktu itu terkumpul uang sekitar 20 ribuan. Kesurupan yang
kedua, genderuwo yang nempel di tubuhnya nyuruh kita ngumpulin duit tiga ribuan
dan di masukin plastik trus di taro di WC rusak. Sekarang, dedemit itu nyuruh
kita kumpulin goceng satu orang. Tadi ada sekitar 10 anak. Berarti terkumpul
uang sekitar 50 ribuan. Lumayan, kan!”
“Iya,
bener juga. Trus, setan-setan itu selalu melarang kita manggil guru!”
“Jangan-jangan…”
“Harus
kita selidikin! Kita awasin Dika dari sekarang. Coba elu liat, dia ada di
kelasnya gak?” Kata Bimbim. Aryo segera minta ijin keluar kelas pada Pak Beni.
Kelas Dika, 2 IPS 2, berada di sebelah kelas Bimbim dan Aryo, 2 IPS 1. Lima menit kemudian Aryo
balik.
“86!
Doi duduk anteng di bangkunya!”
Seharian
itu, Bimbim dan Aryo mengawasi Dika dari jauh Mereka terpaksa pulang sangat
telat karena Dika betah sekali duduk di kantin sampai sekolah sepi.
“Bim!
Target bergerak!” Aryo menjawil Bimbim. Mereka sedang duduk di tepi lapangan
basket menunggu Dika keluar dari kantin. Saat itu hampir jam 3 sore. Sekolah
sudah sepi.
“Ikutin!”
Komando Bimbim.
Mereka
melihat Dika berjalan santai ke gerbang sekolah. Tapi beberapa langkah sebelum
gerbang, dia celingukan. Lalu dia berbelok mendekati pos satpam yang kosong.
Dika menyelinap ke belakang pos satpam itu dan mendekati pohon asem.
Dia
mengeluarkan sekop kecil dari tasnya. Segera saja dia melihat gambar tengkorak
di dahan pohon. Dengan semangat 45, dia mulai menggali.
Tak lama kemudian, dia
mengibas-ngibaskan plastik berisi uang. Wajahnya berseri-seri seperti bohlam 40
watt.
“Ha ha ha! Goblok tuh, anak-anak!
Gampang banget dikibulin!” Dika terkekeh-kekeh sendiri.
“Siapa yang goblok?!” Tawa Dika
lenyap seketika melihat Aryo dan Bimbim.
“Kurang aja, lu penipu! Balikin duit
anak-anak! Kalo gak, gue laporin kepala sekolah biar elu dikeluarin dari
sekolah ini!” Bimbim mencengkram kerah baju Dika. Badan Bimbim, sang ketua
OSIS, ukurannya tiga kali badan Dika yang kurus kering.
“Am…ampun,
Bim!” Dika mencicit.
“Ampun…ampun!
Gue gibeng, lo!” Bimbim siap
mendaratkan bogem mentah ke wajah Dika, tapi dicegah Aryo.
“Tahan,
Bim. Kita dengar penjelasan si cungkring ini dulu. Kenapa elu berbuat begini?”
“Gue
perlu duit, Yo! Ortu gue cerai. Bokap udah gak ngasih nafkah ke nyokap. Gue
perlu duit ongkos ke sekolah.”
“Tapi
bukan cara begini elu cari duit!” Sembur Bimbim.
“Iya,
gue tau, gue salah. Gue janji gak bakal ngulangin lagi. Tapi plis, jangan
laporin gue ke Kepsek. Pliss…” Dika memelas.
“Ah,
banci! Elu harus mempertanggung jawabkan perbuatan elu!”
“Plis,
Bim. Gue bakal balikin duit anak-anak. Kasih gue waktu. Gue janji! Tapi jangan
lapor, ya…Elu kan
ketua OSIS paling baik di seluruh jagad raya!”
“Akh,
dasar lintah penjilat! Awas, kalo elu sampe nipu lagi, NO MERCY! Kali ini gue
maklumin.Elu harus balikin duit anak-anak!”
“Makasih,
brader! Gue minta waktu. Gue bakal
cari kerjaan yang halal. Btw, kok elu
bisa mengendus gue, sih? Acting gue kurang meyakinkan, ye?” Tanya Dika ketika
mereka berjalan pulang meninggalkan sekolah.
“Acting
lo, keren, Dik! Gak percuma elu ikut eskul teater. Tapi elu bego…” Sahut Aryo.
“Maksud,
looo?”
“Iya,
elu bego! Harusnya elu riset dulu. Gue yang sering kencing di pohon itu dan gak
pernah kesurupan…” Kata Aryo.
“Hah!
Elu sering kencing di pohon itu, Yo?!” Tanya Bimbim.
“Iya…”
Tiba-tiba Aryo mematung. Gubrak! Dia jatuh terjerembab. Detik berikutnya, dia
tertawa-tawa seperti orang gila.
“Toloong…ada
yang kesurupan!!!” Bimbim dan Dika berteriak.
‘***



Tidak ada komentar