Cerpen ini dimuat di Majalah HAI
Edisi 10-16 Februari 2014
JALAN KELUAR
Oleh Dwi Indarti
(@itsjustdwi)
Inikah jalan keluarnya? Inikah satu-satunya cara untuk
menyelesaikan masalah? Dia mendengarkan rencana yang sedang disampaikan oleh
Joe dengan pikiran kalut.
“Gampang, kan?” Joe bertanya..
“Apanya?” Tanyanya bego.
“Rencana yang barusan gue omongin! Elu dengerin gue gak,
sih?” Nada suara Joe meninggi.
“Gue dengar. Tapi…”
“Tapi apa? Elu takut? Jangan khawatir! Elu gak perlu turun
tangan langsung. Biar gue yang melakukannya. Elu cukup ‘ngeback-up’ gue.”
“Entahlah, Joe…” Dia semakin kalut. Tadinya dia pikir,
dengan bercerita kepada Joe, dia bisa mendapatkan jalan keluar dari masalah
yang sedang dihadapinya. Tadinya dia pikir, Joe akan memberinya sebuah ide yang
bisa dia lakukan untuk menyelesaikan masalahnya. Memang, Joe memberinya sebuah
ide. Tapi, ide yang dilontarkan Joe benar-benar diluar dugaan.
“Oke. Gue ngerti perasaan elu saat ini. Gue kasih waktu
untuk berpikir. Kalau elu mau ikut, gue tunggu nanti sore jam lima di depan
pintu masuk XXI. Rencananya seperti yang tadi gue bilang. Kalau elu gak datang,
berarti elu nolak. Jangan khawatir, gue gak bakal marah. Gue cuma nawarin
sebuah jalan keluar dari masalah yang sedang elu hadapi saat ini.”
“Joe, elu sering melakukan hal ini?”
“Beberapa kali.”
“Hasilnya?”
“Lumayan.”
“Siapa saja yang tahu?”
“Elu adalah orang pertama dan satu-satunya yang tahu. Itu
pun karena elu cerita tentang masalah yang saat ini harus elu selesaikan
secepatnya. Gue lebih suka jadi single fighter. Tapi, karena elu teman
gue dan elu lagi butuh bantuan, gue bersedia berpartner.”
“Sejak kapan elu melakukan hal ini, Joe?”
“Sejak bokap gue meninggal dan nyokap gue terpaksa kerja
serabutan. Gue harus terus sekolah dan diterima dilingkungan teman-teman. Saat
itulah gue sadar bahwa gue harus melakukan sesuatu.” Nada suara Joe terdengar
sedikit bergetar dan melunak. Tapi dia cepat menyadarinya dan kembali menjadi
Joe yang penuh misteri.
“Oke! Gue tunggu keputusan elu nanti sore, jam lima!” Joe
menepuk bahunya sebelum pergi. Dia masih berdiri termangu di depan gerbang
sekolah beberapa saat sepeninggal Joe. Bunyi derit gerbang sekolah yang ditutup
oleh Penjaga sekolah-lah yang menyadarkannya untuk berlalu.
Sepanjang jalan dia memikirkan rencana Joe dan masalah yang
sedang dihadapinya.
‘***
‘Dimana sih amplop itu?’ Dia membongkar tas untuk yang
ketiga kali. Kali ini dia mengeluarkan seluruh isinya. Lembar demi lembar buku
dibalik dengan brutal, berharap menemukan amplop putih terselip
diantaranya. Nihil.
“Cari apaan, lu?” Tanya Mike, teman sebangkunya.
“Handphone.” Dia berbohong. Dia tak tahu kenapa dia
memberikan jawaban bohong kepada Mike. Yang ada dipikirannya hanya satu. Tidak
boleh ada yang tahu bahwa dia telah menghilangkan amplop yang berisi uang kas
Osis.
“Lah? Itu dikantong lu, apa?” Mike menunjuk saku kemeja
putihnya.
“Oia! Bego bener gue!” Dia menepuk dahinya. Acting.
Sepanjang pagi itu, pikirannya hanya tertuju pada amplop
yang berisi uang sejumlah satu juta rupiah. Dia mengurut kejadian-kejadian
sebelumnya dan berharap menemukan celah yang dia lupakan.
Kemarin malam, Gracia datang ke rumahnya untuk menitipkan
amplop itu kepadanya.
“Tolong berikan uang ini ke Reynaldi, ketua Osis kita, ya.
Elu satu tim basket sama dia, kan? Uang ini untuk bayar DP band yang bakal main
di Pensi kita nanti. ” Kata gadis cantik bendahara Osis itu.
“Memangnya besok elu gak masuk sekolah? Kok dititipin ke
gue?”
“Besok gue harus ke Semarang Ada sepupu gue yang mau nikah
di sana. Gue titip duit ini karena gue percaya sama elu.” Gracia tersenyum
manis.
Itulah terakhir kali dia ingat tentang keberadaan amplop
putih berisi uang satu juta. Selanjutnya dia lupa karena terlibat obrolan seru
dengan Gracia sampai larut malam, sampai Gracia di jemput oleh kakaknya dan
pulang. Yang dia ingat hanyalah senyum manis gadis itu, obrolan tentang hal
sepele yang menjadi tidak sepele, dan rasa aneh yang menjalar di dadanya.
Sepertinya, dia menyukai Gracia lebih dari sekedar teman.
Dia lupa sama sekali
tentang amplop uang itu sampai tadi pagi, saat dia harus menyerahkannya kepada
Reynadi.
Kegalauannya berlanjut sampai sekolah berakhir. Kemudian dia
bertemu Joe, sahabat lamanya yang beda kelas. Entah kenapa, dia menceritakan
hal yang sebenarnya kepada Joe. Mungkin karena dia sudah mengganggap Joe
seperti saudaranya sendiri, mengingat mereka telah bersahabat sejak bangku SD.
Lalu Joe membeberkan sebuah rencana yang menurutnya gila.
“Cewek-cewek itu gak bakal sadar kalau Hpnya hilang.”
“Ta…tapi?”
“Begini, gue bakal mengamati sekeliling selama beberapa
saat, sampai gue menentukan calon korban. Kalau calon korban sudah dapat, gue
bakal melakukan aksi dengan pura-pura menabrak atau jatuh di depannya.’
“Itu namanya mencuri, Joe!”
“Kalau beruntung, kita bakal dapat Gadget yang lumayan mahal
dan langsung dijual di toko langganan. Gue udah kenal sama pemilik toko HP itu
dan dia gak bakal banyak tanya.” Celoteh Joe tanpa memperdulikan protes
darinya.
“Kalau elu mau ikut, elu cukup memback up gue dengan memberi
gue kode aman untuk melakukan aksi. ”
Inikah jalan keluar satu-satunya dari masalahnya? Andai saja
dia punya tabungan sebesar satu juta rupiah untuk mengganti uang yang hilang
itu, tentu dia tidak akan segalau ini. Meminta uang kepada Ayah atau ibu, jelas
bukan pilihan yang bagus. Orang tuanya belum tentu akan membantunya, tapi sudah
pasti akan menghukumnya. Menelphone Gracia untuk memberitatahu bahwa dia telah
menghilangkan uang titipan, jelas pilihan yang bodoh. Cewek itu akan mencap dia
sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Meskipun kenyataannya demikian. Dia
memang tidak bisa bertanggung jawab menjaga titipan sebuah amplop.
Jadi, apakah rencana Joe adalah jalan keluarnya? Sore itu,
jam lima, dia pun bertemu Joe di depan XXI.
‘***
“Ronald!” Dia menoleh. Gracia berlari-lari kecil menuju ke
arahnya.
“Hai! Kamu sudah balik dari Semarang?” Dia tersenyum lebar
melihat pipi Gracia kemerahan karena berlari mengejarnya.
“Sudah. Semalam. Gue cuma sehari di sana. By the way,
terima kasih, ya.”
“Untuk apa?”
“Untuk mau direpotin dengan titipan uang tempo hari.”
“Oh, itu. Sama sekali gak repot, kok. Kalau ada yang bisa
gue bantu untuk acara pensi, jangan ragu-ragu. Gue siap sedia!”
“Serius nih? Kalau disuruh jadi tiang panggung, mau dong?”
Goda Gracia. Rasanya dia ingin mencubit pipi mulus Gracia saking gemasnya.
Mereka tertawa-tawa di koridor sekolah, melewati beberapa anak yang berkerumun.
“Eh, udah dengar berita terbaru?” Tanya Gracia.
“Tentang?”
“Tentang anak kelas sebelah yang semalam ditangkap polisi
karena mencuri Handphone di Mall. Kalau gak salah, namanya Joe. Elu kenal?”
Dia menghentikan langkahnya mendadak. Beberapa anak yang
berjalan dibelakang hampir menabraknya. Jantungnya seperti berhenti berdetak.
“Elu serius?” Tanyanya kepada Gracia, meyakinkan.
“Masa gue bohong untuk hal seperti ini? Gue dengar langsung
dari Guru BP yang cerita di ruang guru pagi ini saat gue mengantarkan surat
ijin tidak masuk sekolah. Katanya, kemaren sore, sekolah mendapat laporan dari
pihak kepolisian bahwa ada siswa yang kedatapan mencuri HP dari pengunjung
Mall. Kejadiannya di depan XXI, saat bubaran bioskop. Belakangan, siswa itu
diketahui bernama Joe Siswanto, anak kelas XII C. Parahnya lagi, hal ini
bukanlah yang pertama. Joe telah melakukan beberapa kali aksi pencopetan di
Mall…”
Suara Gracia seolah memudar dan menjauh.
‘***
Kemarin siang, sesampainya di rumah, dia langsung membanting
badannya di atas kasur. Pikirannya sangat kacau. Suara ketukan di pintu
kamarnya pun tidak diindahkan.
“Mas Ronald, makan siangnya sudah siap.” Mbok Darmi membuka
pintu kamarnya hati-hati.
“Gak lapar, Mbok…” Suaranya teredam bantal. Dia masih dalam
posisi menelungkup.
“Ya sudah. Nanti kalau Mas Ronald mau makan, Mbok hangatkan
sayurnya. Oia, Mas. Tadi pagi Mbok nemu amplop putih di bawah meja belajar Mas
Ronald. Tuh, amplopnya mbok taruh di bawah DVD Player.”
Kata-kata Mbok Darmi seperti halilintar yang menyambar.
Segera dia lompat dari tempat tidurnya, mengambil amplop putih di tempat yang
dibilang oleh mbok Darmi, dan memeluk Mbok Darmi erat sekali.
“Terima kasih, Mbok! Terima kasih, Tuhan!” Dia mencium
amplop itu berkali-kali. Mbok Darmi melongo.
Dia bergegas menyalakan motor dan
menuju rumah Reynaldi untuk menyerahkan titipan amplop itu.
“Kenapa gak elu kasih pas di sekolah tadi? Gue pikir Gracia
lupa nitipin.”
“Sorry Bos, ketinggalan di rumah.”
“Kalau gitu, temenin gue ke Mall yuk! Gue mau ketemu sama
Manager Band yang bakal ngisi acara Pensi kita untuk kasih uang muka ini.”
Sore itu dia menemani Reynaldi ke Mall. Ketika melewati XXI,
dia melihat Joe ada di sana. Joe pun melihatnya. Joe mahfum bahwa dia tidak
ikut dalam rencananya. Dia sempat mengkhawatirkan Joe. Dia ingin mengingatkan
temannya itu agar tidak melaksanakan rencananya. Tapi, semua itu hanya mampu
diucapkan dalam hati. Dia bertekad untuk bicara dengan Joe nanti, jika waktunya
tepat.
Ternyata, semua sudah terlambat…
‘***



Tidak ada komentar