Si Tukang Ngambek


 Cerpen ini dimuat di PERCIKAN Majalah GADIS
Edisi 12-21 November 2013
Si Tukang Ngambek
Oleh Dwi Indarti
            Capek, tau gak! Punya partner tukang ngambek kayak kamu. Sedikit-sedikit pundung. Kamu tahu ‘kan artinya pundung? Itu bahasa Sunda, artinya ngambek. Sebentar-sebentar medodot. Coba, apa artinya medodot? Ya, kamu itu! Si tukang ngambek. Kamu itu ternyata sensitif banget, ya. Melebihi cewek yang lagi PMS.
            Jalan sama kamu enaknya cuma sebentar. Cuma di awal-awal masa perkenalan. Dulu sih, first impression kamu oke banget! Siapa yang gak bangga punya partner keren. Semua temanku menggagumimu dan berdecak iri.
            “Ih, gue iri deh sama elo, Ketty! Partner elo keren banget, sih!”
            “Gue juga mau yang kayak gitu, Ket!”
            “Kalau elo udah bosen, dilungsurin ke gue juga mau, kok!”
            Tuh, kamu dengar sendiri ‘kan semua komentar teman-temanku tentang kamu. Gimana aku gak bangga dan semakin sayang sama kamu. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kamu.
            Tapi apa balasan kamu kepadaku? Aku rasa, pepatah ‘Dikasih hati minta jeroan’ itu berlaku untuk hubungan kita. Semakin aku kasih, semakin kamu meminta lebih. Semakin aku beri, semakin kamu menuntut banyak. Rasanya, tak pernah cukup semua hal yang telah aku berikan kepadamu.
            Asal kamu tahu, ya, kesabaran itu ada batasnya. Aku sudah mencoba untuk bertahan sama kamu. Enam bulan memang masih terlalu muda untuk sebuah hubungan. Tapi enam bulan, aku rasa cukup untuk mempelajari karakter dan menentukan apakah hubungan ini akan terus berlanjut atau disudahi saja.
            Aku sebenarnya sudah sayang sama kamu. Kamu banyak membantuku dan meringankan tugas-tugasku. Tapi aku gak tahan sama sifat ambekan kamu. Baru saja seminggu kita akur dan jalan bareng lagi, eh, sekarang kamu sudah berulah lagi. Capek, tau! Capeeeeek!

            Sorry, aku rasa sudah cukup. Aku gak mau membuang energi sia-sia. Kejadian barusan telah membuka mataku lebar-lebar. Kini aku benar-benar sadar bahwa kita harus berpisah jalan. Aku harus melepasmu. Ini menjadi yang terakhir kali aku mau jalan sama kamu.
            Kamu nanti instropeksi diri, ya. Kamu minta tolong siapa kek, untuk membantu memperbaiki dirimu. Semoga nanti kamu bertemu dengan partner yang lebih baik dan lebih sabar dari aku.
            Enam bulan kebersamaan kita memberi sebuah pelajaran berharga untukku. Bahwasanya janganlah menilai sesuatu dari tampilan luarnya. ‘Don’t judge a book by its cover’. ‘Not all the glitter is gold’. Gak semua yang berkilau itu emas. Kamu adalah bukti nyata.
            Siapa sih yang gak bakal meleleh melihat tampilan kamu? Siapa sih yang gak langsung suka sama kamu? Siapa sih yang bisa menolak kamu? Itulah yang terjadi kepadaku, dulu. Saat pertama kali kamu datang di kehidupanku.
            Hhh… tapi sudahlah. Semua sudah berlalu. Tak ada yang perlu disesali. Hari-hari indah bersamamu sudah berakhir. Juga hari-hari kacau, harus aku akhiri, kalau aku tidak mau terjebak dalam keluhanku sendiri. Aku gak mau jadi orang yang selalu mengeluhkan kamu, tapi tetap jalan sama kamu. No way!
            Sekarang, aku antar kamu untuk yang terakhir kali, ya. Setelah itu, aku gak mau ketemu kamu lagi. Biar nanti Papa yang jemput kamu. Terserah Papa saja, mau gimana selanjutnya.
            Capek, tau! Setiap hari dorong-dorong sejauh dua kilometer. Capek, tau! Setiap hari ngabisin duit untuk kamu yang super boros. Capek, tau punya partner yang cemen, menyek-menyek dan gak tahan banting. Masa cuma gara-gara aku nerobos lobang saja, kamu mati total! Dasar motor butut!

3 komentar

  1. Wah.!! Bagus ceritanya,,
    endingnya ng ketebak,, qu pikir tadi yg diceritain cowok keren super tajir,, eh nyatanya cuma motor butut.,
    dinyanyian phoenix semua cerpennya dimuat ea,, hebat!!

    BalasHapus
  2. thanks udah mampir ke sini ... iya, blog ini semacam tempat utk nyimpen karya yg udah di publish... buat dokumentasi pribadi aja...

    Makasia lagi ya... Salam kenal

    BalasHapus
  3. Wah, Mbak Dwi, aku baru sadar, kita pernah satu edisi ternyata. Di sini, ada cerpenku Melodi Aubrey. Pertama kali dimuat di Gadis, dan jingkrak2 rasanya *lebai, hehe

    BalasHapus