Bukan Sesuatu Yang Instant

-->

Tulisan ini dimuat di Rubrik Dapur Penulis
Majalah Annida Online 
“Di dunia ini cuma mie dan kopi yang instant” by Twitter
Pengalaman telah membuktikan, bahwa menulis bukanlah sesuatu yang instant. Bukti ini saya alami sendiri. Dua tahun lamanya saya menunggu tulisan pertama saya tembus di media. Dua tahun, saya ‘menawarkan’ puluhan judul cerpen ke berbagai media.
 Dua tahun, saya harus terbiasa oleh email-email yang berbunyi, maaf, tulisan anda belum layak dimuat di Media kami. Tapi email-email penolakan itu masih lebih baik dibanding ‘kesunyian’ tanpa kabar apapun. Seolah naskah-naskah yang saya tulis dengan susah payah itu hilang ditelan bumi. That’s why, saya tidak pernah menghapus email-email penolakan dari redaksi. Karena bagi saya, mendapat respon dari redaksi, meskipun respon negative, itu sudah sangat menggembirakan.
            Jadi, bagaimana rasanya ketika akhirnya salah satu cerpen saya dimuat? Rasanya….ah, rasakan sendiri saja. Saya tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata. Silahkan kawan merasakan sendiri. Apa yang nanti kawan rasakan saat melihat cerpen dimuat di sebuah media, saat nama kita tercetak, saat deretan kata-kata yang kita tulis dihiasi oleh ilustrasi, saat menyadari bahwa cerita imajinasi kita dibaca oleh banyak orang, rasanya…. Yah, seperti itulah. Saya merasa seperti yang kawan rasakan itu…!


            Bagaimana dengan honor tulisan? Ah, ini bukan tentang sejumlah uang yang masuk ke rekening kita. Meskipun, tidak munafik, sangat mengaharapkan adanya penghargaan terhadap karya intelektual kita. Tapi, angka-angka itu akan habis dalam sekejap, sementara tulisan kita akan abadi. Angka yang masuk ke dalam rekening tidak berarti dibanding dengan angka yang tercantum pada media online yang menginformasikan berapa kali cerpen kita dibaca. Percaya, deh. Melihat tulisan cerpen ini telah dibaca sekian kali itu rasanya….*senyum lebar.
            Menulis juga bukanlah sesuatu yang bisa dihentikan begitu saja. Sekali kita berhenti menulis, maka kemampuan itu akan memudar pelan-pelan. Tapi begitu kita mulai menulis, seringkali susah untuk berhenti.
            Dulu, saat pertama kali bergabung dalam sebuah komunitas menulis Forum Lingkar Pena, seorang mentor bertanya,”Tentukan dari sekarang, apakah menulis itu anda jadikan sebuah hobby atau profesi?” Karena orientasi ke depan akan tergantung pada pilihan hobby atau profesi.
            Saat itu juga, hati saya langsung menjawab, “Hobby!”. Yap, karena bagi saya menulis adalah hobby. Bermula dari hobby membaca.
            Seumpama amphibi, saya merasa hidup dalam dua dunia, dunia nyata dan dunia buku. Suatu saat, saya berada di balik partisi kantor, menghadapi komputer, tenggelam dalam rutinitas kerja sehari-hari yang monoton.
            Namun, disaat yang lain, saya seperti berada di Kastil Hogwards, menghadapi pelajaran-pelajaran sihir, menyusuri lorong-lorong rahasia, memecahkan misteri-misteri, terbang di atas sapu dan menggumamkan mantra-mantra sihir.
            Atau, saya bisa berada di tengah eksotiknya kota Paris, menikmati kemegahan si Nyonya Besar, Menara Eifel sambil memecahkan misteri pembunuhan seorang kutator terkenal Jacques Sauniere di Galeri Agung Museum terbesar di dunia, Louvre.
            Di saat lain, jiwa dan raga menyatu, menyimak uraian dosen dalam ruang kampus, namun setelah itu, jiwa saya terbang meninggalkan raga yang tertelungkup di atas kasur, berasyik-masyuk dengan Edward Cullen, si vampire yang tampan, berkhayal seandainya saya secantik Isabella Swan.
            Rasanya sangat menyenangkan, mempunyai dunia lain yang bisa mengalihkan pikiran untuk sementara. Kala kehidupan di dunia nyata terasa begitu sesak oleh berbagai persoalan, saya bisa berimigrasi sejenak ke dunia buku. Selintas pikiran berkelebat dalam benak saya. “Kalau saya bisa membaca, saya pasti bisa menulis!”
            Aku sangat kagum kepada para penulis. Bagaimana mereka dapat menyihir, memperngaruhi jalan pikiran seseorang, mengobarkan semangat, mengharu biru perasaan, menyampaikan ide-ide, mendreskipsikan seseorang atau suatu tempat dengan sangat detil, sehingga kita seolah bisa melihat jelas apa yang dideskripsikan, atau menggambarkan imajinasi mereka yang kadang liar dan melompat sangat jauh.
            Atau bagaimana seorang penulis bisa menyampaikan pesan-pesan kebaikan tanpa si pembaca merasa digurui, dan bahkan seorang penulis bisa menyebarkan kejahatan yang terselubung. Semua itu ‘hanya’ melalui kata-kata. Keren, kan? Makanya saya ingin menjadi penulis. Keren, sih…


            Seringkali saya ditanya, darimana sih dapat ide untuk membuat cerpen. Saya yakin, semua orang yang sudah menulis cerpen akan memberikan jawaban yang sama, “Dari mana saja! Ide itu tak terbatas. The sky is the limit!” Biasanya, mereka yang bertanya tentang dari mana dapat ide menulis itu, belum mulai menulis. Mereka hanya sebatas berniat untuk menulis.
            Writing is about practicing. Menulis itu praktek. Karena sebanyak apapun teori menulis yang kita kuasai, serajin apapun kita mengikuti workshop-workshop kepenulisan, setelaten apapun kita mencatat tips-tips dari penulis-penulis hebat, tapi kalau tidak langsung praktek, maka semua itu NOL besar.
            Lantas jika ada yang bertanya,”tulisan yang bagus itu yang seperti apa, sih?” Untuk pertanyaan seperti ini, jawaban yang saya sukai adalah jawaban yang saya contek dari mentor saya di FLP, Taufan E Prast. “Tulisan yang bagus itu adalah tulisan yang selesai.” He he he
            Jujur deh, berapa banyak kita menulis sebuah cerita, lalu mengalamai writer’s block’ ditengah-tengah dan berhenti. Kemudian membuat tulisan baru lagi. Mengalami kebuntuan lagi, berhenti lagi, mulai nulis yang lain lagi. Walhasil, banyak file-file kita yang berisi ‘unfinished writings’.
            Jadi, saya berusaha menyelesaikan apa yang sedang saya tulis. Sampai titik terakhir. Kalau saya mengalami kebuntuan ditengah-tengah, maka saya akan berhenti sementara. Lalu kemudian melanjutkan lagi. Saya tidak akan membuka worksheet baru sebelum menyelesaikan tulisan saya yang belum selesai. Tidak peduli ada ide lain yang sudah membuncah di kepala, jika tulisan yang satu belum selesai, maka saya akan mengabaikan ide-ide yang lain. Well, cara ini yang mungkin efektif bagi saya. Belum tentu buat orang lain. “Cara gue, beda!” – saya suka tagline ini.
            Apa sih yang paling susah saat menulis? Bagi saya, yang paling susah adalah menemukan kalimat pertama. Kata pertama, deh! Karena, kalimat pertama itu adalah daya tarik sebuah cerpen. Kita tentu tidak berharap redaksi yang membaca cerpen kita langsung jatuh tertidur saat membaca paragraph pertama, kan?
            Bagi saya, kata pertama, kemudian menjadi kalimat pertama, kemudian menjadi paragraph pertama, adalah bagian yang terberat. Saya sering mengendapkan sebuah ide cerita di kepala selama berhari-hari karena belum menemukan kata pertama pembuka yang ‘oke’. Begitu sudah mendapatkan kalimat pertama, biasanya langsung menderas sampai kadang susah dihentikan.
            Belakangan ini saya suka sekali memperhatikan foto-foto, terutama foto yang menampilkan sisi-sisi kemanusiaan. Dari sana saya dapat banyak ide. Seperti cerpen “Balada Mimin” yang saya tulis setelah melihat foto pemenang WPP. Ini hanya setitik sumber ide dari lautan sumber ide yang lain.
            Akhir kata, menulis itu, ya menulis. Gak perlu berpanjang-panjang teori. Gak perlu menghapal rumus. Ayo, mulai. Right here, right now. Lantas, bersabarlah …
            Jika sudah dimuat, menulislah lagi-lagi dan lagi. Jangan dimasukkan ke dalam hati komentar orang yang bilang, “tulisan kamu bagus”. Karena sesungguhnya pujian terhadap tulisan kita adalah racun yang sangat mematikan. Tapi, dengarkanlah dengan seksama orang yang mengkritik tulisan-tulisan kita. Itu yang kita butuhkan.
Oia, saya termasuk orang yang merasa malu membaca tulisan saya sendiri. Kalau sudah dimuat di media, biasanya saya hanya membaca sekali. Rasanya, “ih, kok tulisan gw begini, sih?” dan bertekad untuk memperbaiki lagi.
            Bagi kawan-kawan yang ingin membaca karya-karya saya, silahkan mampir ke blog ini. Yuk, temenan di twitter. @itsjustdwi
            Semangat!


Tidak ada komentar