Lelaki Cemara Angin

-->
Cerpen ini dimuat di Majalah HAI
Edisi 17 - 23 Juni 2013
 Lelaki Cemara Angin
Oleh Dwi Indarti (@itsjustdwi)
Kawan, mari kuceritakan tentang seorang lelaki cemara angin. Lelaki yang masuk dalam hidupku secara tiba-tiba, kemudian pergi begitu saja. Kehadirannya hanya sekejap mata. Namun, waktu pertemanan yang tak lebih dari seumur jagung itu telah mengubahku selamanya. 

Maka di sinilah aku sekarang.. Duduk di atas tempat tidur yang nyaman sambil memangku laptop. Hal yang tak mungkin aku lakukan di masa lalu. Di masa-masa sebelum dia menjamah kehidupanku.
Sering aku berfikir, betapa Tuhan mempunyai sejuta cara misterius untuk mengirim seorang malaikat penyelamat. Seperti kejadian siang itu…
Shit!” Aku mengumpat keras-keras. Tiger-ku terbanting dan tubuhku terpental. Kurasakan perih menjalar di lengan kananku. Darah mulai merembes, membasahi seragam putih. Ada sobekan panjang di celana abu-abuku. Dibaliknya ada sebuah luka segar. Aku meringis. Kemudian aku melihatnya…
“WOI! Mau ngapain lo!” Aku berteriak. Susah payah aku bangun, demi melihat seorang lelaki menghampiri Tiger-ku. Dia membawa motorku ke pinggir jalan lalu menghampiriku. Mulutnya tak mengucapkan sepatah katapun ketika dia menarikku berdiri dan memapahku berjalan. Aku tak bisa melawan.
“Ouch! Sakit!” Aku memaki ketika dia menyiram luka-lukaku dengan air , mengolesi dengan obat merah, lalu menutupnya dengan sobekan kain. Dia sama sekali tak bersuara atau tersinggung mendengar makianku. “Orang gagu!” Pikirku.

“Ban motormu pecah. Ban dalamnya banyak paku…” Akhirnya dia berbicara. Suaranya dalam dan tenang.
 “Tambal ban terdekat ada di depan. Dua kilo dari sini. Kau harus menuntun motormu ke sana. Kau sanggup?” Tanyanya. Kini aku yang terdiam. Gerakan sekecil apapun membuatku meringis kesakitan.
“Mau minum?” Dia menyodorkan sebotol air mineral kepadaku. Aku menerimanya. Tenggorokanku sangat kering.
“Ngapain sih ngebut seperti itu?” Tanyanya.
“Kalau musuh lo ada dibelakang dan elo gak siap untuk ngadepin mereka, hal terbaik yang bisa elo lakukan adalah kabur.” Jawabku.
“Hhh! Tawuran!” Dia mendengus dengan ekspresi kesal dan jijik. Aku meraba-raba kantong celana abu-abu. Mulutku terasa asam.
“Tuh, rokokmu!” Dia menunjuk dus rokokku yang sudah gepeng terlindas mobil-mobil di tengah jalan. Aku mengumpat.
“Lo punya gak? Bagi dong!”
“Aku gak ngerokok. Yuk, aku antar kamu pulang. Kamu bisa jalan ‘kan? Aku yang nuntun motormu. Rumahmu dimana?”
“Suwiryo, Menteng.” Aku menyebutkan nama jalan rumahku.
“Gak terlalu jauh.” Dia membantuku berdiri. Aku berjalan tertatih-tatih berpegangan pada lengannya sementara dia menuntun Tiger-ku.
“Kaca spion pecah, body kanan baret, knalpotnya penyok.” Dia menjabarkan kerusakan motorku akibat terjatuh tadi.
“Gak masalah. Gue tinggal minta motor baru sama bokap.”
“Hmm…anak orang kaya.” Dia bergumam pelan tapi aku bisa mendengarnya. Yeah, aku memang anak orang kaya. Mau gimana lagi?  Papaku pengusaha tambang. Aku anak semata wayang. Kalo aku ingin sesuatu, aku tinggal ngomong, tinggal tunjuk, dan PLOP !  Langsung dapet! Mau gimana lagi?
Thanks  udah nolongin gue. Gue Kenan. Lo siapa?” Dia menyambut uluran tanganku.
“Elang.”
So, elo minta bayaran berapa nolongin gue? Secara ,elo udah tahu gue anak orang kaya.” Tiba-tiba Elang berhenti dan menatapku tajam.
“Sekali lagi kamu ngomong seperti itu, aku tinggalin kamu disini dan kamu harus nuntun motor gede ini sendiri sampai rumah!”
“Sorry…” Ucapku. Lalu kami melanjutkan perjalanan sambil terdiam.
“Elo lagi ngapain tadi?” Aku berusaha membuka percakapan dengan penolongku.
“Bikin galian jalan untuk tanem kabel sambungan telephone.  Aku kuli penggali jalan.” Aku menoleh dan untuk pertama kalinya aku memperhatikannya.
Dia lelaki kurus, tinggi, hitam, ceking, seperti pohon cemara angin. Meranggas dan hampir mati. Tapi dibalik wajahnya yang hitam legam, terpancar sebuah cahaya. Matanya sangat hidup dan cemerlang.
“Umur lo berapa?”
“Tujuh belas.”
“Sama kayak gue. Elo gak sekolah?”
“Pertanyaan klise! Menurut kamu, kenapa aku gak sekolah?”
“Mana gue tahu!”
“Tiga tahun lalu, saat aku terima ijazah kelulusan SLTP dengan nilai tertinggi di sekolahku, itu adalah saat terindah sekaligus terburuk dalam hidupku! Begitu senangnya hingga aku berlari sampai rumah. Kemudian lariku tertahan oleh orang-orang yang berlarian panik ke sana kemari menyelamatkan barang-barang mereka. Orang-orang itu berteriak,
“Jangan mendekat! Apinya tambah besar! Jangan masuk ke gang itu! Semua rumah di sana udah ludes dilalap si jago merah!”
“Tapi bapakku ada di sana. Bapak lagi sakit. Bapak gak bisa bangun dari tempat tidur.” Elang terdiam. Dia tak sanggup melanjutkan ceritanya.
“Bapak lo … meninggal?” Tanyaku
“Bapak meninggal dalam kebakaran besar itu. Almarhum bapakku hanya seorang kuli bangunan yang harus menghidupi istri dan empat orang anak. Dengan dikuburnya bapak, maka terkubur pula cita-citaku untuk melanjutkan sekolah. Tak mungkin aku memaksa melanjutkan sekolah sementara ibuku hanya penjual jamu keliling dan ketiga adikku masih kecil-kecil. Mereka sekarang tinggal di kampung. Biaya hidup di Jakarta terlampau mahal. Aku tetap di Jakarta bersama Pamanku, menjadi kuli penggali jalan, agar bisa membantu ibu hidup di kampung. Maap! Kamu jadi bosen dengerin cerita hidupku yang mirip sinetron.” Katanya. Aku terdiam seribu bahasa mendengar penuturannya. Tak terasa, kami akhirnya tiba di rumahku.
“Ini rumah gue. Masuk dulu, yuk! Bonyok gue pasti gak ada siang begini. Cuma ada pembantu.” Elang berada di rumahku sampai sore. Kami ngobrol tentang segala hal. Aku kagum padanya.
Selama ini, aku selalu dikelilingi oleh kemewahan, teman-teman dan kerabat yang juga sesama orang kaya, liburan ke luar negeri, tanpa pernah sekaliapun memikirkan kehidupan lain di luar lingkaran kehidupan borjuis-ku. Bicara dengan Elang, aku jadi tersadar, bahwa ada dunia lain di balik tembok menjulang perumahan elit ini. Bicara dengan Elang, membuatku berfikir tentang semua yang telah aku lakukan selama ini.
Sekolah bagiku hanyalah sekedar untuk ‘eksis’. Tawuran dan party after shool adalah tujuan utama aku berangkat sekolah. Buat apa capek-capek belajar? Toh nanti Papa bisa ‘membeli’ nilaiku dengan mudah.
Sore itu, Elang beranjak dari rumahku dengan meninggalkan buku catatan hariannya. Semalaman aku membaca buku harian itu. Buku itu bercerita tentang masa-masa sekolah Elang. Tentang keinginannnya melanjutkan sekolah SLTA lalu kuliah. Tentang cita-citanya menjadi seorang arsitek. Tentang kerinduannya kepada sang ibu dan adik-adik.. Tentang kerasnya hidup menjadi seorang kuli gali jalanan. Tentang rasa irinya setiap kali melihat serombongan anak-anak sekolah yang melintas di dekatnya ketika dia menggali jalan. Tentang air matanya yang berusaha ditahan setiap kali dia membayangkan dirinya menjadi salah satu anak-anak berseragam sekolah itu.
Elang menolak mentah-mentah menerima uang pemberianku. Tapi dia senang sekali menerima buku-buku. Dia tersenyum lebar saat kuberikan buku BUMI MANUSIA-nya Pramoedya Ananta Toer. Sejak saat itu, aku selalu mampir ke tempat Elang menggali. Aku menunggunya selesai bekerja, kemudian kami ngobrol panjang lebar. Hingga suatu petang…
Damn! Makin hari Jakarta makin parah! Masa jam segini udah macet!” Aku merutuk keras-keras. Aku ingin segera bertemu Elang. Aku membawa buku-buku yang pasti dia suka. Satu set lengkap buku-buku Andrea Hirata. Buku ini sangat cocok untuknya karena buku-buku ini bercerita tentang perjuangan seorang anak mengejar cita-citanya. Elang gak boleh menyerah. Dia harus terus mengejar mimpi-mimpinya.
Tapi kemacetan ini sungguh parah. Padahal tempat Elang hanya 300 meter di depan. Ternyata, sumber kemacetan ini persis di tempat galian Elang. Banyak orang berkerumun di sana. Aku memakir motorku dan menghampiri kerumunan itu.
Ada apa?” Aku bertanya pada salah seorang dari mereka.
“Tabrak lari! Korban langsung tewas di tempat!”
Aku menyeruak dalam kerumunan. Mataku mencari sosok cemara angin. Sosok hitam, tinggi, kurus, meranggas, tapi matanya hidup, bersinar cemerlang, menyimpan berjuta harapan dan cita-cita setinggi langit.
 Lalu mataku tertubuk ke tanah. Sosok yang kucari ada di sana. Diam dan berlumur darah…

‘***







Tidak ada komentar