Catatan Sang Pendaki

 Cerpen ini dimuat di Harian METRO RIAU
Edisi Minggu, 21 Juli 2013
Catatan Sang Pendaki
Oleh Dwi Indarti
            Dia tahu dia telah tersesat. Sejauh mata memandang, dia hanya melihat barisan pepohonan yang semakin rapat. Kegelapan mulai merayap turun seperti sebuah selimut tebal yang menutupi alam raya. Suara-suara asing memenuhi udara.  Dengungan, koakan, kepakan, dan siutan dari mahluk-mahluk tak berwujud seakan menjadi intro senja kala. Kabut datang bersama hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

            Dia tahu dia sendirian sekarang. Rasanya dia hanya tertinggal beberapa jam saja dari teman-temannya. Dia yakin masih bisa menyusul mereka.

            “KEEEEEEENNNN…!”

            “ALIIIIIIIIIII…..!”


            “BAYUUUUUUUU!!”


            Hanya gaung suaranya sendiri yang menyahut. Suara ranting patah yang terinjak sepatu pun bergema. Ujung-ujung jari kakinya mulai beku, meskipun terbungkus kaos kaki dan sepatu.
            Dia terduduk lesu pada akar sebuah pohon besar. Dia membanting carrier berat yang digendongnya. Bahunya seperti diris-iris. Dia mengambil botol air dan meneguk semua isinya. Kegelapan telah sempurna sekarang. Dia menyalakan senter dan lampu badai. Kabut melayang-layang menutupi sekeliling.
            Dia gamang. Pikirannya kacau. Apakah dia akan bisa melewati malam ini sendirian di tengah belantara liar, dalam hawa dingin yang mematikan? Dia mulai merasa takut. Dia ingat perkataan bapak porter tua yang mereka temui tadi pagi sebelum memulai pendakian.
            “Ini Semeru, Nak. Kalian tidak bisa bermain-main dengan Sang Mahameru.” Ucap Bapak Porter tua ketika Ken menolak memakai jasanya.
            “Tenang, Pak. Saya sudah pernah mendaki Semeru. Saya hapal jalannya…” Ujar Ken, sedikit menyombong.
            “Jaga sikap dan ucapanmu, Nak. Dalam dekapan Semeru, kalian hanyalah sebuah kerikil kecil.” Bapak porter tua itu memperingatkan kami.
            “Berhati-hatilah, Nak. Semeru sedang agak rewel. Jangan melawan kabut. Jika dia datang, kalian berhentilah. Kabut bisa menyesatkan.”  Lanjut Bapak tua itu sebelum pergi. Dia berpamitan dan mencium tangan bapak tua itu. Entah kenapa dia melakukan hal itu. Dia pun tak tahu. Dia hanya mengikuti kata hati.
            “Ken, elo yakin gak mau pakai jasa porter?” Dia bertanya pada Ken yang menjadi pemimpin pendakian ini.
            “Kalem, Bro! Gue sudah tahu medannya. Trust me!” Kata Ken yakin. Dia, Ali dan Bayu hanya bisa beradu pandang. Akhirnya, mereka pun memulai pendakian dari desa Ranu pane.
            Orang bijak berkata, sifat asli seseorang bisa terlihat jelas ketika mendaki gunung.  Memang benar adanya. Ego Ken benar-benar keluar.

            “Ayo, kita jalan lagi! Jangan istirahat kelamaan!”  
           “Tunggu, Ken! Pay masih butuh istirahat. Dia ‘kan baru kali ini naik gunung.” Kata Ali.
            “Gue udah bilang dari awal, kalian harus persiapkan fisik! Kalau kayak begini, kita jadi lambat.”
            “Sorry, Ken! Gue jadi beban buat kalian. Kalian jalan duluan saja. Nanti gue nyusul.” Dia berkata dengan tersengal-sengal.
            “Elo yakin, Pay?” Tanya Bayu.
            “Gue yakin. Kalian jalan duluan saja.”
            “Yuk, jalan!”
            “Ken! Elo mau ninggalin Pay sendirian di sini?” Tanya Ali.
            “Kalo elo mau nemenin dia, terserah.”
            “Al, Bay, gue gak papa. Kalian duluan saja.” Dia meyakinkan Ali dan Bayu.
            Itulah terakhir kali dia bersama teman-temannya. Dia membutuhkan waktu lebih lama untuk mengumpulkan nafas. Jalan mendaki sambil menggendong carrier ternyata adalah sebuah siksaan.
‘***
            Entah berapa lama dia duduk di situ, hingga sebuah suara berat mengagetkannya. Dia terlonjak dari duduknya.
            “Jangan tidur di bawah pohon pada malam hari sebab bisa mati lemas karena kehabisan oksigen. Carilah tempat terbuka. Maaf, aku mengaggetkanmu.” Kata suara itu.
            Dia benar-benar kaget. Dadanya berdebar kencang. Siapa orang ini? Darimana dia datang? Pertanyaan itu berkecamuk dalam benaknya.
            “Ka…kamu siapa ?” Dia memberanikan diri untuk bertanya.
            “Gue Raka. Gue lihat ada cahaya disini. Jadi gue samperin. Sorry banget bikin elo kaget setengah mati. Elo sendirian?”
            “Sama teman-teman. Mereka jalan duluan. Elo?” Dia bertanya pada Raka
            “Gue selalu mendaki sendirian. Buat gue, kesendirian adalah nafas. Toh, kita mati sendirian.” Dia hanya mendengarkan Raka berbicara. Dia memperhatikan pemuda berambut gondrong itu. Dia menaksir usianya sama dengannya, hanya saja Raka terlihat lebih tua karena tubuhnya kurus.
            “Temen-temen elo ninggalin elo sendirian di sini?” Tanya Raka. Dia tak menjawab. Tubuhnya menggigil hebat karena kedinginan. Giginya gemeretuk.



            “Bikin api, yuk!” Kata Raka.
            “Gue gak punya korek.” Jawabnya.
            “Serahin ke gue…” Kemudian Raka mengumpulkan daun-daun kering dan memutar-mutar ranting. Tak berapa lama, asap tipis keluar dari tumpukan daun kering itu dan membesar menjadi bara api. Dia buru-buru mendekati api. Rasa hangat menjalar cepat ke tubuhnya.
            “Ajarin gue bikin api seperti ini, dong!” Ucapnya. Raka duduk di hadapannya. Bayangan Raka seperti transparan. Mungkin karena pengaruh asap.
            “Elo bisa pinjem buku gue.” Raka menyodorkan sebuah buku harian kecil bersampul hitam. Buku itu tampak usang dan menguning. Dia menerima buku itu.
            “Itu buku catatan pendakian gue. Semua gue tulis di sana, termasuk bagaimana gue belajar menyalakan api tanpa pematik atau korek api. Gue belajar dari seorang Porter waktu gue mendaki Rinjani. Dia mengajarkan banyak hal, tentang bagimana bertahan hidup di gunung, membaca rasi bintang, menghadapi kabut, mengikuti petunjuk burung Jalak, dan lain-lain.”
            Dia membolak balik buku catatan itu. Tapi, dia tidak bisa membaca tulisan di dalamnya. Sinar api unggun kecil itu tidak cukup untuk menerangi kegelapan malam.
            “Elo gak buka tenda?” Tanya Raka.
            “Tendanya dibawa temen gue.” Jawabnya.
            “Sleeping bag?”
            “Ada.”
            “Nah, elo bisa tidur pakai sleeping bag.. Tapi , sleeping bag gak bisa menahan badai gunung. Just for your information, tengah malam dan dini hari nanti, udara bisa turun. Dinginnya bisa tiga kali dari sekarang. Jadi, elo gak bisa hanya mengandalkan sleeping bag.”
            “Se…se…serius, lo?” Dia semakin menggigil kedinginan.
            “Gue serius! Tapi tenang, gue tahu cara supaya elo bisa melewati malam ini dengan selamat dan tidak terserang hiportemia. Sekarang, keluarin sleeping bag-nya.” Dia mengeluarkan sleeing bag.
            “Pakai.”
            Entah kenapa, dia mematuhi semua perintah Raka, pemuda yang datang tiba-tiba dan baru saja dikenalnya itu. Dia memakai sleeping bag.
            “Tunggu sebentar. Tetap dekat-dekat api. Kalau apinya mengecil, tambahkan ranting dan daun-daun ini. Gue akan balik sebentar lagi.”
            Raka menghilang dalam kegelapan. Dia meringkuk dekat api unggun. Kakinya mulai terasa keram dan kaku. Tak lama kemudian, Raka kembali membawa sekarung daun-daun kering. Tanpa bicara, Raka menjejalkan daun-daun itu ke dalam sleeping bag-nya.
            “Hey! Elo ngapain…?”
            “Percaya sama gue.”
            Raka terus memasukkan daun-daun kering itu hingga sleeping bag-nya menggelembung penuh. Dia merasakan sesuatu. Rasa hangat menyelimuti sekujur tubuhnya. Matanya mulai mengantuk.
            “Elo gimana?” Dia bertanya pada Raka yang duduk di dekatnya. Raka hanya memakai sebuah jaket usang.
            “ELo gak usah mikirin gue. Semeru adalah rumah gue. Gue sudah terbiasa di sini.”
            Dia ingin bertanya apa maksud ucapan Raka, tapi rasa lelah dan mengantuk begitu menguasainya. Dia jatuh tertidur.
‘***
            Sebuah guncangan membangunkannya.
            “Pay! Pay! Bangun! Alhamdulillah… elo masih hidup! Syukur Alhamdulillah…!”
            Dia membuka mata. Wajah Ken menghalangi sinar matahari. Bayu mengangkat tubuhnya sehingga dia bisa duduk.
            “Syukurlah elo selamat, Pay! Maapin gue, Pay!” Ken memeluknya. Ali dan Bayu memandangnya dengan takjub dan lega.
            “Maap ya, Pay. Kemaren gue terlalu bernafsu sampai puncak. Gue gak mikirin kondisi elo. Setelah beberapa jam, Ali dan Bayu maksa gue balik untuk menjemput elo. Tapi elo udah gak ada di tempat istirahat. Kami panik. Kami terus mencari elo. Tapi, kabut dan badai menghalangi langkah kami.” Ken bercerita dengan terbata-bata. Matanya merah dan sembab. Apakah Ken nangis? Dia tak berani bertanya. Bahkan dia belum berkata apapun kepada teman-temannya.
            “Elo baik-baik saja, Pay?” Tanya bayu hati-hati.
            “Iya.” Suaranya serak. “Semalam ada yang nemenin gue. Tuh…” Dia memandang ke tempat Raka semalam. Tapi tak ada siapa pun selain mereka berempat.
            “Siapa?”
            “Seorang pendaki. Dia yang menyelamatkan gue sehingga gue bisa melewati malam tadi. Mungkin dia sudah pergi…” Dia heran sendiri. Kenapa Raka pergi tanpa membangunkannya?
            “Siapa namanya?” Tanya Ken.
            “Raka.”
            “Raka siapa?”
            “Gue gak tahu. Dia memberi gue buku ini.” Dia menyodorkan buku harian kecil bersampul hitam kepada Ken. Ken menerimanya dan membuka halaman pertama. Kemudian Ken memekik tertahan.
            “Oh My GOD….”
            “Kenapa Ken?” Dia bertanya.
            “Ini buku catatan milik Raka Adiguna Wijaya.”
            “Lantas…?”
            “Kalian tidak tahu?” Tanya Ken kepada ketiga temannya. Wajah Ken menyiratkan sebuah kengerian.
            “Kalian benar-benar tidak tahu?” Ulang Ken.
            “Ada apa, Ken? Kenapa dengan pendaki bernama Raka itu?” Tanya Ali tak sabar.
            “Raka adalah alumi kampusku. Dia dinyatakan hilang dan meninggal di Puncak Mahameru hampir sepuluh tahun yang lalu. Jasadnya tak pernah ditemukan. Kami membangun sebuah monument di aula kampus untuk mengenangnya. Pemilik buku ini sudah mati … “
            Dia terkesiap. Dibukanya lembar pertama buku harian kecil bersampul hitam itu. 
            “Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak pernah dilhalirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua.” Soe Hok Gie.
            Di sinilah rumahku. Dalam dekapan Sang Mahameru.
‘***



Tidak ada komentar