Sebenarnya, aku sayang
kamu…
Oleh Dwi Indarti (@itsjustdwi)
Terkirim. Marcel panik. Dia berusaha meng-cancel sms itu. Tapi percuma. “Pesan sudah terkirim.” Begitu tulisan
yang terpampang di layar ponselnya. Marcel hanya bisa merutuki kebodohannya.
Dia membenturkan kepalanya ke dinding kamar.
“Stupid! Stupid! Stupid!” Ucapnya berkali-kali kepada
dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa salah mengirim sms? Bagaimana
mungkin dia melakukan kesalahan fatal untuk hal yang sangat penting? Sudah
cukup lama dia mengumpulkan keberanian untuk mengirim sms itu. Kini, setelah
dia mendapat cukup keberanian, dia malah melakukan kesalahan dengan mengirim
sms itu ke orang yang salah.
Sebuah
persahabatan yang telah berjalan selama sepuluh tahun sedang terancam gara-gara
sms yang salah kirim itu…
‘***
“Cuprut,
pulang yuk!” Marcel merangkul pundak Maura yang sedang berdiri di depan kelas.
“Ung…Gue…gue…”
Maura gugup.
“Jiah! Kenapa
lu?” Tanya Marcel penasaran.
“Gue mau
pulang bareng Mario. Tuh, Mario udah datang!” Maura tersenyum lebar menyambut
seorang cowok yang sedang berjalan menghampiri mereka.
“Marcel kenalin,
ini Mario.” Maura memperkenalkan cowok bernama Mario itu kepada Marcel. Marcel
menerima uluran tangan Mario sambil tersenyum penuh arti.
“Oooh! Jadi ini
cowok yang membuat tidur elu gak nyenyak, makan pun tak enak, merana karena
cinta…” Marcel menggoda. Maura melotot. Mario senyum-senyum jaim.
“Selamat ya,
kalian akhirnya jadian. Bro, gue
titip si cuprut Maura, ya. Semoga elu bisa tahan sama nafsu makannya. Kalau
kencan, mending jangan diajak ke restauran yang mahal, deh. Bisa tekor!” Marcel
bicara pada Mario seolah Maura tidak ada di sana .
“Marcel
rese!” Maura menghujani Marcel dengan cubitan-cubitan. Mereka bertiga
tertawa-tawa menuju gerbang sekolah. Marcel cepat akrab dengan Mario. Hal ini
membuat Maura merasa sangat lega.
Maura dan
Marcel sudah bersahabat sejak mereka duduk di bangku SD. Kemana-mana selalu
berdua. Mereka jarang terlihat tanpa satu sama lain. Dimana ada Maura, disitu
pasti ada Marcel. Semua orang mengira
mereka adalah sepasang kekasih. Mereka tinggal di komplek perumahan yang sama.
Orang tua Maura sudah menganggap Marcel seperti anak mereka sendiri. Pun
sebaliknya. Marcel sudah terbiasa selonong
boy masuk ke rumah Maura dan mengacak-acak kamar Maura. Maura pun biasa
membongkar lemari baju Marcel kalau dia mau pinjam kaos.
“Marcel,
kenapa udah umur segini kita belum punya pacar, ya?” Tanya Maura, beberapa bulan yang lalu, saat
mereka berdua rebahan di atas rumput taman belakang rumah Maura.
“Memang
berapa umur, lo?” Tanya Marcel tak acuh.
“Dua minggu
lagi gue bakal ngerayain sweet seventeen.
Masa elo lupa!” Maura menggeplak kepala Marcel pelan.
“Yaelah! Baru
umur 17 aja udah galau belum punya pacar.” Marcel melempar daun kering.
“Harus
galau, lah! Anak-anak lain yang sepantaran kita udah gonta ganti pacar.” Maura balas melampar kerikil.
“Elu
nempelnya sama gue terus, sih. Cowok yang mau PDKT sama elu jadi mundur karena
menyangka kita pacaran.”
“Marcel,
kalau sampai umur 30 kita belum menemukan jodoh, kita kawin aja, yuk!” Maura
bangun dari rebahnya dan menatap Marcel dengan serius.
“Gak mau!”
Sergah Marcel.
“Ih, kenapa?
Gue jelek, ya?” Maura merengut ngambek.
“Karena elu
adalah Maura. Si cewek cuprut tukang makan dan doyan tidur. Mana mungkin gue
kawin sama cewek macam elu!”
“Serius nih, elu gak bakalan jatuh cinta sama
gue?” Tanya Maura.
“Gak bakal!”
“Awas ya, kalau
sampai jatuh cinta sama gue! Gue catet omongan elu hari ini.”
‘***
“Marcel, I think I’m falling in love.” Maura
menggelendot manja di lengan Marcel yang sedang membongkar motornya. Marcel
cuek.
“I’m falling in love. Love, love, love is in
the air.” Maura membuat gerakan tangan berbentuk hati di udara. Marcel masih
cuek. Dia sibuk membersihkan knalpot dengan tangan yang belepotan oli.
“Marcel
Cuplis! Elu dengar gak sih? Gue lagi jatuh cinta!” Maura berteriak di telinga
Marcel, membuat Marcel melompat.
“Berisik,
tau!” Marcel marah-marah.
“Salah
sendiri nyuekin orang yang lagi jatuh cinta!”
“Siapa sih
cowok yang ketiban sial itu?”
“Namanya
Mario. Anak kelas XI. Kapten tim basket sekolah kita.”
“Memang dia
suka sama cewek cuprut kayak elu?”
“Sialan lu!
Kalau dia gak suka, ngapain dia minta nomer telp gue, trus setiap malam
telephonan sama gue berjam-jam. Dia mau ngajakin gue nge-date besok!”
“Ciee…akhirnya
ada juga cowok rabun senja yang terpikat sama elu, Cuprut!” Marcel mengusapkan
tangannya yang penuh oli ke wajah Maura.
“Marceeeel!
Rese’! Woi, jangan lari!” Maura mengejar Marcel yang berlari sambil
tertawa-tawa.
‘***
“Marcel,
dapat salam dari Maudy.” Maura menghampiri Marcel yang sedang duduk membaca di taman
sekolah.
“Maudy
siapa?” Tanya Marcel tanpa melepaskan pandangan dari Manga Samurai X.
“Maudy temen
sekelasnya Mario. Orangnya cantik! Kita mau ngejodohin elu sama dia.”
“Oh,
sekarang elu dan Mario buka usaha biro jodoh? Tarifnya berapa, bu?”
“Heh! Dasar
Cuplis! Mau dikenalin sama cewek susah amat! Elu mau yang type seperti apa,
sih? Waktu dikenalin sama Putri, elu nolak. Alasannya Putri terlalu kemayu, macam
putri keraton. Elu gak suka cara ngomongnya yang lambat, lemah lembut dan
mendayu-dayu. Terus, mau dijodohin sama Sonia, elu juga nolak. Katanya Sonia
terlalu metal. Elo gak suka sama cewek yang selalu pakai baju hitam dan
berdandan ala gothik. Padahal, Sonia cantik dan jago main gitar. Lantas, gue kenalin
sama sepupunya Mario yang baru pulang dari London , elu juga gak mau. Alasannya, si
Sheila ngomongnya sok Brithish dan
terlalu membangga-banggakan Inggris, padahal dia orang Indonesia asli. Hmm…tapi emang sih,
sepupunya Mario itu keterlaluan. Gue rasa Adele pun minder kalau ngobrol sama
dia. Ha ha ha. Terakhir, gue mau jodohin elu sama Bertha, temen les gue. Elu
juga mundur sebelum perang. Alasannya, si Bertha terlalu macho dan sporty,
hanya karena Bertha suka olah raga, jago main volly dan jago berenang. Elu
maunya cewek yang kayak gimana, sih?” Maura ngomong panjang lebar.
“Ngapain elu
sama Mario repot-repot mau ngenalin gue ke cewek-cewek itu.” Tanya Marcel.
“Gue kasihan
sama elu, Cuplis! Elu belum pernah punya pacar. Padahal elu ganteng! Elu cuma bergaul
sama gue, gue dan gue! Sekarang gue udah punya Mario. Gue gak bisa nemenin elu
kemana-mana sebebas dulu lagi. Gue senang elu bisa akrab sama Mario dan gak
risih pergi bareng kita bertiga. Gue lega elu bisa dekat dengan Mario. Walaupun
gue kadang-kadang sebel kalau elu dan Mario udah ngobrol seru dan nyuekin gue.
Gue juga senang elu bisa nemenin Mario kalau pas gue gak bisa nemenin dia. Rasanya
gue adalah cewek yang paling bahagia di seluruh dunia. Gue punya pacar yang
perhatian dan punya sahabat yang bisa diandalkan. Tapi sebagai sahabat, gue
pengen lihat elu bahagia.”
”Terus,
masalahnya dimana?” Tanya Marcel.
“Gue pengen sesekali
kita double date. Gue sama Mario. Elu
dan pacar elu. Kita nonton bareng, makan bareng. Gak kayak begini, seringnya
elu ngintilin gue sama Mario terus.”
“Jadi, elu
gak suka?”
“Bukan
begitu, Cupliiiiisss… gue cuma ingin elu bahagia. Itu saja. Titik!”
“Gue cukup happy dengan keadaan sekarang, kok.”
“Ah, susah ngomong
sama gunung es. Jadi, elu gak mau dikenalin sama si Maudy?” Tanya Maura.
“Nope.”
“Ish, dasar
Cuplis!” Maura ngeloyor pergi setelah dilihatnya Marcel kembali tenggelam dalam
komik manga. Diam-diam Marcel mendongak dan menatap punggung Maura yang menjauh
perlahan. Marcel menarik nafas panjang.
Maura tidak
tahu bahwa sudah ada seseorang dalam hati Marcel. Maura tidak tahu bahwa hari-hari
belakangan ini pikiran Marcel tidak pernah lepas dari sosok itu. Maura tidak
tahu bahwa malam-malam Marcel dihiasi oleh mimpi-mimpi indah tentang dirinya.
Belum pernah Marcel merasa seperti ini. Belum pernah Marcel merasa segalau ini.
Belum pernah Marcel menyadari artinya jatuh cinta seperti ini. Dia bingung
harus curhat kemana. Yang pasti dia tidak mungkin curhat kepada Maura.
Marcel sadar
bahwa dia tidak akan sanggup menyimpan perasaan ini lebih lama lagi. Dia harus
mengatakannya. Maka selama berminggu-minggu Marcel mengumpulkan keberanian
untuk mengungkapkan perasaannya. Berpuluh-puluh draft pesan telah dia tulis tanpa satu pun terkirim.
Ketika
akhirnya keberanian sudah terkumpul, Marcel malah melakukan sebuah kesalahan
tolol. Mungkin karena dia terlalu gugup. Mungkin karena dadanya dipenuhi oleh
euforia cinta. Mungkin karena jarinya gemetar saat memencet tombol contact list. Mungkin…
Ah, apapun
alasannya, sebuah kesalahan fatal telah terjadi dan tak bisa diperbaiki. Marcel
menatap pesan yang telah terkirim itu dan membacanya sekali lagi. Pesan itu
hanya berisi sebuah kalimat singkat. “Sebenarnya
aku sayang kamu, Mario… ”
Eh, pesan
itu malah terkirim ke Maura.
'***



Tidak ada komentar