Cerpen ini dimuat di Tabloid CEMPAKA
Edisi 07 (11 - 17 MEI 2013)
Tabloid CEMPAKA terbit dan beredar di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya.
Semilyar terima kasih buat Mbak Mira Annisa dan Rendy yang udah bantu dapetin Tabloid ini
CALON MENANTU
Oleh Dwi Indarti (@itsjustdwi)
Waktu adalah kedipan mata. Orang jarang merasa kalau sedang
berkedip. Seperti kedipan mata yang bergerak secara konstan dan otomatis, pun waktu
berlalu tanpa seorang pun bisa menghentikannya. Kecuali orang-orang yang sedang
berkontempleasi, mengeja waktu demi waktu yang berlalu. Seperti yang sedang aku
lakukan sekarang.
Aku pasti berkedip saat terlahir ke dunia ini. Tentu saja
aku tidak menyadarinya. Lalu, kedipan berikutnya, aku sudah mulai masuk TK , SD ,
SMP, dan tiba-tiba saja sudah lulus SMA. Kedipan selanjutnya, aku sedang
menikmati masa-masa indah menjadi seorang mahasiswa lalu aku jatuh cinta.
Kedipan yang lain mengantarkan aku duduk di hadapan
penghulu, mendengarkan bait-bait akad nikah yang diucapkan oleh lelaki yang kini
menjadi suamiku. Kedipan itu membawaku pada fase kehidupan yang baru. Tiba-tiba
saja aku telah menikah.
Kedipan-kedipan terus berlansung tanpa benar-benar aku
sadari. Setahun setelah menikah, aku mengandung anak pertama, lalu melahirkan. Tiga
tahun kemudian, aku mengandung lagi dan melahirkan anak kedua.
Sungguh, waktu berlalu bagai kedipan mata. Dan sekarang ketika
aku mengedip, aku sadar, tak lama lagi sebuah fase baru kehidupan akan terjadi.
Aku mengedip berkali-kali, menatap punggung anak sulungku.
“Mama kenapa, sih? Sakit mata, ya?” Kevin menghentikan diri
dari kegiatannya mematut diri di cermin dan menatapku heran.
“Mama hanya terpesona oleh ketampananmu, Kev.”
“Ah, Mama…”
“Mata Mama silau oleh cahaya cinta yang berpendar dari wajahmu.
Mama sangat mengenali sindrom ini. Sindrom orang yang sedang dimabuk cinta.”
“Mama benar. Aku memang sedang jatuh cinta…”
“Aih, anak Mama sudah besar. Rasanya baru kemarin Mama
melahirkan kamu, memandikanmu, menggendongmu, mengejar-ngejarmu, mengantar dan
menjemputmu di sekolah, memarahimu, menciummu, membacakanmu dongeng sebelum
tidur…”
“Mama tak mengharapkan aku jadi anak kecil selamanya, ‘kan ? Time goes by like a blink of the eyes.
Sekarang aku bukan anak kecil lagi. Sekarang aku sudah menjadi lelaki dewasa
yang sedang jatuh cinta…” Kevin merangkul pundakku.
“Dan Mama akan segera menjadi nenek…”
“Ha ha ha. Tidak secepat itu, Ma. Aku baru 23 tahun. Masih
banyak waktu untuk ke arah sana .”
“Mama mengerti. Memang seharusnya kamu benar-benar siap jika
ingin memasuki gerbang pernikahan. Tapi Mama ingin memberimu selamat, Kevin…”
“Untuk apa, Ma?”
“Untuk akhirnya kamu jatuh cinta. Kamu sadar tidak, sih?
Kamu itu sedikit telat, Nak! Kawan-kawanmu sudah bergonta-ganti pacar sejak
mulai bangku sekolah. Bahkan adikmu Keisha, sudah pacaran tiga kali, padahal
dia masih kuliah!”
“Huh, dasar Keisha memang ganjen, Ma…!”
“Mama sempat cemas dan khawatir. Kenapa anak laki-laki
sulung Mama tak kunjung membawa seorang kekasih datang ke rumah? Apakah anakku
tidak laku di pasaran? Rasanya tidak mungkin! Lihat saja wajahmu! Kalau kamu
mau, rasanya tak ada seorang produsen sinetron yang akan menolakmu untuk
menjadi bintang utama sinetronnya…”
“Mama lebay…”
“Tapi benar, Kevin. Kamu tampan. Tapi kenapa kamu tidak
pernah pacaran waktu jaman SMA dan kuliah dulu?”
“Jadi, Mama menyesal punya anak seperti aku? Mama lebih suka
punya anak yang sibuk pacaran ketimbang sibuk belajar? Mama lebih bangga, anak
mama gonta-ganti pacar, ketimbang selalu meraih juara umum di sekolah dan
berprestasi di bangku kuliah? Begitu, Ma?” Kevin sewot. Tapi aku tahu, dia
tidak benar-benar marah. Aku tersenyum geli melihat wajahnya cemberut.
“Ya, tidak begitu, Sayang. Mama hanya ingin kehidupanmu
berjalan seimbang. Love and life.
Mama tidak ingin anak Mama terlalu serius belajar dan bekerja sampai kepalanya
botak, lalu tak ada seorang pun yang naksir…”
“Well, harapan
Mama terkabul. Sekarang aku sudah menemukan cinta…”
“Jadi, kapan kamu akan memperkenalkan kekasihmu itu? Mama
sudah sangat ingin bertemu dengannya...”
“Sabar, ya Ma. Akan tiba saatnya. Aku belum mengatakan
apa-apa kepadanya…”
“Jadi, kamu belum ‘menembaknya’?”
“Belum…”
“Jangan terlalu lama PDKT-nya, Kev. Nanti jadi basi…”
“Mama tahu istilah-istilah itu darimana, sih? Pasti diajarin
sama Keisha! Mama jadi kaya ABG Tua!”
“Enak aja! Mama bukan ABG tua! Tapi Mama gaul…”
“Mama centil, deh. Tapi, doakan aku, ya Ma. Hari ini ku akan menyatakan cinta. Nyatakan
cinta. Aku tak mau menunggu terlalu lama. Terlalu lama…” Kevin menyanyikan
salah satu lagu dari group Band Vierra.
“Tapi, aku ingin Mama berjanji…” Tiba-tiba Kevin menjadi
serius
“Tentang apa, Kev?”
“Aku ingin Mama berjanji, bahwa Mama akan menerima diriku
dan dirinya apa adanya. Dia orang yang sangat istimewa untukku, Ma. Jadi,
jangan kecewakan aku. Berjanjilah, Ma…”
“Mama berjanji, sayang. Mama akan menerima kekasihmu apa
adanya, karena kamu juga sangat istimewa untuk Mama.”
“Terima kasih, Ma. Aku pergi dulu, ya. Aku tak ingin membuat
cintaku menunggu…” Kevin mengecup kedua pipiku.
“Ouch, so sweet…”
“Bye, Ma…”
“Bye, Kev…”
Aku mengantarkan Kevin sampai pintu garasi. Malam minggu
seperti ini, rumah besar ini hampir kosong. Hanya ada suamiku yang sedang duduk
di depan TV, menonton pertandingan sepak bola. Anak perempuanku, Keisha sudah
dijemput oleh pacarnya sejak jam lima
sore tadi. Mereka berjanji akan kembali sebelum jam 9 malam.
Well, waktu memang
seperti kedipan mata. Malam ini, aku ingin mengulang kedipan-kedipan saat aku
jatuh cinta kepada suamiku. Aku duduk merapat padanya. Mas Krugi segera
melingkarkan tangannya di pundakku.
“Kevin sudah berangkat, Ma?”
“Sudah. Baca deh status BB-nya.” Aku menyodorkan
Blackberryku. Mas Krugi membaca pelan status Blackberry Kevin. Hari ini
ku akan menyatakan cinta.
“Sepertinya, kita akan segera jadi kakek nenek, beib…” Mas Krugi mengecup keningku
dengan mesra. Aku menjawab pertanyaannya dengan pelukan erat.
‘***
“Ma, besok jangan kemana-mana, ya…” Kata Kevin pagi itu.
“Memang besok ada apa, Kev?”
“Aku ingin membawa kekasihku ke rumah, besok…”
“Benarkah! Akhirnya! Mama senang sekali! Kamu mau dimasakin
apa?”
“Tak usah repot-repot, Ma. Jangan terlalu berlebihan. Nanti
dia merasa malu dan canggung. Seperti biasa, saja. Seperti Mama memperlakukan
pacarnya Keisha.”
“Tapi ini beda, Kevin. Dia itu calon menantu Mama…”
“Terserah Mama, deh. Oia, ingat janji Mama, ya. Terima dia
apa adanya…”
“Jangan khawatir, Sayang. Mama dan Papa bukan type orang
yang suka membeda-bedakan orang lain. Ugh,
Mama gak sabar menunggu besok.”
Esoknya, sejak pagi aku sibuk bebenah rumah dan
mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kekasih Kevin, calon menantuku.
Aku mempersiapkan semuanya dengan seksama, tapi aku juga tak ingin terlihat
berlebihan di mata Kevin. Suamiku rupanya juga mengalami gairah yang sama. Dia
ikut sibuk membantuku. Melihat ini, Keisha jadi sedikit cemburu.
“Mama pilih kasih, deh! Kalau pacarku datang ke rumah, Mama
tak pernah serepot ini!”
“Hey, kamu tidak boleh cemburu begitu, dong sayang. Kamu ‘kan tahu, kakakmu itu
dari dulu anti sama yang namanya pacaran. Baru kali ini dia punya pacar. Mama
dan Papa merasa lega sekali. Kami berharap dia akan menjadi anggota baru keluarga
ini.”
“Tapi… tapi…Mama ‘kan
belum bertemu orangnya.” Kata Keisha.
“Memang belum. Tapi Mama yakin, pilihan Kevin bukan
sembarangan. Kevin bukan type orang yang mudah jatuh cinta. Jadi, jika dia
benar-benar jatuh cinta, pasti orang itu sangat istimewa.”
“Tapi … tapi…”
“Tapi kenapa, Key?”
“Tidak apa-apa. Semoga Mama dan Papa tidak kecewa. Dan
Keisha berharap Mama dan Papa menepati janji kepada kevin…”
‘***
Pukul tujuh malam, aku, suamiku dan Keisha duduk di ruang
keluarga, menunggu Kevin datang. Dia bilang akan tiba di rumah sekitar pukul
tujuh malam. Lalu kami akan makan malam bersama.
Pukul tujuh lewat sepuluh, deru kendaraan terdengar memasuki
halaman rumah. Kemudian aku mendengar pintu-pintu mobil yang dibanting menutup.
Tak lama kemudian, pintu ruang tamu terbuka. Aku bersiap-siap menyambut
kedatangan Kevin dan kekasihnya, calon menantuku.
Aku berdiri di tengah ruang tamu, dengan senyum mengembang.
Kevin masuk melalui pintu. Dia tersenyum
kepadaku. Ah, anakku memang tampan sekali.
Aku membatin. Malam ini dia memakai kemeja biru dipadu dengan celana denim. Dia
terlihat begitu gagah.
Kemudian masuk seorang pemuda di belakangnya. Tak kalah
tampan dengan Kevin.
“Ma, Pa, perkenalkan, ini Jeffri, kekasihku…”
‘***




Tidak ada komentar