Cerpen ini dimuat di Majalah HAI
Edisi 13-19 Mei 2013
BETTY
Oleh Dwi Indarti (@itsjustdwi)
Cewek itu
mau datang besok. Begitu berita yang disampaikan Mama. Awalnya aku tidak
terlalu mendengarkan. Barcalona Vs Real Madrid di PS3 ini menyita seluruh
konsentrasiku.
Namun, saat Mama menyebutkan sebuah nama, jempolku terpeleset dan menyebabkan bobolnya gawang Victor Valdez. Sorakan kemenangan Kevin, abangku atas Real Madrid menurunkan semangat tempurku membela Barca. Aku meletakkan stick PS3.
Namun, saat Mama menyebutkan sebuah nama, jempolku terpeleset dan menyebabkan bobolnya gawang Victor Valdez. Sorakan kemenangan Kevin, abangku atas Real Madrid menurunkan semangat tempurku membela Barca. Aku meletakkan stick PS3.
“Siapa yang
mau datang, Ma?” Tanyaku.
“Keluarga
Saputra, sahabat lama Papa. Kamu pasti kangen sama Betty…” Ujar Mama.
“Betty
siapa?” Tanyaku.
“Halah! Sok
lupa! Betty sang belahan jiwa…” Kevin menepuk kepalaku. Aku sudah siap
membalasnya kalau Mama tidak melotot dan mendesis, “Dia kakakmu, Keenan!” Ingin
sekali aku menjawab,’Emang kenapa kalau dia kakakku? Dia bisa berbuat
seenaknya hanya karena dia lebih tua dua tahun dariku. Gak adil. Aku gak pesan
jadi anak bontot di keluarga ini!” Namun kata-kata itu hanya bergaung di
rongga hatiku. Aku sedang malas.
Bayangan
cewek gendut, hitam, jerawatan, kaca mata tebal, rambut keriting dan berkawat
gigi langsung menari-nari dalam ingatanku.
Betty
Berthany Saputra, putri bungsu keluarga Harun Saputra. Cewek gendut, hitam,
jerawatan, kaca mata tebal, rambut keriting dan berkawat gigi itu menghuni
rumah sebelahku, beberapa tahun silam. Samar-samar aku masih ingat waktu
perkenalan dulu.
“Keenan, ini
Betty. Setiap hari kalian ke sekolah bareng, ya…” ucap Mama pada dua orang
bocah TK.
“Aku gak mau
bareng dia! Dia jelek!” Aku berteriak di depan muka gadis kecil itu. Mulut
gadis itu melengkung ke bawah, siap menangis.
“Keenan
jahat…” Ucapnya.
“Keenan gak
boleh begitu! Ayo, minta maaf sama Betty.” Mama memaksaku bersalaman dengannya.
‘***
“Keenan,
jalannya jangan cepet-cepet dong!” Cewek gendut, hitam, jerawatan, kaca mata
tebal, rambut keriting dan berkawat gigi itu berlari-lari kecil mengejarku.
Bukannya menunggu, aku malah mempercepat langkahku.
“Ngapain sih
ngikutin aku terus?” Aku menoleh saat akhirnya Betty berhasil mensejajarkan
langkah.
“Aku gak
ngikutin kamu. Aku cuma mau kasih ini. Kotak makan siangmu ketinggalan. Aku
disuruh tante Maya untuk mengejarmu. Nih!” Dia menyodorkan kotak makan berwarna
pink kepadaku. Aku bergidik jijik. Apa sih yang ada dipikiran Mama membelikan
aku kotak makan berwarna pink.
“Gak mau!
Buat kamu saja!” Cetusku.
“Tapi aku
sudah punya kotak makan sendiri.” Jawab Betty sambil terus berusaha memberikan
kotak makan berwana pink norak itu.
“Buang
saja!”
“Ih, jangan
suka buang-buang makanan! Masih banyak orang kelaparan di luar sana.”
“Ya sudah!
Kasih saja ke mereka. Pokoknya aku gak mau!” Aku mengambil langkah seribu untuk
menghindari cewek gendut, hitam, jerawatan, kaca mata tebal, rambut keriting
dan berkawat gigi itu. Sialnya, aku tidak melihat sebuah sepeda yang melaju
kencang dari belokan jalan. Akibatnya, BRUGGG!!! Stang sepeda itu menghantam
keningku. Berkat kejadian itu keningku mendapat tanda mata beberapa jahitan.
“Ini semua
gara-gara kamu!” Semburku pada cewek gendut, hitam, jerawatan, kaca mata tebal,
rambut keriting dan berkawat gigi itu. Setiap hari dia datang ke rumahku,
membawakan bermacam-macam kue dan coklat sebagai permintaan maaf. Namun, aku
terlanjur kesal.
“Lihat nih,
sekarang jidatku gak mulus lagi!” Ucapku padanya.
“Keren, kan?
Kamu jadi mirip Harry Potter!” Celetukan Kevin membuatku semakin sebal.
Berhari-hari keningku dibalut perban putih. Begitu perban dibuka, tampak
segaris bekas luka mejeng di sana selamanya.
“Maafkan
aku, ya Keenan. Aku sama sekali gak bermaksud melukaimu.” Cewek gendut, hitam,
jerawatan, kaca mata tebal, rambut keriting dan berkawat gigi itu menunduk.
Hati kecilku sebenarnya mengakui kalau insiden ini bukan salah dia.
Tapi, aku sudah terlanjur sebal padanya. Di mataku, dia adalah mahluk paling
buruk rupa di seluruh dunia. Dan aku lebih sebal karena cewek ini selalu
menempel padaku. Hal ini merusak reputasiku sebagai cowok populer di seantero
sekolah dan komplek perumahan.
Aku pernah
mendapat undangan ulang tahun yang dialamatkan atas nama kami berdua. KEENAN
DAN BETTY. Kontan saja, aku kesal dan melabrak si pemberi undangan. Tapi, aku
malah ditertawakan habis-habisan.
“Ha ha ha,
Keenan makin marah, makin sayang sama Betty.”
“Keenan dan
Betty is soulmate…!”
Sungguh, aku
benci sekali pada cewek hitam, gendut, jerawatan, kata mata tebal, rambut
keriting dan berkawat gigi itu. Maka dari itu, aku sangat gembira saat keluarga
Saputra pindah rumah. Om Harun Saputra mendapat beasiswa di Jerman. Dia
memboyong seluruh keluarganya ikut ke Berlin. Waktu itu aku duduk di bangku
kelas enam SD.
“Betty mau
pindah, ya Ma?” Tanyaku untuk memastikan berita menggembirakan itu.
“Iya. Keenan
jangan sedih, ya.” Mama mengelus kepalaku. Tampaknya Mama salah mengartikan
eskpresi pertanyaanku. Memangnya aku kelihatan sedih? Justru aku senang bisa jauh
dari cewek gendut, hitam, jerawatan, kaca mata tebal, rambut keriting dan
berkawat gigi yang sudah menorehkan luka dijidatku.
“Yah, Keenan
kehilangan soulmate-nya, deh!” Goda Kevin. Aku ingin menonjoknya, tapi
tubuh Kevin terlalu jangkung. Dia memegangi kepalaku sementara aku berusaha
menghujaninya dengan pukulan.
“Sudah,
sudah! Besok kita mengantar mereka ke Bandara.” Lerai Mama.
Itulah saat
terakhir aku bertemu dengan cewek gendut, hitam, jerawatan, kaca mata tebal,
rambut keriting dan berkawat gigi itu. Kami bersalaman di pintu boarding
bandara.
“Sampai
ketemu lagi, Keenan!” Katanya riang gembira. Aku terpaksa membalas, “Sampai
ketemu, Betty”, hanya karena Mama dan Tante Maya melotot ke arahku.
Sekarang aku
sudah SMA kelas XII. Berarti sudah hampir enam tahun aku tidak bertemu dengan
cewek gendut, hitam, jerawatan, kaca mata tebal, rambut keriting dan berkawat
gigi itu. Memang sih, Mama sering mengabarkan tentang keadaan keluarga Om Harun
Saputra. Tapi aku tidak pernah peduli. Sesekali Mama ber-skype-an dengan tante
Maya. Setelahnya, pasti Mama bilang,”Keenan, dapat salam dari Betty.” Biasanya
aku cuma melengos dan berlalu.
Besok,
keluarga Harun Saputra akan datang berkunjung. Kata Mama, Om Harun Saputra
sudah menyelesaikan pendidikannya di German dan akan kembali tinggal di
Indonesia. Mereka sedang mencari rumah sebab rumah mereka yang dulu, yang
letaknya persis disebelah rumahku, telah dijual. Semoga saja mereka tinggal
jauh dari sini. Bisa kacau dunia persilatan kalau sampai keluarga Om Harun
tinggal berdekatan dengan keluargaku seperti dulu. Bisa runtuh reputasiku
sebagai cowok paling keren di seantero komplek dan sekolah kalau selalu
dibuntuti oleh cewek gendut, hitam, jerawatan, kaca mata tebal, rambut keriting
dan berkawat gigi.
Aku berdiri
mematung di depan kaca. Bekas luka di dahiku yang masih tampak samar berusaha
tutupi dengan poni.
“Hai, masih
ingat aku? Kalau kamu gak ingat, mungkin kamu ingat sama bekas luka ini.” Aku
bicara pada bayanganku di cermin. Aku melatih kalimat yang akan aku katakan
pada cewek gendut, hitam, jerawatan, kaca mata tebal, rambut keriting dan
berkawat gigi itu. Aku ingin dia tahu bahwa aku masih kesal padanya. Kurun
waktu enam tahun tidak bisa menghapus bekas luka ini. Aku juga ingin menunjukan
pada cewek gendut, hitam, jerawatan, kaca mata tebal, rambut keriting dan
berkawat gigi itu bahwa aku sekarang adalah seorang pemuda tampan, yang jadi
incaran cewek-cewek cantik. Cewek gendut, hitam, jerawatan, kaca mata tebal,
rambut keriting dan berkawat gigi seperti dia jangan harap bisa jadi pacarku.
“Kenaaan!
Mereka sudah datang! Cepat turun!” Mama berteriak dari lantai bawah. Aku
berjalan santai keluar dari kamar. Kuturuni anak tangga satu persatu dengan
langkah seperti anggota BoyBand dari Korea. Dari jauh aku bisa melihat mereka.
Papa sedang
berbincang dengan Om Harun. Rambut Kevin sedang diacak-acak oleh tante Maya.
Bertha, putri sulung mereka sedang duduk di sofa. Dia tampak semakin cantik.
Dari dulu Bertha memang cantik. Dia tinggi, putih, langsing dan berambut
panjang. Beda sekali dengan adiknya yang gendut, hitam, jerawatan, berkaca mata
tebal, rambut keriting dan berkawat gigi. Tak heran, sejak dulu Kevin
tergila-gila pada Bertha. Aku tahu modus Kevin mau menjemput dan mengantar
Betty ke rumahku dulu, karena dia ingin dekat dengan Bertha.
Kepalaku
berputar mencari Mama. Oh, rupanya Mama sedang berdiri di sudut ruangan. Mama
sedang asyik ngobrol dengan… siapa itu? Langkahku terhenti.
Tubuh Mama
bergeser sehingga aku bisa melihat siapa yang sedang bicara dengan Mama. Aku
terpana. Seorang cewek yang sangat cantik seumuranku berdiri anggun di samping
Mama. Cewek itu tinggi, langsing, putih dengan rambut panjang lurus. Cewek itu
menoleh ke arahku.
“Nah, ini
dia si Keenan baru muncul! Keenan sini! Kok kamu bengong begitu!” Mama
menarikku mendekat kepada cewek super cantik itu.
“Keenan,
kamu ingat gak siapa ini?” Tanya Mama. Aku menggeleng bego.
“Hi Keenan,
apa kabar? Aku Betty. Kamu sudah lupa, ya?” Cewek super cantik itu mengulurkan
tangan. Aku benar-benar mati gaya. Benarkah ini Betty, si cewek gendut, hitam,
jerawatan, kaca mata tebal, dan berkawat gigi? Wajahnya putih mulus. Tak ada
kawat gigi terpasang. Dan dia memakai kontak lensa berwarna biru laut. Amboi,
cantiknya! Semua kalimat yang sudah aku latih di kamar tadi buyar. Aku hanya
berkata,
“Hai
Be…Betty. Kamu cantik sekali …”
‘***



Tidak ada komentar