Cerpen ini dimuat di www.annida-online.com
edisi 21 Maret 2013
Judul asli : Mimin, Tongkat kayu dan rantai besi.
Judul dari redaksi : BALADA MIMIN
BALADA MIMIN
Oleh Dwi Indarti
Mimin
meringis. Rantai besi berkarat yang melilit lehernya seolah mata pisau belati
yang mengiris. Perih menjalar setiap kali Tuan menyentakkan ujung rantai itu.
Jemari rapuh Mimin memegangi lingkaran rantai di leher, berharap bisa
melepaskan lilitan rantai itu barang sejenak.
“Husha!
Husha!” Kembali Tuan menyentakkan rantai berkarat itu. Mimin melompat. Kaki
telanjangnya menghentak-hentak di atas aspal yang panas. Matahari memanggang.
Debu menyergap. Bising lalu lalang kendaraan menenggelamkan tabuhan gendang
yang dipukul Tuan.
Mimin
menggelinding ke tengah arena, siap beraksi. Namun Tuan kembali membetot ujung
rantai berkarat. O, rupanya Mimin melupakan sesuatu. Tuan melemparkan sebuah
payung kertas kecil berwarna merah menyala. Hap! Mimin menangkap payung
itu dan menyandangkannya di bahu. Dia mendekati kaki-kaki yang membentuk pagar
renggang. Ada
yang bergeming. Ada
yang terjajar ke belakang. Ada
yang cepat-cepat berlalu. Mimin berputar-putar diantara kaki-kaki. Dua tapak
kakinya berjinjit, hanya bertumpu ada ruas-ruas jari
Rantai besi
berkarat kembali menghentak. Leher Mimin tertarik. Mimin menyudahi pertunjukan
payung. Dia melata menuju Tuan, berharap mendapat seteguk- dua teguk air yang
ada di dalam botol plastik. Terik matahari telah menyedot semua persediaan air
di dalam tubuh Mimin yang ringkih. Sakit di lehernya tak hanya disebabkan oleh
rantai berkarat, tapi juga rasa haus. Namun, Tuan belum mau bermurah hati.
“Shuh!
Shuh!!” Tuan mengibas-ibaskan sebuah tongkat kayu ketika Mimin hendak meraih
botol air itu. Mimin urung. Namun rasa haus yang hampir tak tertahankan membuat
Mimin mencoba lagi meraih botol berisi air putih. Kali ini tongkat kayu Tuan
itu mendarat di kepalanya. Plak!
“Dasar monyet!”
Hardik Tuan.
Mimin
menyerah. Pukulan tongkat kayu itu membuat kepalanya berdenyut-denyut.
Sebenarnya Mimin sudah akrab dengan tongkat kayu. Sudah hampir dua tahun,
tongkat kayu itu menjadi semacam Dementor bagi-nya. Menjadi benda yang
dia takuti. Tak hanya tongkat kayu, rantai besi berkarat yang melilit di leher
Mimin juga menjadi benda yang sangat dibencinya. Hanya saja, rantai besi
berkarat itu sudah menyatu bersama tubuh kecil Mimin. Tuan tak pernah melepaskan
rantai besi berkarat itu sekalipun, semenjak dia menangkap Mimin.
Dulu, Mimin
bebas. Lepas. Merdeka. Bahagia. Melompat ke sana kemari. Meloncat dari satu pohon ke
pohon yang lain. Berteriak sekuat tenaga. Menyelinap diantara daun-daun rimbun.
Bertengger di dahan yang kokoh. Bercanda dan bercengkrama bersama sahabat dan
kerabat. Bersahut-sahutan dengan musuh-musuhnya demi memperebutkan sebiji
mangga yang ranum di atas pohon.
Dulu, Mimin
hampir tak pernah menjejakkan kakinya di atas tanah. Tanah bukan tempatnya.
Tempatnya di atas sana .
Di antara rimbun dedaunan. Di pucuk-pucuk tertinggi pepohonan. Semakin
tinggi pucuk pohon yang bisa dia capai,
semakin menggelembung dada Mimin dipenuhi oleh kebahagiaan. Tapi hidup tak
selamanya berada di atas, walaupun habitat Mimin seharusnya berada di pucuk-pucuk
pohon.
Siang itu…
Mimin
mengantuk. Dua buah mangga setengah matang telah dia lahap sendiri. Perutnya
membuncit. Terik matahari yang menyorot terhalang oleh dedaunan. Angin semilir
membuat kelopaknya mata terasa berat. Sebentar lagi Mimin pasti sudah melompat
ke dunia mimpi, jika saja tak ada suara bising diiringi oleh teriakan-teriakan.
Mimin
terlambat sepesekian menit. Andai saja kantuk tidak sedang menguasainya, pasti
Mimin bisa menghindar dari jeratan rantai-rantai berkarat itu. Semisal Mimin
tidak rakus melahap dua buah mangga, pasti dia tidak akan kekenyangan dan bisa
meraih dahan yang lebih tinggi untuk beristirahat. Ah, itu semua pengandaian
yang sia-sia diantara usaha Mimin untuk melepaskan jerat rantai.
Mimin
mengerahkan seluruh daya, upaya, tenaga dan suara untuk melepaskan diri. Namun
tangan-tangan itu lebih kokoh. Lebih kuat. Lebih perkasa. Sekali mereka
mencengkram, seolah ada sebuah pasak raksasa yang mengunci seluruh persendian
di tubuh Mimin. Meskipun Mimin sempat mendaratkan cakaran di tangan itu, tapi
sepertinya tidak cukup melukai sehingga tangan-tangan itu tidak mau
melepaskannya kembali.
Mimin
dipaksa masuk ke dalam sebuah kurungan sempit yang terbuat dari kayu. Saking
sempitnya, kurungan itu hanya memuat tubuh Mimin dalam posisi duduk. Tapi
kurungan yang sempit bukanlah siksaan yang sebenarnya. ‘Neraka’yang tak pernah
melintas dibenak Mimin telah menunggu di depan sana .
Setelah
menempuh perjalanan selama berjam-jam, duduk berhimpit di dalam sebuah kurungan
sempit, sang Tuan mengeluarkan Mimin. Tanpa berisitirahat, tanpa makanan, tanpa
minuman, Tuan segera ‘melatih’ Mimin. Kedua tangan Mimin diikat ke belakang
seperti seorang tawanan. Rantai besi berkarat dililitkan di leher Mimin lalu
dikaitkan pada seutas tali jemuran. Tuan menarik rantai besi itu. Terus
menarik. Terus menarik tanpa ampun sampai Leher Mimin ikut tertarik ke atas.
Sampai Mimin berdiri tegak di atas dua kakinya.
Mimin
berusaha mencari pinjakan. Entah batu, entah kerikil atau apapun yang bisa
menopang tubuhnya, agar rasa sakit di lehernya berkurang sedikit. Tapi Tuan
segera menyingkirkan pijakan setiap kali Mimin berhasil menemukan. Lalu Tuan
meninggalkan Mimin dalam kondisi kedua tangannya terikat di belakang dan
lehernya dililit rantai berkarat, diikatkan pada seutas tali jemuran. Mimin
menggelapar-gelepar.
Siang
berganti malam. Lalu pagi. Lalu siang lagi. Lalu malam lagi. Lalu pagi lagi.
Entah berapa malam, berapa siang dan berapa pagi yang telah berlalu. Tuan
kadang datang, memberi makan dan minum walaupun tak pernah sampai membuat Mimin
kenyang.
Mimin
akhirnya terbiasa berdiri tegak lurus, bertumpu pada kedua kakinya. Tulang
punggungnya tak lagi melengkung. Dia berdiri diam berjam-jam demi mengendurkan
lilitan rantai besi berkarat. Ketika akhirnya Tuan melepaskan rantai pada tali
jemuran, Mimin bisa berjalan tegak, seperti sang Tuan.
Lalu giliran
tongkat kayu datang bertubi-tubi mendarat di seluruh badan Mimin. Mulai dari
kepala sampai kaki, tak ada bagian tubuh yang luput dari sabetannya. Perih,
panas, pedih, sakit bercampur menjadi satu saat permukaan tongkat kayu itu
disabetkan pada tubuh Mimin yang ringkih. Teriakan dan jeritan Mimin sama
sekali tak berguna. Tongkat kayu itu menjadi ‘hadiah’ setiap kali Mimin membuat
kesalahan.
Tuan melatih
Mimin membawa payung berkeliling dengan berjalan tegak pada kedua kakinya. Tuan
melatih Mimin menarik gerobak kayu kecil. Tuan memaksa Mimin memakai baju. Tuan
memaksa mimin memakai topeng. Tuan memaksa Mimin berjumpalitan melompati seutas
tali. Tuan menyuruh Mimin membawa pikulan dengan dua buah ember kecil
menggelayut pada ujung-ujungnya.
Entah berapa
pagi, berapa siang, berapa sore dan berapa malam, sampai akhirnya Tuan merasa
Mimin telah siap menuju arena. Maka dimulailah irama hidup baru bagi Mimin.
Setiap pagi, Tuan mencangklongkan seperangkat bunyi-bunyian dibahunya,
sementara Mimin bertengger di bahu yang lain. Tuan menelusuri jalan-jalan
berdebu, gang-gang sempit, pasar-pasar becek, bantaran-bantaran kali,
trotoa-trotoar keras dan emperan-emperan toko.
Setiap kali
Tuan menemukan keramaian, dia akan menurunkan Mimin dan mempersiapkan
tetabuhan. Mimin sudah hapal kapan dia harus beraksi. Seperti saat ini. Di
sebuah tanah lapang, di tengah perkampungan kumuh.
Tuan
melemparkan sebuah gerobak kayu kecil dengan roda-roda reyot. Mimin sudah tahu
apa yang harus dia lakukan dengan gerobak kayu itu. Dia menarik gerobak kayu
itu, mendekati kaki-kaki yang berjajar. Semakin lama, jumlah kaki-kaki itu
bukannya bertambah, tapi malah berkurang. Ah, rupanya kaki-kaki itu tidak
tertarik pada suguhan atraksi Mimin yang Mimin mainkan. Mimin kembali merasakan
rantai besi berkarat terbetot kencang. Dia mengembalikan gerobak kayu kepada
Tuan.
Kali ini
Tuan melemparkan sebuah topeng. Topeng kepala bayi. Botak, chubby,
gendut, dan putih. Dalam sekejap, wajah asli Mimin menghilang dalam rupa bayi
yang menggemaskan. Mimin kembali mendekat jajaran kaki-kaki itu. Kali ini ada
sepasang dua pasang kaki yang berhenti. Mungkin mereka gemas melihat wajah
topeng bayi. Mungkin mereka iba. Mungkin mereka iseng. Mungkin mereka hanya
sekedar ingin tahu.
Cukup lama
Mimin memerankan sang bayi, sebelum Tuan kembali membetot rantai besi berkarat
yang melilit lehernya. Mimin membuka topeng bayi.
“SHUSH!”
Tuan menghardik dan melayangkan tongkat kayu. ‘Ugh, apa salahnya?’ Mimin
membatin. Oh, rupanya belum saatnya Mimin menanggalkan topeng bayi itu. Tuan
hanya memanggil Mimin untuk memberikan sebuah keranjang kecil. Mimin kembali ke
arena dengan membawa keranjang.
“Cring…cring…cring!”
koin-koin bergemericing terlempar masuk ke dalam keranjang kecil. Mimin
berharap bunyi gemericing itu terus menerus, jangan berhenti. Sebab Mimin tahu,
kebahagiaannya terletak pada koin-koin itu.
Jika
koin-koin itu melimpah, Tuan bahagia sekali. Mimin juga bisa ikut merasakannya.
Tuan akan membelikan setandan pisang untuk dimakan oleh Mimin sepuasnya, sampai
dia kekenyangan, sampai perutnya membuncit. Tuan akan membelikan buah-buahan
dan makanan yang lain. Bahkan pernah, Tuan membelikan susu untuknya! Amboi,
senangnya…
Tapi hal-hal
indah itu sangat jarang terjadi. Dan sepertinya, hal-hal indah itu tak akan
terjadi siang ini. Bunyi gemericing koin-koin itu sudah berhenti, seiring
dengan berlalunya kaki-kaki itu. Pertunjukan telah usai. Mimin membawa
keranjang kecil itu kepada Tuan.
Tuan
mengemasi perangkat bunyi-bunyian dan menggendong Mimin di atas pundaknya. Pada
sebuah pohon rindang, Tuan kembali berhenti dan menurunkan Mimin. Kali ini
bukan untuk beratraksi, tapi sekedar beristirahat melepas lelah. Tuan
menuangkan isi keranjang kecil ke atas tanah. Koin-koin berharga itu
berserakan. Tuan kembali mengumpulkan koin-koin itu sambil menghitung.
“Satu…dua…tiga…empat…lima …” Tuan mulai
menghitung. Tidak lama, sebab hanya ada sedikit koin yang perlu dihitung. Mimin
memperhatikan wajah Tuan.
Dia seorang
lelaki muda. Mungkin usianya baru mencapai awal 20-an. Wajahnya hitam legam
terbakar matahari, tirus dan kurus. Mata celongnya seolah meneriakkan kerasnya
hidup di ibu kota .
Rambutnya awut-awutan tak terurus bagai sapu ijuk. Kaos dan celananya yang
kebesaran di dapat Tuan dari sumbangan korban kebakaran. Tuan rajin memburu
sumbangan-sumbangan, apapun itu. Ya makanan, ya bahan kebutuhan pokok, ya
pakaian, apalagi duit.
“Tiga ribu!”
Tuan menyebutkan jumlah koin yang di dapat hari itu. Mimin sudah paham artinya.
“Puasa lagi
kita hari ini, Miiin!” Tuan menghela napas berat dan menenggak air di botol.
Mimin mendongak, berharap tetesan air itu melewati tenggorokannya juga. Tuan
paham. Dia menyerahkan botol air itu kepada Mimin. Akhirnya… glek…glek…glek.
Selepas
suara azan ashar di surau kecil, Tuan kembali beranjak. Mimin mengikuti dari
belakang. Inilah hidup yang harus dijalani oleh Mimin kecil. Mengikuti Tuan
kemana pun dia pergi. Sebab rantai besi berkarat itu sudah melilit abadi di
lehernya. Sebab tongkat kayu itu sudah menjadi kawan baiknya.
Mungkin bila
Mimin mati, rantai besi berkarat itu baru akan dilepaskan dari lehernya, dan
tongkat kayu itu baru berhenti mendarat di tubuhnya. Mimin rindu kehidupan yang
dulu. Saat dia masih menjadi mahluk ciptaan Tuhan yang bebas, merdeka, bahagia.
Saat hijaunya dedaunan, rimbunnya pepohonan, kuatnya dahan-dahan, ranumnya
buah-buahan, segarnya udara, masih menjadi bagian dari irama hidupnya.
Sampai kapan
Mimin seperti ini? Ah, Mimin sudah tahu jawabannya. Sampai dia tua lalu mati.
‘***
*cerpen ini terinspirasi dari foto berjudul
MIMIN oleh Ali Lutfi pemenang kedua World Press Photo

Tidak ada komentar