Judul : My Salwa, My Palestine. Di atas Bukit Tuhan
Penulis : Ibrahim Fawal
Genre : Fiksi drama
Tebal : 581 halaman
Penerbit : Mizan
Ardallah,
sebuah kota di
tepi barat, pada musim panas –kebahagiaan terakhir Palestina, bulan Juni 1947,
sebelum resolusi PBB.
Tersebutlah
tiga orang remaja berusia 17 tahun yang bersahabat sejak kecil. Yousif beragama
Kristen, Amin Muslim, dan Isaac Yahudi. Mereka telah bersahabat sejak masa
bercelana pendek hingga kini bercelana panjang, menyukai dan belajar menghargai
wanita, bersenang-senang menangkap burung, menderita serangan jerawat, dan
sebagainya. Mereka selalu bersama-sama sampai-sampai seluruh penduduk kota Ardallah menjulukinya
sebagai tiga orang sahabat yang tak terpisahkan.
Yousif,
yang dianggap sebagai pemimpin, adalah anak tunggal seorang dokter. Ayahnya,
Dokter Safi adalah seorang dokter ahli bedah yang berpraktek di sebuah rumah
sakit di pusat kota
Ardallah. Sedangkan Amin yang hanya mempunyai sebelah tangan akibat kekejaman
kaum zionis adalah anak seorang penggembala domba. Keluarga Isaac adalah satu
dari tiga keluarga Yahudi yang bermuki di daerah mereka.
Pada
suatu senja di bulan September, di sebuah padang
rumput bukit Ardallah, ketiga sahabat itu berikrar bahwa apapun hasil resolusi
PBB pada bulan Oktober nanti, mereka akan tetap bersahabat. Tak peduli Kristen,
Muslim atau Yahudi.
Yousif
jatuh cinta pada Salwa, seorang gadis cantik yang sudah dikenalnya sejak kecil.
Yousif bersumpah, jika dia harus memeluk seorang wanita, maka wanita itu
haruslah Salwa, bukan yang lain. Sebagai keturunan Arab, Yousif dan Salwa tidak
boleh berpacaran, berjalan berdua-duaan, apalagi menonton film. Mereka biasanya
ditemani oleh salah seorang adik Salwa. Mereka memadu cinta selayaknya
anak-anak muda pada masa itu, dan berharap bisa berakhir di pelaminan suatu
hari nanti. Namun tragedi telah menanti…
Pada
bulan Oktober 1947, PBB mengesahkan resolusi terhadap pembagian wilayah
Palestina. Peta-peta dibuat dengan garis-garis untuk mencerai beraikan
Palestina. Desa-desa dan kota-kota Arab dan wilayah-wilayah koloni dan Yahudi
terjerat sedemikian rupa sehingga menimbulkan kebencian dan kekerasan diantara
keduanya. Arab dan Yahudi. Ardallah masih menjadi milik warga Arab, namun kota-kota
seperti Haifa, Tel Aviv, Nazareth, Acra telah diklaim menjadi milik Zionis. Dan
sejak itu, Yousif dan Amin kehilangan Isaac karena keluarga mereka pindah
secara sembunyi-sembunyi pada tengah malam ke pemukiman Yahudi di Tel Aviv.
Secara
membabi buta dan penuh kekejaman, satu persatu kota-kota di Palestina jatuh
dalam cengkraman Zionis. Sementara, kota-kota yang belum dikuasai Zionis
bersiap melindungi diri dari serangan brutal tentara Israel. Mereka memasang pagar kawat
berduri, menimbun karung-karung pasir dan membuat kebun ranjau darat di sekitar
perbatasan. Namun, kekuatan Isreal yang di dukung Amerika dan Inggris Raya jauh
lebih besar. Sementara itu, negara-negara Liga Arab belum bisa berbuat banyak
untuk menolong saudaranya di Palestina. Yordania dan Mesir menutup pintu-pintu
perbatasan untuk menahan gelombang pengungsi yang mulai berdatangan ke wilayah-wilayah
mereka.
Tragedi
juga menimpa kehidupan cinta Yousif ketika dia mendengar Salwa telah dilamar
dan bertunangan dengan seorang manajer Hotel dari Jerusalem bernama Adel Farhat. Dengan penuh
keberanian dan dramatis, Yousif berhasil menggagalkan pernikahan tersebut. Dibawah
ancaman dari keluarga Salwa yang merasa dipermalukan oleh seorang remaja
berusia 17 tahun, Yousif akhirnya menikah dengan Salwa satu minggu setelah
kejadian menghebohkan di permberkatan pernikahan yang gagal itu.
Perang
tak pernah pilih kasih, termasuk terhadap pernikahan Yousif dan Salwa. Delapan
hari setelah pernikahan Yousif, kota Haifa jatuh ke tangan Zionis Israel. Haifa
adalah kota
yang harus dilalui sebelum masuk ke Ardallah. Puluhan ribu gelombang pengungsi
melewati kota Ardallah untuk pergi lebih jauh ke
kota-kota pedalaman seperti Ramallah dan Nablus.
Dalam waktu singkat, kamp-kamp pengungsian dibangun. Di halaman gereja, mesjid,
dan rumah-rumah penduduk, termasuk rumah Yousif. Para pengungsi itu bercerita
tentang kekejaman tentara Zionis Israel untuk mengusir mereka dari
tanah kelahirannya.
Dan
pada suatu malam, Yousif mendengar rentetan tembakan sporadis dan bom-bom yang
meledak. Tentara-tentara Israel akhirnya berhasil menembus pertahanan kota Ardallah. Ayah Yousif
tewas dalam peristiwa ini. Saat serombongan tentara Israel menyerbu rumah Yousif,
Yousif dipaksa menyaksikan peristiwa tergelap dalam hidupnya. Salwa sang istri
terkasih diperkosa oleh tentara-tentara itu tepat dihadapannya. Salwa hampir
menderita depresi dan ingin bunuh diri, namun Yousif berhasil mencegahnya.
Seperti
anak-anak sungai dari sebuah sungai besar, orang-orang mengalir lalu bergabung
di jalan utama Ardallah membentuk barisan panjang bagai ular raksasa. Yousif,
bersama ibunya dan istrinya berada dalam barisan pengungsi itu. Sebuah ironi
terjadi ketika seorang Muazin nekad menaiki menara mesjid dan melantunkan azan.
Tentara Israel
marah dan menyuruh orang itu diam, namun Muazin itu tidak peduli dan terus
melantunkan ayat-ayat Al-Quran. Akhirnya, sebuah peluru yang menembus dadanya
menghentikan alunan ayat-ayat suci syuhada itu.
Ketika
akhirnya rangkaian besar dan panjang pengungsi itu ditelan padang pasir Yordania, Yousif kehilangan
Salwa. Wanita terkasihnya hilang di tengah ganasnya padang pasir. Sebuah keajaiban saja yang
akhirnya membuat Yousif dan ibunya berhasil tiba di Amman, Yordania. Yousif bersumpah, demi arwah
ayahnya, demi tanah airnya dan demi Tuhan, bahwa dia akan kembali ke Palestina,
suatu saat nanti.
Kisah
mengharu biru novel ini ditulis oleh Ibrahim Fawal, seorang Palestina Kristen
yang lahir di Ramallah. Dia pindah ke Amerika dan mendapat gelar Ph.D dari Oxford University.
Ibrahim
berhasil memadukan fakta sejarah dan kisah fiksi tentang penderitaan rakyat
Palestina. Perjuangan rakyat Palestina yang terkenal bernama gerakan Intifadha,
juga tergambar jelas di dalam buku ini. Intifadha adalah gerakan perjuangan
rakyat Palestina, Muslim dan Kristen, dalam melawan Israel.

Tidak ada komentar