Cerpen ini dimuat di Majalah Annida-online
SUARA-SUARA DI MALAM PURNAMA
PERTAMA
“Ibu, aku takut.”
Dekapan anakku semakin erat. Tangannya
melingkar kencang di leherku. Aku bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya
yang berdegub keras, seolah jantung kecil itu berada di luar tubuhnya.
Aku bisa
merasakan tubuh mungilnya gemetar hebat, seolah setiap syarafnya berada dalam
level waspada. Aku bisa merasakan nafasnya memburu. Aku bisa merasakan tetes
air matanya. Mulanya air mata itu terasa hangat. Lalu berubah menjadi dingin
saat air mata itu mengalir turun di punggungku. Anakku terisak dalam diam. Aku
bisa mendengar lirih isakan dari mulut tepat di telingaku. Aku memeluknya lebih
erat. Butuh usaha yang besar untuk memisahkan kami. Sesungguhnya aku juga takut.
“Ibu akan melindungimu, Sayang…” Bagaimanapun
caranya. Apapun taruhannya, aku akan melindungi anakku dari suara-suara itu.
Suara-suara yang membuat aku dan anakku berada
dalam situasi seperti ini. Suara-suara yang memaksaku mengerahkan seluruh
tenaga untuk berlari sekencang-kencangnya. Suara-suara yang kini terdengar
sangat jauh. Tapi aku belum yakin sepenuhnya kalau kami sudah berada dalam zona
aman. Aku terus memperbesar jarak sejauh mungkin dari suara-suara itu. Kadang,
sayup-sayup, aku masih bisa mendengarnya. Bersahut-sahutan. Berkejar-kejaran. Angin membawa gemanya beserta bau aneh yang
selalu memenuhi udara setiap kali suara-suara itu terdengar. Semakin keras
suara-suara itu, semakin tajam bau aneh membumbung di udara.
Suara-suara yang seakan berasal dari
neraka itu datang tiba-tiba. Istana kedamaian yang telah menaungi perkampungan
kami selama puluhan tahun musnah dalam sekejap mata. Selama ini aku menganggap
suara-suara itu hanyalah sebuah mitos. Kakekku dulu pernah bercerita tentang
suara-suara itu.
“Sangat kencang! Bumi bergetar setiap
kali suara-suara itu datang. Burung-burung berterbangan. Binatang-binatang
kecil menyusup ke dalam semak dan tanah. Binatang-binatang besar lari
terbirit-birit. Dahan-dahan pohon patah. Pohon-pohon tumbang…” Cerita Kakek
dulu.
“Seperti apa suaranya, Kek?” Tanyaku
“Seperti…seperti…umm…umm…” Kakek
bergumam tak jelas. Mungkin sedang mencari suara yang terdengar mendekati
keaslian suara-suara itu.
“BUM!!” Tiba-tiba sepupuku berteriak
dan mengagetkan kami yang sedang duduk mengelilingi kakek bercerita.
“Seperti itu bukan, Kek?” Tanyanya
polos tanpa memperdulikan keterkejutan kami.
“Seperti itulah….” Suara Kakek
sangat sedih.
“Kakek dan nenek terpisah. Kami
panik dan berhamburan ke segala penjuru. Kakek dan Nenek berlari ke arah yang
berbeda. Nenek berlari sambil menggendong anak kami yang masih bayi, lalu…”
Kakek terdiam lama.
“Lalu…?” Desak sepupuku yang lain.
“Ssstt…” Aku menyenggol rusuknya untuk
memberi isyarat agar tidak memaksa kakek untuk terus bercerita. Aku sudah tahu
kelanjutan ceritanya.
Keluarga Kakek tercerai berai.
Beberapa waktu kemudian, setelah suara-suara itu menghilang dengan tiba-tiba
seperti datangnya, kakek dan kerabat yang selamat kembali ke perkampungan
mereka dan menemukan banyak korban tewas. Namun istri dan anaknya tidak ada
diantara mereka. Kakek merasa sedikit gembira. Maka dia melanjutkan pencarian.
Sampai pada akhirnya kakek menemukan
jasad nenek dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Sendiri. Tanpa sang buah
hati. Kakek tetap mencari putrinya, namun sia-sia. Sampai kini, keberadaan
putri kakek tidak diketahui. Apakah masih hidup atau sudah meninggal? Tidak ada yang tahu.
Kakek bersama sisa anggota keluarga
yang selamat pindah mencari tempat untuk
memulai kehidupan baru. Selama beberapa generasi, cerita mengenai suara-suara
itu terus bergulir, tapi semakin lama semakin meredup hingga menjadi sebuah
mitos.
Namun kini mitos itu
menjadi nyata. Dongeng menyeramkan yang dulu terjadi di kampung kakek, sekarang
terjadi di kampung kami.
Masih
terbayang jelas …
Malam itu bulan penuh. Purnama
pertama. Kesunyian memerangkap alam raya. Hanya suara binatang malam yang
memulai ritme kehidupan mereka yang terdengar bersahut-sahutan. Seperi orkestra
malam hari. It was just another ordinary
night.
Aku berbaring di sebelah anakku. Seharian
ini dia agak rewel. Mungkin kelelahan. Dia terlalu banyak bermain bersama
sepupu-sepupunya. Maklumlah, anak seusia dia ingin mencoba banyak hal baru.
Energinya seolah tak pernah habis. Ada
saja hal baru yang dia tunjukkan kepadaku. Siang tadi, dia membawakanku sebuah
pisang. Dengan wajah lucu, dia berkata,
“Ibu, pisang ini kubawakan khusus untuk
ibu karena aku sayaaaag sekali. Ibu adalah yang terbaik di seluruh dunia!!!”
Dia melompat-lompat. Aku tak dapat berkata apapun selain meraih tubuh gembulnya,
memerangkapnya dalam dekapan erat dan menghujaninya dengan ciuman. Anakku
meronta-ronta tapi terus saja kupeluk. Anakku, belahan jiwaku.
Sore hari dia menjadi sedikit rewel,
tapi aku sudah menenangkannya. Sekarang dia tertidur pulas dengan mulut sedikit
terbuka. Aku menatap wajah polosnya berlama-lama. Rasanya, aku bisa
menghabiskan waktu semalaman hanya untuk menatap wajah imut itu. Rasa kantuk
akhirnya membuatku menyerah untuk menatap wajah anakku lebih lama. Baru saja
aku hendak menutup mata, tiba-tiba…
“BOOM!! BOOM!! DUARR DUAARR…!!!!”
Bumi tempatku berbaring bergetar
hebat seperti ada gempa berkekuatan sembilan skala ricther. Segera aku sambar
anakku dan berlari tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Jeritan-jeritan membahana, merobek kesunyian malam purnama pertama. Suara-suara
itu semakin bergemuruh dan kemudian tercium aroma aneh. Udara dipenuhi asap.
Rupanya, aroma aneh itu berasal dari asap yang membumbung. Instingku menyuruhku
untuk melarikan diri. Aku bertemu dengan salah seorang sepupu. Dia menjerit
histeris.
“Anakkuuuuuuuuuuu…Tolong! Mereka
membawa anakku!!! Kembalikan anakku!!!”
“Lari!!!! Selamatkan dirimuuuuuuu!” teriakku.
“Tidaaaaaaaak! Aku mau anakku!!!”
Lalu suara itu datang memberondong. Asap tebal menghalangi pandanganku. Bau
aneh yang sangat tajam menusuk indra penciumanku. Dalam sekejap aku telah
kehilangan sepupuku. Aku terus berlari.
“Selamatkan anakmu!!!” Seru mereka yang berpapasan denganku. “Mereka
menginginkan anakmu! Kami akan mencoba menahan mereka selama mungkin. Cepat!
Cepat!”
Mereka
menginginkan anakku. Mengapa? Apa salahnya? Suara-suara itu mengikutiku. Aku
bisa merasakan hawa panas menyerempet tubuhku. Kerabatku berusaha menghalangi.
Ah, bagaimana nasib mereka? Apakah mereka selamat? Ataukah…? Aku tak bisa berpikir.
Rasa takut telah memenuhi semua panca indraku.
Penglihatanku
hanya tertuju pada jalanan di depan, menerabas celah-celah untuk menyelamatkan
diri. Pendengaranku terpusat pada suara-suara itu, mengukur kira-kira berapa jauh
jarak yang memisahkan aku darinya. Penciumanku terfokus pada bau aneh yang
datang bersama suara-suara itu.
Indra
perabaku memastikan anakku masih berada bersamaku. Dia menempel erat ditubuhku.
Indra suaraku berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan suara apapun.
Sebab, jika aku bersuara, suara-suara itu pasti dengan mudah akan menemukanku.
Anakku juga tidak bersuara. Dia menahan tangis sekuat tenaga, hingga tinggal
berupa isakan lirih. Hanya telingaku yang berada dekat mulutnya, yang bisa mendengar
isakannya. Anakku pintar sekali. Dia
tahu jiwanya sedang terancam. Dia juga tahu nyawaku juga sedang terancam. Dia
membantu dengan berdiam dalam gendonganku.
Entah
sudah berapa lama aku berlari. Entah sudah berapa jauh aku melesat. Aku tidak
peduli. Aku terus berlari dan berlari sampai akhirnya dihentikan oleh tenagaku
sendiri. Aku tak kuat lagi berlari. Suara-suara itu sudah tak terdengar. Aku
merasa sedikit lega. Tapi aku tidak berhenti. Aku berjalan cepat dan lambat
laun hanya bisa berjalan pelan. Aku terus bergerak sebab instingku mengatakan
agar jangan berhenti. Beruntung kemudian aku menemukan sebuah celah diantara
bebatuan yang cukup luas untuk beristirahat.
“Sayang,
kita sudah aman. Tenanglah, ada ibu di sini. Jangan menangis, anakku…” Aku
membelai kepala anakku. Dia melonggarkan sedikit pelukannya.
“Ibu,aku
takut.” Bisiknya.
“Jangan
takut, sayang. Ada
ibu…” Suaraku bergetar tak dapat menyembunyikan rasa takutku sendiri.
“Ibu,
siapa mereka? Mengapa mereka mengejar
kita? Apa salah kita?” Anakku memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang
tak bisa kujawab.
“Sstt…berisitirahatlah,
Sayang. Nanti saja ibu jawab pertanyaanmu, ya… Sekarang tidurlah. Ibu akan
menjagamu.”
“Ibu,
aku haus.”
“Minumlah,
Sayang.” Aku memberi air kehidupan dari tubuhku dan dia melahapnya. Setiap tegukan
membuatku merasa bahagia meskipun hal ini membuatku semakin lemah. Aku menatap
wajah anakku. Ah, kasihan dia. Rona takut membayang jelas di wajah polos itu.
Sinar mata yang biasanya jenaka kini redup, berganti dengan genangan air mata
yang mulai mengering. Dia juga menatapku.
Kemudian sebuah senyuman mengembang di bibir mungilnya. Tangan kecilnya
menyentuh pipiku.
“Ibu
jangan menangis…” Katanya. Sekarang aku benar-benar menangis. Kupeluk lebih
erat anakku dan kami berdua menangis dalam ketakutan. Ketakutan akan bencana
yang menimpa kami. Ketakutan akan ketidakpastian nasib. Sejauh ini kami
berhasil selamat. Aku akan terus berlari sampai yakin kalau kami sudah
benar-benar aman. Rasa lelah membuatku mengantuk. Anakku sudah tertidur dalam
gendonganku. Aku menyandarkan tubuh pada dinding celah batu tempat persembunyian
kami. Lalu aku berteriak,”Lepaskan!! Biarkan kami pergi!!!”
Suara-suara itu telah mengepung kami. Sebuah
tali menjerat kakiku, tapi aku berhasil memutusnya. Aku berusaha kabur, tapi
rupanya celah batu ini hanya menyediakan satu jalan keluar dan sekarang jalan
keluar itu sudah terutup. Suara-suara itu kini berada di hadapanku. Para pembawa suara-suara itu mengepungku dari segala
penjuru. Naluri keibuan untuk melindungi anakku melahirkan keberanian luar
biasa. Aku menyerang mereka. Tapi mereka cerdas. Mereka berdiri dalam jarak
aman. Tiba-tiba aku merasakannya. Mulanya di kaki, lalu paha, punggung dan
leher. Rasanya seperti ada benda kecil tajam masuk ke dalam tubuhku. Rasa sakit
tak terperi menjalar perlahan bersama panas yang menggila. Aku meraba tubuhku
dan melihat darah memancar. Aku berusaha menutupi lubang-lubang itu.
Dan
seakan ada bantal raksasa dibekapkan pada wajahku. Aku tak dapat bernafas. Tak
bisa bergerak. Tenagaku lenyap. Aku terbanting jatuh ke tanah. Hal terakhir
yang kurasakan adalah dekapan anakku yang menempel erat ditubuhku yang
bersimbah darah. Anakku menjerit,”IBUUUUUUUUUU….”
EPILOG
“Bos!
Bayi Orang Utan ini tak mau lepas dari ibunya. Dia menempel kuat sekali!” “Bodoh!
Masa sama anak Orang Utan saja kalah! Induknya sudah mati!
“Cepat!
Kapal sudah menjemput. Taruh bayi Orang Utan itu dalam kurungan bersama yang
lain. Hmm… yang ini gendut, ya…! Kita akan cepat kaya! Ha ha ha!”
Catatan : Perburuan dan perdagangan
ilegal bayi Orang Utan membuat populasi Orang Utan menurun drastis. Para
peneliti mengatakan, bayi Orang Utan akan menempel erat di tubuh induknya
meskipun induknya sudah mati. Selama berhari-hari, para pemburu liar menaruh
mereka dalam kurungan tanpa diberi makan. Setiap malam, bayi-bayi orang utan
itu akan mengerluarkan suara seperti tangisan yang memilukan. Oleh para pemburu
liar, mereka akan dijual ke kolektor satwa dan kebun binatang dengan harga
tinggi.
Tidak ada komentar