Persahabatan Yang Berakhir di Kamar gas



Judul film        : The Boy in the Striped Pajamas
Produksi          : Miramax Film
Sutradara         : Mark Herman
Durasi              : 109 menit
Pemain             : Asa Butterfield, Zac Matton O’Brien, dll

“Childhood is measured out by sounds and smells and sights, before the dark hour of reason grows.” John Betjeman
Kalimat itu mengawali film yang bersetting pada masa perang dunia kedua. Di kisahkan sebuah keluarga perwira tinggi pasukan SS Nazi harus pindah dari kota Berlin, ke daerah pedesaan karena tugas sang ayah. Bruno, bocah lelaki berusia delapan tahun dan Gretel, kakak perempuannya yang berusia 12 tahun, merasa sedih harus meninggalkan sahabat-sabahat mereka di Berlin. Namun sang ibu meyakinkan keduanya bahwa di rumah yang baru mereka akan mendapatkan lebih banyak teman.

Ternyata rumah baru mereka berada di pinggir hutan dan dijaga oleh banyak tentara Nazi. Rumah itu di kelilingi tembok tinggi dan pagar berkawat serta anjing-anjing penjaga. Bruno dan Gretel tidak bisa pergi kemanapun, termasuk bersekolah. Sebagai gantinya, Sang Ayah, Komandan Ralf mendatangkan guru privat. Melalui jendela kamarnya, Bruno bisa melihat “perkebunan’ di kejauhan. Namun, ketika dia bertanya kepada ayahnya apakah dia bisa bermain di perkebunan itu, sang ayah langsung memerintahkan anak buahnya untuk menutup jendela itu dengan papan. Pada saat-saat tertentu, Bruno melihat asap hitam membumbung tinggi dari cerobong asap di ‘perkebunan’ itu di sertai bau yang tidak sedap.


Mengganggap dirinya seorang petualang, Bruno yang tidak betah tinggal diam di dalam rumah, akhirnya menemukan sebuah pintu belakang yang tidak di jaga tentara. Pintu itu langsung mengarah ke hutan. Bruno seolah menemukan kebebasannya. Dia memasuki hutan hingga sampai pada sebuah kawasan yang di kelilingi kawat berduri. Di balik kawat itu, dia bertemu Shmuel, seorang bocah lelaki kurus kecil, berkepala botak yang memakai piyama bergaris dengan nomor tertera di dada. Smhuel sedang bersembunyi sambil beristirahat dari pekerjaannya mendorong troli.

Terjalinlah persahabatan di antara keduanya, yang di pisahkan oleh tembok kawat berliran listrik tegangan tinggi. Setiap hari, Bruno mencuri makanan dari dapur untuk di berikan kepada Shmuel yang kelaparan. 

Walaupun bersetting pada masa perang, tetapi film ini ‘bersih’ dari adegan kekerasan. Meski demikian, penonton dapat dengan jelas merasakan kekejaman pasukan Nazi. Seperti ketika adegan Pavel, seorang pelayan yang bekerja di rumah Bruno, tanpa sengaja menumpahkan anggur pada saat jamuan makan malam. Tak ada kekerasan yang di tampilkan oleh secara nyata, namun penonton bisa menebak apa yang menimpa Pavel yang malang itu ketika seorang tentara menyeretnya keluar dari ruang makan.

Pun ketika adegan si kecil Shmuel kedapatan makan kue pemberian Bruno saat dia di suruh membersihkan gelas-gelas kristal di rumah Bruno. Penonton bisa mengetahui perlakuan yang di terima Shmuel pada adegan berikutnya yang menampilkan memar biru di wajah pucatnya.

Kepolosan dan keingintahuan Bruno membawanya pada malapetaka yang tidak pernah dia bayangkan. Puncak ketegangan film ini di mulai saat Bruno, yang dengan gembira dan antusias berhasil menemukan cara untuk bisa masuk ke dalam Kamp tempat Smhuel tinggal, yaitu dengan cara menggali lubang di bawah kawat beraliran listrik itu. Smhuel bercerita bahwa ayahnya di bawa pergi bersama sekelompok orang dan tidak pernah kembali. Smhuel ingin Bruno membantu mencari ayahnya di seluruh kamp. Smhuel membawakan piyama bergaris untuk Bruno agar dia bisa masuk ke kamp dengan bebas.

Seharusnya hari itu, Bruno dan Gretel akan ikut pindah ke rumah bibinya. Ibu Bruno ‘shock’ mengetahui apa yang di kerjakan suaminya yang seorang Perwira Tinggi Nazi. Selama ini dia tidak tahu menahu tentang kekejaman Nazi karena suaminya sangat pintar menutupi. “I Married a Monster!” Itu yang di katakan kepada suaminya, lalu  membawa pergi kedua anaknya pindah dari rumah di pinggir hutan itu. Namun malapetaka menghampiri anak lelakinya terlebih dahulu.

Bruno ingin membantu sahabat ‘rahasianya’, Smhuel mencari ayahnya. Dia menyelinap pergi dari rumah, menuju kamp dan menggali lubang di tanah agar bisa masuk. Smhuel telah menunggu dengan membawa piyama. Tanpa kesulitan, Bruno berhasil masuk ke kamp dan menyamar menjadi salah satu penghuni kamp konsentrasi itu. Mereka memasuki kamp satu per satu, berusaha mencari ayah Smhuel.


Kengerian menyergap Bruno dan Smhuel saat pluit panjang terdengar dan pasukan Nazi menggiring orang-orang berpiyama itu dalam barisan menuju satu gudang. Dua bocah kecil itu terjebak di tengah barisan panjang itu. Walau amat ketakutan, Bruno berusaha menenangkan Smhuel saat mereka di suruh membuka baju. “Mungkin mereka hanya menyuruh kita mandi”, kata Bruno. Ketika pintu besi menutup, penonton tahu apa yang terjadi di balik pintu itu.

Film ini di tutup dengan jeritan panjang ibu Bruno demi menemukan baju Bruno teronggok di luar pagar kawat listrik dan  sekop yang di gunakan Bruno untuk menggali lubang di bawah pagar kawat listrik.

Terlepas dari masalah ‘ke-Yahudian’, film ini sangat menyentuh sisi-sisi kemanusiaan. Persahabatan antara anak penghuni kamp dan anak perwira Tinggi Nazi menjadi sentral cerita film ini. Tentang kepolosan dan jiwa petualang seorang anak berusia 8 tahun. Tentang betapa sekelompok manusia memperlakukan sesamanya lebih rendah dari binatang ternak. Semua itu di kemas dalam alur yang agak lambat. Sekali lagi, tidak ada setetes darah pun di tampilkan dalam film ini. Mungkin karena film ini tentang anak-anak.

The boy in the Striped Pajamas yang di angkat dari novel best-seller karya John Boyne ini tidak beredar di bioskop-bioskop di Indonesia, namum bisa didapatkan dalam bentuk DVD dengan kualitas gambar dan subtitle yang baik.

2 komentar