Kereta Terakhir

Cerpen ini dimuat di Majalah HAI edisi 7 Januari 2013
 Kereta Terakhir
Oleh Dwi Indarti (@itsjustdwi)
Ini malam ketiga aku terpaksa naik kereta terakhir. Sepulang sekolah, aku dan teman-teman berkutat di studio untuk menyelesaikan proses editing proyek film dokumenter.
Jam digital di tangan kananku menunjukan pukul 22.02. Mulutku menguap lebar seperti seekor kudanil ketika aku tersadar ada seseorang yang sedang memperhatikan.
 “Shit!” Aku mencaci dalam hati. Kenapa saat sedang diliatin cewek cantik, aku sedang dalam posisi tidak berwibawa begini?
Gadis cantik itu duduk tak jauh dari tempatku. Di gerbong ini hanya ada tiga orang. Seorang pria gendut yang tertidur di sudut, aku dan gadis itu. Tapi perasaanku, tadi ketika masuk gerbong ini, gadis itu tidak ada. Well, mungkin aku tidak melihatnya.
Gadis itu masih memperhatikanku. Aku jadi salah tingkah. Akhirnya aku beranikan diri untuk menghampirinya.
“Boleh duduk di sini?” Aku menunjuk bangku kosong di sebelahnya. Gadis itu mengangguk.
“Sendirian?” Gadis itu mengangguk lagi.
“Aji.” Aku mengulurkan tangan. Gadis itu menyambut uluran tanganku. Brrrr...aku seperti memegang sebongkah batu es. Telapak tangannya dingin sekali. Mungkin karena AC kereta yang terlalu dingin.
“Sarah.” Akhirnya gadis itu bersuara. Suaranya lembut dan dalam.
“Sorry, apakah aku mengganggu?” Dia menggeleng pelan.
“Kamu turun di mana?”
“UI”
Hening. Aku tak tahu harus bicara apalagi. Kalau terus menerus bertanya, aku takut dia merasa risih.
“Kamu pulang sekolah, ya?” Ah, aku merasa lega akhirnya dia yang bertanya.
“Iya. Sudah tiga hari aku pulang kemaleman begini dan terpaksa naik kereta terakhir. Untung masih dapat kereta. Kalau gak, mungkin aku bakal tidur di sekolah.” Aku nyerocos panjang lebar.
“Curhat?” Sarah cekikikan. Hiiiy, bulu kudukku merinding. Bukan karena mendengar suara ketawanya, tapi karena wajahnya. Alamak, cantik dan manis sekali!
“Eh, oh, ung…” Aku menjadi super bego.
“Kamu sendiri ngapain malam-malam begini?” Aku balik bertanya.
“UI! Aku turun duluan, ya! Sampai ketemu lagi!”
Sarah melesat keluar begitu pintu kereta terbuka. Aku hanya melongo mentatap punggungnya sampai pintu kereta kembali tertutup.
‘***
Hingar bingar liputan konser Band Killing Me Inside di sekolah dan ulangan fisika, membuatku lupa sama sekali tentang Sarah.  Aku terpaksa harus naik kereta terakhir lagi.
“Hai!”
Hampir saja aku jatuh tersungkur saking kagetnya. Tiba-tiba Sarah sudah duduk di sebelahku.
“Bujug buneng!! Bececeran hatiku!”
“Lebay, ah! Lagian serius amat nunduknya. Lagi nyari uang receh?”
“Abang lagi ngumpulin hati yang tercecer karena kemaren ditinggal pergi sama neng Sarah.”
“Basiiiii…” Sarah terpingkal-pingkal.
 “Sekolahnya kemaleman lagi?” Tanyanya.
“Iya! Aku dan teman-teman sedang mengerjakan proyek Film documenter untuk ikut lomba.  Ugh, badan capek banget. Lemah, letih, lesu, lemes, loyo, lapar.”
 “Curhat lagi? Kamu itu suka curhat dimana-mana, ya? Ketemu aku, curhat. Liat tong sampah, curhat. Ketemu sama tiang listrik, curhat. Ada rel kereta, curhat.” Goda Sarah.
“Ha ha ha, kamu ternyata lucu ya! Kenapa gak jadi petinju aja?” Aku membalas godaannya. Sarah tertawa lepas. Lagi-lagi, aku merinding. Tapi aku merasa senang. Kami saling mengejek dan membicarakan hal-hal yang gak penting.
“Hey, kamu Mahasiswa, ya? Kuliah di mana? Kok pulangnya malam-malam begini?” Aku bertanya.
“Ya ampun! Udah sampai UI! Gak berasa, ya…!” Sarah berdiri.
“Yaaaaah…kamu belum jawab pertanyaanku.” Aku merengut.
Add Facebook aku, aja!” Kata Sarah
“Boleh-boleh…Apa nama Facebook kamu?”
“Besok aja, yaaa….” Tanpa babibu, Sarah melompat turun dan menghilang di balik pintu kereta. Aku garuk-garuk kepala yang tidak gatal dan memandang sekeliling.
Ternyata, tadi aku hanya berdua dengan Sarah di gerbong ini. Dan sekarang aku sendirian. Cuek ajalah. Memangnya bakal ketemu dedemit gerbong kereta? Aku gak percaya yang begituan…
‘***
Malam ini, aku sengaja menunggu kereta terakhir, berharap bisa bertemu Sarah. Wajah cantik dan suara lembutnya membuatku jatuh hati dan rindu.
Bisa gitu ya? Baru ketemu dua kali dan langsung merasa kangen. Mungkin ini yang disebut “Love at the first sight.”
Lagi-lagi, gerbong kereta nomer 7 yang aku naiki ini sepi. Aku mengambil tempat duduk biasa. Aku tidak tahu Sarah naik dari mana, tapi dugaanku, dia naik dari Stasiun Manggarai.
“Nunggu aku, ya?” Tau-tau Sarah sudah berdiri di depanku.
“Bisa gak sih, kamu gak ngagetin saya?!”  Aku sewot.
“Ih, siapa yang ngagetin kamu? Kamu aja yang kagetan kayak kakek-kakek!” Balas Sarah sewot.
“Kalau aku kena serangan jantung, trus mati, gimana?”
“Ya tinggal di kubur. Beres.”
Aku pura-pura marah, tapi dalam hati seneng banget ngeliat Sarah bersungut-sungut. Wajah cantiknya terlihat lucu.
“Sarah Amelia Nirvana.”
“Ha?”
“Sarah Amelia Nirvana.” Dia mengulangi.
“Siapa itu?” Tanyaku pura-pura bodoh.
“Itu nama Facebook akuuuu…Kamu Add, ya… Please.”
“Gak janji, ya….” Jawabku acuh tak acuh.
“Ih, kok gitu! Add aku doong. Trus tulis di Wall aku, seperti teman-temanku. Aku senang kalau Wall-ku ramai.”
“Hmm…upahnya apa kalau saya Add kamu?”
“Upahnya ini…” Tiba-tiba Sarah mendekatkan wajahnya dan mencium keningku. Sssrrr…Aku merasa aneh. Campuran antara senang, kaget, takut dan ada sebuah perasaan aneh yang tak bisa digambarkan. Dadaku berdegub kencang.
“Maaf…” Ucapnya lirih.
“It’s ok.”
“Aku tahu, kamu pemuda yang baik. Kamu tidak seperti mereka. Mereka jahat!”
“Mereka itu siapa?”
“Bukan siapa-siapa. Kamu janji, Add aku yaa... ?”
“Iya. Pasti aku Add. Ngomong-ngomong, nama kamu Sarah Amelia Nirvana? Nirvana?” Saya mengulang dan menekankan kata Nirvana.
“Aneh, ya?”
“Papa kamu penggemar group Band Nirvana, ya?”
“Namaku tidak ada hubungan sama sekali dengan Group Band asal Seattle itu. Nirvana ‘kan artinya surga. Mungkin orangtuaku ingin aku menjadi seindah surga.”
“Keinginan orang tuamu terkabul. Kamu memang seindah surga.”
“Terima kasih. Surga memang indah. Tapi untuk mencapainya, kamu harus melalui hal-hal yang sangat menyakitkan. Hal-hal yang sangat mengerikan…” Sarah menerawang.
 “Kamu bicara seperti kamu seperti sudah pernah mengalaminya saja…” Aku berusaha mengembalikan suasana gembira.
“Aji, aku senang bisa bertemu dan berkenalan denganmu. Terima kasih ya sudah mau menemaniku ngobrol selama tiga malam ini.”
“Aku juga senang. Kita masih akan terus ketemu, kan? Aku boleh berteman denganmu, kan?” Sarah hanya tersenyum menjawab pertanyaanku.
“Sudah sampai UI. Aku pergi dulu, ya. Jangan lupa, Add Facebook aku, dan ingatlah kalau kita pernah bertemu. Bye!” Sarah pergi sebelum aku sempat berkata apapun kepadanya.
            Malam itu juga, aku langsung mencari akun Facebook-nya. Mudah menemukan nama Sarah Amelia Nirvana. Facebook-nya tidak dikunci, jadi aku bisa melihat-lihat foto-foto yang secantik aslinya. Lalu aku melihat Wall-nya.
            Apa yang aku baca di Wall Facebook Sarah membuat darahku berhenti mengalir. Aku tak percaya. Aku terus membaca tulisan-tulisan yang ada di sana.
-         Tujuh hari sudah kau pergi meninggalkan kami. Selamat jalan, kawanku… Semoga jiwamu tenang di alam sana.
-         RIP, Sarah … gue sedih banget. Gue gak nyangka kejadian ini menimpa elo. Semoga mereka mendapat balasan yang setimpal. Beneran, gue sedih …
-         Sarah sayang…semoga jiwamu tenang, ya … penjahat-penjahat itu sudah ada di penjara. Mereka akan membayar semua perbuatannya. Sarah, surga telah menantimu
-         Saraaaaaaaaaaahh…aku akan merindukanmu….Oh, Sarah…aku nulis ini sambil nangis, Sarah sayaaaaang…

-         Sarah yang baik, kita memang gak terlalu dekat, tapi aku pernah merasakan kebaikan hatimu. Selamat jalan, teman… Doaku bersamamu. Damailah di surga, seperti namamu, Nirvana.
Lalu aku menemukan sebuah link. Tulisan yang aku baca di link portal berita itu membuatku hampir pingsan.
Seorang Mahasiswi ditemukan tewas di dekat stasiun UI, Depok. Diduga, Mahasiswi bernama Sarah Amelia Nirvana tersebut menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan. Lima tersangka pelaku kini sudah tertangkap dan diamankan Polsek kota Depok…
      Aku tak sanggup lagi membacanya  …
‘***





           

Tidak ada komentar