-14122012-
Apa yang terjadi jika perasaan dikuasai oleh prasangka?
Apa yang terjadi jika prasangka itu berkembang liar di kepala.
Menciptakan drama-drama.
Dibumbui dengan tragedy.
Diakhiri dengan ending yang nestapa ?
Apa yang terjadi jika sebenarnya prasangka itu tumbuh dari rasa rindu yang memuncak ?
Air mata. Ya... Hasilnya adalah air mata ...
Seperti jumat subuh itu …
Prasangka begitu memenuhi kepala dan hati ini.
Tak terkendali.
Tak dapat dicegah.
Tak bisa ditahan.
Sehingga isakan teredam dan lelehan air mata membasahi sajadah dan mukena.
Atas dorongan prasangka, subuh buta itu, saya menelephon orang terkasih di sana …
Jelas terdengar isak tangis yang tak dapat disembunyikan …
Kenapa gak pernah telephone ?
Kenapa harus selalu saya yang telephone ?
Sudah dua hari ini, saya sengaja gak telephone, dengan harapan
agar ditelephone dan ditanya, “kok gak telephone?” Tapi apa ?! sama
sekali gak ada inisiatip untuk menelephone!
Gak peduli sama sekali!
Saya iri dengan teman-teman saya yang selalu ditelphone.
Ditanya, sedang apa, lagi dimana, sudah makan atau belum? Saya ingin
dipedulikan!
Dua minggu saya gak pulang ke rumah, sama sekali tidak ditanya.
Sadar gak sih, setiap kali saya telephone, saya hanya mendengar cerita, padahal saya yang ingin bercerita?
Sadar gak sih, setiap kali saya telephone, saya yang selalu bertanya, sedang apa? Bagaimana keadaan disana? Lagi sibuk apa?
Sadar gak sih, setiap kali saya telephone, saya yang lebih banyak diam?
Saya di sini sendirian. Gak ada yang bertanya sudah sampai rumah
atau belum. Gak ada yang bertanya sudah makan apa belum. Gak ada yang
bertanya sedang apa dan sama siapa?
Gak peduli banget!
Apa saya hanya diingat jika sedang dibutuhkan? Begitukah ?…
Gak inget sama sekali, kan ? hari ini hari apa ? Hari ini saya ulang tahun !
... Dan bertubi-tubi ucapan, yang berasal dari prasangka, terlontar seperti peluru-peluru tajam.
Seperti anak panah beracun. Seperti sebilah samurai yang ditebaskan…
Puas ? belum …
Lalu tiba-tiba suara di sebrang sana menjawab…
“Ibu juga kangen. Ibu pengen telephone. Tapi ibu gak tahu caranya pakai telephone. Bapak juga gak bisa pakai HP. Maap, ya nak …” Di ujung sana dia menangis.
… Seketika. Hening…
Maaf, ibu …


Tidak ada komentar