Piano Putih Gading
Oleh Dwi Indarti (@itsjustdwi)
Gadis itu menjulurkan kepala. Dia
berjinjit agar dapat melihat melalui daun jendela. Rumah besar itu memiliki
banyak daun jendela yang tinggi-tinggi. Tubuh gadis itu terlalu kecil untuk
dapat meraih pegangan kusen.
Gadis itu tersenyum senang karena
menemukan sebongkah batu untuk pijakan. Dia menunpung beberapa batu lalu
berdiri di atasnya. Dia mengintip disela-sela kusen jendela yang sudah lapuk
dan berhiaskan sarang laba-laba. Tanpa ragu, gadis itu mengoyak rajutan jaring
laba-laba dan mengusir beberapa laba-laba besar yang menghuni jaring itu.
Sinar bulan yang sempurna membantu
menerangi rumah besar yang gelap gulita itu. Gadis itu mengerjapkan mata,
mencari sumber keindahan yang menggetarkan sanubarinya.
Dentingan suara piano terdengar mengalun
lembut. Kadang terdengar sangat dekat. Tapi detik berikutnya suara itu seolah
datang dari negeri yang jauh. Alunan musik itu merembes keluar melalui celah
jendela, pintu dan dinding. Keindahan suara itulah yang membawa si gadis meninggalkan
kehangatan kamar, memakai mantel malam, menembus udara dingin dan kabut, kemudian
berjalan mengendendap-endap keluar rumah.
Gadis itu yakin, jika Oma tahu dia keluar
kamar selepas senja, Oma akan marah besar. Dia pasti akan mendapat hukuman. Apalah
daya, suara alunan musik itu begitu
mengusiknya. Denting piano yang dia dengar setiap malam, sejak tiba di rumah Oma,
tujuh hari yang lalu.
‘***
“Oma, suara musik itu indah sekali.
Siapa yang memainkannya?” Dia bertanya
kepada Oma saat pertama kali mendengar suara alunan musik itu.
“Sssh! Jangan berbicara ketika
sedang makan.” Sergah Oma.
“Tapi Oma, suara musik itu …”
“Apa yang kamu bicarakan? Sudah, habiskan
makananmu. Jangan sampai tersisa sebutir nasi pun. Itu peraturan di rumah ini.”
Gadis itu menunduk dan memandangi
sisa makanan di piringnya. Dia tidak berani lagi bertanya lebih lanjut. Dia
berusaha keras menghabiskan sisa makanan, meskipun perutnya sudah menolak.
Suara musik itu masih terdengar
lamat-lamat. Gadis itu menajamkan kedua
telinga demi terus bisa mendengarnya . Kesunyian ruang makan besar itu hanya
terusik oleh dentingan halus sendok dan garpu. Jika berdenting agak keras,
wajah Oma akan mendongak dan matanya terbelalak.
“Aku sudah selesai, Oma.” Gadis itu
akhirnya menyilangkan sendok dan garpunya dalam keadaan tertelungkup di atas
piring. Dia mendorong piring itu.
“Kau mau puding untuk pencuci mulut?”
“Tidak Oma. Terima kasih. Aku sudah
kenyang.”
“Kalau begitu, naik ke kamarmu dan beristirahatlah.”
“Bolehkah aku keluar sebentar cari
angin, Oma?”
“Tidak! Kau tidak boleh keluar
selepas maghrib. Ayo, Oma antar ke kamar.”
Gadis itu tak dapat membantah. Dia
mengekor Oma, menaiki tangga kayu, melewati bordes yang berhias lukisan-lukisan
kuno. Suara musik itu seakan mengikutinya. Oma menunggu di dalam kamar sampai
dia berganti baju tidur.
“Selamat malam, Delia.” Oma
mengecup kening dan merapihkan selimutnya.
“Selamat malam, Oma.”
“Tidurlah yang nyenyak …”
Tapi gadis itu tidak bisa
memicingkan mata sedikit pun. Dari kamarnya, suara dentingan piano terdengar
lebih jelas. Alunan musiknya sangat indah. Gadis itu seperti dibawa ke sebuah
lembah hijau dengan ratusan kupu-kupu berwarna warni berterbangan disekelilingya.
Kadang denting piano itu memainkan lagu yang riang gembira. Kadang, alunan
musik itu terdengar sangat menyayat hati dan menyedihkan. Seperti jeritan dari
masa silam …
‘***
“Tidurmu nyenyak semalam?” Tanya
Oma saat sarapan pagi.
“Iya, Oma.” Gadis itu berbohong.
Padahal dia terus terjaga sampai pukul 3 dini hari. Dia ingin bertanya kepada
Oma, siapa yang bermain piano sepanjang malam. Tapi dia mengurungkan niatnya. Dia
yakin, Oma tidak akan suka bila dia bertanya tentang hal itu.
“Habiskan roti dan susumu.”
“Baik, Oma.”
“Mau tambah bubur?”
“Tidak, Oma. Terima kasih.”
“Kau harus makan yang banyak.
Tubuhmu terlalu kurus untuk ukuran anak seusiamu.”
Gadis itu diam saja ketika Oma
menambahkan bubur ke dalam mangkuknya. Dia kembali tersiksa menghabiskan
makanan, dan memaksa perutnya menerima semua makanan itu.
Mereka sarapan dalam diam. Hanya
suara kicau burung dan kowek bebek yang menandakan ada kehidupan di luar
halaman rumah itu.
“Gurumu akan datang sebentar lagi. Kalau
kau sudah selesai sarapan, sebaiknya kau segera bersiap-siap.”
“Baik, Oma.”
Gadis itu kembali ke kamarnya untuk
berganti pakaian. Inilah hidup yang harus dijalaninnya sekarang dan seterusnya.
Dia tidak lagi pergi ke sekolah seperti anak-anak seumurnya. Dia akan
mendapatkan pendidikan melalui home
schooling. Dia di penjara di rumah Oma selamanya sebagai hukuman atas
‘kenakalannya’.
‘***
“Itu bukan salahku, Mama! Anak
laki-laki itu terus menerus mengejekku!”
Dia berteriak di ruang kepala sekolah, di hadapan Mama dan Ibu Kepala sekolah.
“Tapi menyiram dengan cairan kimia
itu sangat berbahaya, Delia!” Bentak Mama.
“Delia, sayang. Kamu bisa menunggu
di luar sebentar, nak…” Ibu Kepala Sekolah menuntun Delia keluar dan
menyuruhnya duduk di bangku depan. Delia bisa mendengar percakapan mereka
melalui pintu yang sedikit terbuka.
“Ini bukan yang pertama kali Delia
membahayakan murid-murid lain, Bu…”
“Saya tahu.”
“Bulan lalu, Delia menjambak rambut
kawan sebangkunya sampai rambut anak itu tercabut dan berdarah banyak sekali.”
“Kami sudah meminta maaf kepada
orang tua anak itu dan menanggung semua biaya Rumah sakit.”
“Waktu kelas 2 SMP, Delia menyiram
kuah bakso panas kepada temannya yang lain. Ibu juga tentu masih ingat kejadian
anjing galak itu? Delia sengaja melepaskan anjing galak untuk mengejar
teman-temannya di depan rumah, hanya karena mereka berteriak-teriak. Salah seorang
anak digigit anjing milik keluarga anda dan sempat dirawat di Rumah Sakit.”
“Terima kasih, tapi Ibu Kepala
Sekolah tak perlu mengingatkan saya pada kejadian itu. Sekali lagi saya tegaskan
bahwa kami bertanggung jawab atas semua perbuatan anak kami. Keluarga kami
sudah meminta maaf dan mengganti semua biaya.”
“Maaf, Bu. Ini bukan masalah
materi. Saya tahu Delia anak yang jenius. IQ nya mendekati 190. Tapi, dia
mempunyai gangguan kejiwaan…”
“Anak saya tidak gila, kalau itu
yang anda maksud! Saya minta maaf atas semua kenakalannya dan akan mengganti
semua materi. Tapi anak saya tidak gila!”
“Saya tidak mengatakan anak ibu
gila. Saya hanya menyarankan, mungkin home
schooling lebih cocok untuk Delia.”
‘***
“Aku tidak mau tinggal dengan Oma!”
Gadis itu histeris. Dia mengamuk dan melempar barang-barang di kamarnya.
“Oma bisa mengurusmu lebih baik
Delia…” Papa menangkap tubuhnya dan mendekapnya dengan erat. Delia
meronta-ronta dan terisak-isak dalam dekapan Papa.
“Papa jahat! Mama jahat!”
“Kami sayang kamu, Delia…” Mama
membelai kepalanya. Tapi Delia terlalu marah. Sepanjang jalan menuju rumah Oma,
Delia duduk mematung dan tak bersuara sediki pun. Gadis itu tahu, dia sedang
menuju ‘penjara.’
Rumah Oma terletak di daerah
perbukitan yang berhawa sejuk. Jauh dari keramaian. Rumahnya besar dan bergaya
Eropa dengan halaman rumput hijau yang luas. Oma tinggal seorang diri bersama
seorang pembantu dan tukang kebun. Oma adalah seorang wanita tua sangat keras dan
tegas. Tak seorang pun berani membantahnya, termasuk Delia.
***
Guru home schooling-nya adalah seorang bapak tua yang sangat
membosankan. Delia melahap semua pelajaran yang diberikan dengan cepat.
Berulang-ulang, Delia mendengar gurunya berdecak dan bergumam kagum saat
memeriksa tugas-tugasnya.
“Jenius!”…
“Menakjubkan!”
“Sangat jenius…”
“She is the next Einstein…”
Tapi Delia tidak peduli. Dia hanya
ingin cepat-cepat kembali ke kamarnya dan mendengarkan musik indah itu lagi.
Namun, harapannya hanyalah sebuah pepesan kosong. Sepanjang siang itu, tak
terdengar suara apapun. Sunyi dan senyap meliputi seisi rumah.
Oma telah membuatkan jadwal
kegiatan sehari-hari untuk Delia. Home
schooling selesai pukul dua siang. Setelah itu Delia harus tidur siang. Sorenya
dia harus belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Delia boleh
berjalan-jalan di halaman sampai menjelang magrib. Setelah itu, dia tidak boleh
keluar lagi.
Ketika makan malam tiba, Delia
kembali mendengar suara musik itu lagi. Sayup-sayup agak jauh dan kurang jelas.
Delia mendongak begitu mendadak, sampai Oma ikut kaget.
“Ada apa?” Tanya Oma menyelidik.
“Tidak ada apa-apa. Oma. Maaf.”
“Kau mau makan es krim untuk
pencuci mulut?”
“Tidak Oma. Terima kasih. Aku lelah
sekali dan ingin segera tidur. Selamat malam, Oma.”
“Selamat malam, Delia.”
Delia setengah berlari ke kamarnya
di lantai dua dan langsung mengunci pintu. Dia duduk di tepi ranjang,
mendengarkan musik itu dengan seksama. Kali ini, dentingan piano itu memainkan
sebuah lagu yang dia kenal. A comme Amour.
Diluar kehendak, Delia bangkit dan
mulai menari. Tubuhnya meliuk-liuk dalam gerakan tari balet, mengikuti irama
dentingan piano yang indah. Delia mahir menari Balet. Dia adalah bintang di
sanggar Baletnya. Baginya, Balet adalah nafas. Delia tidak bisa hidup tanpa
Balet.
Delia terus menari hingga lupa
waktu. Dia tak tahu sedang berada dimana atau apa yang sedang terjadi. Jiwanya
telah pergi bersama alunan musik yang memabukkan. Sampai akhirnya, dia terjatuh
kelelahan di atas ranjang dan tertidur pulas.
‘***
“Bi, di mana piano itu?” Delia
bertanya pada seorang pembantu pada suatu sore.
“Piano yang mana, Nona?”
“Piano yang dimainkan Oma setiap
malam. Di mana piano itu disimpan?”
“Di rumah ini tidak ada Piano,
Nona. Dan Nyonya besar tidak bisa main piano.” Kata pembantu sambil menatap heran
pada Delia.
“Tapi…” Pembantu itu meneruskan
dalam suara bisikan.
“Saya tahu rumah yang ada pianonya. Rumah
besar di balik pagar itu. Nah, di rumah itu dulunya ada sebuah piano besar
berwana putih gading. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki tampan yang sangat
pintar bermain piano. Tapi keluarga itu sudah
pindah dan rumah itu sekarang kosong…”
‘***
Ini malam ketujuh Delia tinggal di
rumah Oma dan mendengar alunan musik indah itu. Setiap malam, Delia menari di
kamarnya dan musik itu terus mengalun, menemaninya sampai dia jatuh tertidur. Malam
ini, Delia sudah tidak tahan lagi. Dia ingin mencari sumber keindahan itu.
Sehabis makan malam, Delia bergegas
naik ke kamarnya dan pura-pura tidur. Dia menunggu sampai Oma masuk ke
kamarnya, mengecek apakah Delia sudah berada di tempat tidur, mengecup
keningnya dan merapihkan selimutnya. Setelah itu, Oma akan mematikan lampu,
lalu keluar kamar.
Delia sudah hafal jadwal kegiatan
Oma. Pukul delapan, Oma akan masuk ke kamar. Delia menunggu selama 10 menit
sesudah dia mendengar pintu kamar Oma tertutup.
Kemudian dia melesat keluar dan
membuka pintu depan dengan kunci yang sudah dicurinya tadi siang. Bulan purnama
membantu menerangi jalan menuju rumah sebelah. Semakin dia mendekati rumah itu,
semakin suara musik itu terdengar kencang.
Akhirnya dia sampai di pagar
pembatas halaman. Pagar itu sudah ditumbuhin jamur dan tertutup ilalang liar.
Delia mengangkat baju tidur putih panjang dan melompati pagar itu. Delia
mendekati salah satu jendela dan mengintip.
Ternyata cerita bibi pembantu benar
dan juga salah. Bibi benar tentang sebuah piano besar berwarna putih gading di
rumah itu. Bibi salah karena berkata rumah itu kosong. Rumah itu tidak kosong. Ada seorang pemuda tampan
sedang duduk memainkan tuts-tuts piano putih gading .
“Masuklah, jangan mengintip dari
situ.” Delia terkejut sekali dan jatuh dari atas batu pinjakan. Pemuda tampan itu tiba-tiba sudah berdiri
dihadapannya.
“Kamu tidak apa-apa? Maaf aku
mengejukanmu.” Pemuda itu melompat keluar jendela dan membantu Delia berdiri.
“Apakah kamu terluka?” Tanya pemuda
itu.
“Aku baik-baik saja.”
“Masuk, yuk…” Ajak pemuda itu. Delia
mengikutinya menuju sebuah Grand Piano putih gading terletak di tengah-tengah
ruangan besar yang mirip atrium.
“Maaf, tadi aku mengintip. Setiap
malam aku mendengar musik indah dan aku menjadi penasaran.”
“Aku memang memainkan musik indah
setiap malam, khusus untukmu. Sejak kau datang tujuh hari lalu, aku ingin
berkenalan denganmu, tapi aku malu. Jadi, aku bermain piano dan berharap kau
sudi datang ke sini untuk memenuiku. Aku senang karena harapanku akhirnya terkabul.”
Pemuda itu tersenyum. Cahaya bulan purnama yang masuk melalui celah jendela
membiaskan wajah pemuda tampan itu. Wajah putih itu seolah transparan dan bersinar.
“Aku merasa tersanjung. Namaku
Delia.”
“Aku Leon .”
“Kamu pandai sekali bermain Piano, Leon …”
“Dan kamu pandai sekali menari,
Delia…”
“Darimana kamu tahu?”
“Setiap malam, aku melihatmu menari
di dalam kamar melalui jendela itu. Gerakan tarianmu sangat indah.”
“Itu karena menari adalah jiwaku.
Aku tak dapat hidup tanpa menari.”
“Begitu pun musik dan piano bagiku,
Delia…”
“Oya?”
“Ya. Musik adalah nafasku dan piano
adalah urat nadiku. Jika ada yang ingin membunuhku, mudah saja. Pisahkan saja
aku dengan musik dan piano dariku. Maka aku akan mati secara perlahan-lahan.”
“Kamu tahu, Leon … Aku tak
akan bisa menari tanpa diiringi oleh alunan musik.”
“Aku tahu, Delia. Itulah sebabnya
aku bermain piano setiap malam untukmu.”
“Tapi kau bisa bermain musik tanpa
perlu tarian…”
“Benar. Tapi musikku akan seperti
tubuh yang kosong. Tidak berjiwa. Tidak berdenyut. Selama ini aku hanya bermain
piano tanpa sadar bahwa musikku hanyalah sebuah alunan mati. Tapi, semua itu
berubah sejak aku melihatmu menari. Aku telah menemukan jiwaku, Delia…”
“Dan aku belum pernah menari dengan
diiringi musik seindah permainan jemarimu, Leon …”
“Kita telah saling menemukan…”
“Maukah kamu mau menari? Di
sini? Saat ini? Bersamaku? Aku akan mengiringi tarianmu dengan pianoku. Piano
putih gading ini adalah rumahku…”
“Baiklah.”
Delia mulai menari. Awalnya
perlahan, tapi semakin lama semakin cepat. Dia berputar-putar seperti gasing.
Dia seolah bersatu dengan Leon .
Dia telah menemukan belahan jiwanya. Dia adalah tarian. Leon adalah musik. Mereka menjadi
satu. Jiwa Delia terbang bersamanya…
‘***
Esoknya…
Headline surat kabar memuat sebuah berita
Seorang gadis berusia 15 tahun
ditemukan tewas di dalam sebuah rumah kosong. Tubuh gadis itu tertindih sebuah
Grand Piano tua berwarna putih gading. Diduga, gadis itu sedang bersembunyi di
bawah piano tua dan kaki-kaki piano tua itu runtuh sehingga menimpa gadis malang tersebut.
Disamping mayat si gadis, ditemukan sebuah foto tua yang diduga dulunya milik
penguhi rumah kosong itu. Dibalik foto seorang pemuda tampan tertulis, “
Leonardo Saputra. Oktober 1872.”
‘***
Pengirim :
Nama : Dwi Indarti
No HP : 0815-8005127
Email : dwi10650@gmail.com
No Rek : Dwi Indarti. Bank
Mandiri Cab
Ratu Plaza ,
Jakarta
A/C : 102-0004027774


Tidak ada komentar