Belakangan ini, saya sering berfikir tentang tahun-tahun yang sudah lewat.
Tahun-tahun dimana seharusnya saya bisa melakukan banyak hal, mencapai banyak
hal, mencoba banyak hal, mengenal banyak hal, belajar banyak hal …
Tapi, apa yang saya lakukan di tahun-tahun itu ? Rasanya tidak ada...
Saya seperti terkurung dalam ‘zona nyaman.’ Saya terbuai oleh
kedamaian. Saya terlena oleh pikiran tenang, tanpa terusik oleh ‘kegalauan’.
Saya merasa puas oleh apa yang sudah saya peroleh. Saya hanya berteman dengan
segelintir orang.
Di tahun-tahun itu, irama hidup saya sudah paten. Kerja - pulang -
tidur | Kerja – pulang - tidur | Gak pernah kelayapan. Gak kepingin
melakukan hal-hal baru. Gak kepikiran macam-macam. Kalaupun ingin, saya gak berani melakukannya karena gak
ada teman. Kerja – Pulang – tidur. That was all.
Time goes by...
Time flies...
Then I started to feel awkward. I felt that I was the outsider. Frekuensinya sudah beda. Saya mulai
merasa tidak bisa memaksakan diri untuk terus menempel pada mereka. Jujur, saya
sedih. There were moments when I felt that I was left behind.
Tiba-tiba saja, seolah ada tangan raksasa mendarat di pipi saya. Kanan.
Kiri. Depan. Belakang. Saya terbangun megap-megap dengan pertanyaan ini di
benak kepala.
“WHAT THE HELL HAVE I DONE SO FAR ?!! SELAMA INI GUE NGAPAIN?!!!"
Menangis, meraung, menyesal, jambak-jambak rambut, merengek, nyesek, saya
sadar, semua itu gak guna. Tahun-Tahun yang sudah lewat itu gak akan kembali.
Umur saya gak akan balik lagi ke nominal kecil. Masa-masa belia itu udah
hilang. Blaaaaaas!
Mulailah saya pontang-panting. Menyingkirkan semua rasa malu, malas, minder
dan marah kepada diri sendiri.
Saya mulai kuliah, meskipun dengan satu ‘pengandaian’ yang terus menempel dibenak, seperti jigong yang nempel di gigi. Pikiran ini
susah dihilangin saat saya duduk di kelas dan menatap dosen yang umurnya jauh
dibawah saya.
“HARUSNYA GUE YANG BERDIRI DI DEPAN KELAS ITU. HARUSNYA
GUE BERSTATUS DOSEN. UMUR GUE INI BUKAN UMUR MAHASISWA!!!”
Kawan, percayalah. Tak mudah menjadi orang yang paling tua di kelas. Tak gampang menyesuaikan diri dengan generasi yang berbeda hampir satu dekade. Rasanya seperti berada di jaman yang salah.
Saya juga mulai mencoba dunia baru. Dunia yang membuat saya hidup dan
berimajinasi. Dunia yang berawal dari sebuah komunitas asing. Oh, Dear
Lord. How I feel grateful to meet theso great people.
Dunia ini membuat saya selalu merasa ingin melakukan sesuatu. Rasanya,
seperti ada hal indah yang menunggu saya di depan sana . Saya terus merangkak, menapaki dunia
tulis menulis. Hingga akhirnya, sesuatu yang indah itu benar-benar terjadi.
Wuihh.. saya merasa ‘ada’. Saya merasa menjadi ‘sesuatu.’ Saya eksis!!.
Meskipun, tetap saja, selintas pikiran menyebalkan itu menyempil dalam celah
benak saya.
“COBA DARI DULU GUE NULIS. COBA DARI DULU GUE MULAI BERKARYA.
LIHAT, BANYAK YANG LEBIH MUDA DAN KARYA MEREKA LEBIH BANYAK.
>>> oh, mind… break it down!
Pun saya memasuki dunia yang lain, yang membuat saya seperti
mengkonsumsi candu. Ketagihan, euy! Dunia traveling dan semua keasyikannya…!
Pergi ke tempat-tempat baru, bertemu orang-orang baru, mengenal tentang hal-hal
yang baru …Oh, What an incredible experience …!
Still, si cerewet itu berteriak-berteriak dalam batok kepala saya.
“DULU-DULU GUE NGAPAIN, YA? SETIAP WEEKEND CUMA TIDUR DI RUMAH. GAK KEMANA-MANA? KASIAN BANGET DEH
HIDUP, GUE…”
Sekarang, saya dikeliling oleh orang-orang hebat. Hmm…lebih tepatnya, saya
yang melemparkan diri ke tengah-tengah mereka.
Diam-diam, saya menyerap semua aura positip dari mereka. Semangat mereka,
energi mereka, gairah hidup mereka. Saya seperti Dementor yang
dikelilingi oleh mantra Patronus…
Terkadang saya gelagapan karena
begitu banyak energi positif yang menyemut di sekeliling saya. Yang membuat saya semangat bangun pagi, semangat berangkat kerja, semangat
kuliah, semangat nulis, semangat jalan-jalan, semangat berkarya…
Kenapa saya baru ketemu kalian saat ini, ya ? Kenapa gak dari dulu, ya? Di
tahun-tahun dimana idealnya seseorang melakukan banyak hal yang penting dan indah.
Sekarang saya selalu merasa galau. Galau kalau nilai jelek. Galau
kalau seminggu gak nulis cerpen satu pun. Galau kalau dalam sebulan gak ngayap.
Tapi, saya pikir, galau itu bagus loh! Karena dengan galau, kita dipaksa
untuk berbuat sesuatu, bertindak, banyak yang dipikirin, dan jadi kreatif! O….I
love being Galawers!
Twit-nya @ibnuakmal ini cocok untuk kondisi saya…
:
God has perfect timing; never early, never late. It takes a little
patience and it takes a lot of faith but it's worth the wait.












Tidak ada komentar