Kemana Tahun-Tahun itu Pergi ?

-->

Belakangan ini, saya sering berfikir tentang tahun-tahun yang sudah lewat. Tahun-tahun dimana seharusnya saya bisa melakukan banyak hal, mencapai banyak hal, mencoba banyak hal, mengenal banyak hal, belajar banyak hal …

Tapi, apa yang saya lakukan di tahun-tahun itu ? Rasanya tidak ada...

Saya seperti terkurung dalam ‘zona nyaman.’ Saya terbuai oleh kedamaian. Saya terlena oleh pikiran tenang, tanpa terusik oleh ‘kegalauan’. Saya merasa puas oleh apa yang sudah saya peroleh. Saya hanya berteman dengan segelintir orang.


Di tahun-tahun itu, irama hidup saya sudah paten. Kerja - pulang - tidur | Kerja – pulang - tidur | Gak pernah kelayapan. Gak kepingin melakukan hal-hal baru. Gak kepikiran macam-macam. Kalaupun ingin, saya gak berani melakukannya karena gak ada teman. Kerja – Pulang – tidur. That was all.

Time goes by...

Satu per satu, teman-teman saya yang segelintir itu pergi. Mereka menikah dan mempunyai dunia baru. Dunia yang belum dapat saya masuki, walaupun saya sangat ingin sekali segera memasuki dunia bernama pernikahan.


Time flies...

Saya berusaha ‘mengekor’ mereka ke dalam dunia baru bernama ‘pernikahan’. Saya masih jalan di tempat sambil terus berharap masuk ke dalam dunia itu secepat mungkin.  Tapi apalah daya, saya hanya menjadi penonton, tanpa melakukan apapun.


Then I started to feel awkward. I felt that I was the outsider. Frekuensinya sudah beda. Saya mulai merasa tidak bisa memaksakan diri untuk terus menempel pada mereka. Jujur, saya sedih. There were moments when I felt that I was left behind.


Tiba-tiba saja, seolah ada tangan raksasa mendarat di pipi saya. Kanan. Kiri. Depan. Belakang. Saya terbangun megap-megap dengan pertanyaan ini di benak kepala.

“WHAT THE HELL HAVE I DONE SO FAR ?!! SELAMA INI GUE NGAPAIN?!!!"

Menangis, meraung, menyesal, jambak-jambak rambut, merengek, nyesek, saya sadar, semua itu gak guna. Tahun-Tahun yang sudah lewat itu gak akan kembali. Umur saya gak akan balik lagi ke nominal kecil. Masa-masa belia itu udah hilang. Blaaaaaas!


Mulailah saya pontang-panting. Menyingkirkan semua rasa malu, malas, minder dan marah kepada diri sendiri.

Saya mulai kuliah, meskipun dengan satu ‘pengandaian’ yang terus menempel dibenak, seperti jigong yang nempel di gigi. Pikiran ini susah dihilangin saat saya duduk di kelas dan menatap dosen yang umurnya jauh dibawah saya.

HARUSNYA GUE YANG BERDIRI DI DEPAN KELAS ITU. HARUSNYA GUE BERSTATUS DOSEN. UMUR GUE INI BUKAN UMUR MAHASISWA!!!”

Kawan, percayalah. Tak mudah menjadi orang yang paling tua di kelas. Tak gampang menyesuaikan diri dengan generasi yang berbeda hampir satu dekade. Rasanya seperti berada di jaman yang salah.




Saya juga mulai mencoba dunia baru. Dunia yang membuat saya hidup dan berimajinasi. Dunia yang berawal dari sebuah komunitas asing. Oh, Dear Lord. How I feel grateful to meet theso great people.

Dunia ini membuat saya selalu merasa ingin melakukan sesuatu. Rasanya, seperti ada hal indah yang menunggu saya di depan sana. Saya terus merangkak, menapaki dunia tulis menulis. Hingga akhirnya, sesuatu yang indah itu benar-benar terjadi.

Ketika karya-karya saya mulai bertebaran di media massa. Ketika saya melihat nama saya tercetak di cover depan sebuah Majalah. Ketika ada sms dari nomer asing, permintaan pertemanan di jejaring social dari orang tak dikenal, dengan sebuah sapaan, “Hai, kamu yang nulis cerpen ini di Majalah ini ya ? Salam kenal, ya …”

Wuihh.. saya merasa ‘ada’. Saya merasa menjadi ‘sesuatu.’ Saya eksis!!.

Meskipun, tetap saja, selintas pikiran menyebalkan itu menyempil dalam celah benak saya.

 “COBA DARI DULU GUE NULIS. COBA DARI DULU GUE MULAI BERKARYA. LIHAT, BANYAK YANG LEBIH MUDA DAN KARYA MEREKA LEBIH BANYAK. >>> oh, mind… break it down!


Pun saya  memasuki dunia yang lain, yang membuat saya seperti mengkonsumsi candu. Ketagihan, euy! Dunia traveling dan semua keasyikannya…! Pergi ke tempat-tempat baru, bertemu orang-orang baru, mengenal tentang hal-hal yang baru …Oh, What an incredible experience …!

Still, si cerewet itu berteriak-berteriak dalam batok kepala saya.

DULU-DULU GUE NGAPAIN, YA? SETIAP WEEKEND CUMA TIDUR DI RUMAH. GAK KEMANA-MANA? KASIAN BANGET DEH HIDUP, GUE…

Sekarang, saya dikeliling oleh orang-orang hebat. Hmm…lebih tepatnya, saya yang melemparkan diri ke tengah-tengah mereka.

Diam-diam, saya menyerap semua aura positip dari mereka. Semangat mereka, energi mereka, gairah hidup mereka. Saya seperti Dementor yang dikelilingi oleh mantra Patronus… 

Terkadang saya gelagapan karena begitu banyak energi positif yang menyemut di sekeliling saya. Yang membuat saya semangat bangun pagi, semangat berangkat kerja, semangat kuliah, semangat nulis, semangat jalan-jalan, semangat berkarya…

Kenapa saya baru ketemu kalian saat ini, ya ? Kenapa gak dari dulu, ya? Di tahun-tahun dimana idealnya seseorang melakukan banyak hal yang penting dan indah.



Sekarang saya selalu merasa galau. Galau kalau nilai jelek.  Galau kalau seminggu gak nulis cerpen satu pun. Galau kalau dalam sebulan gak ngayap.

Tapi, saya pikir, galau itu bagus loh! Karena dengan galau, kita dipaksa untuk berbuat sesuatu, bertindak, banyak yang dipikirin, dan jadi kreatif! O….I love being Galawers!

Twit-nya @ibnuakmal ini cocok untuk kondisi saya… :

God has perfect timing; never early, never late. It takes a little patience and it takes a lot of faith but it's worth the wait.



Yap! Tuhan telah menulis sebuah skenario indah untuk hidup saya. Waktu, setting, alur, plot, semua sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz-NYA. Saya hanya menjalani. Sekarang, saya benar-benar sedang menikmati proses. Soal hasil, itu hak prerogative-NYA … Wallahi

Tidak ada komentar