Cerpen ini dimuat di Majalah HAI edisi 3 September 2012
SEVEL 03:59
Oleh Dwi Indarti (@itsjustdwi)
Galau itu apa sih?
Menurut
Google, galau adalah keadaan dimana seseorang menjadi sedih, murung, resah,
gelisah, tak bisa tidur karena memikirkan sesuatu atau seseorang.
Keadaan
inilah yang sedang menimpa Abby. Dia positip dinyatakan sedang menderita
kegalauan akut. Sudah berjam-jam dia berbaring telentang di atas tempat tidur,
tapi tak dapat memicingkan mata sekejap pun. Matanya nyalang menatap
langit-langit kamar.
Tampaknya
tingkat kegalauan Abby sudah mencapai level sepuluh. Akhirnya dia tak tahan
lagi. Abby bangkit dari tidurnya dan keluar meninggalkan kamarnya yang luas, nyaman,
ber-AC, dilengkapi home theather dan seperangkat alat elektronik canggih. Abby
bahkan rela meninggalkan pertandingan bigmatch klub kesayangannya Mancherster
United melawan rival sekota Manchester
City yang sedang
ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta. Padahal, Abby selalu diputusin pacar-pacarnya
gara-gara dia lebih mencintai Wayne Rooney. Abby tidak pernah mau melewatkan
satu pun penampilan si Setan Merah. Tapi kali ini, kegalauan berhasil
menguasainya. Pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pertandingan sepak
bola. Pikiriannya berada di suatu tempat di luar sana .
Rumah
megah itu sunyi senyap. Saat itu penghuni lain sedang tidur. Abby
mengendap-endap menuju garasi. Dia segaja melewati kamar Mamanya, untuk
memastikan bahwa Mamanya sudah tidur. Abby tahu, Mamanya yang seorang pengacara
sering bekerja hingga dini hari untuk menyelesaikan berkas-berkas sidang para
klien. Abby menempelkan telinga di pintu. Tak terdengar suara apapun. Biasanya
Mama menyetel musik instrument untuk menemaninya bekerja. Suara alunan musik
itulah yang menandakan Mama masih terjaga.
“ Oke sip! 86! Situasi aman…” Abby membatin.
Abby melirik jam tangan. Waktu menunjukkan pukul 03.40. Abby
membuka pintu gerbang sepelan mungkin dan mendorong Tiger merahnya. Dia sengaja
tidak menyalakan mesin. Dia terus mendorong motornya sejauh sepuluh meter, baru
kemudian menyalakan mesin dan menggeber motornya, melaju membelah udara malam
ibukota.
Hanya satu tempat yang ada dibenak Abby. Sevel.
Abby tahu apa penyebab kegalauan yang menimpanya. Sosok itu!
Ya, sosok yang dilihatnya tanpa sengaja dua hari lalu. Sosok yang menghantui
pikiriannya sejak saat itu. Sosok yang sangat dirindukannya selama lima tahun.
Abby ‘gambling’.
Dia tak yakin apakah sosok yang menjadi penyebab kegalauannya ada di sana malam ini. Dia hanya
mengikuti instingnya. Lagipula, sia-sia memaksa matanya untuk terpejam
sementara hati dan pikirannya sedang memberontak.
Tak sampai sepuluh menit kemudian, Abby tiba di tempat yang
dia tuju. Waktu menujukkan puluk 03:59. Sevel memang tak pernah sepi, bahkan
pada dini hari seperti ini. Abby memarkir Tiger Merah kemudian masuk dan
membeli segelas Hot Capucinno Latte.
Dia memilih bangku di sudut. Matanya mulai men-scanning- seluruh ruangan.
“Rupanya, gue bukan satu-satunya penduduk Jakarta yang terkena virus galau.” Abby
membatin. Dia memperhatikan satu per satu orang-orang yang ada di Sevel saat
itu.
Berkali-kali si cewek berusaha menarik perhatian si cowok,
namun hanya tanggapan singkat dan dingin yang dia dapat. Teknologi memang bisa
mendekatkan yang jauh, tapi juga bisa menjauhkan yang dekat. Abby penasaran apa
yang membuat si cowok begitu asyik melototi layar laptopnya dan mengabaikan
cewek cantik yang ada di depannya.
“Ya, ampun! Ternyata dia cuma main game! Kasian banget
pacarnya dicuekin…” Abby membatin.
Sekarang perhatiannya teralih kepada sekelompok anak-anak
muda yang sedang tertawa terbahak-bahak. Suara tawa kelima orang pemuda itu
membahana, memenuhi setiap sudut sevel. Beberapa pengunjung menoleh tak senang
ke arah mereka, tapi anak-anak muda itu tampaknya tidak peduli. Botol-botol
hijau bergambar bintang bertebaran di atas meja. Asap rokok membumbung. Abby
mendengus sebal.
Lalu dia memperhatikan seorang wanita yang duduk sendirian
di sudut. Abby menduga wanita itu seumur dengan Mama. Jemari wanita itu menjepit sebatang rokok putih.
Wajahnya sangat galau. Dia menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong.
Berkali-kali dia menghembuskan nafas berat. Sepertinya wanita itu sedang
menghadapi sebuah masalah besar.
“Ternyata Sevel menjadi semacam tempat pelarian orang-orang
galau.” Kata Abby kepada dirinya sendiri. Kini dia mengalihkan perhatiannya
mencari sosok yang menjadi virus kegalauan dirinya. Berkali-kali Abby memandang
berkeliling ruang duduk Sevel yang tak terlalu besar. Dia masih ingat jelas
wajahnya sosok itu.
Abby masih bisa mendengar suara teriakan-teriakan malam itu,
lima tahun yang
lalu. Waktu itu, dia baru 11 tahun. Mama menyuruhnya masuk ke kamar dan tidak boleh
keluar sampai Mama menyuruh. Abby menurut. Tapi dia menempelkan telingannya
rapat-rapat ke lubang kunci, sehingga dia bisa mendengar setiap perkataan di
luar.
“Aku sudah tidak
tahan!”
“Dunia kita berbeda! Memang dari dulu kita berbeda. Kita
terlalu memaksa untuk sama!”
“Aku tidak bisa terus hidup bersamamu!”
“Aku kalah!”
“Aku tidak bisa mengimbangimu!”
“Aku pergi!”
“Pergi saja! Jangan kembali sebelum kau bisa mensejajarkan
diri!”
Itulah potongan-potongan kalimat yang masih melekat dalam
ingatan Abby sampai sekarang. Abby tak sepenuhnya paham. Saat itu, pintu kamar
Abby mendadak terbuka. Sosok itu meraihnya dalam pelukan erat kemudian berbalik
tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Itulah kala terakhir Abby melihatnya. Sampai dua hari lalu…
Siang itu, sepulang sekolah, Argo mengajaknya mampir ke
Sevel untuk mengerjakan tugas paper kimia. Awalnya Abby tak terlalu
memperhatikan sosok itu. Baginya, sosok itu hanyalah seorang pelayan yang
bekerja di Sevel. Kemudian sosok itu terbatuk. Suara batuk yang selalu diingat
Abby. Suara batuk yang sangat khas.
“Uhuk! Uhuk!... uhuk!uhuk!”
Abby menoleh. Dia melihat sosok itu berdiri memunggungi. Tapi
Abby sangat mengenal punggung itu.
“Bi, elu kenapa?” Tanya Argo
“Gak… gak kenapa-kenapa. Cabut, yuk!” Ajak Abby.
“Papernya belum kelar. Tanggung…”
“Lanjutin di rumah gue aja… Ayo!”
Abby tak tahu kenapa dia bersikap seperti itu. Dia seperti
orang ketakutan. Dia seperti melihat hantu di siang bolong. Seharusnya Abby
menghampirinya dan menyapanya, bukan malah menghindarinya. Bukankah dia sangat
merindukannya? Abby tidak bisa bercerita kepada siapapun. Tidak kepada Argo
sahabatnya, terlebih kepada Mama.
‘***
Abby bangkit dari kursi untuk menambah hot capucinonya yang
sudah habis. Saat itulah, Abby melihatnya melalui jendela kaca. Sosok itu
sedang berada diluar, merapihkan kursi-kursi dan membawa sapu. Untuk beberapa
saat, Abby berdiri mematung. Dadanya berdegup kencang.
“Gue harus melakukannya. Gue harus melakukannya. Gue harus
melakukannya.” Abby menyemangati diri sendiri. Perlahan dia berjalan keluar,
menghampiri sosok itu. Sosok itu terus bekerja tanpa menyadari kehadiran Abby
di dekatnya.
“Pa…pa…Papa…?” Abby memanggil . Sosok itu menoleh kaget.
Kemudian dia menghambur dan memeluk Abby.
“Abbymanyu Sailendra, anaku! Kamu sudah besar, Nak!” Kata laki-laki
itu setelah berhasil menguasai diri.
“Papa, kenapa papa bekerja di sini? Kenapa Papa tidak pulang
ke rumah? Abby rindu …”Abby tidak bisa menahan air matanya. Ah, dia merasa
malu. Dia ‘kan
seorang laki-laki dan air mata bukanlah untuk laki-laki. Tapi saat itu Abby
tidak perduli. Dia telah bertemu dengan orang yang sangat dirindukannya.
“Maafkan Papa, Nak. Dunia Papa dan dunia Mama berbeda. Papa
hanyalah orang miskin dan tidak berpendidikan, sedangkan mamamu berasal dari
keluarga kaya dan berpendidikan. Papa hanyalah pelayan di sini sedangkan mamamu
seorang pengacara terkenal. Kami tidak bisa memaksakan keadaan ini.”
“Tapi Papa adalah orangtuaku!”
“Abby, kalau kau ingin bertemu Papa, datanglah ke sini. Papa
selalu bekerja di sini setiap hari. Jangan beritahu Mamamu. Papa takut dia akan
melarangmu.”
Abby mengangguk. Dia memeluk Papa dan berbisik,
“Abby sayang papa…”
‘***


Tidak ada komentar