Cerpen ini dimuat di Majalah KAWANKU
Edisi No 131 ( 08-22 Agustus 2012)
Aku Hanya Ingin ditanya
Oleh Dwi Indarti (@itsjustdwi)
Aku hanya ingin ditanya. Seperti
yang dulu Mama lakukan setiap pagi. “Bangunlah,
sayang. Matahari telah menjelang. Anak gadis tidak boleh bangun siang. Nanti
jodohnya terbang. Mau sarapan apa, Bintang ? Roti panggang atau nasi rendang?”
Ah, Mamaku memang pandai merangkai
kata-kata berirama. Aku langsung memeluk dan mencium pipinya. Biasanya Mama protes.
“Ih, belum sikat gigi, sudah cium
pipi. Mama nanti alergi. Kecantikan Mama langsung pergi…”
“Iuw! Mama ganjen…!” Mama selalu
menemaniku sarapan dan mengantarku sampai pintu gerbang rumah saat bis sekolah
datang menjemput. Aku tak pernah memalingkan wajah sampai lambaian tangan Mama
menghilang saat bis berbelok di tikungan jalan. Senyum Mama menemaniku
sepanjang hari.
‘***
Aku hanya ingin ditanya. Seperti
yang dulu Mama lakukan setiap siang, sepulangnya aku dari sekolah.
“Bagaimana harimu di sekolah, Nak?”
Biasanya aku bercerita sambil
mengganti pakaian. Aku bercerita tentang ulangan mendadak yang diberikan oleh
Pak Purba, guru matematika yang super killer.
“Pak Purba parah sekali, Ma! Dia memberi
ulangan mendadak! Dia bahkan tidak peduli pada protes anak-anak sekelas yang
tidak siap diberi ulangan!”
“Tapi kamu gak ada masalah
mengerjakan ulangan itu, ‘kan
sayang?”
“Gak dong, Ma. Anak Mama ini
keturunan Einstein! Soal sesulit apapun, aku berantas sampai tuntas!”
“Hush! Walaupun anak Mama paling
pintar di kelas, tapi kamu tidak boleh takabur seperti itu, Sayang.”
“Iya, Ma…”
Lalu
aku meneruskan ceritaku. Kali ini tentang Denada yang berulang tahun dan
mendapat kejutan dari anak-anak sekelas.
“Denada diceplokin telur dan disiram
tepung terigu, Ma! Dia hampir menangis! Tapi kami memberi hadiah yang membuat
Denada tersenyum senang. Kami membelikannya sebuah boneka Patrick Star yang
sangat besar karena Denada suka sekali dengan tokoh kartun sahabat Spongebob
itu. Sudah lama kami merencanakan pesta kejutan ini, dan kami senang karena
rencana kami berjalan dengan sukses!”
“Tapi bagaimana Denada pulang dengan
baju dan rambut kotor seperti itu?” Tanya Mama.
“Kami sudah menyiapkan baju ganti
untuknya. Reno ,
yang sedang PDKT dengan Denada, siap sedia mengantarkannya pulang sampai ke
rumah. Jadi, Denada tidak perlu dijauhi orang satu bis sekolah karena bau amis.
He he he …”
“Dasar kalian … “ Komentar Mama
sambil mengucak-ucak rambut panjangku.
Tak lupa, aku pun bercerita tentang
sang pujaan hatiku. My secret love.
“Hari
ini, aku hampiiiiiiiiiir saja bertabrakan dengan Gilang, Ma. Aku baru keluar
dari kantin dan sedang membaca brosur tentang lomba puisi yang dibagikan oleh
sekolah. Gilang berjalan dari arah yang berlawanan. Sepertinya dia dari
lapangan sepak bola. Iya! Aku yakin dia habis main bola, karena dia pakai Jersey club Barcalona dan dia membawa-bawa bola, Ma!”
“Lalu ... ?” Tuntut Mama.
“La…lalu… dia bilang ‘Girl, jangan membaca sambil jalan, please…”
“Lalu…?” Tuntut Mama lagi karena aku
terdiam lama dan tak melanjutkan ceritaku.
“Lalu apa, Ma?” Tanyaku.
“Lalu kamu bilang apa kepadanya,
Sayang?”
“Aku tidak bilang apa-apa, Ma.
Seperti biasa, lidahku tiba-tiba saja kaku. Aku mendadak menjadi tuna runggu.
Cepat-cepat saja aku berlalu. Seperti seekor kucing yang pemalu. Aku benci
menjadi seorang gadis yang dungu!”
“Kamu tidak dungu, Sayang. Kamu
seperti ini karena kamu sangat menyukainya…”
“Aku bahkan tidak bisa untuk sekedar
mengatakan ‘sorry, maaf, atau apalah!’ Aku sebal dengan diriku, Ma! Padahal itu
kesempatan bagus untuk berkenalan dengannya. Aku rasa dia bahkan tidak tahu
namaku!” Aku membanting tubuhku ke atas tempat tidur dan mencubit gemas boneka
Doraemon.
“Sayang, ceritakan lagi kepada Mama,
seperti apa cowok yang bernama Gilang ini. Kok bisa-bisanya dia membuat anak
kesayangan Mama jadi termehek-mehek.” “Dia
kakak kelasku, Ma. Dia tampan, tinggi, hitam manis, kapten tim kesebelasan
sepak bola, pintar, pendiam dan agak dingin. Justru sikap dingin itu yang
membuat dia digilai oleh cewek-cewek seantero sekolah, termasuk aku. Dia seorang
calon bintang…” Kataku sambil menerawang. Wajah Gilang menari-nari dipelupuk
mataku. Aku tersipu malu dan menutupi wajahku dengan boneka Doraemon.
“Gilang baru seorang calon bintang.
Tapi kamu, sudah menjadi Bintang. Bintang yang paling terang di hati Mama.
Percayalah, Mama punya feeling,
Gilang pun diam-diam memperhatikan kamu. Mungkin kamu harus sedikit lebih
rileks jika berada di dekatnya. Cobalah menjadi dirimu sendiri. Seorang Bintang
yang selalu ceria, lucu, banyak akal, pintar dan manja.” Mama berkata panjang
lebar sambil mengelus rambutku. Aku memeluknya.
“Aku sangat menyukainya, Ma. Gilang
adalah seorang yang istimewa.” Bisikku.
“Mama tahu. Mama yakin dia istimewa
karena dia bisa membuatmu gundah gulana. Mama juga punya sesuatu yang istimewa.
Tahu tidak? Mama tadi mencoba resep dari Chef Farah Quinn yang kemarin Mama lihat
di TV. This is it! Banana chocolate cream cake with strawberry
and cheese topping ala chef Mama Bintang! Wanna try?”
“Mauuuuuuuuuuuuuuuuu …”
‘***
Aku hanya ingin ditanya, Ma. Seperti
yang dulu Mama lakukan sebelum tidur.
“Kamu masih belajar, Sayang?”
“Iya, Ma. Besok ada ulangan fisika.
Aku harus menghafal rumus-rumus sebanyak ini. Doakan agar nilaiku bagus, ya
Ma.”
“Selalu, sayang. Dalam setiap sisa
hembusan nafas Mama, selalu terselip doa untukmu, untuk papa, untuk keluarga
kita. Semoga kita masih bisa berkumpul lebih lama lagi.”
“Apa maksud Mama? Kita akan terus
bersama selamanya, kan ?
Mama, Papa dan aku akan selalu bersama selamanya. Ya’kan Ma?” Pertanyaanku
dijawab Mama dengan senyum samar.
“Jika kamu sudah lelah, tidurlah, Sayang.
Jangan terlalu dipaksakan. Jaga kesehatanmu, Nak. Mama tidur duluan, ya … “
“Mama kenapa? Mama sakit, ya?”
“Tidak, Sayang. Mama hanya sedikit
lelah…”
“Ya sudah, Mama istirahat, ya.
Bintang mau menyelesaikan satu soal lagi, lalu Bintang akan tidur. Selamat
malam, Mama. I love you…”
“I
love you too, my star … “
‘***
Mama masih ingat semua itu, ‘kan ? Kenapa Mama
sekarang diam saja? Sudah seminggu ini Mama hanya terbaring di tempat tidur
rumah sakit. Mata Mama tak pernah terbuka lagi. Tubuh Mama dihiasi selang-selang
dan jarum. Hanya gerakan dada yang naik turun sangat pelan, yang menandakan
bahwa Mama ada masih bersamaku.
Bangunlah, Ma! Bicaralah kepadaku.
Aku punya banyak cerita untuk Mama. Aku ingin bercerita tentang Denada yang
akhirnya jadian dengan Reno .
Aku ingin cerita tentang nilai-nilai ulanganku yang hancur. Tapi aneh. Para guru sama sekali tidak memarahiku. Mereka malah menghiburku.
“Sabar, ya Bintang…”
“Kamu pasti bisa melalui cobaan ini,
Bintang …”
“Semoga Mamamu cepat sembuh, Bintang…”
Aku juga ingin bercerita tentang
Gilang. Mama benar. Ternyata Gilang juga merasakan seperti apa yang aku rasakan
terhadapnya. Mama benar. Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri. Mama tahu
tidak? Gilang ada di sini bersamaku. Dia selalu menemaniku. Dia hampir tak
pernah membiarkan aku sendiri. Kadang aku harus memaksanya pergi untuk
meninggalkan aku berdua saja bersama Mama.
Kenapa Mama tak pernah bercerita
kepadaku dan papa? Kenapa Mama menyimpannya sendiri? Kenapa Mama menahan semua
rasa sakit itu seorang diri? Mama tak ingin membuat aku sedih, ya? Justru aku
lebih sedih, Ma. Ketika pulang sekolah, aku menemukan Mama pingsan di kamar
mandi.
Mereka
bilang, Mama menderita kanker hati stadium tiga. Mereka bilang, hanya keajaiban
yang bisa membangunkan Mama. Mereka bilang, hidup Mama sekarang tergantung dari
mesin pemicu jantung. Mereka bilang, hanya menunggu persetujuan Papa untuk
menghentikan mesin itu. Mereka bilang, tinggal menunggu bilangan waktu. Mereka
bilang …
Bangun dong, Ma. Sekali lagi saja.
Demi aku, Bintang di hatimu. Aku hanya ingin ditanya tentang bagaimana
hari-hariku tanpa kehadiran Mama.
'***


Tidak ada komentar