Impian Iyang

-->
Cerpen ini dimuat di Harian Lampung Post
Edisi Minggu 3 Juni 2012
Impian Iyang
Oleh Dwi Indarti
Iyang ingin sekali pergi ke Dunia Fantasi. Iyang belum pernah ke sana. Kata teman-teman, di Dufan banyak permainan yang seru dan lucu. Ada mainan kuda-kudaan yang berputar-putar diiringi musik. Mungkin seperti andong-andong yang setiap hari mangkal di depan gang rumah Iyang. Ada yang namanya Istana Boneka. Berkeliling Istana itu dengan naik perahu. Boneka-bonekanya bisa bergerak dan berpakaian lucu, simbol dari berbagai daerah di Indonesia dan manca negara. Ada juga permainan Perang Bintang, Bianglala, Halilintar dan masih banyak lagi.
Akhir tahun pelajaran yang lalu, sekolah Iyang mengadakan tamasya ke Dufan. Tapi Iyang tidak bisa ikut. Kata emak, uang tabungan yang disimpan bu guru dipakai untuk tambahan bayar uang kontrakan rumah. Iyang sedih sekali. Padahal, setiap hari Senin Iyang menabung seribu lima ratus rupiah kepada bu guru agar bisa ikut tamasya pada saat libur kenaikan kelas.
“Iyang mau tidur di kolong jembatan ? Kalau kita gak bayar kontrakan, Bu Onah, akan mengusir kita. Emak dan bapak sedang tidak punya duit. Jadi, terpaksa pakai tabungan Iyang yang disimpan di sekolah. Tabungan Aa’ Fajar,  teteh Rani dan teteh Yuli di sekolah juga dipakai buat tambahan bayar kontrakan. Nanti, kalau bapak dapat rejeki,  Iyang bisa ke Dufan. Kita sekeluarga pergi ke Dufan. Insya Allah.” Begitu kata emak, sewaktu Iyang menangis dan tidak mau makan selama berhari-hari.
 Iyang menjadi satu-satunya anak kelas empat yang tidak ikut tamasya ke Dufan. Padahal, tahun ini Iyang dapat rangking dua di kelas. Belum pernah Iyang merasakan sedih yang mendalam seperti ini.
Iyang dan keluarganya tinggal di rumah kontrakan kecil di sebuah gang sempit. Iyang anak bungsu dari enam bersaudara dan mempunyai lima orang kakak. Tetapi, yang bisa membantu emak dan bapak mencari uang cuma Aa’ Edi. Kakak yang pertama, Aa’ Samsul, meninggal dunia tiga tahun yang lalu. Kata emak, dia kena narkoba karena salah pergaulan. Dulu Iyang belum mengerti apa itu narkoba, karena Iyang masih kelas 1 SD. Sekarang Iyang sudah tahu, bahwa narkoba itu sangat berbahaya. Iyang tidak terlalu dekat dengan Aa Samsul. Malah Iyang takut kepadanya. Iyang ingat, dulu setiap malam, Aa Samsul sering berteriak-teriak. Kadang-kadang memecahkan piring atau gelas. Kalau sedang seperti itu, biasanya emak membawa Iyang dan saudara-saudaranya yang lain pergi ke rumah nenek di gang sebelah. Yang tinggal di rumah cuma bapak dan Aa Edi. Sewaktu Aa’ Samsul meninggal, Iyang tidak bisa menangis, walaupun Iyang sedih melihat emak dan bapak menangis.
Kemudian ada Aa’ Edi. Dia sangat menyayangi adik-adiknya. Iyang pernah di ajak makan es krim di Mall. Walaupun pulang pergi berjalan kaki, tapi Iyang sangat gembira. Bukan karena Aa’ Edi pelit. Tetapi Iyang tahu, gajinya sebagai office boy sangat minim dan digunakan untuk membantu kebutuhan rumah dan sekolah adik-adiknya. Bapak Iyang seorang supir mikrolet dan emak bekerja sebagai tukang cuci pakaian para tetangga.
            Seteleh Aa’ Edi, ada teteh Yuli, teteh Rani dan Aa’ Fajar. Semuanya masih bersekolah. Teteh Yuli duduk di kelas 2 SMA, Teteh Rani kelas 3 SMP dan Aa’ Fajar kelas 6 SD. Bapak ingin semua anaknya bersekolah, walaupun bapak harus bekerja keras membanting tulang. Bapak ingin anak-anaknya maju. Cukup satu orang anak saja yang membuat bapak dan emak sedih.
Iyang sempat ‘ngambek’ selama dua hari gara-gara tidak ikut tamasya ke Dufan. Akhirnya, Aa’ Edi mengajak Iyang tamasya. Tapi bukan ke Dufan, melainkan ke Planetarium. Kata Aa Edi, tamasya ke Planetarium jauh lebih murah dan bisa sekaligus belajar tentang planet-planet dan tata surya.
Iyang juga belum pernah ke Planetarium. Jadi, Iyang merasa terhibur dan penasaran, seperti apa Planetarium itu. Pada hari minggu pagi, Iyang , Aa’ Edi dan Aa’ Fajar pergi ke planetarium dengan bis umum. Seorang teman Aa Edi sudah menunggu di sana. Namanya, Kak Ari. Orangnya baik sekali. Sementara Aa Edi dan Aa Fajar mengantri membeli tiket, Kak Ari mengajak Iyang ke Supermarket terdekat, membeli cemilan untuk dimakan di dalam gedung pertunjukan. Kata Kak Ari, pertunjukan di dalam nanti bakal seru sekali.
“Iyang jangan sedih lagi, ya…karena gak bisa ikut tamasya ke Dufan. Suatu saat nanti, kakak akan mengajak Iyang pergi ke Dufan. Asalkan, Iyang tetap rajin belajar. Jangan ‘ngambek’ lagi, ya... Kasihan emak dan bapak. Selalu doakan mereka.” Kak Ari menasehati Iyang. Rupanya, Aa’ Edi bercerita tentang kesedihan Iyang kepada Kak Ari. Iyang menggangguk dan merasa malu karena sempat ‘ngambek’ kepada orang tua.
Ternyata, pertunjukan di Planetarium memang seru ! Iyang seperti berada di tengah bintang-bintang dan planet-planet. Iyang belajar nama dan bentuk rasi bintang, planet dan satelit. Mereka seolah dibawa ke luar angkasa naik pesawat ulang alik. Iyang mendapat pengalaman seru dan pengetahuan  baru.
Malam itu, Iyang tertidur pulas dengan senyum bahagia di bibir. Sekarang sudah liburan akhir tahun sekolah. Iyang akan mengisi liburan ini dengan membantu emak dan belajar.
            Pada hari minggu berikutnya, Aa Edi membangunkan Iyang pagi-pagi sekali. “Iyang, bangun…Sholat subuh, lalu mandi dan sarapan. Aa mau pergi, Iyang temani Aa, yah…” kata Aa’ Edi dengan lembut membangunkan Iyang.
            “Kemana, A’ ?” tanya Iyang sambil mengucak mata. “Ke suatu tempat. Nanti Iyang juga tahu. Aa’ Fajar juga ikut. Ayo cepat, nanti kesiangan. Aa perlu menjemput seorang teman dulu.” Kata Aa Edi.
            Setelah mandi dan sarapan, Iyang bersama Aa Edi dan Aa Fajar berpamitan kepada emak dan bapak. Sampai di suatu tempat, Iyang melihat seseorang yang sudah dia kenal. Itu Kak Ari ! Iyang segera berlari menghampirinya.
            “Halo, Iyang. Apa kabar ?” sapa Kak Ari lembut. “Baik, kak. Kita mau pergi kemana hari ini ?” Tanya Iyang penasaran. “Coba tebak !” goda Kak Ari. “Hmm…jangan-jangan….” Iyang tak mampu lagi berkata-kata. Kak Ari tersenyum dan mengangguk. “Kakak mau menepati janji. Hari ini, kita akan tamasya ke Dunia Fantasi.”
            Iyang melonjak gembira. Dia memeluk Kak Ari dan Aa’ Edi. Aa’ Fajar juga bersorak-sorak gembira. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Dunia Fantasi.
            Setelah mereka sampai di kawasan Ancol, dari kejauhan, Iyang melihat roda yang sangat besar, yang di gantungi mangkuk-mangkuk berpayung, berputar pelan. Dada Iyang berdebar. “Itukah Dunia Fantasi?” Iyang bertanya kepada Kak Ari. Kak Ari mengangguk bersemangat dan menggenggam tangan Iyang erat-erat. Mereka berlari menuju gerbang Dunia Fantasi.
            Dalam hati Iyang mengucap syukur kepada Tuhan. “Terima kasih, Tuhan, Engkau telah mengabulkan doaku, secepat ini.”



Tidak ada komentar