Cerpen ini dimuat di Majalah Sekar Edisi 30 Mei 2012
Namaku Luka
Oleh Dwi Indarti (@itsjustdwi)
Namaku Luka. Kalau kau
melihat seorang wanita berusia akhir dua puluhan, dengan dandanan trendy ala
sosialita, berkulit putih dan wajah yang selalu ber-make up tebal, itulah aku.
Aku
tinggal di lantai dua, tepat di atas apartemenmu. Kita sering berpapasan di
lift. Kau selalu bergegas menuju tempat kerja, sedangkan aku selalu
menghabiskan waktu dengan bersosialita di Mall, café, club, dan arisan. Kau
pasti seorang karyawan bank atau pekerja kantoran, menilik dari blazer, rok span
dan high heels yang kau selalu kenakan. Biasanya kau melemparkan senyum kecil
dan anggukan sopan kepadaku. Maaf, aku tidak pernah membalas senyum dan
anggukan sopan darimu. Aku takut …
“Jangan
bicara dengan orang asing!” Begitulah pesannya. Pesan yang selalu diingatkan
berulang-kali oleh laki-laki itu. Laki-laki yang menikahiku secara sirih dan
membawaku ke kota
ini hampir setahun yang lalu. Lelaki yang meninggalkanku seorang diri di apartemen
mewah ini. Laki-laki yang datang
mengunjungiku seminggu tiga kali. Tapi
setiap kedatangannya selalu membawa luka.
Tidak!
Aku tidak akan bercerita kepadamu
tentang suara-suara yang mungkin kau dengar setiap laki-laki itu datang.
Tentang jeritan-jeritan yang teredam. Tentang isak tangis yang tertahan.
Tentang suara barang-barang yang terlempar. Tentang luka-luka lebam.
Maaf,
aku terpaksa berbohong kepadamu dan suamimu. Ketika pada suatu malam, kalian
mengetuk pintu apartemenku …
“Buka!
Awas, jangan sampai mereka curiga! Beraktinglah!” Desis laki-laki itu di
telingaku. Dia buru-buru membasuh wajah dan air mataku, merapihkan baju dan
rambutku kemudian mendorongku keluar kamar untuk membuka pintu.
“Y…ya..?”
Aku tersenyum.
“Maaf
atas kelancangan kami mengganggu malam-malam begini. Apakah anda baik-baik
saja? Kami mendengar suara-suara…”
“Saya
baik-baik saja…” Aku memotong kalimat suamimu yang ramah itu. Kau berdiri
disampingnya, menatap curiga sekaligus iba kepadaku. Mungkin kau ingin bertanya
tentang lebam biru yang menghiasi mataku atau sisa darah di sudut bibirku.
Maaf, aku tidak bisa bercerita kepada kalian. Aku takut…
“Apakah
suami anda ada di rumah?” Tanya suamimu.
“Dia
sedang tidur, tidak bisa diganggu.”
“Anda
perlu bantuan?”
“Saya
baik-baik saja. Terima kasih.”
“Tapi,
anda sepertinya sakit…”
“Saya
cuma terpeleset di kamar mandi. Itu saja. Maaf, saya ingin beristirahat.”
“Baiklah,
maaf kami mengganggu. Tapi, jika anda butuh bantuan, jangan sungkan untuk
datang kepada kami.”
Aku
segera menutup pintu dan kembali kepada suamiku. Dia sudah bersiap melanjutkan
apa yang tadi sempat terputus.
“Dasar
wanita bodoh! Mengusir orang-orang usil saja lama sekali! Aku kasih bonus malam
ini! Ha ha ha!”
‘***
Namaku
Luka. Entah apa yang ada dibenak orang tuaku saat mereka memberiku nama ini.
Yang pasti, hidupku adalah luka.
Menjadi
anak perempuan ketujuh dari duabelas bersaudara dengan orang tua yang bekerja
sebagai buruh pabrik adalah sebuah luka. Luka itu bertambah saat usia 12 tahun
aku sudah berjibaku dengan benang dan bahan di sebuah pabrik garmen. Lukaku
menganga setiap kali aku melihat anak-anak seusiaku berseragam sekolah dan
berceloteh riang menyandang tas dan
membawa buku-buku.
Kukira
lukaku berangsur sembuh ketika aku jatuh cinta. Ya, aku jatuh cinta. Kepada salah
satu Bos pabrik. Usianya dua kali usiaku. Dia sudah beristri dan beranak tiga.
Tapi aku jatuh cinta kepadanya.
Dia
selalu menghadiahkan barang-barang bagus kepadaku. Tas, baju, sepatu,
perhiasan, make-up, dan semua benda yang tak pernah terbeli olehku. Dia
memanjakanku dengan materi, hal yang kuanggap sebagai obat atas luka dalam
hidupku. Lalu suatu hari …
“Menikahlah
denganku…” Pintanya.
“Bagaimana
dengan istri dan anak-anakmu?” Tanyaku.
“Mereka
tak perlu tahu. Mereka tinggal di kota
yang berbeda. Aku butuh kamu untuk hal-hal yang tak mungkin aku dapatkan dari
istriku. Aku berjanji akan memberi semua yang kau inginkan. Semuanya! Kau
tinggal meminta.”
“Apakah
kau mencintaiku?” Tanyaku meyakinkan.
“Aku
membutuhkanmu…”
Kupikir
lukaku sudah sembuh ketika akhirnya aku menikah dengannya dan tinggal di kota ini. Namun ternyata
menikah dengannya adalah gerbang menuju sebuah luka baru yang lebih dalam dan
perih.
Dia
tidak mencintaiku tapi dia membutuhkan aku, seperti ucapannya. Dia membutuhkan
aku untuk melampiaskan hal-hal yang tak mungkin dilampiaskan kepada istrinya.
Sebab dia sangat mencintai istrinya.
Bisakah
kau menduga apa yang dia butuhkan dariku? Ya! Jeritan-jeritan itu. Luka-luka
itu. Tendangan dan pukulan yang mendarat di tubuh dan wajahku. Semua itu
membuatnya bergairah. Semua itu tak bisa dia lakukan kepada istrinya. Dia tak
mungkin menyakiti wanita itu. Istrinya tak pernah tahu dan tak boleh tahu bahwa
suaminya mempunyai ‘kebutuhan’ yang lain.
Setelah
dia puas, dia akan menghujaniku dengan hadiah-hadiah mahal dan mewah. Semakin
mahal hadiahnya, maka semakin dalam luka yang dia tinggalkan.
Jangan
khawatir, aku akan sembuh. Dia sudah menyediakan seorang dokter pribadi untuk
menyembuhkan luka-lukaku dengan cepat. Kesanalah aku pergi setiap kali jika
laki-laki itu mengunjungiku. Dokter itu akan merawat semua lukaku tanpa
bertanya sepatah kata pun. Sejumlah besar uang yang masuk ke rekeningnya cukup
untuk membuatnya tutup mulut, tutup mata dan menutup hati nurani.
Jadi,
tolong, jangan kau bertanya lagi kepadaku. Seperti yang kau lakukan pagi ini…
“Halo,
kita belum pernah berkenalan secara langsung. Namaku Ceria.” Kau menjulurkan tangan penuh persahabatan. Aku
menerima uluran tanganmu tapi buru-buru menariknya kembali dan menutupi telapak
tanganku dengan cardigan saat kau tercengang melihat goresan-goresan luka yang
tertera di sana .
Namamu
Ceria? Ironi. Aku Luka dan kau Ceria. Pasti perjalanan hidupmu se-ceria namamu.
Kau terlahir dari keluarga berada, bersekolah, kuliah, berkarier kemudian
menikah dengan laki-laki baik. Kau mencintainya dan dia mencintaimu. Kau adalah
keniscayaan bagiku.
“Namaku
Luka.” Jawabku singkat.
“Luka,
kau baik-baik saja?”
Aku
mengangguk singkat. Kau menatapku penuh selidik.
“Maaf,
jika kau menganggap aku ingin mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi, jika kau
butuh bantuan, atau sekedar bercerita, aku dan suamiku siap membantumu…”
“Terima
kasih. Tapi aku baik-baik saja. Selamat tinggal…”
Maaf,
aku meninggalkanmu yang berdiri mematung menatapku. Sejujurnya, saat itu ingin rasanya aku
memelukmu dan menangis sejadi-jadinya.
Ingin rasanya aku
berteriak sekuat tenaga,”TOLONG AKU! AKU SUDAH TAK KUAT MENGHADAPI INI SEMUA!”
Tapi aku tak bisa. Sungguh, aku tak bisa. Ancaman itu bukan sekedar gertakan
belaka. Aku tahu itu…
“Ingat!
Kalau kau buka mulut dan bercerita kepada siapapun, aku akan membunuhmu! Jangan
berani coba-coba…!”
Sekarang
kau mengerti kenapa aku tak mungkin bercerita kepadamu atau bahkan kepada kedua
orang tuaku, kan ? Mereka hanya tahu bahwa aku sudah hidup
bahagia sekarang. Mereka hanya tahu bahwa aku sudah berlimpah harta dan materi.
Mereka sudah tidak perlu bekerja keras di pabrik karena uang bulanan yang aku
kirimkan lebih dari cukup untuk menghidupi mereka di kampung. Adik-adikku bisa
terus mengecap pendidikan setinggi yang mereka mau, sehingga mereka tak perlu
berjibaku dengan asap dan limbah pabrik. Mereka tak perlu terluka seperti
diriku.
Namaku
Luka. Tapi kau, mereka, kalian tak perlu tahu tentang luka-lukaku. Luka yang
menghiasi hidupku sejak aku lahir sampai… Entah sampai kapan. Aku tak tahu.
Setiap
minggu, laki-laki itu datang kepadaku untuk menorehkan luka-luka baru. Setiap
minggu pula, aku sudah siap untuk menahan semua kepedihan itu.
Maaf,
jika terkadang aku tak mampu menahan sakit. Kau mendengar suara-suara dari Apartemenku.
Maaf membuatmu terganggu. Laki-laki itu akan berhenti setelah dia puas dan
lelah. Aku hanya harus lebih kuat untuk menahannya.
Dan
setiap kali dia memberiku ‘obat’ luka, aku akan melupakan semua perbuatannya
kepadaku. Aku akan tertawa berbahak-bahak sambil membasuh luka-lukaku. Aku akan
tertawa sambil menciumi tas asli Choco Channel, sepatu Jimie Choo, atau gaun
malam Alexander McQueen. Luka-lukaku sembuh seketika saat aku mengenakan kalung
dan cincin berlian. Perihnya akan memudar saat aku menikmati sebotol brandy dan
berbatang-batang rokok. Semua rasa pedih itu akan menguap bersama asap dan
debu, walaupun hanya untuk sementara. Sebab aku tahu, luka itu akan datang
lagi. Terus dan terus…
Namaku
Luka. Inilah hidupku. Penuh luka …
‘***
*cerpen ini terinspirasi dari lirik
lagu berjudul “My Name is Luca” by Suzanne Vega


Tidak ada komentar