Cerpen ini dimuat di Majalah GIRLFRIEND
Edisi bulan April 2012
NYMPHAEA JAMESONIANA
Oleh Dwi Indarti
![]() |
| Edisi April 2012 |
Papa, I miss u...
Ketik Nimpi. Tak lama kemudian, balasan sms masuk.
I miss you, too honey. What’s wrong?
Dia tak tahu harus membalas apa. Papa selalu tahu bila Nimpi sedang gundah gulana, Lalu ponselnya berdering.
“Papa khawatir karena kamu gak balas sms. Ada apa, sayang? Hari ini hari pertamamu masuk SMP, kan?”
Mendengar suara Papa, Nimpi tak bisa lagi menahan isaknya
“Hey…hey…ada apa ini? Kamu menangis? Hari pertama yang buruk, ya?” Papa selalu tahu. Nimpi membatin.
“Mereka mengejek Nimpi. Kenapa nama Nimpi aneh? Kenapa Nimpi gak pakai nama yang biasa saja?!” Nimpi berkata dengan berapi-api.
“Sayang, nama itu pemberian almarhum Mamamu.” Jawab papa
“Tapi kenapa Mama kasih nama yang aneh? Nimpi gak bisa tanya langsung ke mama ‘kan? Gak mungkin batu nisan itu menjawab pertanyaan Nimpi!” Papa terdiam. Tiba-tiba Nimpi merasa sangat bersalah.
“Pa, maafkan Nimpi, ya. Gak seharusnya Nimpi ngomong begitu.” “Seandainya Papa bisa memberitahu…” Suara Papa tersendat-sendat
“Papa ingin menceritakan kepadamu secara langsung saat kita bersama, mungkin di sudut taman kota tempat favorit Alm. Mama, atau di pojok bangku kafe. Bukan via telephone seperti ini.”
“Cerita saja sekarang. Biar Nimpi lega.” Desak Nimpi.
“Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya Tuhan menjawab doa kami untuk memiliki buah hati. Kami sangat bahagia, apalagi Mamamu. Beliau sangat mengharapkan kandungannya sehat dan selamat. Namun, Tuhan berkehendak lain. Menjelang kelahiranmu, kondisi Mama sangat lemah. Dokter menyarankan agar Mama merelakan janinnya. Tapi Mamamu menolak. Dia mengorbankan hidupnya dengan melahirkanmu secara normal.” Sampai sini, Papa terdiam. Nimpi bisa mendengar isakan halus yang berusaha disembunyikan oleh Papanya.
“Akhirnya, kamu lahir, Nak.. Mama terbaring dan terlalu lemah untuk menggendongmu. Papa tak ingin memisahkanmu dengan mamamu. Saat terakhir, Mama berkata,
"Malaikat kecil kita. Bernama NYMPHAEA JAMESONIANA. Panggil dia, Nimpi. Suatu hari nanti, dia akan mengetahui arti dan makna dibalik namanya. Mama akan selalu bersamamu, nak…"
“Kau berada disampingnya saat Mama menghembuskan nafas terakhir. …” Sekarang Nimpi mendengar Papanya terisak-isak di ujung telephone. Nimpi juga menangis. Tiba-tiba Nimpi mendengar suara gemuruh di ujung telephone.
“Kapten…badai akan menerjang!”
“Nimpi sayang…Papa harus menutup telephone ini. Ada badai! Doakan Papa, nak!” Hubungan terputus sebelum Nimpi sempat berkata apapun. Nimpi dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat.
“Ya Tuhan, lindungi Papa di tengah lautan.” Nimpi mendekapkan wajahnya ke bantal untuk meredam tangisnya yang pecah.
Nimpi tinggal berdua saja dengan Nenek. Papanya adalah seorang nakkoda kapal layar. Beliau selalu berlayar karena itu pekerjaannya dan juga untuk mengobati luka hati kehilangan istri tercinta. Nimpi dititipkan dengan nenek
Sejak kecil, Nimpi terbiasa hidup tanpa kehadiran Papa disampingnya. Tapi, hubungan mereka sangat dekat. Jika Papa sedang berlabuh, mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Hampir setiap hari Papa selalu menelphone.
‘***
Esok paginya, sms dari Papa membuat Nimpi dan nenek tersenyum mengucap syukur.
Badai sudah berlalu. Kami selamat dan baik-baik saja tapi belum bisa berkomunikasi. Salam untuk nenek, ya…
Nimpi berangkat ke sekolah dengan hati lebih ringan, meskipun masih ada ganjalan dihatinya. Dia masih takut teman-temannya mengejek setiap kali guru mengabsen.
“Hallo, Nimpi…” Sapa Reynata teman sebangkunya.
“Hai, Rey. Pelajaran pertama apa, ya? Kita belum dapat daftar pelajaran’kan?” Tanya Nimpi.
“Sudah ada kok. Aku sudah mencatatnya. Pelajaran pertama hari ini adalah biologi. Ini, kamu salin daftar pelajarannya.”
“Ini dia cewek yang sok pake nama aneh itu!” Tiba-tiba Afgan muncul di depan meja Nimpi dan tertawa mengejek.
“Siapa tuh nama panjangmu? Nim…Nim…Nimpuk? Ganti aja tuh nama jadi Markonah! Cocok deh buat kamu!” Nimpi hampir menangis, tapi untunglah bel masuk berbunyi.
“Kenapa si Afgan jahat sama aku, Rey? Padahal, aku gak pernah menganggunya. Kita ‘kan baru masuk sekolah dua hari. Kenapa dia begitu membenciku?” Bisik Nimpi pada Rey.
“Biarkan saja. Gak usah diambil hati. Kata teman-teman SD-nya, Afgan memang bandel dan suka cari perhatian. ” Kata Reynata.
“Selamat pagi, anak-anak. Perkenalkan, nama saya Atika Baringin. Panggil saja, ibu Tika. Saya akan mengajar biologi. Sekarang, saya absen dulu, ya.” Ini dia saat-saat menakutkan bagi Nimpi setiap kali tahun ajaran baru.
Biasanya para guru akan berhenti ketika sampai pada namanya, untuk memandangnya lebih lama daripada siswa yang lain, lalu mereka akan bertanya arti dan maksud namanya. Biasanya, Nimpi akan menjawab dengan gelengan kepala.
“Nym…Nymphaea Jamesoniana.” Bu Tika agak tersendat mengeja namanya. Nimpi mengangkat tanganya dengan ragu-ragu. Kelas mendadak riuh rendah.
“Panggil saja si Nampah, bu! Atau Nimbrung! Atau Nini nini! Lagian pakai nama susah-susah amat!” Suara Afgan terdengar nyaring ditimpali derai tawa anak-anak yang lain.
“Nama yang indah, Nak. Tahukah kau apa arti namamu?” Tanya bu Tika. Nimpi terkesiap dan menggeleng pelan. Baru kali ini ada orang yang bilang namanya indah
. “Kebetulan, ibu suka dengan Nymphaea. Itu bunga favorit ibu
.” Kata bu Tika. “Bunga…?” Tanya Nimpi. Seluruh kelas hening mendengarkan penjelasan ibu Tika.
“Nymphaea adalah nama genus untuk tanaman air dari suku Nymphaeaceae. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai water-lily. Di Indonesia, dikenal dengan nama teratai. Bunga yang tumbuh di permukaan air yang tenang, kelopaknya bersemu merah, putih hingga kuning. Nymphaea Jamesoniana adalah salah satu species langka bunga teratai." Bu Tika menjelaskan panjang lebar. Nimpi terpana. Hatinya mengharu biru.
Pa, Nimpi sudah tahu arti namaku. Hari ini Tuhan membuka rahasia-NYA melalui guru biologi. Nimpi mau ke makam mama dan berterima kasih padanya karena memberi nama yang begitu indah. Aku sayang Papa..
Nimpi mengirim sms pada papanya sepulang sekolah. Balasan sms masuk tak lama kemudian. My water-lily.
Papa senang sekali Akhirnya kau menemukan satu mozaik terindah dalam hidupmu. Sepulang dari makam mama nanti, bukalah bingkai foto di ruang keluarga. Ada sebuah tulisan dibalik foto itu. Bacalah….
Sampai di rumah, Nimpi mengunjungi makam Mama seorang diri. Dia meletakkan setangkai bunga teratai yang dibelinya dari toko bunga.
“Terima kasih, Mama…” Hanya itu yang bisa diucapkan Nimpi.
Sampai rumah, Nimpi membongkar foto diruang keluarga sesuai pesan sms Papa. Dan dia menemukan kalimat itu … Setangkai bunga teratai yang indah milik kami. James dan Andriana. Nymphaea Jamesoniana.


Tidak ada komentar