Mesin Tik Ayah

Mesin Tik Ayah
Oleh Dwi Indarti 

Cerpen ini dimuat di Harian Lampung Post 
Edisi MInggu 29 April 2012

“Jangan lupa anak-anak! Besok tugas mengarang cerpen dikumpulkan, ya. Diketik rapih di atas kertas A4  sepanjang 4 halaman. Ibu akan memilih satu cerpen terbaik untuk dikirim ke Majalah.” Bu Ratih mengingatkan tentang tugas mengarang sebelum anak-anak keluar kelas. Tugas ini sudah diberikan seminggu yang lalu.

Diam-diam, Aya mengeluarkan kertas dari dalam tas. Dia sudah menyelesaikan tugas itu dua hari yang lalu. Tapi ada satu masalah. Aya mengerjakan tugasnya dengan tulisan tangan.

Aya bingung. Dia tidak punya komputer. Dia juga tidak punya uang untuk rental komputer. Aya tidak tega meminta uang kepada Ibu. Ibunya hanya seorang buruh cuci. Ayah-nya Aya meninggal dunia sejak dua tahun yang lalu.

Aya menghampiri Bu Ratih yang sedang membereskan mejanya.

Ada apa, Soraya?” Tanya Bu Ratih.

“Bu, tugas mengarang cerpennya harus diketik, ya?” Tanya Aya.

“Iya, Nak. Ibu ingin kalian menjadi terbiasa mengetik. Ibu tunggu karangan kamu besok, ya.” Bu Ratih meninggalkan Aya yang berdiri mematung.

Siang itu Aya berpikir keras bagaimana cara untuk bisa mengetik tugasnya. Dia ingin ke rumah Siska, sahabatnya. Siska punya Laptop. Tapi tadi Siska bilang, Laptopnya dibawa Kakak ke kampus. Lagipula, Siska akan memakai Laptop itu untuk mengerjakan tugasnya sendiri.

Akhirnya, Aya memberanikan minta uang untuk rental komputer kepada Ibu. Ini hal yang mendesak. Aya akan meminta ibu memotong uang sakunya selama seminggu.

“Aya, Ibu ingin sekali memberimu uang. Tapi saat ini ibu sedang tidak punya uang sama sekali. Tapi, tunggu sebentar. Rasanya Ibu punya jalan keluar…” Ibu meninggalkan Aya dan masuk ke kamar. Tak lama kemudian, Ibu kembali membawa sebuah kardus yang berdebu. Ternyata isinya sebuah mesin tik tua.

“Kamu bisa menggunakan ini, Aya. Mesin tik ini masih bisa dipakai, loh. Lihat! pitanya masih penuh. Huruf-hurufnya masih lengkap. Mesin tik ini dulunya milik alharhum ayah.” 

“Tapi Aya gak tau cara memakainya, Bu.” Kata Aya sambil meneliti mesin tik itu.

“Mari ibu ajari.” Siang itu, Ibu mengajari Aya cara memakai mesin tik manual. Bagaimana memasang kertas, mengatur jarak spasi, memindahkan krusor, mengatur batas margin, dan sebagainya. Dengan sabar Ibu membimbing Aya sampai dia bisa menggunakan mesin tik itu.

“Mesin tik ini dulu digunakan almarhum Ayah untuk menulis berita. Ayahmu dulunya seorang wartawan. Setelah mendapatkan berita, Ayah langsung mengetiknya. Sayang, surat kabar itu tutup. Ayah kemudian bekerja menjadi buruh pabrik. Ayah tidak mau menjual mesin tik ini meskipun keadaan sangat sulit. Sesekali ayahmu memakai mesin tik ini untuk menulis cerita. Tapi, semenjak beliau wafat, mesin tik ini tidak terpakai.” Cerita Ibu.

Malam itu, Aya mengetik tugasnya sampai larut malam. Awalnya sangat susah memakai mesin tik tua itu. Berkali-kali Aya mengganti kertas karena salah. Jemari Aya sampai kebas, sebab dia harus menekan huruf-huruf dengan kencang. Akhirnya dia berhasil menyelesaikan ketikannya.

Esoknya…

“Aya, mana karanganmu? Sini aku kumpulkan sekalian.” Aya menyerahkan tugasnya kepada Siska, teman sebangkunya.

“Kamu ngetik pakai apa?” Tanya Siska heran. Dia membolak balik tugas Aya.

“Pakai mesin tik manual.” Jawab Aya singkat.

“Mesin tik? Hare gene, masih pakai mesin tik? Wakakakak…” Siska tertawa keras. Aya kesal dan mengambil tugasnya, menyerahkan sendiri kepada Bu Ratih. Aya melihat tugas-tugas temannya yang sudah terkumpul. Semuanya diketik dengan komputer dan dicetak dengan printer. Bahkan ada yang berwarna. Aya merasa minder.

Seminggu kemudian

“Anak-anak, Ibu sudah membaca karangan kalian. Nilai yang kalian dapat dari tugas ini akan masuk di raport akhir semester. Ibu juga sudah memilih satu cerpen terbaik yang akan dikirim ke Majalah. Jika dimuat akan mendapat honor. Cerpen yang ibu pilih berjudul ”Pelangi dimata Ayah” karangan Soraya Baihaqi. Selamat ya,…” Jantung Aya terasa berhenti mendengar namanya disebut. Dia senang sekali. Siska, yang dulu mencemooh tugasnya, sekarang tersenyum malu-malu.

“Selamat ya, Aya. Maafkan aku, ya.” Katanya pelan.

Sebulan kemudian

“Soraya, kamu bisa ikut ibu ke kantor ?” Bu Ratih menghampiri Aya yang sedang beristirahat. Lalu Ibu Ratih menyerahkan sebuah Majalah Anak-Anak.

“Buka halaman lima.” Kata Bu Ratih. Aya mematuhinya. Dia membacanya. CERPEN : PELANGI DI MATA AYAH Oleh SORAYA BAIHAQI. Namanya tercetak tebal di halaman bergambar ilustrasi bagus itu. Aya tidak bisa berkata apapun. Air matanya menetes bahagia.

“Terima kasih, Bu.” Hanya itu yang bisa diucapkan Aya saat Bu Ratih menyerahkan amplop berisi uang honor cerpen. Aya segera pulang, membawa majalah dan amplop putih. Dia tak sabar ingin memberitahu ibunya.

“Sayang, Ayahmu pasti sangat bangga! Beliau ingin menjadi seorang penulis dan sekarang kamu meneruskan cita-citanya. Simpanlah uang itu, Aya. Itu hasil jerih payahmu. Jika sudah terkumpul, kamu bisa membeli sebuah komputer…” Ibu menolak saat Aya memberikan uang honor. Aya memeluk ibunya, kemudian pergi ke kamar dan mengeluarkan mesin tik tua.

“Ayah, hari ini tulisan pertama Aya dimuat di Majalah. Aya mengetiknya dengan mesin tik ini, seperti Ayah dulu. Aya berjanji tidak akan menjual mesin tik ini meskipun Aya sudah punya komputer. Terima kasih, Ayah…” Bisiknya lirih.

‘***



Tidak ada komentar