Ketika Si Jempol Ngambek


Ketika Si Jempol Ngambek
Oleh Dwi Indarti


Cerpen ini dimuat di harian Lampung Post
Edisi Minggu, 26 Februari 2012


Suatu sore, keluarga jari sedang berkumpul. Mereka saling berkeluh kesah dan membanggakan diri.

“Hari yang sangat melelahkan! Seharian ini, aku sibuk sekali.” Keluh jari telunjuk. Dia menekuk-nekuk tubuhnya.

“Memang apa yang kamu lalukan, telunjuk?” Tanya jari kelingking dengan suara mencicit.

“Apa yang aku lakukan? Helooo! Aku ini adalah jari yang paling penting. Aku melakukan banyak hal yang tidak bisa kalian lakukan. Aku menunjuk. Aku memerintah. Aku memberi arah. Aku yang paling capek!” Kata jari telunjuk berapi-api.

"Hey, telunjuk! Bukan kamu jari yang paling penting, tapi aku!” Sergah jari tengah.

“Kamu?” Cibir jari telunjuk.

“Ya, aku! Aku adalah jari yang paling panjang dan tinggi. Coba saja kalian semua berdiri disampingku. Kalian akan tampak kerdil. Akulah pemimpin kalian, sebab aku yang paling tinggi dan kuat diantara kalian.” Kata jari tengah sambil berdiri congkak.

“Yaaaah, meskipun kamu yang paling tinggi besar, tapi kamu paling jelek, jari tengah!” Kata jari manis dengan suara manja.

“Apa maksudmu?” Jari tengah merasa tersinggung.

“Lihat saja, kalian semua jelek! Kalian tidak memakai perhiasan apapun. Aku yang paling cantik. Namaku saja jari manis. Dalam bahasa inggris, aku disebut ring finger. Aku selalu dihiasi dengan cincin cantik. Emas, berlian, perak, mutiara dan batu-batu mulia selalu disematkan di tubuhku. Aku yang paling cantik dan manis. Kalian semua jelek!” Ujar jari manis.

“Tapi…tapi…bukan kamu yang paling penting, jari manis.” Terdengar suara kecil mencicit. Semua menoleh ke arah suara itu. Ternyata jari kelingking ikut berbicara.

“Kamu? Kamu bisa apa, kelingking? Lihat saja tubuhmu kurus dan kerempeng.” Sembur jari manis yang merasa tersinggung.

“Justru karena tubuhku paling kecil dan ramping, aku bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa kalian lakukan. Aku bisa masuk ke dalam lubang-lubang kecil dan membersihkan kotoran di dalamnya.” Ujar jari kelingking dengan bangga.

“Iuw! Itu menjijikan!” Kata jari manis sambil mengernyit jijik.

“Itu tidak menjijikan sama sekali! Aku senang bersih-bersih. Ngomong-ngomong soal kecil, aku memang jari yang paling ramping, tapi aku bukan yang paling kecil. Tuh, si jempol lebih pendek dari aku.” Mendengar itu, semua jari menoleh ke arah jempol yang dari tadi berdiam diri. Jempol kaget.

“A…a…aku?” Tanya jempol

“Ha ha ha…jempol! Ternyata, selain kamu itu jari yang paling gendut dan pendek, kamu itu juga gagap. Dasar jari yang tak berguna!” Bentak jari tengah.

“Sudahlah! Ini sudah larut malam. Sebaiknya kita beristirahat. Besok kita harus kembali bekerja keras. Kecuali si jempol …” Kata jari telunjuk.

Jempol merasa sedih sekali. Dia merasa tidak berguna. Dia merasa paling jelek. Dia menjadi minder dan rendah diri.

“Kalau begitu, mulai besok aku tidak akan ikut bekerja bersama mereka. Aku ini jari yang tak berguna. Aku akan diam saja.” Jempol bertekad dalam hati.

Esoknya, semua jari bekerja seperti biasa, kecuali si jempol. Dia tidak mau melakukan apa-apa. Walhasil semua pekerjaan menjadi berantakan.

Saat hendak mengangkat piring, keempat jari itu tidak sanggup dan piring itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Ketika hendak memegang gelas, keempat jadi itu tidak bisa memegang dengan erat tanpa bantuan jempol. Maka gelas itu juga jatuh dan pecah.

Sewaktu memegang pulpen untuk menulis, keempat jari itu kebingungan karena tidak bisa memegang dengan benar. Juga ketika memegang sendok untuk makan. Semua pekerjaan hari ini menjadi kacau dan berantakan.

Akhirnya, keempat jari itu sadar bahwa mereka membutuhkan jempol. Mereka membujuk jempol agar mau kembali bekerja.

“Jempol, maafkan ucapan kami kemarin. Kamu sangat penting. Diantara kita berlima, tidak ada yang paling menonjol. Tidak ada yang paling kuat. Tidak ada yang paling penting. Tidak ada yang paling cantik. Kita semua sama.” Kata jari tengah.

“Iya, jempol. Maafkan kami, ya. Kamu jangan ngambek seperti ini. Ayolah, kita kembali bekerja sama agar semua pekerjaan menjadi beres.” Jari manis membujuk.

“Jempol, kamu penting kok. Kamu menjadi ibu bagi kami. Sebutanmu ‘kan ibu jari. Ayolah, kembali bekerja bersama kami.” Ucap jari tengah.

Setelah membujuk agak lama, akhirnya jempol tersenyum dan mau kembali bekerja bersama keempat jari lainnya. Sisa pekerjaan hari itu bisa diselesaikan dengan baik dan cepat. Akhirnya, kelima jari itu sadar bahwa mereka adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

‘***

Tidak ada komentar