Little Dolphine


Cerpen ini dimuat di Majalah KAWANKU
Edisi bulan Januari 2012

Little Dolphine
Oleh Dwi Indarti

“Apakah kakak percaya reinkarnasi?”

“Reinkarnasi hanya ada di dongeng-dongeng dan mitos-mitos, Lara...”

“Tapi aku percaya, Kak. Aku percaya bahwa jika kita mati, kita bisa terlahir kembali dengan wujud apapun yang kita inginkan. Tahukah Kakak, aku ingin bereinkarnasi menjadi apa?” Aku menggeleng pelan.

“Aku ingin bereinkarnasi menjadi seekor Lumba-Lumba! Bisa bebas berenang di lautan luas, melompat-lompat dan berkejaran dengan ombak.” Hening. Kemudian Lara melanjutkan dengan suara lirih.

“Kak, aku ingin melihat Lumba-lumba dari dekat.”

“Kalau kamu sudah sehat dan boleh keluar dari rumah sakit, kita akan pergi ke Sea World. Disana ada kolam Lumba-Lumba …”

"Aku bosan ke Ancol. Kita sudah sering ke sana. Aku sudah sering melihat Lumba-Lumba di dalam akuarium besar. Aku ingin melihat Lumba-lumba di habitat aslinya, Kak! Di laut lepas! Kemarin, aku nonton tayangan di TV kabel Rumah Sakit tentang perairan-perairan yang banyak Lumba-Lumbanya. Lumba-lumba itu sering mengikuti kapal-kapal nelayan dan melompat-lompat di samping kapal. Aku ingin berada di tengah Lumba-lumba itu...” Lara terdiam. Wajahnya tampak semakin pucat karena terlalu banyak bicara. Tapi bola matanya berbinar.

Mata Lara, adikku, memang selalu berbinar setiap kali berbicara tentang Lumba-lumba. Sejak kecil, Lumba-lumba menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Lara. Cita-citanya hanya satu, yaitu berada sedekat mungkin dengan Lumba-lumba di laut lepas. Lara ingin menjadi seorang peneliti Lumba-lumba. Lara ingin mempelajari bagaimana Lumba-lumba mengeluarkan sonar, yang menyerupai sebuah alunan musik indah. Lara ingin meneliti kecerdasan intelektual hewan mamalia laut itu. Lara ingin berenang bersama Lumba-Lumba.

Tapi, semua impian Lara harus diserahkan kepada selang-selang infus, botol-botol transfusi darah, ruang UGD, selang oksigen, bangsal kamar, dan bau karbon yang memenuhi Rumah Sakit.

“Kak…” Suara Lara yang lemah membuyarkan lamunanku. Aku membelai kepalanya yang mulai ditinggalkan rambut.

“Tidurlah adikku, sayang. Besok pulang sekolah, Kakak pasti ke sini. Besok pagi Mama akan menemanimu.” Aku mencium adikku.

“Salam sayang buat Mama, ya Kak…” Suara Lara terdengar jauh seiring kesadarannya yang perlahan-lahan menghilang bersama reaksi obat tidur. Aku meninggalkan Rumah Sakit, menerobos hujan deras menuju rumah.

‘***

“Bagaimana kondisi adikmu hari ini, Dena?” Mama bertanya saat kami makan malam.

“Masih sama, Ma.” Jawabku. Mama terlihat sangat letih. Lingkaran hitam menghiasi kedua pelupuk matanya. Mama pasti sangat sedih, sama seperti diriku.

“Kita pasrahkan pada Tuhan, ya. Kita mohon yang terbaik untuk Lara.” Mama menggenggam tanganku. Kami terdiam. Kami sudah tidak bisa menangis lagi. Air mata kami sudah terkuras saat awal penderitaan ini terjadi. Air mata kami sudah tumpah saat Papa pergi untuk selamanya dengan begitu mendadak. Pesawat yang dipiloti Papa mengalami kecelakaan saat mendarat dan hancur berkeping-keping. Saat itu, aku merasa duniaku hancur.

Namun rupanya, Tuhan sangat menyayangi kami –begitulah yang selalu dikatakan Mama. Tuhan sangat menyayangi kami – sehingga DIA memberikan ujian lain. Lara didiagnosa menderita leukimia dan divonis tak akan melewati usia sebelas tahun.

Aku sering bertanya-tanya sendiri, betapa aneh cara Tuhan menyayangi hamba-NYA. Mengapa DIA justru menimpakan penderitaan jika DIA sayang? Mama selalu menguatkan aku. Mama selalu terlihat tegar, meskipun aku tahu setiap malam Mama selalu terisak dalam sholatnya. “Jika hatimu gelisah, curhatlah pada Tuhan, Dena. DIA selalu ada.” Mama selalu berpesan demikian.

“Ma, mengapa Tuhan begitu cepat memanggil Papa? Dan sekarang DIA akan segera memanggil Lara.”

“Karena Tuhan sangat menyayangi mereka, Sayang…” Aku belum mengerti konsep ini sepenuhnya. Penderitaan = kasih sayang Tuhan ? Ah, aku tak tahu.

Yang aku tahu, Lara menjadi pengunjung tetap Rumah Sakit. Lara adalah seorang gadis kecil yang cerdas. Dia selalu menjadi juara kelas. Namun dia harus meninggalkan bangku sekolah dan menjadikan Rumah Sakit sebagai rumah kedua. Tapi Lara tak pernah berhenti belajar. Dia selalu minta dibawakan buku-buku, terutama buku tentang Lumba-lumba.

Yang aku tahu, sejak Papa meninggal, Mama harus bekerja ekstra keras untuk menghidupi kami. Selain bekerja kantoran, Mama juga mengajar dibeberapa Kampus dan menjadi agen asuransi. Yang aku tahu, hampir setiap hari Mama pulang larut malam dengan wajah yang sangat letih. Yang aku tahu, setiap saat aku ingin sekali berada disamping Lara yang terbaring lemah di kamar Rumah Sakit. Namun hal itu hanya dapat kulakukan pulang sekolah.

Kini, kami hanya bisa pasrah. Air mata kami telah mengering. Aku mulai memahami apa yang selalu dikatakan Mama. Ya, Tuhan memang menyayangi kami dengan menjadikan kami orang yang kuat dan tak mudah mengeluh.

“Ma, boleh gak Dena ajak Lara jalan-jalan, kalau Lara sudah boleh keluar dari Rumah sakit?” Aku memecahkan keheningan meja makan.

“Kamu mau ajak adikmu kemana, sayang?”

"Ke Teluk Kiluan, Lampung Selatan.”

“Ada apa di sana, Nak?”

“Lumba-lumba…” Mama tersenyum paham. Seperti aku, Mama dan Almarhum Papa juga sangat tahu kecintaan Lara pada Lumba-lumba.

“Tapi, apakah mungkin dengan kondisi Lara seperti ini, Dena?”

“Kalau Tuhan mengizinkan, Insya Allah bisa. Boleh ya, Ma?” Mama hanya mengangguk singkat. Ada sebuah bahasa yang telah terbentuk antara kami, yang tak perlu kata-kata. Aku memeluk Mama erat.

‘***

“Benar, Kak? Teluk Kiluan? Tempat Habitat asli Lumba-Lumba? Kapan,Kak?” Lara hampir melompat dari tempat tidur begitu mendengar rencanaku mengajaknya ke Teluk Kiluan.

“Tenanglah, Lara. Pokoknya, begitu kamu sehat, kita akan liburan ke sana. Mama juga ikut.” Aku membayangkan ada bohlam 500 watt dibalik wajah Lara sekarang yang bersinar terang. Aku melihat kejaiban nyata, bagaimana sebuah kebahagiaan dan harapan dapat mengusir penyakit. Kondisi Lara berangsur-angsur membaik dengan cepat. Setiap hari, dia membicarakan rencana liburan kami ke Teluk Kiluan, Lampung selatan.

‘***

Fajar belum menyingsing sempurna di Teluk Kiluan ketika aku naik perahu kecil dari Pulau tempatku bermalam. Angin laut berhembus pelan, membuat lentera yang tergantung di perahu bergoyang.

“Sudah siap, Neng?” Tanya Bapak pemilik perahu kecil yang akan menemaniku pagi ini.

“Siap, Pak.”

Perahu kecil itu meninggalkan pantai berpasir putih, menuju ke tengah laut. Permukaan air tampak berubah warna, sesuai karang yang tersembunyi di dalamnya. Dari atas perahu kecil ini, aku bisa melihat keindahan terumbu karang dengan jelas di bawah permukaan air yang jernih. Kami terus melaju. Mesin motor perahu kecil ini menderu-deru merobek kesunyian pagi.

“Masih jauh, Pak?” Tanyaku ketika lututku hampir kram akibat duduk bersila di atas perahu kecil itu.

“Sudah dekat, Neng. Kalau kita beruntung, mereka akan muncul ke permukaan. Biasanya banyak sekali. Tapi, kalau kurang beruntung, kita akan kembali lagi nanti sore…”

Keberuntungan, itulah yang aku butuhkan saat ini. Aku berdoa dalam hati. Tuhan, ijinkan aku bertemu dengan mereka…

Dan terjadilah…

“Itu dia, Neng!” Bapak perahu berteriak. Aku melihatnya. Dua ekor lumba-lumba melompat di sisi kiri perahu. Aku terkesiap. Jantungku seolah melompat keluar. Tapi aku tak punya waktu untuk berhenti dari keterkejutan ini. Semua seperti mimpi.

Dalam sekejap, aku telah dikelilingi oleh ratusan Lumba-Lumba yang berenang dan melompat di sekitar perahu kecil ini. Handycam yang sudah aku siapkan tergeletak begitu saja di lantai perahu. Mataku berusaha melahap setiap detik moment menakjubkan ini.

Satu keluarga Lumba-Lumba muncul di sisi kanan perahu. Ada empat ekor. Dua Lumba-Lumba dewasa, satu lumba-lumba remaja, dan satu lagi seekor lumba-lumba kecil. Mereka berenang dekat sekali. Aku bisa melihat tubuh mereka yang berkilat dengan jelas. Aku menjulurkan tangan. Lumba-Lumba yang paling besar sepertinya sengaja mendekatkan diri dan membiarkan aku menyentuh tubuhnya.

“Papa…?” Aku berbisik. Air mataku menetes. Keluarga Lumba-Lumba itu terus mengikuti perahuku. Mereka melompat-lompat secara bersamaan. Kadang si lumba-lumba kecil tertinggal. Sang Kakak akan menunggunya, dan mereka menyusul kedua orang tua mereka di depan. Mereka tetap berenang di samping perahuku.

Sekali lagi, aku menjulurkan tanganku. Kali ini, si lumba-lumba kecil mendekat. Aku membelai tubuhnya. “Lara, kaukah itu?” Aku berbisik. Seakan menjawab pertanyaanku, si lumba-lumba kecil mencuit nyaring. Aku menangis sesenggukan.

‘***

“Dena, bangun…Lara… Lara…” Mama mengguncang tubuhku sambil menangis tak terkendali. Dokter menephone Mama tengah malam buta. Kondisi Lara kritis. Detik itu juga kami melesat ke Rumah Sakit.

Ketika kami tiba, Lara tak sadarkan diri. Jantungnya sangat lemah. Saat aku menggenggam tangannya, dia terbangun…

“Kak, jagain Mama, ya…Papa sudah datang menjemput Lara. Pergilah ke tempat Lumba-Lumba. Lara menunggu di sana…” Kemudian Lara pergi untuk selamanya …

‘***

“Neng, kita harus kembali ke Pulau. Matahari sudah mulai terik. Lumba-lumba sudah kembali ke dasar laut.” Suara bapak pemilik kapal menyadarkanku. Laut di sekitarku telah kembali tenang. Ratusan lumba-Lumba yang tadi berlompatan kini telah menghilang. Keluarga Lumba-Lumba yang tadi mengikuti perahu kini hanya tinggal dua ekor. Mereka terus mengikuti perahuku sampai dekat tepi pantai. Papa dan Lara…

“Jika aku mati, aku ingin bereinkarnasi menjadi seekor Lumba-lumba… Pergilah ke tempat Lumba-Lumba, Kak. Lara dan Papa akan menunggu di sana…

‘***

Tidak ada komentar